
Di negara Chad sepasang kekasih saling enggan melepas kan, namun itu adalah ke harusan. Sang wanita harus sabar menunggu pria nya menyelesai kan misi.
"Sayang pulang lah sementara waktu oke? Aku akan segera mendatangi mu dan membicara kan hubungan kita," ucap seorang pria yang saat ini benar-benar serius.
"Janji akan cepat selesai, Alaska?" ternyata dia adalah Aurora yang harus kembali ke Cina untuk menyelesai kan tugas nya juga. Keberadaan nya di sini juga bisa menghilang kan konsentrasi Alaska.
"MMM, akan ku usaha kan, setelah itu kita bertemu keluarga mu," ucap Alaska.
"Baikla, aku pergi!" ucap Rora seperti enggan melepas kan Al. Dia memasuki si burung besi yang sudah menunggu nya sejak tadi.
Al tidak bisa menahan diri nya, dia menarik tangan Rora dan menempel kan bibir nya di bibir wanita itu.
Rora dengan senang hati menyambut bibir sang kekasih.
Alaska dengan rakus menikmati bibir semanis Cherry itu.
Setelah bebrapa menit menikmati bibir itu, Alaska melepas kan nya.
"Salam perpisahan sementara Sayang," ucap Al.
"Bye...," ucap Rora melambai kan tangan nya. Alaska tersenyum ke arah sang kekasih.
Setelah melihat si burung besi pergi meninggal kan tempat nya, wajah nya kembali seperti semula, dingin dan tak tersentuh.
Yah, hanya Safira Yang boleh menguasai senyum nya.
"Terima tawaran pria itu. Kita harus segera menyelesai kan misi ini," ucap Al mengambil keputusan besar. Dia bersumpah akan setia pada Aurora saja meski pun keputusan saat ini bertolak belakang dengan kenyataan.
"Tapi Tuan, bagaimana jika Nona Aurora mengetahui nya?" tanya Dextrosa asisten Al
"Itu urusan mu Dex, jika bukan dari mulut orang yang mengadu pada Aurora, dia tidak akan mengetahui nya," jawab Al dengan datar kemudian turun dari roof top.
Dextrosa hanya mengangguk membenar kan ucapan tuan nya. Meski pun Aurora adalah Queen Mafia, dia tidak pernah ikut campur atau pun menggali informasi tentang Alaska, begitu juga sebalik nya.
Dextrosa bisa merasa kan cinta dari Aurora dan Alaska begitu besar hingga kepercayaan besar timbul di antara ke dua nya. Tidak ada pernah yang mencurigai atau menggali informasi satu sama lai.
Mereka berkomitmen akan menyelesai kan segala nya jika urusan masing-masing selesai.
Aurora yang baru saja turun dari si burung besi helikopter dan langsung turun ke salah satu hotel, baru saja melempar kan diri ke ranjang, dia mendapat Vidio call dari Daddy nya.
Aurora langsung mengangkat nya dengan bahagia.
Jika itu mommy Rosaline, dia akan enggan mengangkat nya. Kenapa? Karena Rosaline akan selalu menanya kan apa sudah punya pacar? Kapan menikah? Mommy pengen punya cucu. Aurora sungguh kenyang dan hampir muntah dengan ucapan itu.
Aurora akan mengirim pesan pada mommy nya dia sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat ponsel nya.
"Halo Dad...." jawab Aurora girang namun langsung saja nada itu berubah. Ternyata ada dua orang di sana dan pelaku utama ada di sana.
"Princess mommy jahat. Tiba Dad nya yang menelepon langsung saja di angkat," kesal Rosaline di sana seperti anak-anak yang merajuk.
"Stopped Baby, maka nya jangan terus menelepon nya dan menanya kan nya tentang menikah," ucap Rhadika di samping nya.
Aurora menatap datar mommy nya.
"I'm not princess mom. Berhenti lah mengata kan nya," ucap Aurora.
"Lihat, Aurora tidak suka jika aku berbicara pada nya," ucap Rosaline sedih membuat Aurora menghela napas.
"Mom, please. What happened. Tell me," ucap Aurora tenang. Drama mommy nya memang selalu sukses membuat diri nya tertekan dengan tatapan Dad nya.
Rosaline merasa Menag di sana. Wajah Aurora tidak datar lagi.
__ADS_1
"Baby, biar aku saja. Kau akan memutar dunia ini nanti hanya untuk menyampai kan tujuan mu," ucap Rhadika dan di angguki Rosaline.
"Rora, Dad tidak memaksa mu sama sekali. Pilihan ada di tangan mu. Dad nya punya kenalan rekan bisnis, jika kamu mau dad akan mengirim kan poto nya," ucap Dika.
Sebelum menyelesai kan ucapan nya Dika tau jawaban putri nya. Tetapi apa boleh buat, si istri kecil nya yang pemaksa tidak akan pernah kalah.
"Thanks mom, Dad. Aku bisa mencari pria ku sendiri," jawab Aurora.
"Dia berada di cina juga Rora," ucap Rosaline berharap.
"No momm, jangan mendesak Rora," ucap Rora menunduk
Rosaline yang paham maksud Aurora tidak lagi me lanjut kan ucapan nya.
"Baiklah...baiklah. Mommy tidak memaksa, hanya sekedar saja," ucap Rosaline pada akhir nya.
Aurora hanya bisa mengangguk, sejak dulu mommy nya selalu mengata kan hanya sekedar saja di balik unsur paksaan.
"Aurora ingin ke luar, mom dan Dad jaga kesehatan yah," ucap Aurora dengan senyuman nya.
"Kamu juga princess," ucap Rhadika
"We love you sayang," timpal rose.
Aurora melebar kan senyum nya mendengar ucapan ke dua orang tua nya.
Setelah menyudahi panggilan itu Aurora memilih pergi ke luar. Dia ingin menikmati me time di daerah ini. Memang ini negara Cina, tapi Aurora belum pernah mendatangi tempat ini.
Rora menunggu lift yang sedang menuju ke tempat Rora. Sayang nya Aurora tidak bisa masuk karena ada beberapa cleaning servis yang juga menunggu lift, akhir nya Aurora mempersilah kan mereka terlebih dahulu.
Rora melihat lift yang berada di samping lift pertama. Kosong, dia memilih menaiki lift itu. Rora tidak memperhati kan tulisan yang berada di atas lift itu. Dia menuju lantai bawah.
Dia akhir nya memilih menunggu dan membiar kan wanita di depan nya yang sudah mulai bergerilya di dada nya.
Ting
Pintu lift terbuka.
Rora mendecih melihat dua sejoli yang ada di depan nya. Wajah nya menatap jijik ke arah wanita murahan yang mencoba merayu pria yang jelas-jelas tidak berminat pada nya.
Rora yang ingin ke luar terhalangi oleh kecentilan wanita yang bersama pria itu. Wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Aurora.
"Sialan," batin Aurora ketika pintu lift tertutup.
Pria yang berada di lift sejak tadi berada di lift memandangi wajah cantik Aurora. Pria itu penasaran dengan Aurora, kenapa wanita itu Berani memasuki lift nya.
Tiba-tiba perhatian pria itu di alih kan dengan hisapan di bagian bawah nya.
"Ouh...bit ch," ucap pria itu ketika kepala wanita di sana sudah dalam posisi maju mundur di depan nya.
Pria itu benar-benar tidak tau kapan wanita itu sudah melolos kan celana yang di gunakan nya.
Di tengah hisapan itu, pria itu masih sempat-sempat nya melirik ke arah Rora yang datar dan menatap jijik ke arah mereka.
Setelah sampai di lantai atas, pria itu menekan sesuatu di lift.
Pintu lift terbuka dan pria yang sedang di hisap itu segera mengangkat wanita di bawah nya.
Pria itu dengan kasar mengangkat wanita itu ke luar dari lift dan membawa nya ke suite room yang berada di lantai paling atas hotel itu.
"Cih, menjijik kan," batin Rora. Dia jijik dengan wanita yang selera menghisap milik pria lain, pada hal kan mommy nya juga sudah mengata kan itu kotor.
__ADS_1
Rora melihat ke arah kamar itu, terbuka dan tidak di tutup sama sekali.
Dengan cepat Rora menekan lantai 1 di lift karena tidak mau mendengar sesuatu yang akan merusak kuping nya.
"S"hit, tombol nya terkunci," umpat Rora. Dia tadi tidak melihat gerakan tangan pria itu.
Dengan kesal Aurora ke luar dari lift itu dan melihat sekitar nya. Hanya satu lift. Rora menyadari bahwa di atas lift itu ada tulisan, khusus CEO.
Safira memilih ingin turun dari tangga darurat, namun sial nya itu terkunci.
"Ahhhkk...mmmm....Tuan... Ahhh," Aurora benar-benar kesal mendengar suara sialan itu. Belum lagi pintu itu terbuka .
"F"uck orang bodoh mana yang bercin ta tapi membuka pintu. Apa tidak ada peredam suara di hotel besar ini, sialan," umpat Rora lagi.
Dia tidak bisa meminta tolong ke pada siapa pun karena ponsel nya tertinggal dan tidak ada satu pun orang di tempat ini.
Suara Des ahan semakin kuat terdengar di sana.
"Ahhh, tuan....hmmmm... pelan-pelan ahhh...Tuan...Jangan ..ah...kasar,"
"Aku sudah membayar mu bit ch, kau boleh ke luar jika tidak ingin melayani ku," ucap pria itu tapi sambil memacu pinggang nya dengan kasar dan tempo yang tidak jelas membuat wanita di bawah nya tersiksa namun sangat nikmat
Rora yang tidak tahan dengan suara itu langsung menuju pintu.
"Setidak nya tutup pintu nya breng sek," ucap Rora di sertaj dengan dentuman keras karena pintu di banting Rora dengan keras.
Sial, Rora sangat mengalami kesialan menginap di hotel yang sangat famous ini. Ingin meminta tolong pada dua orang sialan yang ada di dalam, tidak mungkin. Rora memilih bersandar di dinding dan menutup telinga nya.
Beberapa saat akhir nya wanita yang ada di sana keluar dari ruangan suite room itu dan segera pergi dari sana.
"Gila, secepat itu?" batin Rora Karana biasa nya yang di tonton oleh Rora itu bisa berlangsung berjam-jam.
Rora melihat wanita yang ada baru saja keluar menuju lift, Rora ingin ikut namun tangan nya di cekal oleh seseorang dan membawa nya masuk ke ruangan suite room tadi.
"Breng sek," ucap Rora tak terima akan perlakuan pria itu.
Rora bergerak dan mulai menyerang pria yang ada di sana. Dia kini menunjuk kan sifat asli nya yang bertolak belakang dengan wajah imut nya.
Pria itu tersenyum miring.
Dia melayani Aurora dan menemu kan celah untuk menghimpit Rora dengan posisi Rora menghadap dinding dan pria di belakang nya menghimpit Rora ke dinding.
Posisi ini membuat Rora membelalak ketika mengingat posisi ini adalah salah satu posisi berc inta.
"Perkenal kan Nona, Nama saya Euthynnus affinis," ucap pria itu dengan suara bariton nya.
"Aku tidak peduli, lepas kan pria mesum sialan," bentak Rora dengan dingin.
"Jika aku tidak mau?"
Bug
Rora dengan kaki yang bebas mengunci kaki Affinis dan membuat pria itu kehilangan keseimbangan, dan segera Rora menyiku perut pria itu.
"Dasar Lemah," umpat Rora melihat pria itu mengaduh kesakitan.
"Menarik," batin Affinis menatap Aurora.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂
__ADS_1