Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 118


__ADS_3

Aurora dengan sabar menepuk-nepuk punggung Safira namun wanita itu SMA sekali tidak tertidur sejak tadi


"Kenapa tidak tidur?" ucap Aurora melihat Safira masih membuka mata nya dengan lebar


"Perut ku agak sakit Kakak ipar, seperti ada menusuk-nusuk di dalam," ucap Safira berdalih. Pada hal dia hanya bergaja-jaga agar kakak ipar nya tidak pergi ke mana-mana.


"Sakit? Aku kan memanggil dokter." Aurora sudah berdiri dan hendak beranjak ke luar dari ruangan Safira.


"Tidak, tidak Kakak ipar. Ini hanya sakit biasa, kemaren juga seperti itu, ini hanya sakit biasa," jelas Safira berusaha mencari alasan.


"Benar kah? Aku tidak perlu memanggil Darren?" Safira menggeleng kan kepala nya pertanda dia sama sekali tidak ada yang perlu di khwatir kan.


"Bagus lah, tidur lah kembali!" ucap Aurora mengusap punggung wanita itu dengan penuh kesabaran.


Sebenar nya konsentrasi Safira terpecah menjadi dua. Bagaimana keadaan Shine saat ini sedang kan pria itu sedang dalam keadaan sakit. Dia benar-benar egois kemaren, kenapa dia mengabai kan keadaan Shien kemaren, jelas-jelas dia di bohongi oleh Darren dan Shine mentah-mentah.


"Shine aku berharap kau baik-baik saja, aku juga harus menahan kakak ipar," batin Safira.


Sebenar nya kemaren dia tidak ingin Shiene mengejar pria itu dan membunuh nya karena akan ada orang yang harus terluka hati nya, dan orang itu adalah orang yang dia sayangi. Dia tak ingin ada orang yang terluka, cukup lah diri saja. Tapi Shine yang keras kepala tentu saja tidak akan mundur begitu saja.


****


Shine dan rombongan nya termasuk Xavier kini sedang meningintai sebuah markas yang akan menjadi target. Jika di lihat dari penjagaan nya, sangat mudah di tembus seperti penjaga kebun saja. Itu lah yang ada di pikiran orang-orang Shine.


"Don't judge A book by it's cover," pesan Shine di dengar kan oleh anak buah nya, mereka menjadi lebih siaga. Mereka memahami perkataan ketua mereka


Shine dan Xavier berguling-guling dari sudut ke sudut guna mengamati keadaan.


Aneh nya Shine tidak merasa kan racun itu bekerja saat ini karena shine sama sekali tidak merasa kan sakit.


"Darius!"


Shine memanggil Darius dari walkie talking milik nya.


"Belum menemj kan sasaran!" Shine mendengar itu.


"Jangan di paksa dengan mendekat. Itu akan berbahaya!" peringat Shine


Dor Dor


Beberapa peluru kini mengaeah ke persembunyian Shine dan Xavier.


"Penembak jitu, habisi semua Cctv," ucap Xavier.


Penembak jitu langsung menembak semua Cctv. Tembakan itu tidak di laku kan serentak, dia harus bisa bermain dan mengecoh lawan agar tidak tau posisi nya.


"Tuan, seperti nya mereka mengetahui posisi kita," ujar Xavier.


"Tidak hanya posisi, tapi kedatangan kita," ujar Shine


Dor


Satu temba kan meleset kembali ke arah Shine


"Arah pukul 09.00," ucap Darius.


Dan benar saja, ada dua orang yang berada di arah pukul sembilan, satu memegang senjata laras panjang dan satu lagi diam memperhati kan pria itu.


"Jangan menyerang nya, biar aku saja," Xavier memperingati penembak jitu.


Xavier saat ini harus mengalih kan perhatian agar musuh nya menampak kan wajah. Kedatangan mereka jelas sudah di ketahui karena mereka langsung mendapat kan serangan.


Shine menembak ke arah pukul sembilan lalu Xavier berguling dan mengambil posisi yang tepat.


"Nama?" ucap Shine singkat.


"Dia memiliki identitas bernama Xavier, CK," Darius bisa-bisa nya tertawa karena nama asisten Shiene dan nama musuh nya sama


"Sialan kau Darius," umpat Xavier


"Tapi ada satu lagi yang paling penting. Itu adalah identitas palsu nya, nama nya Alaska, dan aneh nya dia pernah berada di New York selama kurang lima belas tahun, tidak ada catatan siapa nama orang tua atau kerabat," jelas Darius


Hup


Shien spontan mengarah kan pistol nya ke arah pria yang baru saja menghentak kan kaki nya kuat ke arah lantai.


"Ini saya Tuan, Mateo," ujar Mateo santai tanpa takut pelatuk akan di tekan.


"Sialan kau Mateo," umpat Shine kembali fokus ke arah pukul sembilan.


"Tuan, dia adalah ketua dari klan baru ini," ujar Mateo.


Darius, Xavier dan Shine terkejut mendengar penuturan Mateo.


"Kami mengejar nya belakangan ini Tuan, tapi sangat sulit mendapat kan mereka," ujar Mateo.


"Kami? Akan ku habisi kau Mateo, tunggulah waktu nya," marah Shine. Beberapa hal terlintas di benak Shine, tapi bukan Waktu nya untuk menghukum Mateo.

__ADS_1


"Maaf Tuan," ucap pria itu menunduk


Dor


Satu temba kan lagi kembali datang ke arah tempat Shine. Kemudian beberapa temba kan bertebaran di udara.


Setelah mendapat kan perintah dari Shine, anggota Black Sky juga ikut memuntah kan peluru nya, sudah lama mereka tidak mandi darah.


"Ingat, ini bukan wilayah kita. Jebakan pasti menanti kita," Xavier memperingati bawahan nya. Xavier kini beraksi tunggal, dia akan kembali ke Shine nanti untuk menjadi benteng pria itu, tapi dia harus berhasil mengetahui situasi si markas ini agar bisa membuat strategi.


Sek


Sebuah besi tajam yang berada atas pohon baru saja turun dengan cepat ketika Xavier menginjak kan kami di salah satu akar kayu yang ada di sana.


"Cih, murahan," ucap Xavier setelah berhasil berguling-guling di tanah dan beberapa temba kan segera menyusul nya. Tapi Xavier berhasil menghindari nya dan bergerak seperti cheetah saja.


Shine saat ini sedang bersama Darius, Mateo pergi untuk membantu Xavier, tiba-tiba saja racun itu kembali berefek dan membuat Shien harus menahan sakit kembali.


"Shiene, kau kembali saja biar kamu yang menyelesai kan ini," ujar Darius setelah berhasil membawa Shine ke tempat yang aman


"Tidak, ini hanya sebentar, aku bisa Manahan nya," ujar Shine.


Tiba-tiba empat laki-laki bertubuh tegap nampak mendatangi Shine dan Darius, seperti nya incaran mereka benar-benar Shine.


Ke empat pria itu berjalan dengan santai ke arah Shine dan Darius.


Darius hendak mengangkat pistol yang ada di tangan nya namun belum sempat menarik pelatuk, suara salah satu pria berbadan kekar itu menghenti kan aksi Darius.


"Tangan kosong. Jangan pengecut!" ujar pria itu.


Darius menahan tawa nya, dia meletak kan pistol nya. "Kalian berempat lawan aku!" perintah Darius serius.


"Lemah!" ujar salah satu pria berbadan kekar menatap ke arah Shine yang kesakitan.


"Jangan terpancing Shine. Aku bisa membatasi mereka," ucap Darius menenang kan Shine. Namun salah, Darius sama sekali tidak akan bisa membuat Shine mengerti keadaan.


"Maju!" ucap Shine singkat menatap dingin orang-orang itu berusaha menutupi rasa sakit nya. Tanpa babi bu, Shine langsung menghajar pria-pria tak berguna yang berani-berani nya mengejek diri nya.


"Sampah!" ujar Shine. Di tengah pertempuran tadi, efek racun itu kembali menghilang membuat Shine dengan mudah nya mengalah kan para bedebah itu, begitu juga dengan Darius.


"Kau tidak merasa sakit lagi?" Darius bertanya dan Shine hanya menggeleng saja.


"Xavier, aman?" tanya Darius.


"Aman! Aku melihat kalian" jawab Xavier segera berlari dengan mata tajam nya yang mengikuti arah-arah peluru.


"Aku sudah mendapat kan jeba kan dan sudah memberi kan instruksi pada anggota lain nya," jelas Xavier.


"Mateo di mana? Dia ada urusan Tuan."


Shine mengernyit kan dahi nya


"Dia mengata kan pada kita bahwa dia tidak akan menghianati klan Tuan," ucap Xavier.


Shine menatap lurus ke depan.


"Tuan, Tua besar datang ke tempat ini, dia mengata kan mengenal siapa pria itu," ucap Xavier lagi menjelas kan.


Ingin bertanya lagi, tapi waktu nya lagi-lagi tak tepat, bawahan nya saat ini sedang berjuang untuk menimbang kan musuh, dia tidak boleh mengurus hal lain.


Peluru saat ini bertebaran di mana-mana, sedikit banyak nya sudah ada korban di beberapa sudut dan darah bersera kan di mana-mana.


"Shine, kami akan menyusup ke dalam, sebaik nya anda berada di sini untuk melindungi om Rhadika nanti," saran Darius.


"Tidak. Dia bagian ku," ucap Shine ikut masuk dan menyusup ke dalam.


Sedang kan Mateo saat ini bersembunyi di sebuah tembok karena beberapa peluru menghujam nya dari arah depan sana


Dia harus bisa mencapai lantai teratas markas ini, ada satu perintah lagi yang harus di laksana kan nya dari Nyonya nya.


"Sh it, kenapa mereka semakin banyak?" umpat Mateo. Pria itu mengedar kan pandangan nya dan menemu kan jendela yang tinggi yang memungkin kan bisa sampai ke lantai atas.


Dor Dor


"Sial, sialan oang itu," hampir saja kepala ku bolong," ujar Darius marah dan langsung memuntah kan peluru nya ke arah pria yang berani membidik nya.


"Mati kau!" ujar Darius berceloteh sejak tadi membuat kepala Shine dan Xavier berdenyut. Keringat kini membasahi tubuh mereka pertanda mereka sudah melawan dan menimbang kan musuh


Shine dan lain nya sudah berada di pintu utama. Ada tiga penjaga di sana, Shine, melihat ke arah Xavier dan Darius, paham dengan kode Shine mereka secara diam-diam bergerak dan langsung mematah kan senjata penjaga itu.


Tangan kosong dan tangan kosong. Shine tidak tau entah kenapa, tenaga nya seperti pulih seperti saat dia tidak terkena racun memati kan ini


Shine dengan brutal memukul lawan nya dengan membabi buta. Dia menikmati permainan ini


Brak


Tiba-tiba satu orang datang dari arah berbeda dan membentur kan sebuah kursi di punggung Shine. Shine terjatuh berlutut karena sakin kuat nya kurdi papan itu di hantam ke punggung nya hingga kursi itu hancur.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Shine langsung berlari dan menendang kuat dada pria itu. Gera kan nya nampak slow motion seperti akan mendang kaki orang itu, namun Shine tiba-tiba saja melompat dan menendang dada pria itu.


Uhuk


Pria itu langsung batik darah.


Tanpa perasaan Shien tidak memberi kan jeda langsung menendang perut pria itu dan terakhir menginjak dada pria itu hingga remuk


"Di mana ketua mu!" tanya Shine.


"Uhuk, sampai mati pun.."


Krak


Dada pria itu di tendang keras oleh Shine. Dia melaku kan nya dengan a.arah ketika mengingat rasa sakit yang di rasa kan istri nya ketika insiden itu.


"Shine, ayo," ujar Darius setelah urusan mereka selesai tanpa ada nya senjata api.


Mateo saat ini sudah berhasil menaiki jendela besar itu dan sudah sampai di lantai atas.


"Sial," umpat pria itu ketika melihat Alaska sudah turun ke bawah di mana Tuan nya juga sedang menyelinap.


"Maaf Nyonya, seperti nya kau terlambat," batin Mateo.


Shine dan ke dua lain nya kini mengendap-endap memasuki ruangan itu dan menelisik tiap sudut yang ada di sana.


Prok prok prok


"Shine Damian Browns," ucap Alaska yang kini sudah berada di tangga yang ada di sana.


"Mengalah lah, anak buah mu sudah kalah!" ucap Xavier.


"Semua? Bala bantuan akan segera datang," ucap Alaska santai.


"Apa mau mu?" tanya Shine.


"Tanya kan saja pada Daddy mu yang membunuh orang-orang tak bersalah sialan," jawab Alaska .


"Jadi ini dendam?" tanya Darius


"Ingin sekali klan ku berduel dengan klan turunan Daddy mu yang seorang ketua mafia tak bergunaitu, bah kan nyawa orang tua yang tidak bersalah pun di renggut nya, begitu juga mommy ku," jelas Alaska dengan amarah membuncah.


"Hei anak muda, aku tidak akan membunuh seseorang tanpa ada kesalahan fatal yang di laku kan nya. Aku bukan mafia bodoh seperti mu yang membunuh janin yang berusia tiga bulan," ujar Rhadika tiba-tiba saja masuk dari pintu utama.


"Itu terjadi di depan mata ku sendiri, anak berusia sepuluh tahun harus menyaksi kan satu-satu nya orang yang dia miliki mati terbunuh tepat dia depan mata nya. Apa itu nama nya tidak membunuh?" ucap Alaska.


"Kita sebenar nya sudah impas, tapi aku akan membunuh mu sialan!" ujar Shine dengan rahang mengeras.


Alaska tersenyum sinis.


"Yah, aku menanti kan nya, ini duel antara anak bukan ayah. Kau membunuh kakek ku dan aku lah korban nya, begitu juga Shine. Dia adalah anak mu, maka dia yang menajdi korban," ucap Alaska.


Alaska memang sejak awal sudah mempersiap kan bala bantuan dari beberapa klan yang dia kenal, tapi dia tidak ingin ada pertumpahan darah dari orang-orang yang tidak bersalah.


***


Sedang kan Safira di rumah sakit, dia kelimpungan mencari Kakak ipar nya, terhitung hanya setengah jam dia tertidur karena usapan hangat


Bug


Shine langsung maju dan menyerang Alaska dengan tangan kosong seperti yang sudah di sepakati. Bawahan semua nya menjadi penonton baik dari klan Shine dan klan Alaska. Rhadika diam saja menonton ke dua ketua klan mafia itu berduel.


Shine terpukul mundur ketika Alaska melaku kan gera kan tak terduga.


Rhadika mengakui Alaska termasuk pria yang tegas dan kuat, dia juga pernah berhadapan dengan pria itu dan Alaska berhasil kabur dari genggaman nya


Kaki dan tangan dari ke dua ketua klan mafia itu berliuk-liuk berusaha mematah kan pertahanan lawan masing-masing.


Duel itu sudah berjalan hampir setengah jam dan ke dua nya masih sama-sama kuat, tidak ada yang tumbang sama sekali atau sekedar terjatuh ke lantai


***


Safira di rumah sakit kelimpungan sejak tadi karena tidak menemu kan Kakak ipar nya. Terhitung dia tidur hanya selama tiga puluh menit karena usapan halus kakak ipar nya.


Safira semakin panik kala mendapat pesan dari Mateo bahwa misi nya gagal.


Dia langsung menghubungi Darren dan akhir nya Safira memilih ikut pergi ke sana.


***


Aurora kini dalam perjalanan ke markas yang di kata kan ol h salah satu bawahan nya. Dia tidak sabar untuk menghabisi pria yang berani-berani nya membuat adik nya hampir menjelang kematian dan ponakan nya yang sudah tiada.


Dalam tiga puluh menit, Aurora akhir nya spaj di tempat kejadian. Dia memeprhati kan hanya sedikit mayat yang ada di halaman markas. Aurora heran melihat ini, seharus nya ini pernah besar bukan?


Aurora mempercepat langkah nya untuk masuk ke dalam markas, tapi ketajaman mata nya sama sekali tidak berkurang


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍👍

__ADS_1


Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍


__ADS_2