
Setelah ke dua nya rasa nya benar-benar mengenal satu sama lain dan menyebut nama pasangan masing-masing, Aurora dan Al sama-sama menoleh.
Raut wajah itu benar-benar terkejut satu sama lain. Aurora membelalak kan mata nya namun dalam sekejap menetral kan wajah nya. Di luar Aurora memnag sudah nampak tenang, namun di dalam hati nya benar-benar remuk dan kecewa setengah mati.
Berbeda jauh dengan Al yang sangat terkejut kala melihat Aurora berada di negara ini, bah kan berada di tempat ini. Dan yang lebih menyakit kan Aurora menyerang nya dengan kuat seperti orang yang penuh amarah.
"Apa ini? Apa semua ini?" batin Al dengan penuh ke pedihan. Al menatap penuh tanya ke arah Auror
Shine menatap kakak nya terkejut. Bukan kah Safira tadi meminta nya untuk tetap di rumah sakit?
Tanpa di duga Aurora langsung maju dan kembali menyerang Alaska dengan membabi buta. Mata Aurora benar-benar memerah seperti iblis yang akan siap membumi hangus kan segala sesuatu yang menghalangi nya.
Alaska terkejut kembali ketika Aurora menyerang nya secara membabi buta sekaan dia adalah musuh yang sudah lama ingin di habisi dan menanam nya di bawah tanah.
Shine cemas melihat kakak nya yang sedang marah. Shine tau Aurora membalas apa yang terjadi pada ponakan nya yang sudah meninggal dan pada adik ipar nya.
Yah jika tentang keluarga nya Aurora tidak akan segan-segan bahkan tentang diri nya yang menyembunyikan tentang sakit nya.
Bug
Bug
Dua pukulan tepat mengenai dada dan perut pria itu. Alaska sama sekali tidak melawan kekasih nya, otak nya masih kosong mencerna apa yang terjadi. Dia hanya bisa menghindar dari serangan serangan Aurora.
"Lawan aku pengecut sialan," ucap Aurora dengan penuh amarah.
"Apa maksud mu Sayang, jelas kan pada ku. Kenapa kau seperti ini?" tanya Alaska menikmati rasa sakit yang ada di tubuh nya tapi sama sekali itu tidak terlalu berasa tak sebanding dengan hati nya yang melihat sang kekasih menatap nya penuh permusuhan dan tidak seperti sebelum nya penuh cinta
"Aurora Queen Browns, apa yang kau laku kan di sana? Pergi dari sana!" perintah Rhadika dengan penuh amarah. berani nya putri nya itu berkelahi dengan laki-laki tepat di depan mata nya. Ayah macam apa diri nya, bagaimana jika Rosaline melihat putri satu-satu nya itu, Rosaline akan membunuh nya.
Aurora menatap ke arah Daddy nya. Dia tersenyum bengis.
"Daddy, aku sudah bersumpah demi diri ku. Aku akan membunuh dengan tangan ku sendiri orang yang mencelakai adik ipar dan calon keponakan ku!" ucap Aurora dengan lantang.
__ADS_1
"Kak ini urusan ku!"
"Yah, dengan keadaan seperti ini? Aku akan menghabisi nya sendiri." Aurora Sam sekali tak ingin di bantah.
JEDARRR
"Daddy? Kakak?" Alaska semakin terjatuh semakin dalam. Al tersenyum hambar. Dia mendekat ke arah Aurora dengan perlahan.
"Takdir macam apa ini sayang? Kau...kau anak dari pembunuh kakek ku? Jangan bercanda Sayang, ini sama sekali tidak lucu," ujar Alaska dengan lirih nldan itu di dengar oleh Aurora.
Aurora tersenyum miring.
"Sadar diri lah sialan, kau yang membunuh calon keponakan ku bahkan kau berencana membunuh adik ku?"
Bug
Aurora lagi-lagi menyerang Al yang tak melaku kan seragam balik. Meski pun begitu, Aurora tetap tak memberikan toleransi dan berusaha membuat Al lemah dan pada akhir nya dia kan membunuh pria itu.
Semua orang heran melihat Alaska yang sama sekali tidak melaku kan serangan balik dan hanya pasrah menerima pukulan.
Safira sudah memikirkan ini seja tadi. Dia langsung m nembus perkumpulan anggota di sana. Dia sudah bisa menebak suatu saat Inis semua akan terjadi
Safir berlari ke arah ayah mertua nya.
Brug
Safira langsung bertekuk lutut di depan Daddy nya sambil tangan nya mengusap-usap ke dua tangan di depan dada nya.
Rhadika sungguh heran dengan kelakuan menantu nya. Begitu juga Shine yang melihat aksi sang istri.
"Dad, aku mohon maaf kan Alaska," pinta Safira.
Rhadika dan Shine mengernyit kan dahi nya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dad, aku mohon dia...dia adalah kekasih Kakak ipar, Kakak ipar sangat mencintai pria itu, bah kan Kakak ipar sering bercerita tentang nya dan Fira tau Kaka ipar sangat mencintai kekasih nya," jelas Aurora sambil memohon
"Meski pun dia membunuh putri kita? Bangun Baby, kau tidak pantas melakukan ini untuk pria itu."
"Shine aku mohon hmmm, ini demi Kakak ipar. Aku sudah tau bagaimana rasa hancur nya seorang wanita yang kehilangan cinta nya," jelas Safira.
"Tidak bisa!" suara Rhadika menjawab ucapan Safira.
Safira kembali melihat ketegangan yang paling menakutkan di depan sana. Aurora sedang memegang pistol dan Al hanya diam dan pasrah.
"Daddy... please. Bukankah aku yang merasa kan sakit nya? Bukan kah aku juga yang harus kehilangan Janin? aku...aku sangat menyayangi kakak ipar Dad, Shine, dia selalu datang saat aku butuh aku mohon...hiks."
"Kakak ipar, aku mohon turun kan pistol mu," ujar Safira berharap semua ini tidak akan terjadi. Radang Shine mengeras bagaimana Safira membela pria itu, tidak tau dari sisi mana pria itu masih cemburu.
"Aurora, Daddy tidak peduli sama sekali
Siapa dia bagi mu. Dia adalah seorang pembunuh. Jika kau memilih nya, Kau tetap lah bagian dari Browns, tapi ingat Daddy mu ini sudah mati untuk seorang Aurora. Namun jika kau memilih keluarga mu, tambak dia di depan mata Daddy," ucap Rhadika tegas.
Shine tidak bereaksi, dia memegang Safira dengan erat dengan memeluk sang wanita dengan erat.
"Tidak, tidak kakak ipar," ujar Safira
"Lakukan Sayang, tidak ada tujuan yang harus ku tempuh jika aku hidup. Bah kan wanita yang ku cintai sudah tidak mengingin kan aku lagi," ucap Alaska mengarah kan moncong pistol ke arah kepala nya.
"Benar, aku akan membunuh mu," ujar Aurora menekan pistol itu lebih kuat dari sebelum nya. Namun air mata nya luruh dalam keheningan.
"Jangan menangis Sayang, aku tidak merasa menyesal mencintai mu dan tidak akan menyesal jika kau akhir nya akan menjadi algojo untuk ku," ucap Al menghapus air mata Aurora dengan lembut.
"Selamat tinggal," ucap Aurora dengan senyuman manis nya namun penuh kepedihan
Dor
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya