Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 74


__ADS_3

Safira merasa kan nyaman senyaman-nyaman nya saat tubuh nya di dekap Shine dan tambah nyaman lagi saat Safira merasa kan bibir nya bersentuhan dengan bibir Shine. Wanita itu meletak kan pegangan senjata nya.


Shine mematung ketika Safira berinisiatif mencium nya terlebih dahulu.


Namun diri nya tidak akan menyia-nyia kan kesempatan ini.


Dia juga melepas kan pegangan senjata yang berada di tangan nya. Akhir nya senapan itu menjadi pengangguran.


Di luar kesadaran Safira sangat sangat menikmati bibir Shine. Dia sudah lama tidak merasa kan rasa bibir ini.


Nghhh


Safira mengeluar kan erangan saat shine menghisap habis-habisan bibir nya. Menikmati kembali sejenak, tiba-tiba Safira sadar dan segera melepas kan tautan bibir mereka.


Shine menatap Safira yang terengah-engah.


"Kau menikmati nya," ucap Shine.


"Lupa kan....anggap itu salam perpisahan dari ku," ucap Safira menganggap ciuman tadi hanya sebatas ketidak sengajaan.


"Baik," ucap Shine tanpa basa basi.


Safira bersiap pergi dari sana karena tak kuat menahan malu yang saat ini pada diri nya namun Shine mencekal nya.


"Apa ?" tanya Safira.


"Kau tetap harus berlatih," ucap Shine langsung mendekap tubuh Safira dan membawa wanita itu ke dekapan nya sambil mengarah kan tangan wanita itu ke pelatuk senapan dan memeposisi kan Safira dengan benar.


"Aku tidak mengata kan akan melanjut kan latihan nya," ucap Safira.


"Aku tidak masuk kantor hari ini," ucap Shine tidak menjawab pertanyaan Safira.


"Urusan nya dengan ku?"


"Fokus! Tarik pelatuk nya dengan pelan dan pusat kan perhatian ke arah target.


Safira tak sempat menolak karena Shine selalu tidak menjawab pertanyaan nya dan memilih mematuhi aturan Shine.


Dor


Sangat jauh dari sasaran.


"Fokus adalah hal utama, anggap target sebagia musuh mu dan tujuan mu adalah memecah kan kepala nya," ucap Shine.


Kemudian Shine kembali mengatur posisi tangan Safira dan membantu wanita itu melaku kan tehnik nya.


Safira menuruti perkataan Shine dan mulai melaku kan seperti yang di katakan pria itu namun tumpuan beban senapan sebagian besar berada di tangan Shine.


Dor


Hampir mengenai sasaran dan dan posisi itu tidak terlalu jauh.

__ADS_1


"Fokus lagi!" ucapa Shine semakin menekan Safira sambil mendekap Safira.


Safira memfokus kan pikiran nya dan melaku kan seperti yang di kata kan Shine semakin fokus dan membayang kan kepala target nya adalah titik utama yang harus di hancur kan nya.


Dor


Tepat sasaran. Shine tersenyum, dia bangga memiliki istri seperti Safira yang sangat gigih dan berhasil dalam melalu kan latihan ini.


"Kau berhasil," ucap Shine bangga.


"Tentu saja," jawab Safira sombong sambil meletak kan senapan nya di meja.


"Tapi ini bisa di bilang kemajuan yang cepat," ucap Shine.


"Tentu saja, aku membayang kan seseorang yang harus ku hancur kan otak nya."


"Siapa?Yah, itu memang trik yang bagus " tanya Shine penasaran di sela penjelasan nya


"Tentu saja kau," ucap Safira sambil ke luar dari ruangan itu


Shine terkejut , bagaimana bisa kepala nya menjadi sasaran senapan istri nya. Shine memegang kepala nya takut itu terjadi. Dia ke luar dari ruangan itu mengikuti langkah Safira.


**


Ctar


Satu cambukan mengarah ke punggung seorang wanita yang sedang mengeras kan tangan nya agar bisa menahan beban push up .


"Kau memang salah satu anggota terbaik Nia, tapi bukan berarti kau melaku kan hal memalu kan seperti itu di mansion tuan mu sendiri," ucap Xavier menganggkat kembali cambuk nya dan mengayun kan nya ke tubuh Nia.


"Saya salah Tuan," jawab Nia menerima cambukan itu dan mengakui kesalahan nya. Xavier menyelesai kan lima cambukan dan di lanjut oleh anggota yang di tunjuk Xavier.


Di dalam ruangan itu sama sekali tidak ada rasa kasihan. Yang salah akan di hukum dan yang benar akan di benar kan. Itu lah prinsip di markas Black Sky.


Avicennia hampir tumbang di cambukan ke dua belas. Hukum cambu kan karena lalai menjaga majikan nya adalah lima cambu kan karena kesalahan mereka tidak fatal, tapi tentang kemesuman Nia yang merupa kan kesalahan fatal di beri kan cambukan sebanyak sepuluh kali.


Avicennia bertahan hingga cambukan terakhir, namun pada akhir nya dia tumbang dan jatuh pingsan di tempat tepat setelah cambu kan ke lima belas. Untung saja, jika dia tumbang sebelum cambukan ke lima belas maka hukuman nya akan bertambah.


"Bawa dia dan segera obati!" perintah Xavier.


Pengawal yang ada di sana segera membawa Nia ke ruang perawatan di markasm.Mereka semua bisa melihat seberapa besar kekuatan Xavier tadi di cambukan tahap pertama hingga wanita tidak bisa menahan diri hingga akhir.


Yah tantangan yang di lewati para pengawal yang melaku kan kesalahan adalah hukuman tahap pertama yang berasal dari asisten tuan mereka yaitu Xavier.


Kini giliran hukuman untuk Mateo.


Yah sepenuh nya yang akan memulai adalah Xavier. Mateo membuka baju nya hingga menapak akan perut sixpack nya, tapis ayang itu tidak berguna sekarang.


"Bertahan lah hingga cambu kan ke lima, maka kau akan tetap berada di mansion sebagai anggota inti yang akan bertanggung jawab untuk keselamatan Nyonya," ucap Xavier terlebih dahulu.


Mateo mulai mengambil posisi push up, dia menarik napas dengan dalam.

__ADS_1


Ctar


Mateo menatap datar ke arah lantai yang saat ada di depan nya. Ngilu, perih dan seakan menekan ke bawah Mateo merasa kan hal itu.


Ini lah sebenar nya kekuatan Xavier ketika mencambuk, saat mencambuk Nia, Mateo bisa melihat tangan Xavier yang mengeluar kan sedikit tenaga karena Nia tidak hanya akan menerima lima kali hukuman cambukan.Dan seperti yang kita tau mungkin tubuh pria akan bisa menahan beban yang lebih berat dari wanita.


Cambukan ketiga, punggung Mateo sudah mulai mengeluar kan darah karena Xavier benar-benar tidak menahan diri untuk mencambuk Mateo.


"Masih bertahan?" ucap Xavier.


Mateo mengangguk namun tangan nya sudah mulai gemetar.


Hingga cambukan ke lima Mateo benar-benar bertahan dan mampu dan tenang untuk berdiri.


Mateo dan Avicennia baru kali ini merasa kan cambukan dari Xavier karena dalam misi-misi sebelum nya mereka selalu berhasil melakau kan misi.


Tapi jangan di tanya kan bagaimana mereka bertarung di lapangan lebih parah dari ini. Peluru berlarian ke mana-mana dan siap memasuki tubuh mereka yang empuk.


"Obati Luka mu di ruangan pengobatan," ucap Xavier.


"Tidak perlu, aku bisa mengobati nya sendiri," ucap Mateo malas.


Xavier tidak menyanggah ucapan Mateo. The most important, dia sebagai pemimpin mereka di sini harus bertanggung jawab.


***


Tak kalah megah nya dengan markas Black Sky, sebuah markas bercorak gaya modern ala Amerika, seorang pria dan bawahan nya sedang mengat strategi di mana ada pria paruh baya di sana. Ada satu lagi laki-laki lain yang turut di sana namun dia tidak terlalu heboh dan selalu to the points.


"Apakah anda sudah siap tuan untuk segala strategi nya?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Alaska.


"Tentu saja, tapi untuk bagian istri nya belum," jawab si paruh baya.


"Aku yang akan memancing nya ke luar, tapi kita harus benar-benar matang dalam rencana ini. Jangan terburu-buru karena lawan kita adalah seorang monster yang memiliki bom besar," ujar Alaska bijak.


"Di mengerti, baik. Setelah kalian mendapat kan rencana atau waktu yang pas kami akan langsung kelapangan" ujar si pria paruh baya.


"Bisa saja klan mafia milik keluarga Anggara ikut membantu Klan Black Sky karena wanita itu akan beralih ke Elvio Anggara," ucap Alaska.


Pria paruh baya di sana terkejut sejenak.


"Jika begitu, kita tidak perlu menyinggung dua klan sekaligus, tapi ganti nya adalah kita harus segera memindah kan wanita itu ke tangan Elvio. Kita tidak bisa mengambil resiko itu meski pun bakal bantuan sudah banyak," usul si pria paruh baya.


Alaska terdiam sejenak.


"Boleh juga, posisi ke dua nya juga saat ini kurang baik," ucap Alaska


"Kerah kan anggota mu yang di sana, kita akan segera memulai game final ini," tambah Alaska.


Pria paruh baya itu mengangguk dan mulai mengatur strategi baru.


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍

__ADS_1


Agar author nya semangat up nya 🙂🙏👍👍


__ADS_2