
"Aku ingin ke luar, beri kan akses nya sialan," maki Rora setelah dia ke luar dari kamar Affinis. Rora baru menyadari bahwa kamar ya g dia tempati adalah suite room yang arti nya pria yang bernama Affinis ini adalah pemilik atau salah satu investor terbesar di hotel ini.
"Tidak semudah itu," ucap Affinis dengan nada menantang.
"Apa mau mu Sialan," maki Aurora.
"You, i want you," ucap Affinis.
Amarah Aurora memuncak ketika mendengar ucapan Affinis. Ini terkesan merendah kan derajat nya sebagai seorang wanita. Rora langsung bergerak lincah dan mengincar Affinis.
Pria itu tersenyum miring. Kenapa dia baru bertemu dengan wanita ini, kenapa tidak dari dulu? Semua wanita yang di temui nya selalu saja takluk pada ketampanan, keperkasaan dan juga kekayaan nya, tapi wanita satu ini, sungguh menarik.
"Dalam mimpi mu pria cabul sialan," umpat Safira dengan marah. Belum pernah ada seorang pun pria yang berani meleceh kan nya seperti ini.
Affinis meladeni wanita cantik di depan nya. Di lihat dari segi mana pun Rora adalah wanita ahli, gerakan tatapan, sifat dan segala nya.
Sekuat apa pun Aurora dia tidak berhasil melukai pria di depan nya. Seperti nya ucapan yang menata kan wanita lebih lemah di banding kan pria itu benar. Pria di depan nya pasti nya bukan pria biasa.
"SH"it, lepas kan sialan," maki Rora ketika lagi-lagi Affinis menyusut kan nya seperti sebelum nya ke tembok. Dan kali ini benar-benar tidak ada peluang, kaki nya yang sebelum leluasa di kick oleh Kaki Affinis.
"Siapa sebenar nya kau?" tanya Aurora sinis.
"Pria mu, mungkin akan menjadi calon suami mu," jawab Affinis menghembus kan napas nya ke leher Aurora
"Berhenti menggoda ku sialan, atau aku akan melapor kan mu,"
Affinis tertawa meledek.
"Ke siapa? Bahkan pemimpin negara ini tidak mampu menyentil ku?" kekeh Affinis
Sesuai dugaan Rora, Affinis bukan pria biasa. Dia benar-benar tidak bisa menyelamat kan diri saat ini, sial. Rora mencari ide lain, toh juga pertemuan ini adalah yang pertama dan terakhir.
"Daddy, please help me. Maaf membawa na mu," ucap Rora dalam hati.
"Lepas kan aku atau pria ku akan benar-benar membunuh mu,' ucap Aurora.
"CK, siapa pun itu aku tidak takut," ucap Affinis.
"Benar kan kau tidak takut pada Rhadika Browns. Dia bisa saja meletus kan kepala mu karena mengganggu wanita nya," ucap Rora dengan Berani
Affinis yang mengetahui pria itu langsung melepas kan cekalan nya.
"Jangan mengada-ada, Tuan Browns hanya memiliki satu wanita yaitu Nyonya Rosaline," ucap Affinis dengan tidak percaya.
"Berikan ponsel mu, apa kita perlu menelepon nya?" ucap Aurora menantang.
Affinis menatap Aurora dengan tatapan tak percaya
"Katakan dulu nama mu, aku tidak akan mudah tertipu karena banyak wanita yang mengaku sebagai *** *** pria kaya," ujar Affinis menyelidik.
"Aurora, jika kau menyinggung nama ku ke pada Sayang ku Rhadika dia mungkin akan langsung membunuh mu," ucap Aurora dengan mengeram kan.
Affinis mengernyit kan dahi nya. Seperti nya nama itu tidak asing di telinga nya
"Telpon sekarang, bukti kan jika kau benar-benar wanita tuan Rhadika," ucap Affinis.
__ADS_1
"Kau pikir aku bodoh, beri kan dulu kartu akses nya," ucap Aurora.
Dengan segera, Affinis menyerah kan kartu akses dan ponsel nya.
Aurora dengan santai dan percaya diri langsung menekan nomor Daddy nya.
Beberapa kali bit ponsel terdengar tidak di angkat membuat Affinis semakin tidak percaya.
Rhadika di seberang sana yang melihat ponsel nya di telepon oleh orang tak di kenal mengernyit kan dahi nya
Siapa yang berhasil mengetahui nomor ponsel nya.
Rhadika memilih tidak mengangkat telepon itu karena saat ini juga sedang bersama sang istri menikmati waktu berdua, pada hal tiap hari ke dua nya selalu berdua.
Deringan ke dua akhir nya Rhadika mengangkat ponsel nya.
"Sayang...Sayang ku Rhadika...."
Suara pertama yang di dengar Rhadika.
Rosaline langsung menutup mulut nya tak percaya. Dia langsung mengambil selimut yang berada di pangkuan nya dan berlalu ke kamar meninggal kan pria nya di sana
"Baby...ini tidak seperti yang kau perkira kan," ucap Rhadika tapi tak di dengar Oleh Rosaline.
Rhadika naik pitam.
"Siapa?" tanya Rhadika dengan dingin dan penuh penekanan.
Sedang kan Aurora tersenyum puas, sesekali dia mengerjai mommy dan Dad nya tidak apa-apa bukan?
Affinis masih belum percaya karena sama sekali Rhadika belum menanggapi Aurora dengan jelas.
Rhadika yang meneliti lagi suara itu mendapat kan siapa pelaku nya. Jika Shine yang mengerjai nya mungkin Rhadika akan terang ke negara pria itu dan memukuli nya habis-habisan, tapi kali adalah princess keluarga Browns dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ada apa princess, kau di mana. Apa ada masalah?" tanya Rhadika mengehela napas.
Affinis terkejut mendengar respon dari telepon seberang. Dia yakin itu suara Tuan Rhadika, karena dia sering mendengar suara pria itu belakangan ini melalui ponsel nya.
"CK, kenapa aku tidak sering-sering mengata kan ini pada Das, menggoda nya. Oh ini sangat imut," batin Aurora.
Memang jika bersama keluarga nya, semua pemilik jiwa mafia keluarga Browns selalu menghilang entah ke mana, sama seperti Aurora dan Rhadika yang melayani ocehan putri nya.
"Sayang, kau tau ada pria yang menahan ku dan dia tidak percaya jika kau adalah pria ku," ucap Aurora dengan nada manja.
Rhadika yang tidak pernah mendengar suara Aurora yang manja merasa geli sendiri, kecil saja Aurora sudah bersikap dingin.
"Apa Sayang mu ini perlu mengirim kan bantuan ke sana Princess," ucap Rhadika. Pria itu benar-benar melayani ocehan putri nya
Dia sejak tadi sudah Meliahat sekelabat bayangan di atas sana dan dia tau itu istri nya. Safira pasti benar-benar mendengar percakapan Rhadika dan Aurora. Tapi Rhadika mengecil kan volume telepon nya dan menguat kan volume suara nya agar di dengar Safira.
"No Sayang, aku aman saja kok. Hanya hama kecil, aku butuh transferan dong yank. sayang ku kan tidak pernah memberi kan transferan," ucap Aurora.
Memang sejak pindah dari mansion Browns Aurora tidak pernah menerima transferan.
"Berapa Sayang, berapa yang kau butuh kan," ucap Rhadika.
__ADS_1
"Terserah Sayang,"
"Baiklah Sayang, jika ada apa-apa kabari princess," ucap Rhadika.
Affinis yang mendengar percakapan itu ingin mual rasa nya. Ternyata wanita yang sangat menarik untuk nya adalah wanita simpanan legenda mafia terkejam yang terkenal di dunia bawah.
"Puas?" ucap Aurora. Akhir nya dia bisa keluar dari sana dengan Affinis yang masih saja mematung di sana.
Sedang kan di mansion Rhadika, Rosaline benar-benar marah dan mengunci pintu kamar mereka . Dia benar-benar tidak Sudi bertemu dengan suami nya saat ini.
Apa ini akhir dari rumah tangga mereka? Rhadika benar-benar terang-terangan selingkuh di depan nya.
Ceklek
Pintu tiba-tiba terbuka. Rosaline bisa menebak siapa itu. Tidak ada guna nya dia mengunci pintu tadi.
Wajah nya yang sembab memilih menguat kan hati nya. Dia harus benar-benar mendengar sesuatu dari mulut suami nya sendiri.
"Apa maksud semua ini Rhadika?" tanya Rosaline dengan tajam.
"Apa? Aku baru saja bertelepon dengan kesayangan ku. Ada masalah?"
"Ada masalah?" Rosaline benar-benar ingin memukul kepala Rhadika dengan sekuat mungkin.
"Apa dia selingkuhan mu? Sudah berapa lama hah? Apa kau tidak betah lagi dengan ku? Apa dia lebih muda? Dia puluhan?" bentak Rosaline.
Rhadika naik ke atas tempat tidur.
"Apa kau cemburu?" tanya nya santai tidak merasa bersalah.
"Kau masih mulut untuk bertanya sialan?" ucap Rosaline d Ngan nada menggebu-gebu.
"Ya benar, dia masih muda dan masih umur kepala dua," ucap Rhadika santai.
"Breng sek. Jangan pernah membawa nya ke mansion ini. Jika berpisah yang kau ingin kan, jauh kan pikiran itu," ucap Rosaline muak.
"Tidak bisa, dia tidak di larang sama sekali datang ke mansion ini. Dia adalah jiwa ku setelah diri mu," ucap Rhadika sungguh-sungguh.
Dia sungguh menikmati wajah istri nya saat ini. Ouh, begini kah rasa nya di cintai? Biasa nya wanita yang akan mengata kan, pisah, ini justru sebalik nya
Wanita di seberang sana yang mendengar ocehan dan tanggapan santai dad nya sangat senang. Ini lah yang dia tunggu -tunggu membuat mom nya kesal setengah mati
"Mommy," tiba-tiba ponsel yang di pegang Rhadika berbunyi.
Tangis Rosaline pecah mendengar suara yang mengata kan mommy. Itu adalah Aurora putri nya.
Rosaline langsung berlari dan mengambil ponsel dari tangan Rhadika dengan kasar.
"Mom, are you okay?" tanya Aurora pura-pura panik. Rhadika hanya mencebik kan bibir nya dengan kesal. Ternyata Aurora adalah ratu drama keluarga Browns selain memegang gelar princess Browns.
"Sayang, Daddy mu selingkuh. Mommy... mommy tidak tau bagaimana ini," ucap Rosaline.
"Apa???? Daddy..." teriak Aurora dengan keras seperti marah sampe-sampe Rosaline menutupi telinga nya.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍
__ADS_1
Agar author nya rajin up yah 🙂🙏