Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 51


__ADS_3

"Bawa si sialan ini ke markas!" perintah Shi n dengan rahang mengetat.


Setelah itu dia membawa Safira keluar dari gedung sialan yang menjadi salah satu tempat kumpulan musuh nya.


"Bertahan lah sayang!" ucap Shine memapah tubuh Safira. Pria itu sama sekali tidak memikir kan berita yang di dengar nya tadi sebelum dia menghabisi musuh yang berada di tempat ini.


Sesampai nya di rumah sakit terdekat Safira langsung di bawa ke ruang IGD.


Shine berusaha untuk masuk ikut ke dalam IGD dan hendak menghabisi para perawat laki-laki yang ingin melarang nya, namun dengan cepat Xavier dan pengawal lain nya menghalangi Shine dengan menjadi kan diri nya menjadi tenang sebagai penghalang agar Shine tidak masuk ke dalam ruang IGD.


Sebenar nya para Dokter sudah mengata kan Safira tidak perlu di bawa ke ruang IGD karena dari perkiraan keadaan nya tidak darurat dan tidak masuk di klasifikasi untuk pasien IGD.


"Tuan tenang kan diri anda jika tidak ingin Nyonya di tangani dalam waktu lama lagi." ucap Xavier. Dengan kuat Shien melampias kan amarah nya ke dinding rumah sakit.


Terlihat buku-buku tangan Shine berubah warna menjadi biru. Tapi pria itu mengabai kan rasa sakit nya dan melihat lekat-lekat ke arah pintu IGD yang tertutup rapat.


Menunggu beberapa menit, beberapa perawat nampak mendorong brankar tempat tidur Safira dan membawa nya ke ruang VVIP yang ada di rumah sakit itu.


"Kenapa sangat cepat?" tanya Shine.


"Tuan, silah kan ikut saya. Saya akan menjelas kan semua nya," ucap si dokter dengan sopan.


Dia tentu saja tau siapa pria dengan perangaian wibawa dan dominasi yang tinggi. Dia tidak akan berani menyinggung pria satu ini, selain dia adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit ini, dia juga adalah seorang CEO terkenal kejam dan tegas di dunia bisnis, hanya se ujung kuku pun pria itu menurin kan perintah nya untuk menyingkir kan diri nya akan mudah terjadi.


Shine yang merasa diri nya seperti di perintah menatap tajam dokter yang memiliki keberanian tinggi itu.


Xavier menghela napas. Beginilah jika tuan nya berhubungan dengan sang Nyonya, bodoh atau entah apa Safira tidak bisa menyebut kan nya.


"Tuan, jika Nyonya lebih cepat keluar dari sana berarti itu tidak tidak ada hal serius Tuan," jelas Xavier berusaha menebal kan ketebalan nya menghadapi orang yang tiba-tiba tidak waras sejenak seperti tuan nya.


"Apa kau tidak melihat dia pingsan, tangan nya, bibir nya? Tidak serius?" tanya Shien dengan suara tajam nya.


"Sh"it, dosa apa yang telah ku laku kan harus berhadapan dengan orang yang tiba-tiba bodoh dan dongkol seperti pria di depan ku," batin Xavier.


"Kau mengumpat ku?"


Bug


Shine melayang kan tangan berotot nya pada perut Xavier meski pun itu tidak kuat tapi sudah menjadi peringatan keras untuk Xavier.


Xavier lupa bahwa tuan nya adalah keturunan dari seorangang Rhadika Browns. Pemimpin mafia berdarah dingin yang tak kenal ampun kecuali dengan ratu nya Rosaline.


Pria penguasa itu sudah seperti orang yang memiliki ilmu yang begitu besar dan dalam karna bisa mengetahui isi kepala orang dan ini bukti nya, darah itu mengalir pada tuan nya.


"Maaf Tuan," ucap Xavier menunduk tidak bisa lagi mengelak.


Sebelum Xavier selesai berbicara, Shine sudah pergi terlebih dahulu dan meninggal kan Xavier dan dokter itu di sana.


"Pergi br"engsek, apa kau mau mati?" kesal Xavier melihat dokter itu masih mematung di sana karena takut melihat kekuatan Shine yang memukul Xavier.


Dia sejak tadi berpikir bagaimana jika hanya diri nya dan tuan nya Shien di ruangan itu. Bagaimana Jiak diri nya juga di habisi nanti di dalam ruangan sempit milik nya


Oh tidak, dia masih ingin hidup dengan baik di dunia ini dan menikmati profesi nya.


"Ba...baik Tuan," jawab Dokter itu takut-takut.


"Jangan melaku kan kesalahan jika tidak ingin nyawa mu melayang bodoh!" perintah Xavier.


Dia masih merasa kan denyut rasa sakit di perut nya atas hadiah yang indah dari tuan nya.

__ADS_1


"Apa masalah nya?" tanya Shine singkat.


Tatapan itu sangat tajam dan memati kan membuat dokter itu gugup setengah mati.


Tiba-tiba pintu terbuka dan menampak kan Xavier masuk ke dalam ruangan itu membuat si dokter menghela napas sejenak. Dia bersyukur ada manusia yang benar-benar hidup saat ini yang akan menjadi teman nya.


"Nyonya sebenar nya baik-baik saja Tuan," ucap dokter itu menjeda ucapan nya sejenak.


"Apa mata mu buta sialan? Kau tidak melihat luka di tubuh nya?" ucap Shine.


Dokter itu gugup kembali.


"Lanjut kan dokter!" perintah Xavier.


Dia mencoba berbicara dengan tenang agar tidak menggangu konsentrasi si Dokter. Mungkin jika Shine yang berbicara lagi, dokter itu sudah kencing celana dan akhir nya mati di tempat.


"Bukan luka luar itu yang menyebab kan Nyonya pingsan Tuan. Nyonya hanya kelelahan saja. Mungkin Nyonya sebelum nya Mela ku kan hal berat atau pikiran nya menanggung beban berat," ucap sang dokter.


Dia sudah mengucap kan nya dalam sekali tari kan napas. Karana dia takut kembali di tekan oleh Shine


"Kelelahan?" satu kata itu keluar dari mulut Shine.


"Apa karna sebelum nya dia banyak melaku kan perlawanan terhadap orang-orang sialan itu," batin Shine.


"Benar Tuan, Nyonya kelelahan Karana sekarang Nyonya tengah berbadan dua hingga imun dan ketahanan tubuh nya lemah," ucap Si dokter.


Shine mengangguk-angguk kan kepala nya.


Sedang kan Xavier sinyal terkejut Karana hal itu.


Deg


"Berbadan dua? Maksud mu istri ku hamil?" tanya Shine lagi.


"Benar Tuan, Nyonya sedang hamil dan selamat anda akan memiliki penerus," ucap si Dokter yang kini tersenyum karena sudah rileks.


"Berapa lama usia kandungan nya?" tanya Shine dengan wajah datar. Tidak ada raut senyum sama sekali di sana.


Si Dokter bingung melihat ekspresi Shine begitu juga dengan Xavier.


"dua Minggu Tuan. A..apa saya melaku kan kesalahan tuan? Saya memohon maaf jika melaku kan nya," ucap si Dokter mulai gugup lagi.


Shien mengepal kan tangan nya lalu keluar dari sana.


"Tuan, Nyonya sudah sadar," ucap seorang perawat yang harus saja masuk setelah di beri kan ijin untuk memasuki ruang pribadi dokter itu.


Shien berdiri dan beranjak dari sana tanpa menjawab ucapan si dokter. Begitu juga Xavier dia mengikuti sang Tuan untuk meninggal kan ruangan itu dan menuju ruan VVIP di mana Sang Nyonya di sana.


Shien masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah datar tanpa ekspresi sekali pun. Tidak tersentuh seakan ada yang membentengi diri nya.


Safira yang bersandar di brankar dengan wajah pucat nya menatap shine dengan heran. Wajah datar itu, kenapa kembali seperti tiga tahun yang lalu? Ini bukan wajah datar shine belakangan ini.


"Apa ada yang kamu butuh kan?" tanya Shine datar.


Safira tidak menjawab dan hendak turun dari ranjang nya.


Shine langsung berjalan cepat dan menahan tubuh Safira.


"Mau ke mana?" tanya Shine dengan suara datar nya.

__ADS_1


Di wajah nya sama sekali tidak menunjuk kan wajah khwatir, tapi hati nya saat ini setengah mati untuk tidak menahan hasrat nya yang ingin memeluk Safira. Mengelus bibir pucat nya bahkan ingin menikmati nya.


"A...aku, ingin ke kamar mandi," ucap Safira gugup karena melihat wajah Shine yang sangat dekat dengan nya. Bah kan hembusan nafas nya sangat terasa. Wajah tampan itu selalu berhasil membuat Safira menahan Deta kan jantung nya yang ingin keluar dari tempat nya.


Xavier yang melihat sepasang suami-isteri itu sedang mendekat kan diri satu sama lain memilih untuk keluar Daris ana memberi kan ruang untuk tuan dan Nyonya nya.


Shine tanpa permisi dan pemberitahuan langsung mengangkat Safira dalam gendongan nya.


"Turun aku, kenapa harus di gendong?" ucap Safira. Dia malu nanti nya jika Shine merasa kan detak jantung nya yang sedang lari maraton.


Shine tidak menjawab dan membawa Safira ke kemar mandi. Bah kan pria itu ikut masuk ke kamar mandi meletak kan Safira di closet duduk yang berada di sana.


"Kenapa kamu masih di sini? Aku ingin buang air kecil. Keluar lah!" ucap Safira menatap Shine dengan bingung yang masih stay di sana.


"Tidak perlu malu, aku sudah pernah melihat bahkan merasa kan nya. Aku akan menjaga mu!" ucap Shine datar.


Wajah Safira memerah.


"Keluar lah Shine, aku malu Jiak kau ada di sini. Aku tidak perlu di jaga," kesal Safira Melihat Shine tetap di sana.


Menunggu selama lima menit, Shine tetap berada di sana dan sama sekali tidak mengindah kan ucapan Safira.


"Shine keluar lah! atau aku akan menahan nya saja!" ucap Safira bersiap untuk berdiri.


"Panggil aku jika sudah siap," ucap Shine keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan kamar mandi.


Masih tidak ada ekpresi di wajah pria itu, entah apa yang di pikir kan oleh pria itu.


"Dasar cabul," umpat Safira yang berada di dalam kamar mandi.


Setelah selesai melaku kan aktivitas nya di kamar mandi, Safira berdiri dan membuka pintu. Dia sama sekali tidak mengindah kan dan tidak ada niatan untuk memanggil Shine.


Tanpa di duga Shine yang mendengar pintu terbuka langsung membantu Safira melebar kan pintu nya dan mengangkat wanita itu.


"Apa sebenar nya mau mu Shine Damian," kesal Safira Karena tidak suka dengan tingkah Shine yang semena-mena.


Shine meletak kan Safira dengan begitu lembut.


"Agar nyawa yang ada dalam rahim mu baik-baik saja!" jawab Shine datar.


Safira loading sejenak


"Apa maksud mu?" tanya Safira mulai sadar akan perkataan Shine.


"Kau sedang hamil, maka berhati-hatilah saat ini jika melaku kan sesuatu," ucap Shine.


Safira terdiam sejenak dan kehilangan kata-kata. Spontan dia mengusap perut nya yang masih rata.


"Aku hamil?" tanya Safira sekali lagi.


"Ya," jawab Shine dengan wajah datar. Tidak tersirat wajah bahagia di sana.


"Hanya sekali bermain?" batin Safira. Namun dia di sadar kan kenyataan yang ada di depan nya sekarang.


"Kenapa dengan ekspresi mu?" tanya Safira yang melihat wajah shine yang sejak tadi dingin, tidak bersahabat, datar dan seperti tidak senang mendengar berita itu.


Jangan lupa like nya yah gays


Agar author nya semangat dan rajin up 🙂🙏👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2