Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 81


__ADS_3

"Tuan, seharus nya anda pulang saat ini," ucap Xavier yang tidak tahan dengan ke bebalan Tuan nya.


"Kumpul kan semua dokumen yang harus ku periksa!" titah Shine tanpa ekspresi.


"Ini hari Minggu Tuan, hari libur. Anda tidak perlu terlalu memaksa kan diri. Perusahaan kita baik-baik saja," ucap Xavier.


"Kau membantah ku?" tatapan Shine ku mendominasi tulang Xavier seakan ingin meremuk kan tubuh nya.


"Saya tau Tuan, keadaan saat ini semua nya baik-baik saja baik klan dan perusahaan, tapi bukan berarti akan anteng dan tenang seperti ini. Jika ada lengah dan lemah , jika anda kecolongan sedikit saja maka musuh akan dengan mudah masuk!" ucap Xavier panjang lebar.


Shine tidak menanggapi ucapan panjang lebar Xavier dan melanjut kan melihat dokumen yang ada di depan nya.


"Saya mohon tuan, pulang lah sejenak. Anda sedang demam," ucap Xavier namun Shine sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Xavier agar segera pulang.


Xavier frustasi melihat sikap Shine satu ini. Dia tidak bisa membuat shine sadar, bagaimana tidak selama ini justru sebalik nya lah yang terus terjadi. Justru shine yang akan tepat waktu untuk m laku kan segala nya, karena setau Xavier, Shine selalu membuat target pekerjaan nya dan sekarang ini segala nya Butar begitu saja


Xavier tidak kehabisan akan untuk membujuk Shine.


"Anda juga harus mengingat penelitian kita kemarin Tuan, target klan baru itu adalah Nyonya. Anda juga harus selalu siaga menjaga Nyonya,' ucap Xavier. Ini adalah senjata terkahir nya untuk menajalaj kan keras kepala tuan nya.


Shine menghenti kan gerakan tangan nya yang sedang menari di atas kertas. Dia tersenyum miris


"Sudah ada menjaga nya," ucap Shine singkat. tangan nya kembali ingin menari di atas kertas, namun urung ketika mendengar ucapan Xavier.


"Bah kan saat Nyonya berada dalam pengawasan kita, Nyonya pernah hoir terlula Tuan. Bagaimana bisa anda mempercaya kan istri anda pada orang lain?" ucap Xavier Berusaha memprovokasi sifat protektif Shine.


"Kita Pulang," ucap Shine langsung berdiri dan berjalan meninggal ka ruang kerja nya.


Xavier menghela napas, akhir dia berhasil meski pun ahrus mengorban kan nama Nyonya muda nya.


Sesampai nya di mansion, jam dinding sudah menunjuk kan pukul sepuluh pagi. Tepat saat itu Shine melihat Safira yang juga sedang berjalan dari depan nya menuju pintu mansion.


Sejenak Shine terdiam dan melihat Safira berjalan ke arah nya.


"Aku ingin pergi menemui teman ku. Aku sudah memasak, ada obat di nakas ranjang. Jaga kesehatan mu. Aku tidak ada waktu mengurus mu," ucap Safira acuh tak acuh


Dia tadi memandangi wajah Shine sebentar yang terlihat memerah. Dia tidak mau Shine terlalu percaya diri dan merasa bahwa dia peduli pada pria itu.


Tanpa menunggu jawaban dari Shien Safira langsung melanjut kan jalan nya. Dia tidak ingin lama-lama memandangi wajah tampan shine atau dia akan terjatuh nanti nya kepelu kan pria itu.


"Hari Minggu juga kau akan ke luar? Teman? Siapa?" tanya Shine tetap menatap lurus ke depan meski pun Safira sudah melewati nya.

__ADS_1


"Saya rasa kita tidak perlu mengurusi privasi satu sama lain," ucap Safira lalu berlalu dari sana.


Yah Safira saat ini masih mengguna kan fasilitas Shine, hitung-hitung sebagai tanggung jawab Shine selama tiga tahun ini.


Shine tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga melanjut kan langkah nya masuk ke dalam mansion.


"Tuan, saya akan menelepon dokter anda," ucap Xavier.


"Tidak perlu, siap kan makanan yang di masak istri ku!"


"Baik Tuan."


Shine memilih merebah kan diri setelah selesai mandi dan makan masakan istri nya. Dia mengingat obat uang di ucap kan istri nya. dan dengan telaten dia meminum obat itu lalu kembali merebah kan diri.


Pikiran nya runyam saat ini, namun dia masih bersyukur Safira mau mempeduli kan nya dan menyiap kan obat nya. Setidak nya Safira masih menghormati diri nya yang masih bergelar suami.


"Vier, selidiki siapa pria itu!" perintah Shine sebelum diri nya menyelami alam mimpi.


***


"Hai Leon!" sapa Safira saat melihat teman SMA nya itu sudah menunggu nya di sana.


"Hai Safira, bagiamana apa suami mu sudah baik-baik saja?" tanya Leo basa basi.


Tapi dia sudah berjanji pada Safira akan melupa kan diri nya dan pertemanan Meraka akan lanjut.


"Bagaimana Teo, apa suami ku meminum obat nya?" tanya Safira balik pada Mateo.


Tersirat raut wajah bingung di wajah Leon.


"Tuan sudah meminum nya dan saat ini sedang istirahat Nyonya," ucap Mateo.


Dia sudah mengecek ponsel nya tadi dan mendapat kan pesan dari Xavier yang juga sedang menanya kan Nyonya nya.


"Seperti yang kau dengar," ucap Safira tanpa memperpanjang percakapan itu.


Leo juga melihat raut wajah Safira yang enggan membahas tentang suami nya memilih untuk tidak melanjut kan topik ini.


"Aku ingin meminta sesuatu pada mu," ucap Safira mulai serius.


"Selagi aku bisa aku akan mengabul kan nya," ucap Leon sangat semangat karena lagi-lagi Safira meminta bantuan nya. Dia seperti berguna untuk Safira meski pun sebagai teman dan tidak lebih.

__ADS_1


Safira sebelum nya secara personal menghubungi nya dan saat itu Leo masih bertugas di rumah sakit.


Awal nya Leon senang karena mengira Safira ingin menjenguk nya. Ternyata salah, Safira mendatangi nya demi keperluan sang suami yang sedang sakit. Tapi tak apa, setidak nya dia bisa berbicara pada wanita yang sangat di cintai nya sampai saat ini.


"Ini bisa di kata kan berlebihan, sebenar nya aku sudah mahir bela diri karena suami ku sendiri yang mengajari ku bela diri, beberapa jenis bela diri sudah ku kuasai, dann...,"


"Maaf menyela Nyonya, seperti nya Tuan Leon sesng sibuk dan langsung saja pada inti nya," ucap Nia yang sejak tadi mendengar Nyonya nya yang memutar-mutar.


Safira menatap tidak suka pada wanita yang selalu mengekori nya. Safira memberi kan tatapan tajam pertanda ingin menguliti Nia hidup-hidup. Tapi apa yang di dapat kan Safira saat ini, wajah datar Nia yang tidak bersalah sama sekali. Siapa yang bergelar sebagai Nyonya di sini?


"Aku punya banyak waktu luang kok," ucap Leon tak dengan kekehan kecil nya.


Safira yang sebelum nya sudah memutar leher nya melihat ke arah Leon kini kembali memutar ke arah Nia pengawal nya.


Mata besar nya yang jernih membulat dan pipi nya mengembung dan menatap tajam ke arah Nia.


"Kau mendengar nya!!! Dia punya banyak waktu jadi jangan sok jadi pahlawan Sialan!!!!," Nia bisa menebak isi pikiran Safira.


Tapi bukan nya Nia ngeri dengan tatapan Safira, wanita itu justru tersenyum melihat wajah Safira yang menahan amarah.


Bukan. hanya Nia yang sangat menyukai wajah Safira saat ini, tapi Mateo juga dan yang lebih jatuh lagi adalah Leon.


Bukan nya terlihat garang, Safira justru terlihat imut, ingin memakan orang, maka target pasti ingin mencubit pipi Safira secara langsung.


"Anda sangat lucu Nyonya, hehehe," ucap Nia


Mendengar itu, bibir seksi Safira komat Kamit tidak jelas, tapi Nia bisa menebak bahwa Safira saat ini sedang memberi kan berkat sumpah serapah berupa umpatan untuk nya.


Leon semakin terjatuh dengan bibir mungil Safira yang komat Kamit tidak jelas karena Nia yang menggoda nya tidak jelas.


"Cantik," ucap Leon tanpa sadar.


Safira yang masih malas melihat Nia, tidak jelas mendengar apa yang di kata kan oleh Leon.


"Kenapa? Apa tadi?" tanya Safira


Sedang kan ke dua pengawal Safira memelototi Leon dengan tajam. Dengan jelas mereka bisa mendengar ucapan pria itu yang dengan lancang menyukai istri tuan mereka.


Mateo tanpa segan dan tanpa aba-aba langsung maju dan mencengkram leher Leon dengan kasar.


Safira yang tidak mengetahui akar permasalahan nya pun heran dengan tinda kan Mateo yang tiba-tiba.

__ADS_1


Jangan lupa like nya 😊🙏 👍👍👍


Agar author nya semakin rajin up nya 🙂🙏👍👍👍👍


__ADS_2