Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 70


__ADS_3

Alaska saat sedang bersama dengan asisten nya. "Apa benar istri Shine saat ini sedang hamil?" tanya Alaska pada asisten nya.


"Benar Tuan, tapi Tuan Shine tidak mengakui anak itu," jawab Dextrosa


"Kenapa?"


"Karena Nyonya Safira pernah menghabis kan malam dengan Tuan Elvio,"


"Elvio Anggara? Ketua mafia Demon?"


"Benar Tuan."


"CK, dasar wanita murahan," ucap Alaska.


"Tapi kehadiran Tuan Elvio juga akan menjadi penghalang kita Tuan," ucap Dextrosa.


"Benar sial, sekutu nya bertambah satu. Mereka adalah mafia paling sadis," ucap Alaska mulai di serang kebimbangan.


"Bagaimana persiapan kita?" tanya Alaska.


"seratus persen siap Tuan."


"Kita bisa menang, tapi guna kan cara licik Dextrosa," ucap Alaska dengan seringaian nya.


Dextrosa yang mengerti langsung mengangguk. Yah, klan Mafia yang di pimpin oleh Alaska selama ini sudah berkembang lebih besar dari yang sebelum nya setelah mereka menyerang mansion Browns.


Alaska sudah tau seberapa besar kekuatan mereka, jadi Alaska sudah bisa mempertimbang kan mereka.


"Apa kita perlu memberi kan hadiah untuk istri Tuan Rhadika Tuan?" tanya Dextrosa.


Alaska menggeleng


"Tidak, jangan tunjuk kan wajah kita. Kita tidak boleh ketauan sebelum bertindak karena itu akan berbahaya. Segala nya sudah di persiap kan. Akan ada drama di sana," ucap Alaska tersenyum miring


**


Di Manhattan Mall, Safira benar-benar di ambang kemarahsn melihat siapa yang melaku kan hal itu pada Leo teman nya.


Tubuh Leo pun di angkat kembali oleh pengawal dan hendak di layang kan pukulan oleh Shine lagi.


"Stop, berhenti Shine," ucap Safira maju dan menghalangi Shine. Safira berucap dengan rendah, namun mata nya menatap tajam Shine seperti akan menghunus kan pedang ke jantung pria itu.


Hati Shine semakin membara. Dia tidak yakin hanya satu pria di hati Safira, kenapa wanita Ini selalu membela pria lain di hadapan nya.


"Lepas kan Leo," ucap Safira berbalik ke hadapan Leo


Pengawal itu mengangguk setelah melihat ke arah Xavier yang menganggk.


"Maaf Leon, akan ku hubungi kau lain kali," ucap Safira sambil mengambil kartu Black card milik Leo.


"Pergilah, aku yang akan membayar nya," ucap Safira. Leo enggan pergi membuat Safira harus extra


"Aku bisa menangani nya, ku mohon, jangan memperkeruh suasana," ucap Safira.


Mau tak mau Leo pergi dari sana dan meninggal kan rombongan keluarga Safira.


Safira yang sudah tidak nyaman dengan sekeliling nya berjalan meninggal kan rombongan Shine.


Hubungan Shine dan Safira memang sedang tidak baik-baik saja, tapi itu semua tidak boleh menjadi konsumsi publik. Safira tidak mau membuat kehebohan

__ADS_1


Dia benar-benar marah saat ini pada Shine, tapi dia harus menahan nya hingga rumah dan setelah itu dia akan membakar Shine dengan emosio nya yang sudah meletup-letup.


Safira saat ini sudah berada di pintu ke luar mall, dia menatap seorang wanita tua memulung sampah di tempat sampah.


"Bibi itu?" batin Safira menghampiri. Avicennia dan Mateo setia di samping nya.


"Halo Bi," sapa Safira.


"Maaf Nyonya, saya hanya memungut botol-botol di sini. Saya belum makan, dan saya harus membeli karton nanti untuk saya tempat berteduh dan tidur," ucap wanita paruh bayah yang lusuh seperti abru berenang dari lumpur.


"Apa bibi mengingat saya, di pesta yang waktu itu banyak musibah? Bibi khwatir dan memberi kan jaket pada saya" tanya Safira tersenyum.


Wanita paruh baya itu memperhati kan wajah Safira.


"Ah kamu, kamu wanita cantik itu. Syukur lah kamu selamat," ucap wanita itu.


"Apa Bibi tidak punya keluarga?" tanya Safira Wanita itu menggeleng.


"Anak?" Wanita itu juga menggeleng. Safira benar-benar merasa iba melihat wanita paruh baya yang baik dan pejuang ini. Dia juga pernah merasa kesulitan yang luar biasa seperti ibu ini, bekerja paruh waktu di berbagai tempat sambil kuliah.


"Apa bibi ingin ikut dengan Saya, saya mungkin bisa mempekerja kan bibi dan memberi kan bibi tempat berteduh meski pun hanya apa ada nya," usul Safira.


."Benar Nyonya, tapi saya tidak ingin menyusah kan Nyonya," jawab Wanita paruh baya itu dengan gembira namun di iringi perasaan segan


"Tidak apa Bibi, Nia bawa bibi ini!" perintah Safira.


Shine yang berada di sana Sangat salut dengan istri nya. Kasih sayang dan rasa kemanusiaan itu selalu saja ada di kala suasana apa pun, tapi beda dengan diri nya yang sama sekali tidak pernah lagi di beri kan oleh Safira pada nya.


Safira berbalik dan kembali wajah itu dengan wajah sangar yang siap membunuh Shine.


Safira masuk ke dalam mobil di ikuti dengan Shine.


"Wanita hamil harus di hindari," batin Xavier. Karena sebelum nya semarah apa pun Safira wajah imut dan cantik bak Dewi itu tidak pernah berubah menyeram kan seperti psikopat seperti itu.


"Apa kau marah?" tanya Shine membuka suara. Tidak di jawab Safira hingga beberapa menit wanita itu kembali menjawab.


"Tidak, hanya saja aku ingin membunuh mu," ucap Safira dengan penuh penekanan.


Uhuk uhuk


Xavier terbatuk mendengar jawaban Safira.


Seorang istri dengan blak-blakan ingin membunuh suami nya, ini sangat gila. Itu lah isi pikiran Xavier.


Shine terdiam, dia bisa merasa kan emosi Safira yang masih dalam tahap tinggi-tinggi nya


Sesampai nya di mansion, Safira membuka mobil dan menutup pintu mobil sekaut mungkin dan tidak menunggu Xavier membuka kan pintu itu untuk nya.


Shine juga turun dari sana dan mengikuti istri nya.


Xavier meringis dengan mobil baru tuan nya yang di banting seperti tidak ada harga nya. Tapi apalah yang bisa di laku kan oleh Xavier, pasrah, karena bukan uang nya juga yang membeli ini.


**


"Sayang aku minta maaf jika itu adalah sebuah kesalahan," ucap Shine membuka percakapan


Shine memilih mengalah karena Shine tau emosi ibu hamil akan berlipat kali ganda.


"Maaf? Kau pikir semudah itu breng sek, kenapa kau memukul nya hah? Kau pikir kau itu siapa sialan," maki Safira

__ADS_1


Jika di lihat dari sifat Safira, orang-orang terdahulu pasti bisa menebak jenis kelamin kandungan Safira tanpa melaku kan USG


Yah, orang zaman dahulu mengata kan jika seorang wanita saat hamil berpakaian feminim, sifat nya lembut, tidak bar-bar, pasti itu wanita. Tapi jika sebalik nya seperti sifat Safira sekarang, bar-bar, suka emosian, dandanan nya simpel seperti tomboi bisa di pasti kan itu anak di kandungan Safira adalah cowo.


Shine juga jadi terbawa emosi juga jika membahas laki-laki lain.


"Jelas dia salah Safira, dia membawa istri orang lain," ucap Shine.


"Kenapa tidak kau yang membawa ku sialan, kau di mana hah? Apa aku melarang mu membawa ku? Tapi kau tidak membawa ku dan justru dia lah yang membawa ku," ucap Safira dengan emosi.


Shine terdiam, salah nya juga karena tidak bersama istri nya saat itu.


"Baik, lain kali aku akan ikut dengan mu," ucap Shin mengalah.


"Aku tidak butuh," jawab Safira.


"Apa kau hanya membutuh kan pria itu dan tidak dengan ku? Aku akan membunuh pria itu jika ada kata lain kali," jawab Shine dengan emosi.


"Sekali saja kau menyentuh nya aku sendiri yang akan menjadi lawan mu. Ingat itu Shine," ucap Safira dengan penuh tekanan.


"Jangan egois Safira, ingat kau sedang hamil. Jangan mengajar kan hal buruk pada bayi itu!" perintah Shine.


"Egois? Buruk, apa kau tidak berkaca sialan. Kau adalah pria egois yang pernah ku kenal di dunia ini, kau egois dengan tidak melepas kan ku dan mnyiksa setiap inci tubuh ku secara perlahan. Dan kau pria baj Ingan paling buruk sedunia dengan berc inta dengan kekasih sialan mu itu, dan apa? Saat istri mu hamil, ternyata kekasih sialan mu itu juga hamil," oceh Safira panjang lebar. Kepala nya mulai terasa berat.


"Aku tidak menghamili nya," jawab Shine.


"Yah itu jawaban mu sialan. Kau memang pria sialan yang selalu berc inta dengan wanita *** *** itu," maki Safira. Shine terdiam


"Kenapa mulut mu bungkam hah? Apa sekarang kebusu kan mu terbongkar? Bagaimana rasa nya menikmati tubuh nya, apa enak, apa kau candu breng sek?" teriak Safira.


"Stop itu Safira, aku tidak pernah menikmati nya," jawab Shine tidak tahan lagi dengan emosi Safira yang bisa saja mempengaruhi kesehatan istri nya itu.


"Tidak menikmati? Bah kan aku jijik ketika harus mengirup udara yang sama dengan pria sialan seperti mu yang sudah tercemar bau wanita itu di tubuh mu breng sek," ucap Safira. Wanita itu menarik napas sejenak, dan mulai kembali emosi.


"Aku menunggu surat cerai dari mu. Jangan egois," ucap Safira.


Kini Shine yang emosi ketika mendengar ucapan istri nya.


"Dalam mimpi mu," ucap Shine yang tidak suka dengan kata cerai yang ke luar dari mulut nya.


"Jangan egois sialan, aku tidak tahan hidup dengan pria seperti mu, jika kau tidak ingin, maka aku yang menuntut cerai dari mu,"


"Laku kan, agar Dad Mommy segera mengetahui nya," jawab Shine.


Safira kini menangis.


"Kata kan, kata kan apa yang harus ku laku kan agar kau bisa berhenti menyiksa ku Shine, apa aku harus mati dulu?kata kan pada ku," ucap Safira dengan air mata yang luruh.


"Tidak ada, kau hanya berdiri di samping ku dan.."


"Dan menyiksa ku hingga ke tulang ku. Aku mohon jangan, ada nyawa yang harus ku jaga," ucap Safira


"Setidak nya pikir kan anak ku, jika kau ingin balas dendam karena kehadiran ku disini," Isak Safira.


Perlahan-lahan wanita itu merasa kan kepala nya berat hingga akhir nya tumbang dan terjatuh ke lantai.


"Fira..," panggil Shine tiba-tiba.


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍

__ADS_1


agar author nya semangat up nya 🙂🙏👍


__ADS_2