
Shine memicing kan mata nya ketika melihat sang istri sedang berbisik melalui sambungan telepon. Safira terlihat cekikan di akhir telepon nya.
"Kenapa?" Wajah itu terlihat sangat kepo.
"Safira mencebik kan bibir nya.
"Kepo!!!!!" kesal nya kembali bermain ponsel dan mengabai kan Shine.
Begini lah kehidupan Shine dan Safira beberapa bulan belakangan ini. Kadang Shine di buat frustasi oleh kelakuan sang istri. Kadang mendiam kan nya seharian penuh, mengunci pintu kamar utama hingga dia di larang tidur di tempat tidur, namun nama nya juga Shine dia tidak akan bisa tidur jika tidak di samping istri tercinta.
Tidak ada kata-kata cerai dari ke dua mulut itu. Hanya kata-kata cinta yang selalu saja ke luar dari mulut Shine.
Seakan semesta merestui hubungan mereka yang dalam masa pemulihan, tidak ada kejadian yang menjadi batu krikil dalam hubungan mereka.
Musuh-musuh Shine juga sama sekali tidak menampak kan batang hidung nya. Shine sama sekali tidak takut, semua nya perlu tahapan yang harus di persiap kan. Tidak ada yang lebih sulit dari pada memperbaiki hubungan nya dengan sang istri.
Dan akhir nya setelah berjuang beberapa saat dia bisa kembali bersama istri nya. Dan Shine bersumpah tidak akan menyia-nyia kan kesempatan ke dua ini.
...----------------...
"Kenapa kamu keras kepala hah? Lupa kan dia. Jangan mengganggu kebahagiaan mereka," seorang laki-laki berujar dengan frustasi.
Sedang kan dua orang tua di sana hanya diam. Dia adalah Max Orlando dan sang istri Diviana Orlando.
"Tapi aku mencintai nya nya kak,"
"Queenza...," benta kan itu terdengar nyaring di telinga orang-orang yang ada di sana.
"Darius, jangan terlalu keras pada adik mu!!" Suara itu tak kalah kencang dengan suara Max. Dia tidak suka putri satu-satu nya di bentak begitu saja oleh putra nya itu.
"Kenapa Dad hah, kau tau cinta itu bodoh bukan. Bagaiman jika putri mu nanti berbuat di luar nalar ke pada istri Shine?" Darius terlihat menggebu-gebu
Max terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi. Yah mereka semua tau bahwa Queenza itu ambisius.
"Bagaimana jika kita di cup sebagai keluarga penghianat? Apa itu yang Daddy mau? Kata kan Dad," Darius terlihat frustasi.
Ini lah yang di takut kan Max ketika membawa Queenza bermain sejak kecil dengan putra tuan nya yang selama ini dia hormati sekaligus sahabat yang sudah di anggap nya sebagai saudara.
Dan benar saja, kebersamaan Queenza dengan Shine sejak kecil membuat putri nya itu jatuh cinta ke pada putra sahabat nya Tuan nya.
"Dad, aku benar-benar mencintai Shine. Apa itu salah ku?" tanya Queenza. Dia sudah menghilang selama tiga bulan ini dan di kurung di mansion besar mereka.
Darius tidak mengizin kan Queenza ke luar dari mansion untuk bekerja di rumah sakit apa lagi bertemu dengan Shine. Pria itu benar-benar marah ketika mata-mata nya mengata kan bahwa Queenza tak segan-segan menunjuk kan rasa sayang nya pada Shine di depan Safira, istri pria itu.
"No Sayang, itu bukan salah mu. Tapi kau tau bukan istri Shine sedang hamil. Apa kau ingin menghancur kan masa depan anak yang sedang dalam kandungan Safira?"
Queenza nampak menggeleng Kan kepala nya.
"That't why jangan pernah mendengar rumor tak becus itu. Guna kan mata mu untuk melihat dan otak mu untuk berpikir dengan waras!"
Darius tak segan-segan berkata dengan kasar pada sang adik, tapi mau bagaimana lagi. Sudah puluhan tahun diri nya berbicara dari hati ke hati ke adik nya itu namun Tak kunjung mengerti.
Entah Bodoh atau tidak bisa lagi memahami mana yang real dan fake, Queenza melihat berita -berita trending di internet, dia melihat beberapa artikel yang menyata kan hubungan
Safira dan Shine sudah sangat beranta kan sampai ada kabar yang terdengar ada gosip bahwa Shien dan Safira akan segera bercerai secepat nya.
Hal itu membuat Queenza bersemangat pulang dari luar negeri ke New York, dia berpikir masih ada kesempatan besar yang tersedia untuk nya.
__ADS_1
"Darius, jangan terlalu kasar ke pada adik mu," Max terlihat memijat pangkal hidung nya dengan perasaan lelah nya
"Terserah Dad, jangan sampai hubungan kita dan keluarga Browns beranta kan hanya karena obsesi bodoh nya. Meraka adalah orang yang kita hormati dari Daddy masih muda, cam kan itu Qeenza. Jika sekali saja kau menyakiti istri dari Shine, kakak tidak akan segan-segan mengirim mu kembali ke sana," ucap Darius menggebu-gebu.
"Tapi wanita itu yang menjebak Shine sehingga mereka bisa bersama Kak. Aku yakin Shine tidak mencintai wanita itu begitu juga Safira. Aku yakin Meraka hanya pura-pura saling mencintai agar menjaga nama baik om Rhadika"
"Tidak mencintai? Apa kau tidak lihat saat di rumah sakit berapa posesif nya shine terhadap Safira? Kau tidak lihat bagaimana Safira menjaga Shine. Jangan buat karena cinta Queenza,"
"Tapi tidak ada yang mencintai Shine lebih besar dari pada aku yang mencintai pria itu,"
"Tapi cinta mu Bodoh Queenza. Cinta mu buta, cinta mu Bodoh, cinta mu kosong!" ucap Darius menatap tajam adik satu-satu nya itu.
Entah bagaimana lagi Darius bisa menyadari kan adik nya itu
Queenza hanya bisa menangis di pelu kan sang Daddy, dia benar-benar tersiksa dengan rasa yang ada. Memang benar kata Diane Warren dalam lagu nya yang mengata kan "only love can hurt like this".
Memang benar lirik lagi itu hanya cinta yang bisa menyakiti kan seperti ini.
Max juga tidak bisa mengata kan apa pun, diri nya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Cinta tidak bisa di paksa kan Sayang. Apa guna nya jika cinta bertepuk sebelah tangan Queenza," ucap Max dengan hati-hati.
Queenza semakin menangis dalam pelu kan Daddy nya. Dia hanya memperjuang kan ke mana hati nya melekat, apakah itu sebuah kesalahan
"Sayang, Daddy tau kau hanya memperjuang kan cinta yang kau miliki. Tapi kau harus tau, apa itu cinta yang benar atau cinta yang salah, apa hari mu berlabuh ke arah benar atau yang salah," ucap Max. Dia harus berhati-hati bicara dengan putri nya yang sedang rapuh.
Setelah Max selesai membuat putri nya teng dan menidur kan Queenza di kamar nya. Max memilih ke luar mansion sama seperti Darius, pikiran nya akan penat jika terus berada di mansion.
Di sini lah pria itu sedang berdiri. Di pintu mansion besar milik Rhadika Browns. Dia langsung di sambut oleh para pengawal dengan tatapan hormat dan respect yang tinggi, meski pun Max terkenal kejam, tapi dia orang yang di siplin dan baik terhadap pada anggota nya.
"Tuan ada di dalam bersama Nyonya Tuan," ucap seorang pengawal membuka pintu untuk Max. Pria itu hanya melirik sebentar ke para pengawal yang ada di sana kemudia masuk begitu saja
"Hai Nyonya, terimakasih," ucap Max tersenyum tipis ke pada Rosaline.
"Jangan formal pada ku, aku tidak suka. Jika kau terus seperti ini, maaf pintu mansion ku tertutup untuk mu," cebik Rosaline malas. Sudah beberapa kali dia mengingat kan Max agar jangan formal pada nya.
"Baik Rosa," ujar Max dengan enggan menatap ke arah Rhadika yang menatap nya bengis.
"Mmmm, tadi Darius ke sini," ucap Rhadika memulai percakapan.
"Apa ada masalah Max?" tanya Rosaline khawatir.
Pasal nya Darius datang ke sini hanya untuk bertemu dengan diri nya. Hanya memeluk sebentar dan tidur di pangkuan nya. Anak itu bersikeras meski pun sudah mendapat kan penola kan dari Rhadika, tapi Rosaline membujuk sang suami agar pria itu mengizin kan Darius tidur di pangkuan nya.
"Ada sedikit masalah dengan adik nya. Dia tidak bisa membujuk adik nya untuk melupa kan Shine. Dan berkahir marah dan eminggal kan mansion begitu saja," Max nampak gusar tentang itu.
"Apa Queenza pulang karena mendengar berita di artikel-artikel?" tanya Rosaline.
Mereka sudah pernah melihat Queenza menyerah dengan Shine yang terus mengabai kan nya dan memilih pergi ke luar negeri agar bisa melupa kan Shine, tapi entah kenapa Queenza kembali dan tetape m ebawa cinta nya untuk Shine
"Benar, dia kembali karena itu," ucap Max.
"Darius datang hanya untuk bermanja-manja dengan istri ku. Itu sangat menyebal kan," kesal Rhadika. Dia tidak ingin sahabat nya itu berlarut-larut dalam kesedihan
"Sayang tidak boleh seperti itu, mungkin Darius rindu mommy nya."
"Cepat lah cari pengganti almarhum istri mu, aku tidak mau pelarian putra mu itu istri ku, aku tidak suka," titah Rhadika.
__ADS_1
"Mmmm, aku mengenal seorang wanita. Cantik, badan nya bohai, dia juga...."
"Rosa, apa tidak ada cemilan lain?"
"Tentu saja," Rosaline berdiri dan menuju dapur. Dia tau maksud dari Ma agar memberi kan dua orang itu ruang untuk bicara.
"Apa dia tidak ingin kembali ke luar negeri?" tanya Dika sambil menyesap minuman nya.
"Tidak, dia bersikeras di sini meski pun Kakak nya sudah marah besar,"
"Dia gadis yang ambisius Max, aku harap dia tidak akan mengganggu hubungan Shine dan Safira yang baru saja membaik,"
"Tentu saja, aku sedang mencari cara agar putri ku bisa melupa kan Shine."
"Cari pria lain, kau bisa menjodoh kan mereka."
...----------------...
Suasana Mansion Shine dan Mansion Orlando sangat berbeda jauh.
Saat ini Safira di kaget kand Engan kedatangan Darren.
Dia khwatir karena semalaman Safira menyuruh Shine tidur di kamar sebelah, jadi dia sama sekali tidak memeriksa pria itu aoak sedang sakit atau baik-baik saja.
Shine juga tidak ke luar kamar sejak pagi tadi, pada hal Shine akan selalu bangun puluk tujuh pagi jika tidak ke kantor.
Memang hari ini adalah hari libur, tapi tidak bagi Darren karena jelmaan iblis itu.
"Kakak ipar, ada apa dengan Suami mu? Apa dia sedang sak...,"
Safira sudah berjalan cepat di ikuti oleh Darren. Dia pikir keadaan memang benar-benar darurat.
"Shine...Shine....Apa kau baik-baik saja?" teriak Safira yang masih berjalan di tangga. Dia tidak bisa berlari karena perut nya saat ini sudah mulai membesar
Darren juga tak kalah khwatir nya. Dia.memilib mendahului Safira dan berlari ke kamar utama.
Darren mengedar kan pandangan dan tidak ada orang di mar itu
"Sial, di man pria itu?" Darren berlari ke segala ruangan yang ada di kamar itu, Nihil tidak ada.
"Kakak ipar, di mana Shine?" tanya nya berlari kembali dengan tergesa-gesa ke arah Safira.
"Dia, dia ada di kamar sebelah. Aku tidak memeriksa ke adaan nya sejak semalam,"
"SH it," Darren mengumpat. Shine belum baik-baik saja. Racun itu belum ke luarr sepenuh nya karena mereka belum menemu kan penawar nya sampai saat ini. Hanya penghambat penyebaran racun itu yang bisa mereka usaha kan saat ini.
"Shine," pekik Safira ketika sudah bisa membuka pintu sepenuh nya.
Keadaan Shine begitu tidak baik-baik saja. Pria itu terlihat berada di lantai kamar dengan rambut acak-acakan.
Safira semakin panik ketika melihat ada cairan merah dekat pria itu.
Darren si buat kalang kabut.
"No...tidak, aku tidak mungkin terlambat dia kali seperti ini. Tidak..tidak," ucap Darren. Dia tidak bisa melang kah kan kaki nya ketika bayangan masa lalu menghantui nya.
Sesng kan Safira, tangis wanita itu pecah dalam diam. Dia tidak ingin semakin membuat Darren syok
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍 Agar author nya semakin semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍