
Mateo sejak tadi mondar mandir tak jelas. Sudah selama tiga puluh menit Mateo tidak mendapat kan respon sama sekali, sudah beberapa kali menghubungi Nia mau pun Xavier, ke dua nya sama saja tidak bisa di hubungi sama sekali. Bah kan Mateo sudah menghubungi mereka sampai beratus-ratus sekali setelah dia kembali ke apartemen setelah di serang oleh musuh
Dia bisa menyimpul kan apa yang pria itu tadi kan apa yang pria itu kata kan tadi. Mateo frustasi harus menghubungi siapa di keadaan seperti ini.
Pada akhir nya Mateo memantap kan mental nya untuk menelepon tuan nya.
Untung saja dia menyimpan nomor Shine yang di beri kan oleh Safira, Wanita itu benar-benar membekali nya dengan lengkap.
"Sh it" Mateo lagi-lagi mengumpat karena tidak mendapat kan jawaban.
Mateo kembali menghubungi Shine berharap pria itu segera mengangkat nya sebelum semua nya terlambat.
Deringan ke dua, ponsel akhir nya di angkat.
"Siapa?" suara nan dingin milik Shine membuat mateo meneguk ludah nya kasar. Shine sedang meeting dan dia di ganggu oleh suara telepon nya yang sudah berdering beberapa kali.
"Maaf Tuan, ini saya Mateo," ucap Mateo dengan suara dingin nya juga.
"Hmm." Suara deheman Shine membuat Mateo merinding.
"Tuan, saya menghubungi Xavier dan Nia tapi mereka sama sekali tidak mengangkat nya. Saya boleh meminta Tuan untuk menyusul Nyonya?" Suara Mateo terdengar rendah, pertanda pria itu takut-takut.
Shine merenung sejenak. Dia juga tidak mendapat kan informasi sejak tadi dari Xaviera, dan satu hal yang pasti nya sudah ada di dalam orak Shine. Mateo, dia tidak pergi ke sana hanya untuk mencari makanan yang menjadi ngidam Safira, tapi ada alasan di balik semua ini. Shine kembali mengingat bagaimana istri nya menyiap kan alat-alat Mateo.
"Segera selesai kan urusan mu di sana Mat, aku membutuh kan penjelasan dari ini semua."
Setelah mengata kan itu semua, Shine segera berlari ke luar dari ruangan itu tanpa meninggal kan sepatah kata pun di ruangan rapat.
Entah kenapa Shine merasa hati nya tidak aman sejak tadi. Bah kan Shine menahan-nahan Safira agar tidak pulang, tapi wanita itu tidak mendengar kan nya dan memilih untuk pergi ke mansion.
Satu panggilan darurat di beri kan Shine ke pada markas pertanda dia butuh bantuan.
Shine melihat tanda yang ada di ponsel nya, sejak dari ruang rapat sampai di berlari ke mobil, posisi Xavier tetap stuck di satu tempat.
Dan sial nya, Saat Shine sudah mendekati wilayah itu, dia di hadang oleh beberapa rombongan mobil.
"Fu ck," Shien memaki dalam hati nya.
Yah, kedatangan Shine segera setelah mendengar kan ucapan Mateo. Dan posisi Shien berangkat dari kantor sama dengan waktu ketika benda tabung yang berisi bom mengenai mobil Shine
****
Seorang wanita merasa kan sakit bertubi-tubi di kepala nya. Bah kan darah sudah ke luar dari dahi nya, untung saja kesaran nya masih utuh.
Sejenak wanita itu meringis kesakitan karena perih di dahi nya. Ternyata kepala nya yang terbentur ke dashboard mobil mampu membuat dahi nya terluka.
Perlahan dia mendongak dan mengarah kan tangan nya ke dahi, tenyata sudah ada cairan merah pekat di sana mengalir.
__ADS_1
Kemudia wanita itu sadar jika diri nya sudah melaku kan kejahatan yang luar biasa. Seketika, ketakutan luar biasa mendera nya, di sadar jika dia sudah melaku kan kesalahan yang besar.
Pelan tapi pasti, dia melihat ke arah depan. Tangan nya spontan menutup mulut nya karena saking terkejut nya melihat kepala korban nya yang menghadap ke arah nya dengan mata yang terbuka penuh.
Air mata kemudian ke luar dari sisi mata nya, "Aku...aku bukan seorang pembunuh. Yah...yah... Aku melaku kan nya untuk menyelemat kan orang, dia tidak bisa di salah kan sepenuh nya.
Dengan tertatih-tatih, wanita itu ke luar dari mobil, Dia melang kah sekuat tenaga.
Dia terjatuh dengan kuat tanpa tangan nya bisa menahan tubuh nya. Dia melihat darah yang begitu banyak ke luar dari paha wanita yang akan di tolong nya.
Meski pun dia seorang dokter, dia tidak mampu melihat keadaan seorang wanita ceria namun penggoda yang sering membuat amarah nya meningkat karena wanita ini hendak menggoda Daddy nya , tapi sekarang wanita yang sedang hamil itu kini duduk terkulai lemas.
Wanita itu dengan pelan-pelan memantap kan langkah nya dan mendekati Safira. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini karena dia tidak bisa mendiagnosa Safira. Ada darah yang sudah mengering di sela-sela paha Safira namun ada juga wanita yang masih berembes ke luar. Darah itu tidak hanya mengalir di sela-sela paha Safira namun juga dari pipi,.kaki, tangan wanita itu.
Bisa di kata kan luka tidak absen dari seluruh bagian tubuh Safira.
"Safira ...hiks.... Kau kenapa?" tangis wanita itu pecah ketika melihat tubuh lecet Safira.
Dia langsung mengangkat kepala Safira ke atas paha nya.
Wanita itu semakin menangsi histeris ketika melihat pria yang akhir-akhir ini mengusik pikiran nya, ada juga wanita yang di kenal nya sebagia pengawal Safira. Tidak tau apa kah mereka masih hidup, tapi jika di perkira kan pria dan wanita itu sudah tidak bernapas membuat wanita itu semakin menangis tak karuan.
Saat ini hidup nya begitu mengerti kan, di kelilingi oleh beberapa mayat dan juga entah sudah mayat atau tidak dan juga ada satu lagi wanita hil yang sudah melemah seakan ingin mati
Safira yang masih sadar tersenyum kaku. Wajah pucat seakan sudah mati itu berusaha untuk tetap membuka mata nya bah kan masih berusaha tersenyum. Jika orang biasa melihat wajah Safira,. tingkah kehidupan wanita itu sudah di ujung tanduk.
Ni...Sa...ngat...sak..it," suara Safira terputus-putus.
"ahh, aku hikss ahhh tolong..
Aku mo... Mohon...siapa pun ...tolo..
Ng aku!" teriak Queenza dengan putus asa. Bah kan Isa kan nya terdengar di teria kan nya.
""Aku mohonnnn, tolonggg, aku butuh pertolongan," Queenza terus meraung dengan tangisan nya. Dia terus berteriak berharap ada yang membantu nya, dia tidak bisa mengangkat Safira sendiri karena memang diri nya tidak bisa dan takut akan menimbul kan akibat lain pada tubuh Safira.
Tiba-tiba sebuah mobil nampak melaju kencang dari arah depan dan berhenti dengan decitan yang sangat kuat, tidak hanya mobil itu tetapi masih ada mobil lain yang mengiringi nya.
"Shine, aku mohon hiks...tolong Safira. Dia... hiks."
Yang di panggil justru terbengong seketika. Dia terjatuh bertekuk lutut di depan pintu mobil nya. Otak nya kosong tidak bisa merasa kan apa yang terjadi saat ini. Mata nya kosong seperti orang yang sudah lama hilang arah tujuan hidup nya.
"Bodoh, minggir sialan," seorang pria mendorong tubuh Shine dengan kasar hingga wanita itu terjatuh namun tetap saja tatapan nya kosong tak bisa mencerna kejadian di depan nya.
Seorang pria juga ke luar dari mobil nya dan melewati Shine begitu saja tanpa menghirau kan pria yang jatuh di sana.
"Hati-hati, jangan sampai ke dua kaki nya merenggang,"
__ADS_1
"Kak, Safira dia...hiks."
"Tenang lah hmmm, kami akan membawa Safira ke rumah sakit. Bukan kah kau juga seorang dokter? Seharus nya kau juga bisa mengerti kondisi ini bukan," ucapan lembut sang kakak menenang kan Queenza. Setelah itu Mateo dan Darren yang tentu nya paham dengan kondisi Safira sama-sama menatap lembut ke arah Queenza berharap wanita itu bisa di andal kan di kondisi saat ini.
"Kau lihat bukan masih ada Xavier dan Nia yang sangat menbutuh kan bantuan saat ini. Darius menunjuk kan Xavier dan Nia.
"Tolong bantu mereka hmmm," Darius berucap lembut lalu meninggal kan Queenza di sana.
Bukan nya Queenza tidak pernah melaku kan itu, bah kan diri nya seorang melihat Dad nya manyiksa penghianat dengan begitu keji, bah kan lebih banyak luka dan darah di tubuh tawanan Daddy nya.
Di ruang operasi juga dia sering menangani pasien tabra kan yang begitu mengerti kan, tapi dia bisa tenang. Tangan nya tidak gemetaran sama sekali dan mengibarat kan tubuh pasien nya seperti boneka yang harus di perbaiki kain robek di bagian-bagian tertentu.
Santai dan telaten, tidak gemetar atau semacam nya, tapi kalo ini beda. Orang yang di depan nya nya adalah wanita hamil yang begitu di kenal nya dengan keceriaan yang selalu melanda wajah menyebal kan nya. Meski pun Queenza sempat membenci Safira, namun itu serasa hilang karena keceriaan dan tingkah menyebal kan dari wanita itu.
Queenza menghapus air mata nya dengan kasar. Dia tidak boleh seperti ini, dia bukan dokter abal-abal yang lulus karena hanya kata nasib, dia bah kan memecah kan rekor lulusan terbaik, tapi apa yang terjadi pada nya. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah Xavier dan Shine. Dia nyawa yang berharga kini di pertaruh kan di tangan nya.
Queenza: -> Enza
Enza mendekat ke arah Xavier dan membalik kan tubuh pria itu. Dia menatap ngeri ke arah tubuh pria di depan nya yang masih terbaring lemah. Ada beberapa luka tembak di sana dengan sebagian lubang yang sudah mengering dan darah yang masih ke luar.
Tiba-tiba pria itu bergerak dan akhir nya sadar kan diri. Pria itu tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju tuan nya yang sedang menatap kosong ke depan.
"Kak Xavier tenang dulu, biar kan aku memberi kan obat pereda sakit," Enza berucap.lirih
Xavier menghempas kan tangan Enza dan berjalan tertatih-tatih ke arah Shine, tapi sebelum nya Xavier bertanya ke arah Enza.
"Di mana Nyonya?"
"Kak, pikir kan dulu tent..."
"Di mana Nyonya, jangan membuat ku hilang kesabaran,!"
"Sudah di bawa ke rumah sakit."
Xavier dengan sekuat tenaga mempertahan kan kesadaran yang hanya tersisa seujung kuku dan berjalan ke arah Shine.
"Tuan," Xavier terjatuh di depan Shine
"Tuan, Nyonya Safira.sudha di bawa ke rumah sakit," kini Xavier mati-matian membuka suara nya sambil menahan rasa sakit nya.
"Safira? Safira ke rumah sakit," Shine langsung sadar ketika mendengar nama sang istri di sebut, dan Xavier kembali pingsan karena tak kuasa menahan rasa sakit di tubuh nya.
Bah kan bibir nya terlihat pucat seperti orang mati, namun sebagai asisten Tuan nya dan wakil dari dari klan Black Sky dia selalu mengutama kan kepentingan keluarga tuan nya dari nyawa nya sendiri
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍
__ADS_1