
"Sayang, i'm coming!" ujar seorang pria yang baru saja memasuki gerbang mansion yang begitu besar.
Wajah dingin dan tegas yang tadi nya selalu menyelimuti wajah pria itu berganti dengan senyuman manis yang membuat rahang tegas itu semakin menarik.
Gerbang mansion awal nya tidak di izin kan terbuka, tapi melihat seorang ketua penjaga keamanan berlari ke arah gerbang dan menunduk pada pria itu.
Para penjaga kebingungan melihat pria itu, tapi mereka segera membuka gerbang mansion, memang tidak banyak yang tau wajah pria itu karena selalu di sembunyi kan. Kekasih nya tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang apa lagi tidak Sudi memamer kan kekasih tampan nya.
Seorang wanita sedang berkutat di dapur untuk menyiap kana makan pagi nya. Sangat sederhana pakaian wanita itu, sama sekali tidak menunjuk kan taraf kekayaan yang di miliki.
"Nona Aurora, apakah anda perlu bantuan. Biar saya saja Nona, ini bukan tempat yang layak untuk anda," ujar pelayan yang berada di belakang Aurora.
"CK, jangan membantah perintah ku! Laku kan saja yang saya perintah kan, beri tahu saja!" ujar Aurora dengan nada datar khas ny.
Pelayan itu memutar bola mata nya dengan malas.
"Awas saja jika itu mubazir nanti nya," kesal wanita berbaju pelayan itu.
"Cih, Brianna....Brianna, apa urusan mu?" ucap Aurora dengan mengejek.
Pelayan itu memilih untuk diam dari pada membalas ucapan wanita itu. Sejak dulu, memang jika berdebat dengan wanita di depan nya ini, diri nya selalu kalah karena tak bisa membalas ucapan pedas wanita itu..
Pelayan itu hanya bisa menunduk kemudian memperhati kan sangat Nona memasak dengan berbekal kan panduan nya.
Kebiasaan orang kaya memang beda, aneh dan tidak seru.
Seorang pria yang tak di sambut kedatangan nya melihat seorang wanita sedang memasak. Rambut di Cepol asal, leher jenjang itu terpampang jelas, kaos besaran di tubuh nya di tambah hot pant membuat pria menggeram menahan gejolak dalam diri nya
Dia memutar kepala nya dan menatap sang asisten yang sedang menunduk kan kepala.
"Bodoh, pergi dari sini!" perintah pria itu dengan dingin.
"Masuk kan tiga siung bawang putih!" perintah seorang wanita ke pada seorang pelayan yang sejak tadi bersama dengan Aurora.
Dia adalah Alaska, kekasih Aurora yang segera terbang ke negara ini ketika mendapat kan izin dari sang kekasih. Dia mengernyit kan dahi nya ketiak mendengar nada perintah dari wanita berpakaian pelayan itu.
"Kamu bisa gak sih, minyak nya kebanya kan. Ah sial, kenapa kau membuat bumbu cabe tanpa perintah ku. Oh God....huekkk, berapa banyak garam yang kau buat," ucap wanita itu dengan nada meninggi.
"Satu sendok saja, seperti yang kau bilang. Sialan, kenapa kau memsrahi ku!" kesal Aurora.
"Mana sendok yang kau guna kan?" tanya Brianna tak kalah kesal nya.
Aurora dengan percaya diri mengambil sendok yang seharus nya di guna kan untuk mengaduk soup yang di buat oleh Aurora.
"Terserah, Cih dasar majikan yang tidak bisa di andal kan. Jika kau menjadi majikan ku selama tiga bulan saja aku akan menghabisi mu dan ...,"
Ahhhh
Tiba-tiba suara Briannna terhenti di ganti kan dengan erangan kesakitan dari wanita itu.
"Ahhh, lepas. Sakittt,' ucap Briannna memegang tangan pria yang mencekik leher nya.
Dia tidak tau siapa pria tampan di depan nya. Ah sial, dia masihs aja sempat memandangi wajah pria itu dan menilai berapa bak dewa nya pria ini.
"Berani nya pelayanan sialan seperti mu mengatur wanita ku?" ucap Alaska menatap tajam wanita di depan nya dengan menghunus.
"Al, hei lepas. Apa yang kau laku kan?" ucap Safira ikut membantu Brianna melepas kan tangan pria itu.
"Lepas? Kau memaklumi perilaku sialan wanita ini? Apa kau membiar kan hama seperti ini berkeliaran di sekitar mu! Memerintah kan mu? Membentak mu? CK, bah kan aku saja tidak pernah. Siapa wanita ini berani melaku kan hal itu?" ucap Al membara terus saja mencengkram leher Brianna.
Brianna semakin kelimpungan Karana merasa oksigen di dalam tubuh nya sudah mulai habis.
"Lepas saja, aku akan menjelas kan nya" ucap Rora memelas melihat teman nya sudah kehabisan napas. Terlihat dari wajah nya yang sudah sangat memerah.
Al langsung luluh melihat wajah itu. Bagaiman dia bisa.menbiar kan wajah itu semakin redup.
"Jelas kan!" Titah Al dengan tidak sabar. Pandangan nya masih setia mengarah ke arah wanita yang sedang terbatuk-batuk di lantai. Pria itu siap menghunus kan kepalan tangan nya yang besar.
"Aish, dia teman ku yang cosplay jadi pelayan. Kauuu.....," ujar Rora sambil membantu teman nya itu mengusap punggung nya.
__ADS_1
Al membisu sejenak, itu berarti dua perempuan di depan nya hanya bermain majikan dan tuan saja sejak tadi, yah sejenis akting
"Aku tidak tau sebelum nya, berlaku lah sejawar nya," ucap Al tidak merasa bersalah.
"Tidak ada kata maaf?" tanya Rora menatap sengit kekasih nya yang baru saja datang itu.
"Bukan salah ku Sayang," jawab Al santai berlalu dari sana.
Dia merasa sangat sial untuk ini. Dia bahkan tidak mendapat kan kejutan untuk kepulangan nya kali ini. Mengesal kan, itu semua karena wanita yang ada di depan kekasih nya itu. Sebelum Al pergi dari sana dia menatap tajam wanita yang bersalah di sini, seakan melimpah kan kekesalan nya pada wanita itu.
Briana langsung menunduk tidak mau bersitatap dengan pria menyeram kan yang menjabat di hati sahabat nya itu. Briana bis meyimpul kan bahwa pria tadi adalah kekasih Rora. Briana maklum saja ketika dia tidak di beritahu selsiu sahabat dari wanita itu karena Aurora orang nya tertutup, bah kan nama belakang Aurora saja Briana tidak tau.
Melihat kekasih Rora tidak kelihatan lagi, Briana mengangkat wajah nya yang sudah memerah menahan tangis.
"Huaaaaa....dia menyeram kan...Hua...aku hanya mengajari mu tapi dia marah...Huaaa, mommyyyy, Daddyyyy dia hampir saja membunuh putri tunggal kalian," tangis wanita itu seketika pecah di dapur mansion itu.
Rora merasa kesal sendiri. Bagaimana dia di hadap kan dengan dua orang paling menyeb kan di dunia ini.
Sial, Briana adalah wanita manja yang tidak pernah di hadap kan dengan kekerasan dari ke dua orang tua nya. Si wanita monyet ini juga kenapa harus melamar sebagai pelayan nya, kalau begini dia yang repot.
***
Suasana dingin menyelimuti dua orang yang sedang bersitegang sejak tadi.Shine susah mengata kan yang sebenar nya pada sanga istri, tapi tidak da tanggapan dari wanita itu. Bah kan diri nya sama sekali tidak di tanggapi sang wanita.
Dia dan menatap nya tanpa ekspresi membuat Shine semakin frustasi, seharus nya sakit nya lah yang harus di pikir kan bukan?
"Sayang Please. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan nya," ucap Shine sekali lagi dengan sungguh-sungguh.
Setelah Safira terdiam bisu seperti patung sejak tadi. Dia lahir nya buka suara.
"Aku tidak bertanya," jawab Safira dengan tenang.
Hanya itu saja yang ke luar dari bibir tipis itu. Sungguh membuat Shine jengkel.
"Jadi ada masalah lain kau mendiam kan ku sejak tadi?" tanya Shine. Infus masih melekat di tangan pria itu yang membuat nya semakin kesal karena pergera kan nya menjadi terbatas.
Dia mengambil bubur yang sudah di antar oleh Mateo.
Kini Kendali perusahaan dan Klan sudah berada di tangan Xavier. Shine yang harus benar-benar di rawat tidak bisa mengendali kan apa pun.
"Makan, agar cepat sembuh. Racun belum menguasai semua tubuh dan kau harus makan agar stamina mu tetap kuat," ujar Safira kini duduk di bangku yang di sedia kan di sana.
"Tidak, aku bukan orang lemah. Beri kan aku makanan seperti biasa nya!" ucap Shine menoleh kan ke pala nya ke arah berlawanan dengan sendok yang di beri kan oleh Safira.
"Lambung mu bermasalah Shine. Bukan lemah, tapi masih dalam tahap pemulihan." ujar Safira. Dia paham bagaimana kepribadian dan keras kepala pria satu ini
"Sama saja, tetap tidak mau," kukuh Shine
"Ayolah Shine, kau ingin membuat ku leleh. Aku sedang hamil, seharus nya seorang suami lah yang merawat istri nya, menyebal kan," ucap Safira marah membuat Shine kelimpungan.
"Ck, wanita selalu saja berhasil membuat ku kalah," batin Shine.
"Tapi ini benar-benar tidak enak Sayang, aku ingin makanan biasa nya saja," ucap Shine. Namun dia tidak berani menatap ke arah istri nya itu. Dia tidak mau kalah dengan wajah memelas sang istri.
Beberapa menit berlalu Shien tak kunjung mendengar suara Daris ang istri. Dia menghadap wanita itu. sebelah tangan wanita itu terlihat mengelus perut nya, sebelah nya lagi tetap setia memegang sendok yang berisi bubur dan pelupuk mata wanita itu seakan membendung air yang sebentar lagi akan banjir.
Hup
Shin langsung melahap bubur yang sedang di pegang oleh sang istri.
"Lagi," minta Shine membuka mulut nya lagi. Namun hati pria itu sungguh ironis memakan makanan lembek tak berkelas seperti ini.
Seketika mood Safira berubah, wajah nya berbinar Karena Sang suami melaku kan apa yang di minta nya.
Setelah selesai makan, Safira meminta perawat untuk mengawasi sang suami dengan melaku kan pemeriksaan sebentar. Meski pun sudah mendapat kan jawaban dari Darren.
Saat perawat memeriksa Shine, selimut tersingkap sedikit dari perut Shine yang setia berada di selimut sejak tadi. Shine langsung menatap tajam sejenak perawat itu.
"Semua aman terkendali Nyonya, Dokter Briana akan segera datang," ucap Perawat itu.
__ADS_1
Safira hanya mengangguk mendengar ucapan perawat tersebut.
"Pulang lah Sayang, bukan kah kamu sudah lelah merawat ku?" ucap Shine mengelus lembut kepala Safira.
Wanita itu langsung memicing kan mata nya tak suka .
"Ahhh, kau tak sabar bersama dengan Dokter Briana. Trik yang bagus Tuan Shine," ucap Safira menyeringai melihat ke arah bawah Shine.
Shine takut dengan ancaman satu ini. Wajah Safira sangat jauh dari biasa nya. Tapi Shine sangat suka dengan sifat istri nya satu ini. Ini arti nya Safira masih mengingin kan diri nya.
"Kau bisa menempat kan pengawal mu Baby untuk mengawasi ku. AU hanya mengingin kan mu. Kau sedang hamil bukan, tak baik ibu hamil lelah," ucap Shine mengelus wajah sang istri.
"Ohhh, karena Mateo dan Nia adalah anggota Black Sky, maka kau akan dengan mudah memerintahkan mereka untuk berbohong? Tirk yang bagus Tuan Shine," kekeh Safira dengan tatapan tajam nya pada sang suami.
Shine terkekeh melihat ekspresi itu.
"Kau cemburu Sayang?" tanya Shine.
"A..apa, cem.. cemburu. Dalam mimpi mu," ucap Safira.
Shine tersenyum simpul mendengar jawaban istri nya.
"Pulang lah, hemm," ucap Shine.
Safira melihat ke arah wajah Shine. Ada sesuatu yang beda dari wajah pria itu.
"Kenapa wajah mu memerah?" tanya Safira.
"Aku ingin tidur Sayang, tak apa. Boleh kah aku istirahat sementara kau pulang?"
"Tapi?"
"Banyak penjaga ku Sayang,"
"Baik lah!"
"Boleh panggil Nia?"
Safira mengangguk dan segera memanggil Nia masuk.
"Jaga istri ku, dan jangan lupa susu nya, harus tepat waktu!" perintah Shine.
"Baik Tuan, mari Nyonya," ajak Avicennia.
Safira langsung mengikuti langkah Nia dan pergi dari ruangan itu dengan berat hati. Dia juga ingin menjaga sang suami, tapi mengingat keadaan nya juga, dia harus merawat tubuh nya juga.
"Hai Kakak ipar," sapa Darren yang sudah berada di pintu ruangan Shine.
Safira tersenyum dan juga melihat ke arah Briana yang juga ada di sana, Xavier juga ada di sana.
"Kenapa?" tanya Safira yang melihat dua dokter terbaik masuk ke ruangan Sang suami.
Darren yang paham arah pembicaraan pun menjelas kan secara singkat.
"Hanya cek rutin Kaka ipar," jawab Darren melihat ke arah Nia juga.
"Mari Nyonya," ajak Nia.
"Tolong laku kan yang terbaik Darren, dokter Briana," ucap Safira menunduk sedikit kemudian mengikuti arahan Nia
Melihat Nia sudah menghilang dari pandangan mereka, Darren bergegas masuk ke ruangan Shine dan benar saja apa tebakan pria itu.
"Sialan kau Darren, ini sungguh sakit," ucap Shine menahan rasa sakit yang ada di tubuh nya.
Darren langsung mengambil tindakan untuk mereda kan rasa sakit Shine, begitu juga dengan Briana.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂🙏👍👍👍👍👍
__ADS_1