
Shine dan Alaska masih beradu kekuatan. Tak ada yang ingin mengalah, benar mereka benar-benar mencermin kan bahwa mereka adalah pimpinan klan mafia.
"Jika saja klan mu bertanding dengan klan mu, klan ku pasti menang. Tapi sayang aku hanya benar-benar ingin membunuh mu dan membuat ayah sialan mi itu merasa kehilangan," ujar Alaska memancing amarah Shine
"Jangan bacot Sialan. Jangan bertingkah layak nya kau adalah malaikat, nyata nya kau membunuh janin yang masih berusia tiga bulan," ujar Shine lagi-lagi melayang kan serangan nya.
"Aku turut bersuka mendengar nya," ucap Alaska tersenyum senang. wajah itu benar-benar membuat Shine murka namun sebisa mungkin dia menahan nya.
"Apa kau tau aku pernah berhadapan dengan ibu mu, dan sedikit lagi aku kan benar-benar bisa membunuh mu, namun sial nya ibu mu cukup handal untuk menahan serangan yang ku beri kan hingga ayah mu datang," Alaska bercerita sedikit
Bug
Alaska berhasil melayang kan tinju nya pada Shine. Nampak bibir pria itu sobek, Shine dengan tersenyum remeh mengelap darah yang mengalir di bibir nya
"Yah sayang nya itu percobaan dan sekarang harapan ibu ku saat itu akan terwujud saat ini," ucap Shine tersenyum miring lalu membabi buta menyerang Alaska hingga peak itu hampir tumbang. Kakak Shine bergerak lincah membuat titik lah Al, jika dia tidak menemu kan titik lemah seorang lawan maka jalan nya adalah buat kelemahan nya.
***
__ADS_1
"Percepat laju mobil nya Darren, ini dalam keadaan darurat," ucap Safira heboh sejak tadi.
"Kakak ipar, memang nya kakak ipar mau ngapain, hah? Ini sudah mencapai batas kecepatan di jalan raya," kesal Darren. Hidup nya masih panjang, dia tidak ingin cepat-cepat bertemu dengan pencipta nya.
"Tolong laku kan perintah Nyonya Tuan," ucap Nia yang duduk di samping Safira.
"Sayang, tidak usah formal pada ku. Hanya ada Kakak ipar di sini," ujar Darren enteng.
Plak
"Cepat lah Darren, ini keadaan genting. Buang saja rayuan menjijik kan mu itu," kesal Safira. Darren hanya bisa menurut dan melaju kan mobil nya dengan cepat.
****
"Apa-apaan ini Mateo? Kau melarang ku?" Aurora menatap Mateo dengan berdecak kesal.
"Maaf Nona, saya hanya menjalan kan perintah?" ujar Mateo dengan tegas.
__ADS_1
"Perintah? CK, apa itu dari Shine? Daddy ? Aku tidak peduli. Jika kau menghalangi ku maka lawan mu adalah aku," kesal Aurora.
"Tidak Nona, saya sama sekali tidak ada urusan nya dengan Tuan Shien dan Tuan besar. Saya hanya menjalan kan perintah Nyonya Safira," ucap Mateo berusaha mengulur waktu.
"Safira? CK, dia tidak ada di sini. Jadi berhenti lah berlebihan," ucap Aurora melangkah maju namun lagi-lagi di tahan Mateo.
"Nyonya sedang dalam perjalanan ke sini Nona," ujar Mateo lagi-lagi.
Langkah Aurora yang ingin menyalip Mateo terhenti.
"Aishhhh, wanita itu. Apa yang dia laku kan di tempat berbahaya seperti ini? Suruh dia pulang cepat!" perintah Aurora menatap Mateo.
"Tidak bisa Nona, Nyonya mengata kan kalian harus bersama. Nyonya biru Nona."
"Seperti nya bukan adik ipar ku yang mengalami insiden itu, tapi kau," cibir Aurora menabrak bahuateo dengan kasar lalu masuk terlebih dahulu ke dalam
"Sial, Kenapa wanita Sangat susah untuk di atur?" batin Mateo. Lagi-lagi dia gagal jika tentang apa wanita.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍