Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 82


__ADS_3

"Apa yang kau laku kan Mateo? Lepas kan!" tegas Safira.


"Kau juga Nia, kenapa kau tidak sopan hah? Kau menyentuh majikan mu tanpa Izin!" ucap Safira. Dia menatap tajam pengawal wanita nya itu.


"Maaf Nyonya," ucap Nia dengan rasa bersalah. Yah, Nia mengakui bahwa dia bersikap terlalu berlebihan dan tidak sopan.


"Sekarang jelas kan pada ku! Mateo apa yang terjadi, kenapa kau tiba-tiba menyerang Leon?"


"Maaf Nyonya, tapi pria ini menunjuk kan ketertari kan diri nya pada Nyonya, pada hal dia sendiri tau bahwa Nyonya sudah memiliki suami," jelas Mateo masih setia menatap tajam Leon


Safira merasa alasan Mateo sangat tidak masuk akal.


"Jadi hanya karena itu? Mateo aku rasa kau tidak pernah tertarik pada wanita," ucap Safira


Siapa pun berhak tertariknpada seseorang bukan? Baik itu milik orang lain, tapi Leon sudah berusaha melupa kan diri nya dan itu butuh proses. Dan Leon tidak pernah memaksa kan diri nya agar dimiliki Leon.


Mengagumi boleh, memaksa untuk memiliki tentu tidak.


"Ahemm, tidak ada hubungan nya dengan saya Nyonya," jawab Mateo.


Kemudian dia melirik ke arah Leon.


"Aku ragu kau sudah berbelok Mateo," ucap Safira sambil meringis.


Mateo tidak menanggapi ucapan Safira.


"Seperti yang sudah anda tua Tuan, mohon menjaga hati anda dari Nyonya karena Nyonya saya masih memiliki seorang suami," ucap Mateo


Leon hanya bisa mengangguk pasrah, yah dia harus menjauhi kata pebinor itu seperti yang tersirat di wajah pengawal Safira.


"So, apa tujuan mu Fira?" tanya Leon dengan tenang.


"Boleh aku meminta alat yang bisa melindungi diri. Tapi bisa di bawa ke mana-mana," ucap Safira.


Leon terlihat bingung dengan permintaan Safira. Bukan kah seharus nya meminta alat pelindung seperti itu harus nya safira pergi ke kantor militer atau semacam nya?


"Maksud mu kau minjam alat dokter?" tanya Leon memasti kan.


"Yahh."


"Seperti?"


"Jarum misal nya," ucap Safira


Oke, Leon paham maksud Safira.


"Baiklah, aku mengerti maksud mu," ujar Leon manggut-manggut.


Di seberang mereka ada seorang wanita yang menatap sinis ke arah meja yang di duduki oleh Safira. Dia mengambil beberapa gambar Safira yang saat ini tersenyum bahagia ke arah laki-laki lain yang tentu nya bukan suami nya.


Dia mengguna kan pakaian serba tertutup jaket dan baju serba hitam dan juga masker hitam.


Safira terlihat semangat.


"Kapan aku bisa mengambil nya?" tanya Safira. Bukan nya Safira ingin terlihat hebat bisa melindungi diri sendiri, tapi saat ini dia sudah mulai jauh dari Shine, dia harus bisa lebih pro untuk melindungi diri.

__ADS_1


"Emmm, besok mungkin. Aku akan menyiap kan nya untuk mu," ucap Leon tersenyum tulus ke arah Safira.


Setelah berbincang-bincang santai beberapa saat, Safira hendak ke kamar mandi. Dia berdiri dan dengan siaga Mateo dan Nia mengawal Safira ke arah kamar mandi.


Langkah Safira terhenti ketika melihat Mateo ikut berdiri juga dari kursi nya.


"Kemana?" tanya Safira


"Melindungi anda Nyonya."


"Kau tidak mendengar ke mana aku akan pergi?"


"Ke kamar mandi Nyonya."


"So?"


"Terakhir anda berada di mansion Tuan Elvio, Nia tidak becus menjaga anda Nyonya. Tolong jangan melarang saya," ucap Mateo dengan tegas.


"Terserah!" pasrah Safira pada ujung nya.


Dia malas berdebat, pada hal Nia waktu itu karena terluka, tapi di keras kepala Mateo tidak akan menuruti perintah nya. Kadang dia heran siapa tuan nya di sini.


Brughh


Safira yang baru melangkah satu langkah hampir terjatuh kalau tidak ada Mateo yang menahan nya.


"Gunakan mata mu sialan!" ucap Nia dengan ganas sambil menatap wanita itu.


"Maaf-maaf Nyonya, saya tidak sengaja," ujar wanita itu lalu pergi dengan tergesa-gesa.


Dia langsung berlari dan mengejar wanita itu. Dia mengedar kan pandangan nya namun tidak melihat wanita itu lagi.


"Sh it, aku yakin wanita itu sengaja menutup identitas nya," batin Mateo.


Seorang wanita berpakaian seksi terlihat melewati Mateo sambil mengedip kan mata nya dengan menggoda. Belahan dada wanita itu begitu menggoda untuk di pandang mata kecuali Mateo. Wanita itu juga mengguna kan rok pendek yang hampir memperlihat kan bokong nya.


Dia melewati Mateo dan tersenyum tipis.


"Tampan juga, tapi Sayang musuh," batin wanita itu berlalu dari restoran itu.


"Kenap?" tanya Nia yang di ikuti oleh Safira dan Leon


"Tidak, aku hanya merasa aneh dengan wanita itu," ucap Mateo.


"Baiklah, kita pulang. Terimakasih Leon. Besok aku akan datang ke rumah sakit mu," ucap Safira.


Leon tersenyum manis dan mengangguk


"Apa ada masalah Nyonya?" tanya Mateo melihat mood nyonya nya buruk


Safira diam dan tidak menanggapi ucapan Mateo.


"Tuan sedang sakit!" ucap Nia . Wanita itu memilih menjawab pertanyaan rekan nya.


Ada sesuatu yang ingin di minta ol h Mateo dari Safira. Tapi melihat mood nyonya nya, Mateo mengurung kan niat nya.

__ADS_1


Setalah sampai di mansion, Safira segera bergegas turun dan menuju kamar utama dan meletak kan sembarangan tas yang di guna kan nya.


Nia memilih diam Karena, dengan jelas diri nya bisa melihat ada amarah di mata majikan nya.


Safira nampak berpapasan dengan Xavier.


"Siapa yang memanggil nya?" tanya Safira dengan tatapan tajam nya.


"Sa...saya Nyonya," jawab Xavier takut-takut.


"Apa kau kulai tak menganggap ku sialan?" ucap Safira dengan dingin


Dia menendang kaki Xavier sekuat tenaga dan terlihat Xavier meringis.


"Bukan..tidak Nyonya. Saya sudah minta izin dengan Tuan, tapi tuan melarang saya memanggil Nyonya," jelas Xavier.


Mendengar itu, Safira melanjut kan langkah nya Engan penuh amarah.


"Si breng sek sialan itu selalu saja menguji emosi ku," batin Safira bergegas naik ke lantai atas.


Brakkk


Safira dengan keras menendang pintu dan melihat seorang wanita sedang mengompres kepala sang suami di ranjang.


Suami nya juga terlihat tenang tanpa ada penolakan


"Keluar!" perintah Safira dengan lantang. ke dua kali nya dia orang yang ada di sana di buat kaget dengan tingkah dan suara Safira yang menggelegar.


"Kau tidak berhak!" ucap wanita yang ada di samping Shine dengan tenang dan penuh permusuhan.


"Tidak berhak? Apa otak sialan mu itu sudah pikun?"


"Istri mana yang meninggal kan suami nya saat sedang sakit?" ucap wanita itu membalas perkataan Safira.


Safira merasa tertohok, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia tidak akan mau di injak-injak oleh wanita yang tidak ada apa-apa nya.


"Aka kau kurang kerjaan sehingga mengurusi rumah tangga orang lain?" tanya Safira tak kalah sengit


"Apa kau kurang perhatian sehingga pergi meninggal kan suami mu yang sedang sakit?" balas wanita itu.


"Berhenti dan keluar lah sebelum aku menendang mu dengan kaki ku," ucap Safira dengan nada mene kan.


"Keluar lah," suara berat Shine tiba-tiba menyela perdebatan antara dua wanita yang ada di sana.


wanita itu keluar dengan sangat kesal dan menghentak kan dengan kasar kaki nya ke lantai marmer itu.


"Tunggu pembalasan ku," ucap wanita itu ketika melewati Safira.


Melihat pintu sudah tertutup, Safira mendekat ke arah Shine dan tersenyum tipis.


"Sudah tidak sabar kah bersama dengan pujaan hati mu? Sudah tidak sabar berpisah dari ku? Sampai kau membawa nya ke ruang utama kita? Sabar Tuan Shine Damian Browns yang terhormat, tunggu sebentar lagi agar nama Browns tidak rusak" ucap Safira menyeringai


Yah, dia harus berpisah dengan cara yang bersih dengan Shine. Dia tidak mau menyinggung mertua nya jika hidup nya masih ingin damai


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍

__ADS_1


Agar author nya makin semangat 🙏👍👍👍


__ADS_2