Istri Kontrak, Jangan Lepas

Istri Kontrak, Jangan Lepas
Part 117


__ADS_3

"Apa maksud mu kak?"


"Kenapa kau jurusan seperti ini?"


Aurora masih setia dengan nafas memburu.


Safira menghela napas nya lega, ternyata Aurora tidak mengata kan tentang pria asing itu.


Shine tidak menjawab pertanyaan kakak nya, dia melihat ke arah Safira berharap wanita itu tidak mendengar ucapan Aurora.


"Aku tidak apa-apa kak," jawab Shine santai.


"Tidak apa-apa? Kau akan segera mati Shine jika racun itu menyebar ke jantung ku. Apa kau pikir aku bodoh hah, bah kan kau harus menahan rasa sakit tiap hari karena kebodohan mu itu. Bagaimana jika Safira bangun dan tidak mendapati juga di sisi nya, siapa yang akan menghibur nya sialan" Aurora frustasi saat ini.


Ternyata bukan hanya Safira yang harus di khwatir kan nya tapi juga Adik satu-satu nya yang di jaga sejak kecil.


"Darren, kenapa adik ku bisa begini? Kenapa kau tidak mengobati nya?"


"Belum ada penawar Kak, hanya penangkal rasa sakit yang bisa aku buat kan saat ini?"


"Berapa lama penyebaran racun itu?"


"Penyebaran nya sangat cepat, entah apa penyebab nya," ujar Darren.


"Berapa lama Shine bisa bertahan?"


"Dari pemantauan, racun akan segera menyerang jantung?"


"Aku baik-saja." Shien menyela.


"tutup mulut mu. Apa ini adalah orang yang sama yang menyebab kan Safira kehilangan bayi nya?"


"Ya benar kak, mereka adalah orang yang sama," Darius yang menjawab karena Shien tak berniat menjawab sang kakak.


Safira tersentak dalam hati nya.


"Apa? Jadi Shine sering kesakitan? Dan ternyata racun itu masih bersemayam di tubuh Shine? Sial, apa yang di laku kan nya selama ini? Sial, dia istri bodoh.


Aurora semakin murka mendengar apa yang di katakan oleh Darius. Berani-berani nya pria sialan itu menyakiti keluarga nya.


"Kalian akan menyerang nya besok bukan? Aku ikut!"


Shine nampak membantah dengan keras namun suara Aurora membuat nya TKA berdaya.


"Aku tidak menerima bantahan dari siapa pun," titah Aurora.


Nghhhh


Terdengar suara erangan dari brankar tempat tidur. Shien spontan menghenti kan pembicaraan mereka dan segera menuju Safira.


"Haus," kata Safira pertama kali.


Aurora dan yang lain nya sontak kaget mendengar suara Safira. Ini pertama kali nya Safira membuka suara sejak wanita itu selalu saja diam setiap waktu.

__ADS_1


"Ini Baby," Shine memberi kan air minum pada Safira.


Seperti orang yang baru saja lari maraton, Safira meminum air yang di beri kan Shine sampai kandas.


Safira kini menatap satu per satu orang yang ada di ruangan. Semua orang itu lagi-lagi terkejut karena biasa nya Safira akan mengarah kan pandangan kosong nya ke luar jendela.


Shine kini duduk di ranjang dan memeluk Safira.


"Apa ada yang kau ingin kan?" tanya Shine melihat Safira yang tidak seperti biasa nya.


Safira kemudian menatap ke arah Shine, dia memperhati kan wajah pria itu yang semakin tirus, tangan nya tidak sekasar dulu dan bibir pria itu nampak pucat.


Srek


Safira langsung membuka kaos polos yang menutupi tubuh Shine.


Semua orang kembali ternganga, apa kah begini tingkah orang yang baru saja sembuh entah dari penyakit yang entah apa itu?


"Kenapa gak kebentuk sempurna lagi? Aku gak suka," ucap Safira setelah mwbgekaur kan kepala nya.


Spontan Shine memerah malu mendengar ucapan sang istri. Apa itu maksud nya dia tidak menarik lagi? Apa karena dia sudah jarang olahraga hingga perut sobek nya tidak terbentuk lagi? Sial itu semua gara-gara racun sialan itu.


"Tidur, mau di peluk," ucap Safira lalu tidur berbaring di dalam dekapan Shine.


Shine terharu mendengar permintaan sang istri. Selam ini jika Safira sudah bangun dia selalu mengata kan tak ingin melihat Shine sama sekali, Shine mengingat kembali perkataan sang istri yang mengata kan bahwa dia adalah luka untuk nya.


"Aku mau kak Aurora di sini," ucap Safira kembali dan melihat kakak ipar nya dengan puppy eyes nya.


Aurora tak mungkin menolak permintaan adik ipar ipar nya yang baru saja ingin bicara setelah beberapa lama penantian. Dia memesan satu lagi tempat tidur


"Baby, aku ada urusan besok, boleh kan aku pergi?"


"Dengan keadaan sakit seperti ini?" Sifat bawel Safira sudah di mulai.


"Aku akan mencari pria itu," ucap Shine.


Tepat saat itu juga Aurora masuk ke dalam ruangan setelah berbicara dengan bawahan nya tadi.


Safira duduk di brankar nya.


"Tidak perlu, aku sudah memaaf kan siapa pun itu. Bair kan saja seperti itu," ujar Safira berharap suami nya menuruti permintaan nya.


"Tidak, besok penumpasan itu harus terjadi Safira. Pria itu tidak akan ku biar kan hidup, sudah cukup selama ini dia menikmati udara segar," ucap Aurora.


"Tapi Kaka ipar...?"


"Sekali pun Daddy dan Mommy yang melarang ku, aku akan bergerak," ucapan tegas itu membuat Safira menyerah.


Tidak tau siapa yang bisa memutus kan keras kepala Aurora. Jika Ayah mertua nya ada pawang yaitu ibu mertua nya maka pawang Shine adalah Safira.


"Baiklah jika begitu apakah bisa Shien saja yang pergi? Kakak menemani ku saja di sini? Safira akan kesepian," pinta Safira dengan wajah memelas nya


"Tapi aku benar-benar harus..."

__ADS_1


"Tidak bisa yah, tidak apa-apa," ucap Safira segera.


"Kakak bisa mengirim anak buah mu untuk membantu kami," ujar Shine pada akhir nya.


Aurora hanya bisa pasrah pada akhir nya.


Tapi anggu kan Aurora bukan berarti dia akan sepenuh nya menuruti permintaan Safira. Tidak ada yang tau apa yang ada dalam pikiran wanita itu.


****


"Kami mendengar bahwa mereka akan datang hari ini Tuan," lapor Dextrosa.


"Sambut mereka dengan baik," jawab Alaska santai.


Yah mereka sudah mempersiap kan segala nya sejak jauh-jauh hari. Untuk apa merasa khwatir.


Setelah Dextros pergi, Al yang sejak tadi berusaha menghubungi kekasih nya namun semua telepon nya tidak ada sama sekali di jawab.


"Where are you Honey?" batin Alaska pasrah dengan panggilan nya yang tidak di terima sejak tadi.


Setidak nya Al mendengar kan suara kekasih nya menyemangati nya untuk mengakhiri pernah ini agar mereka bisa menikah dan mengenal keluarga kekasih nya. Dia sudah sangat tidak sabar mengakhiri perang ini dan hidup bahagia bersama Aurora.


******


"Hati-hati hmmm, jaga diri baik-baik jika sakit mu kambuh segera mundur!" ucap Safira dengan tegas sambil memeprsiap kan barang-barang suami nya. Namun mata satu nya tetap mengawasi Kakak ipar nya yang sedang santai duduk di sofa.


Yah saat ini mereka ada di ruangan Safira di rawat, Darren mengata kan Safira tidak bisa berjalan jauh, jadi lebih baik tidak membuat Safira kelelahan.


"Ada apa? Kau seperti sedang mengawasi ku," cecar Aurora yang mata nya bersibubruk dengan adik ipar nya.


"Tidak ada, aku takut Kakak ipar juga pergi meningal kan ku," ujar Safira tersenyum manis.


"Kau seperti wanita yang tidak mengalami sakit lagi, tapi harus di temani. Dasar manja," olok Aurora.


"Kak, jangan seperti itu," ujar Shine ketika Safira mengadu pada Shine dengan gera kan tubuh meletak kan kepala nya ke bahu sang suami.


Aurora tidak menanggapi drama ya g di buat sang adik dan adik ipar. Dia hanya berdecak kesal.


"Jaga diri baik-baik di sini. Bye Baby," ucap Shine lalu pergi dari sana. Bersamaan dengan itu Safira juga pergi ke kamar mandi dengan tergesa-gesa karena kebelet.


"Di mana dia?"


"Di markas nya di New York Nyonya."


"Menyingkir dari sana, Black Sky akan menyerang mereka," Setelah mengirim pesan itu Safira ke luar dari kamar mandi dengan cepat sekaan takut kakak ipa akan pergi.


"Kakak ipar, aku lelah. Ingin tidur," ucap Safira naik ke ata ranjang.


"Tinggal tidur saja, apa sudah nya? Jawab Aurora ketus.


"Harus di peluk," ujar Safira lagi membuat Aurora menarik napas dengan dalam. Terpaksa dia harus menuruti permintaan itu.


Safira tersen dalam hati, seperti nya ini akan berhasil.

__ADS_1


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍


Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍


__ADS_2