
Setelah Shien dan Safira selesai latihan, Safira pergi terlebih dahulu di susul Shine. Tujuan wanita itu adalah ke ke ruang makan.
Entah mengapa baru beberapa jam di latihan sudah merasa lapar seperti tidak makan tiga hari.
Para pelayan segera menyiap kan makanan setelah Safira mengata kan dia sangat lapar. Dengan cepat para koki yang ada di dapur utama segera menyiap kan hidangan sehat ala ibu hamil. Ada juga variasi baru yang terbuat dari sayur-sayuran agar sang nyonya tidak malas makan ketika tiap hari hanya di saji kan buah-buahan.
Salah satu pelayan nya yang menyaji kan Makanan itu adalah Ibu-ibu yang di bawa Safira dari tempat tempat pengambilan sampah.
Nama samaran ibu Aurora: Jia
"Bibi, apa anda sudah bekerja?" tanya Safira dengan ramah.
"Sudah Nyonya, saya Sangat berterimakasih," ucap bibi itu.
"Kalau boleh tau, siapa nama bibi?" tanya Safira.
"Panggil saja saya Jia Nyonya," jawab Jia dengan sopan.
"Baik Jia terimakasih," ucap Safira.
Jika mengangguk dan segera undur diri dari sana.
Jika melirik sejenak ke arah Shine yang diam-memperhati kan percakapan nya dengan Safira.
"Sangat mirip," batin Jia beranjak dari sana.
"Apa kau lapar?" tanya Shine saat melihat deretan makanan yang ada di sana
"Apa kau tidak bisa melihat dari makanan yang di saji kan?" ucap Safira menjawab pertanyaan Shine dengan pertanyaan
"Makan lah secara perlahan," ucap Shine ketika Safira seperti di kejar setan saja memakan makanan nya.
"Anak ku lapar," ucap Safira datar dan melanjut kan makan nya dengan lahap
Shine menghembus kan napas nya
"Anak kita," batin nya. namun tak berani mengata kan nya secara langsung.
Setelah selesai makan, Safira meng Kus perut nya yang masih rata namun sudah memuat sejuta karbohidrat.
"Aku tidak melihat Nia dan Mateo," ujar Safira memulai percakapan.
"Mereka ada urusan dengan Xavier," jawab Shine.
"Apa tentang hukuman karena melaku kan kesalahan k maren?" tanya Safira.
"Aku tidak tau, mereka bersama Xavier," jawab Shin menatap Safira lekat-lekat.
"Kau yang meminta nya bukan," ucap Safira dengan wajah yang sudah mulai kesal.
"Tidak, Xavier yang membuat urusan nya. Tidak ada sangkut paut nya dengan ku," jawab Shine dengan Sabar melayani Safira.
"Dasar pembohong," ucap Safira.
"Kau bisa bertanya pada Xavier," jawab Shine terus.
"Tentu saja dia berpihak pada mu, kau tuan nya bukan?" kesal Safira tak mau kalah.
"Baiklah baik," ucap Shine mengalah.
"CK susah sekali, seperti ibu-ibu di pasar," ucap Safira.
Shine mengelus dada nya dengan sabar. Dia mengerti kondisi Safira saat ini yang sedang hamil karena mood nya sedang di ambang fluktuasi.
"Nanti malam aku ingin bertemu dengan Avicennia dan Mateo. Ada yang ingin ku bicara kan pada mereka," ucap Safira setelah itu itu dia meninggal kan Shine dan segera pergi ke taman mansion.
Shine mengikuti langkah Safira menuju taman mansion. Dia duduk di bangku taman sambil menikmati indah nya taman itu.
"Indah," ucap Safira tersenyum
"Lebih indah diri mu," puji Shine.
__ADS_1
"Tentu saja, kau pikir aku seperti mangan dan kekasih dan mainan mu itu, Cih," ujar Safira langsung menyerang Shine.
Pria itu menghela napas karena ke naifan Safira yang semakin tinggi saat hamil. Tapi Shine mewanti-wanti Safira akan membludak saat ini karena tiba-tiba mood nya sudah berubah menjadi buruk.
"Itu adalah sebuah kesalahan masa lalu," ucap SHINE.
"Yah benar, dan kau mengulangi nya sampai sekarang," ucap Safira, sekarang dia berhadapan dengan Shine dan menatap tajam mata pria di depan nya.
Shine terdiam dan tidak bisa menjawab lagi.
"Pria murahan," decak Safira pada akhir nya.
Shine benar-benar merasa tertampar kalo ini. Ucapan Safira terlalu kasar dan melebihi batas kesabaran Shine . Pria itu berdiri dan menatap Safira dengan dingin. Wajah nya memerah karena amarah.
"Kenapa? Kau marah hah? Biasa saja Tuan Shine, aku saja selama tiga tahun mendengar itu ke luar dari mulut mu biasa saja," ucap Safira santai tidak menanggapi perubahan wajah Shine yang signifi kan
Shine mengepal kan tangan nya kuat. Dia kemudian berlalu Daris ana dari pada menetap dan menghancur kan sesuatu yang tidak perlu di sentuh nya.
Shine berbalik dan melihat pelayan Jia sedang berada di sana dan memperhati kan mereka sambil membawa nampan. dia menunduk ketika melihat tuan nya ada di sana.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Jia melihat Safira yang sedang tertekuk.
"Kenapa Bibi bertanya seperti itu? Apa kau mendengar semua nya?" tanya Safira menatap tajam Jia. Safira tidak suka jika urusan pribadi nya di dengar orang apa lagi orang baru.
Baik bukan berarti Safira lembek terhadap pelayan baru ini yang pernah memberi kan bantuan ke pada nya. Terlebih lagi Nia pernah mengata kan bahwa Jia adalah pelayan yang harus di waspadai meski pun dia adalah seorang paruh baya.
"Maaf Nyonya, saya tidak sengaja tadi. Saya berniat mengantar kan minuman untuk anda sambil menikmati taman bersama Tuan," ucap Jia menunduk bersalah.
Safira mengangguk kan kepala nya dan menatap lurus ke arah depan.
"Nyonya...jika saya boleh memberi saran, jangan bertahan dengan orang yang selalu membuat Nyonya sakit hati, karena itu sama saja bunuh diri perlahan," ucap Jia.
Safira mengernyit kan dahi nya. "Aku tidak membutuh kan saran saat ini tapi ketenangan," ucap Safira datar tak suka di nasehati orang luar.
Jia gelapan karena nyonya nya menolak saran nya. "Maaf Nyonya, saya hanya ingin berbagi pengalaman," ucap Jia menunduk takut.
"Baiklah, boleh kau tinggal kan aku sekarang?" tanya Safira
Jia langsung mengangguk dan segera pergi dari sana dengan wajah bersalah.
Terutama ucapan Jia melayang-layang di kepala nya. Meski pun tadi dia menolak saran Jia bukan berarti dia tidak menerima nya dalam hati.
Safira juga tidak ingin egois dan mengesamping kan kesehatan psikis nya karena saat ini ada nyawa yang juga harus di jaga nya. Jika berada di sini entah mengapa setiap melihawa wajah Shine rasa sakit itu kadang muncul kadang tidak, jadi dia sedang mencari solusi.
Seminggu, apa itu tidak terlalu lama? Tapi ada juga misi yang harus di laku kan nya di tempat ini dalam kurun waktu satu Minggu ini yaitu untuk melatih fisik nya.
"Tahan Safira, kau bukan wanita lengan kau bisa lebih kuat tanpa pria itu," batin Safira. Melihat senja sudah mulai nampak dia memilih untuk memasuki mansion.
Jia yang saat itu sedang melintas di panggil oleh Safira.
"Bibi, boleh aku berbicara dengan mu sebentar saja?" tanya Safira.
"Tentu saja Nyonya," ucap Jia.
"Apa ada yang Nyonya butuh kan?" tanya Jia dengan penuh sopan takut melaku kan kesalahan seperti tadi.
"Boleh aku tentang maksud mu yang sudah berpengalaman?" tanya Safira.
"Tentu saja Nyonya," ucap Jia.
"Ini yang saya tunggu," batin wanita itu.
"Maksud mu lebih baik meninggal kan dari pada tersakiti bagaimana?"
"Nyonya saat itu saya bersama dengan prai yang saya cintai selama beberapa tahun tapi dia di ambil orang dan merelakan nya. Seorang wanita licik menggoda kekasih saya waktu itu, dia tetap menerima posisi saya sebagai kekasih nya namun lebih banyak menghabis kan waktu dengan wanita itu, saya memilih mundur dari pada menjalani hubungan toksik yang akan membahaya kan saya. Dan Karana saya mencintai nya sepenuh hati saya juga ingin melihat dia bahagia, karena itu saya meninggal kan nya agar dia mendapat kan kebahagiaan nya meski pun tidak dari saya," jelas Jia dengan sedih.
Safira mengerti maksud Jia.
"Terimakasih bibi Jia akan saran nya, saya akan memikir kan saran anda," ucap Safira.
"Tapi Nyonya itu berakhir untuk pria jahat, jika untuk tuan Shine itu tidak berlaku menurut saya Karan Tuan nampak Sangat sayang dan peduli pada anda. Tuan juga tidak pernah membawa wanita lain ke mansion ini," ucap Jia.
__ADS_1
Safira tersenyum hambar, "yah benar Bibi," jawab Safira.
"Yah dia sangat baik karena bibi baru mengenal nya beberapa hari ini. Bibi bahkan tidak tau tentang apa yang ku lewati tiga tahun terakhir," batin wanita itu sambil berjalan meninggal kan Jia di sana.
Dia tidak ingin terlihat lemah hanya karna kebodohan nya karena cinta. Dia bisa, dia bis amengendali kan diri nya saat ini, dia bukan Safira tiga tahun yang lalu yang lemah pemalu, bodoh dan segala nya.
Shine berpapasan dengan Safira di pintu masuk.
"Kapan surat itu ke luar?" tanya Safira singkat menyinggung kembali tentang surat yang di janji kan Shine
Shine merasa kan jantung nya berdetak dengan cepat.
"Akan segera di usaha kan, Xavier sedang sibuk akhir-akhir ini," ucap Shine.
Safira yang mendengar itu segera melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kamar.
"Boleh kah aku meminta hadiah perpisahan dari mu?" tanya Shine.
"Hmmm," jawab Safira tanpa pikir panjang.
Dia juga muak membahas ini tapi ini memang benar harus terjadi bukan?
"aku ingin ke mansion Elvio besok, aku harap kau tidak melarang Mateo dan Avicennia ke sana," ucap Safira.
"Pengawal lain nya akan bersama kalian."
"Tidak masalah," ucap Safira berlalu Daris ana begitu juga dengan Shine.
Shine bisa melihat perubahan Safira yang kini memang memiliki tekad yang begitu kuat untuk pergi dari sisi nya. Shine juga bisa menebak Safira sedang jatuh cinta dengan Elvio melihat wanita itu tidak sabar untuk pergi ke sana.
Safira juga biasa nya akan meminta izin terlebih dahulu pada shine tentang kepergian nya, tapi sekarang tidak. Dia justru meminta orang lain untuk ikut bersama nya.
Besok nya Avicennia dan Mateo sudah bersiap pergi ke mansion Elvio.
Shin pergi sangat pagi ke kantor, berbeda dari biasa nya. Entah Shine tidak ingin melihat Safira pergi atau tidak, entah lah.
Sekaran Safira sudah berdiri di depan pintu mansion Elvio, mewah Sama seperti mansion Shine hanya saja desain mansion Elvio bergaya lebih galmour.
Pelayan yang melihat Safira berdiri di depan pintu segera menghampiri Safira dengan sopan.
"Mohon maaf Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
"Saya ingin bertemu dengan tuan kalian, Elvio apa dia ada di dalam?" tanya Safira.
"Maaf Nyonya, jika boleh tau anda siapa? Kami tidak bisa memberi kan izin pada sembarang orang," ucap pelayan itu.
"Sebaik nya tutup mulut mu pelayan sialan, kau terlalu lancang bicara pada Nyonya," ucap Avicennia dengan penuh penekanan.
Pelayan itu yang merasa terintimidasi langsung menunduk.
"Berhentilah berperilaku menyelam kan seperti wajah mu, aku suka melihat nya," bisik Safira di telinga Nia
Nia menatap sinis ke arah Nyonya nya.
"Silah kan masuk Nyonya, kami akan mengabari Tuan kami
Mungkin pelayan kami kurang update hingga tidak mengenali Nyonya," ucap seorang penjaga.
"Tidak apa-apa, terimakasih," ucap Safira ramah.
Kepala penjaga itu mengenali Safira karena Safira sudah di juluki MALAIKAT IBLIS oleh para dunia bawah tanah karena berhasil meleleh kan king of the evil dunia bawah.
Sedang kan Shine di kantor nya begitu beranta kan namun kesaran nya tetap kuat.
"Apa dia sudah sampai di sana? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sangat bahagia?" tanya Shine dengan pertanyaan hambar itu.
Xavier menghela napas namun tetap menjawab pertanyaan Shine.
"Nyonya baik-baik saja Tuan, dia sudah berada di mansion tuan Elvio," jawab Elvio.
"Apa dia akan menetap di sana? Elvio Sangat beruntung bukan?" ucap Shine seperti orang gila. Dia kembali menenggak wine seperti orang bodoh yang sudah putus harapan.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂🙏👍👍👍