Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 110


__ADS_3

Mateo dan N AAia menghela napas lega karena p, Sangat kaku. Mungkin cover nya nyonya," Nia mengejek Mateo di sela-sela penjelasan nya.


"Halo, orang sialan. Jauh-jauh dari pengawal pribadi ku yah. Belajar lah untuk hidup sesuai derajat mu, jangan mendekati orang yang memiliki segala nya yang sangat berbeda jauh dengan otak bodoh mu. Mateo itu tampan, banyak perempuan kaya yang menyukai nya, tidak seperti mu, sudah rendahan, tidak berotak lagi. Cih"


Tut


Safira langsung memati kan ponsel nya secara sepeihak tanpa mendengar kan penjelasan Mateo.


Di seberang, yang menerima makian Safirs panas dingin. Bagaimana seorang wanita Shiene Damian sejahat itu berbicara. Diri nya hampir menangis karena semua kata-kata Safira sangat mengena pada nya.


"Aku akan membalas mu Safira," batin nya mengelak kan tangan dengan kuat


****


Malam hari nya saat di laut ajam kerja, Mateo meminta izin pada Tuan nya agar bisa pergi berpamitan dengan pacar nya karena hanya wanita itu yang ada di dalam pikiran nya. Dan tidak mungkin Mateo meminta izin pada nya, akan sangat di tolak dan tidak akan membiar kan Mateo ke keluar selang kah pun dari mansion. Karena apa, entah lah bagaimana pola pikir Safira memandang nya.


Shine yang sudah mengerti jalan cerita ini membiar kan pria itu menyelesai kan urusan pribadi nya agar nanti pikiran pria itu tidak terganggu saat membawa makanan kesukaan Safira sang istri.


Di sini lah Mateo dan seorang wanita yang cantik dan lumayan bar-bar. Bukan cara yang mudah wanita itu ke luar dari sarang nya, tentu saja ada campur tangan dari Mateo berupa paksaan dan permintaan dari tuan nya yaitu Shine. Pemilik wanita itu sangat susah untuk memberi kan izin pada tawanan nya.


"Kau akan pergi berapa lama?" wanita itu memperhati kan wajah kekasih nya yang tak lain adalah Mateo.


"Tidak tau," jawab pria itu dengan singkat sambil mengelus pipi wanita nya.


Set


Wanita itu nampak duduk di pangkuan si Mateo.


"Apa ini misi berat?"


"Yah, mungkin bisa di kata kan begitu," jawab Mateo santai.


"Apa kau mengingin kan ku sebelum pergi?"


Mateo nampak menggeleng-geleng kan kepala nya. "Aku tau kau belum siap, jangan memaksa kan diri," ujar Mateo dengan tenang.


Meski pun dia sangat dan sangat mengingin kan nya, tapi dia tidak bersifat seperti bajingan yang akan memuas kan dahaga nya tanpa memikir kan hal lai. CATAT, Mateo tidak akan merusak permata milik nya.


"Berjanji lah untuk pulang dengan selamat dan secepat nya, jika bisa...," Wanita itu menjeda kalimat nya. Tangan nya yang mengelus rahang Mateo berhenti. Dia menurun kan tangan nya ke kameja yang sedang di pakai pria itu.


Dia membuka secara perlahan satu persatu kancing kameja itu hingga menampak kan perut kotak-kotak indah yang tercetak di perut si pria. Tak hanya itu, dia menggoyang kan bokong nya yang menempel di paha si pria.


Nghhhh


"Jangan bermain-main Meg, aku bisa saja lepas kendali," Mateo memperingat kan.


Wanita yang ada di pangkuan si pria semakin gencar menggoda Mateo. Bibir tipis nya ******* bibir seksi Mateo dengan lahap dan di balas dengan senang hati dengan pria itu. Sayang nya, si wanita lebih mendominasi saat ini, seperti menumpah kan keinginan nya selama ini. Tangan nya juga mengelus perut kotak-kotak si pria membuat pria itu mengerang tak karuan.


"Jika bisa, kau benar-benar akan mendapat kan ku Mateo, my boyfriend," ujar Si wanita dengan senyum puas nya.


"Ini hukuman awal untuk mu jika berhasil kembali," ujar wanita itu setelah selesai dengan aksi nya. Dia sudah bis merasa kan milik Mateo sudah tegang dan terasa menusuk-nusuk di bawah sana.


"Hukuman, bukan kah jika berhasil akan mendapat kan hadiah?"


"Hukuman yang ku beri kan akan lebih manis dari ini," bisik wanita itu. Yah ini lah si wanita bar-bar itu. Sudah menunjuk kan sifat asli nya.


"CK, dasar wanita. Tiba kesakitan nanti kau kan memilih berhenti dan berteriak kesakitan," ejek Mateo.


"Siapa pun akan mengata kan pertama itu pasti sakit, pria saja yang enak-enak tinggal masuk ke luar sudah," kini wajah wanita itu sudah kembali cemberut


Mateo menatap wanita nya dengan terkekeh.


"Tetap lah bersama ku hmmm, apa pun yang terjadi. Tunggu aku, aku berjanji akan pulang," ucap Mateo mengecup singkat kembali bibir wanita nya


****

__ADS_1


Dua hari akhir nya berjalan dengan lancar, Shine sudah memberikan izin pada Mateo untuk pergi ke Santiago.


Safira turut serta membuat kan perlengkapan Mateo. Bah kan sebelum nya di periksa wanita itu satu persatu.


"Kau ini istri nya apa Nyonya sih?" tanya Safira yang memeriksa barang-barang Mateo.


"Sayang, selaku Nyonya nya, bukan kah aku harus bertanggung jawab untuk keperluan bawahan ku?" Safira berdecak lalu memeriksa satu-satu barang Mateo


"Oke semua nya sudah, jangan lupa hubungi aku Mateo," ucap Safira sambil memberi kan sebuah alat canggih yang di beri kan oleh Shine.


"Untuk apa semua itu Baby? Mateo bukan untuk melaku kan misi, tapi menjemput makanan," heran Shine. Karena semua yang di minta Safira adalah alat-alat untuk bertahan dari musuh.


"Apa kau tau keadaan di sana Tuan Shine? Apa kau pernah ke sana? Apa mau kau saja yang pergi ke sana?" Safira memutar bola nya malas.


Shine terdiam tidak lagi menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari istri nya yang tentu saja menyudut kan nya.


Mateo akhir nya pergi, tentu saja dengan dandanan yang biasa saja. Rakyat jelata yang ingin merantau ke negeri Chili Santiago, meski pun sudah mengguna kan pakaian ala rakyat biasa namun aura dan kharisma pria itu tidak hilang. Entah mengapa, Safira merasa kan ada sesuatu yang misterius dari pria itu.


Shine juga Ki i sudah pergi bekerja, tinggal Safira dan Nia saat ini yang berada di mansion.


Safira teringat sesuatu. Kemudian Safira mengalih kan perhatian nya ke ponsel yang ada di tangan nya, dia mene kan nomor seorang wanita yang akan di peras nya melalui informasi yang ingin di dapat kan oleh Safira.


Baru saja sambungan telepon terhubung, belum sempat mengucap kan salam. Safira sudah terlebih dahulu di sembur oleh wanita di seberang sana.


"Ha...."


"Apa? Kenapa kau terus saja menghubungi ku? Apa kau fans pada ku?" suara narsis Aurora terdengar ketus dan seperti biasa nya dingin dan tidak bersahabat.


"Jika kakak ipar sibuk aku akan memati kan nya," Safira menunduk merasa bersalah dan akan memati kan sambungan telepon.


"Apa? Kata kan saja. Apa aku mengata kan sibuk? Apa aku mengata kan aku tidak suka kau menelepon ku?" Aurora berdecak kesal.


"Gila, apa nona tidak bisa memahami nya, jelas-jelas dari nada suara nya tidak suka Nyonya menghubungi nya," batin Nia.


"Kakak tidak marah pada ku?" Safira mengangkat kepala nya, mata nya susah berkaca-kaca. Dia tidak pernah di bentak lagi sejak hamil, justru dia yang sering membentak bukan di bentak.


"Kontrol Rora, kontrol. Kau sedang berhadapan dengan ibu hamil, jangan sampai kau membuat nya menangis," batin Aurora.


"Apa pona kan ku di dalam sana baik-baik saja?" Aurora bertanya dengan lembut.


"Dia baik-baik saja Kakak ipar,"


"Bagus lah. Jadi, apa yang ingin kau sampai kan?"


"Kakak tidak datang ke perayaan pesta kami kemaren," ucap Safira menatap sendu ke arah kakak ipar nya.


"Maaf, aku sibuk waktu itu," ucap Aurora.


"Hmmm, aku tau kakak ipar."


"Jadi, apa yang bisa ku beri kan hmmm?"


"Ini," Safira menunjuk kan shift yang ada ditangan nya.


"Apa itu?"


"Chip, kemaren aku mendapat kan nya di jalanan. Boleh aku mendapt kan informasi tentang ini?"


Aurora mengernyit kan dahi nya pertanda dia bingung.


"Kenapa? Kenapa harus bertanya pada ku? Shine ada di sana bukan?"Aurora masih fokus ke ekspresi Safira.


"Tidak boleh Kakak ipar, dia sedang sibuk belakangan ini. Aku tidak ingin menambah beban nya," ucap Safira dengan tenang


"Apa kau ada bawahan di sana?" Aurora bertanya.

__ADS_1


Safira mengangguk kan kepala nya


"Beri kan pada nya!"


"Halo Nona," Nia menyapa dengan sopan.


"Kirim foto chip itu dengan benar, jangan meninggal kan sedikit pun sisi chip itu," suara Aurora berbeda jauh bicara dengan Safira tadi


Dingin dan datar seperti biasa nya.


Aurora mulai memain kan jari nya di layar lebar yang ada di depan nya. Wanita itu mengernyit kan dahi nya ketika melihat informasi yang di dapat kan.


"Dari mana kau mendapat kan chip ini Safira, jangan berbohong pada ku!" Aurora menjadi tegas


Sial, Safira sudah bisa memperkira kan ini sebelum nya bahwa dia tidak akan bisa membohongi kakak ipar nya seperti ini.


"Ada sesuatu yang tidak bisa aku kata kan kakak ipar, tapi Suatu saat aku akan mengata kan nya," Safira juga terlihat serius.


"Baik lah, tapi ingat untuk berhati-hati, jangan ke luar ruang sembarangan tanpa.persetujuan Adi ku. Ini adalah chip yang sengaja di letak kan oleh seseorang di bagian tubuh tertentu. Chip ini bisa meledak dan jika si pengontrol mengingin kan nya. Bisa merekam semua yang di dengar oleh si pengontrol apa yang di dengar kan oleh orang yang menanam Chip itu," jelas Aurora panjang lebar


"Apa kak Aurora bisa menemu kan siapa pemilik nya?"


"Bisa, tapi itu bukan dari kota mu atau kota ku, seperti nya ini chip keluaran terbaru hingga akan sulit.menemu kan nya, ini juga belum di jual di pasaran," jelas Aurora


Safira paham, jika Kakak ipar nya saja.sudah mengata kan itu akan sulit menemu kan pemilik Chip ini, apa lagi Nia, dia akan sulit menemu kan nya.


"Tidak usah mencari nya Kakak ipar, tidak terlalu penting juga. Aku hanya penasaran," ucap Safira.


"Maksud mu?"


"Kami hanya menemu kan mayat di jalanan saat bersama berjalan-jalan kemarin, kepala nya berdarah dan Nia menemu kan benda kecil di kepala pria itu,. Kebetulan kami yang menolong nya" Safira mengarang cerita.


"Hmmm, selalu hati-hati di mana pun dan kapan pun!"


"Baik Kaka ipar, terima kasih," ucap Safira lalu memati kan ponsel nya.


"Sial, ternyata akan sesulit ini," Safira mulai membuka pikiran nya


"Maka dari itu kita perlu melibat kan Tuan Nyonya," Nia menimpali.


Safira menatap lurus ke depan, jika saja dia tidak dalam hamil, mungkin dia bisa menyelesai kan ini semua.


****


Mateo yang baru saja akan naik ke dalam pesawat berdecak kesal.


"Siapa yang menyuruh kalian mengalih kan pesanan pesawat ku, hah?" Dua pria yang sedang asik berbincang-bincang di kaget kan dengan suara Mateo.


Ketiga nya saling menatap.


"Kaki hanya mengikuti instruksi Pang ....Tuan," pria itu mengubah nama panggilan nya ke sang Tuan setelah melihat mata tajam itu


Jet pribadi sudah menanti Mateo.


"Apa kalian juga akan mengikuti ku?"


"Tentu saja Tuan."


Mateo berdecak kesal.


"Aku naik pesawat kelas ekonomi," ucap Mateo meninggal kan dua pria itu


"Bodoh, aku melaku kan misi bukan liburan," batin Pria itu melangkah ke pesawat yang sudah menunggu nya, namun pria itu tetap berjalan santai.


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍

__ADS_1


Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍👍


__ADS_2