
Seorang pria sejak tadi ke bingungan melihat sang istri yang terus saja merajuk dengan nya. Bah kan tangan nya di tepis tak ingin bersentuhan dengan tangan nya yang ingin memeluk wanita nya. Bah kan ranjang sempit itu di buat pembatas agar diri nya memiliki jarak dengan sang istri.
"Sayang kenapa hmmm...?" tanya nya dengan sabar. Sudah lima belas menit Shine tidak mendapat jawaban pasti dari sang istri.
Shine mencoba mendekat ke arah sang istri hendak memeluk.
"Jauh kan tangan mu dari ku!" perintah Safira tanpa membalik kan badan nya.
"Tell me, di mana kesalahan ku Sayang. Aku tidak bisa membaca isi pikiran dan hati mu," Shine berusaha membujuk sang istri.
Untuk saja Shine sudah tidak merasa kan efek samping dari racun itu hingga dia bisa bergerak leluasa, meski pun sesuatu dalam tubuh nya juga mendesak rasa sakit. Entah itu organ dalam ginjal atau semacam nya.
"Ok Fine.." pasrah Shine. Dia bangkit dari tempat tidur nya dan berjalan ke arah pintu.
Safira semakin menangis membelakangi Shine. Dia yakin pria itu akan pergi karena tidak tahan dengan diri nya. Dia masih dalam posisi membelakangi Shine. Dan terbukti, Safira semakin kecewa karena terdengar langkah menjauhi ranjang dan suara pintu yang terbuka. Safira menebak itu adalah pintu ke luar ruangan.
Safira semakin menangis ketika terdengar suara pintu tertutup.
"Hiks...hikss...., kenapa aku seperti ini. Apa ibu hamil semerepot kan ini untuk suami nya. Lihat, dia bah kan tak ingin melihat ku. Ini bukan keinginan ku Hikss..hikss," Safira memeluk diri nya sendiri.
Ini bukan lah diri nya, beda jauh dengan Safira yang beberapa waktu belakangan ini. Ini kembali pada diri nya yang dulu sebelum dan setelah menikah dengan Shine selama tiga tahun ini.
Dia kembali menjadi Safira yang rapuh,. penurut, lemah beda nya dia menjadi wanita garang sesekali
Dia juga tidak pernah seperti ini, namun kehamilan pertama nya sungguh membuat nya tersiksa karena dia tidak bisa memenuhi permintaan sang bayi dengan meminta Daddy nya berkunjung.
"Maaf yah princess, Mommy tidak bisa mewujud kan permintaan mu agar Daddy berkunjung rahim mommy," ucap Safira mengelus perut nya.
Tak terasa karena sudah lama menangis, Safira tertidur secara perlahan menyelami alam mimpi. Dia samar-samar mendengar pintu terbuka, namun dia tidak sanggup lagi membuka mata nya. Siapa pun yang datang dia tidak peduli sama sekali dan lebih baik merebah kan tubuh saja
Safira memang sudah berbeda jauh sebelum hamil dan setelah hamil. Dia yang setelah sadar akan pernikahan nya yang tidak akan pernah berarti, dia menjadi lebih dingin ke pada Shine.
Tapi tiba-tiba sikap pria itu berubah dan merintih kan kembali sifat nya yang sudah di bentuk nya selama belakangan ini. Dia juga tidak tau kenapa hati nya semurahan ini pada sang suami.
Shine melihat istri nya sudah mulai tidur mendekat ke arah ranjang. Dia ikut membaring kan dan menyelimuti tubuh sang istri.
Di balik kan nya tubuh Safira dengan sayang.
Shine tersentak melihat wajah sang istri sudah di banjiri oleh air mata.
Dengan perlahan dia mengusap pipi itu dengan sayang.
"Maaf Jika aku membuat mu tersiksa Sayang. Aku akan berusaha memperbaiki nya," batin Shine. Tangan nya terulur mengusap air mata sang istri yang mengalir di pipi mulus itu kemudian dia ikut menyelami alam mimpi.
Pagi hari menyingsing, seorang wanita terusik dengan mentari yang begitu tega nya membuat tidur nya terganggu. Pada hal ini adalah posisi ternyaman untuk diri nya setelah kedatangan sang kekasih.
Dia menelisik wajah rupawan yang ada di depan nya. Dia tersenyum senang kala LDR sejenak menjauh dari mereka.
"Sudah bangun hmmm," dia adalah si pria mafia. Alarich
"Hmmm, bah kan sudah kenyang," Aurora.
"Kenyang?"
"Kenyang memandangi wajah tampan titipan Tuhan untuk ku," ujar Aurora sambil mengecup singkat bibir sang kekasih
Al yang mendapat pujian dari sang kekasih tiba-tiba wajah nya bersemu merah
Aurora yang melihat perubahan drastis wajah Al langsung terbahak-bahak.
"Hahahaha, Al apa ketua mafia bisa bersemu merah begini. Oh....oh tidak, ini....hahahah...sangat lucu," ucap Aurora tersenyum mengejek pada kekasih.
Hmmmpp
Tiba-tiba mulut Rora yang penih ejekan itu langsung di bungkam oleh bibir yang paling di sukai nya. Di sambut nya lumayan yang kasar itu dengan ciuman lembut nya, membuat sang lawan main langsung luluh dan bermain lembut tak tega dengan permainan nya yang kasar tadi.
__ADS_1
Hosh...hoshh
Al melepas bibir sang kekasih ketiak melihat istri nya sudah kehabisan oksigen.
"Mulut nya Jang terbuka lebar-lebar Baby, sisakan tawa mu untuk besok," ucap Al dengan sini.
Kenapa selalu saja Rora berhasil membuat nya seperti ini, entah la jika di puji sang kekasih diri nya tidak akan tahan dan langsung saja merona. Pada hal banyak wanita yang selalu memuji nya memuja tubuh nya bah kan melempar kan diri ke atas ranjang nya secara gratis tapi diri nya biasa saja. Sudah hal biasa dan hal lumrah untuk nya mengingat begitu rupawan nya pahatan Tuhan untuk wajah nya hingga membuat wanita bertekuk lutut di bawah nya.
"Cih, bilang saja kau mau. Dasar mesum. Tukang modus!" cebik Rora dengan malas.
"Mau nya sih modusin sampe bawah Baby," ucap Xavier di buat dengan wajah mesum nya melihat ke arah bawah Rora.
"Breng sek, berani nya kau, dasar otak mesum,"
Plak
"Ah, sakit Baby. Ini nama nya kekerasan rumah tangga alias Kdrt."
"Kdrt gigi mu, milik mu juga akan ku cincang jika berani menyentuh milik ku," ucap Aurora dengan tatapan tajam nya.
Al meringis mendengar ucapan ngeri sang kekasih, yah mafia girl satu ini selalu bisa membuat nya ingin bersembunyi saja di dalam gua jika wanita nya mengamuk, seperti saat ini ancaman nya tidak bisa di anggap sepele. Masa depan nya yang akan jadi taruhan nya.
Beberapa saat mereka lewati bersama di mansion Rora, Xavier begitu bahagia dan dia berharap akan seperti ini selama nya.
"Sebentar lagi Baby, kita akan bersama tanpa ada halangan apa pun," batin pria itu sambil mengelus kepala si wanita nya.
Rora hanya tersen mendapat usapan halus di rambut nya. Dia memeluk pria nya dan meletak kan kepala nya ke dada bidang kekasih nya.
Tak beda jauh dengan dua sejoli yang ada di mansion Aurora, adik nya tak kalah jauh di sana.
Sejak bangun dari tidur nya Safira terus saja mendiam kan Shine. Bah kan wanita itu sangat santai dan menikmati kegiatan nya bermain benda pipih di tangan nya.
"Ahhh, aku punya ide," batin Safira ketika dia sudah tidak tau apa lagi yang harus di laku kan nya dengan gadget yang dia miliki.
Shine sejak tadi meperhati kan apa yang di laku kan oleh Safira. Mata nya senantiasa menatap ke arah Safira dan sesekali juga menatap ke arah laptop yang berada di pangkuan nya.
"CK, menyenal kan. Apa tidak ada orang lain yang harus di hubungi nya?" kesal pria itu. Dia mengalih kan atensi nya ke pada laptop yang ada di pangkuan nya. Lebih baik dia mengerja kan sesuatu di laptop nya dari pada mendengar percakapan dua wanita yang akan membuat kepala nya pusing apa lagi perempuan di seberang sana.
Tring Tring
"CK, Siapa sih honey," kesal Al. Kegiatan romantis mereka harus buyar karena si penelepon yang memanggil ke ponsel kekasih nya.
Rora mengernyit, seperti nya dia tidak ada jadwal atau apa pun saat ini. Dia juga bingung siapa yang menelepon nya, apa lagi pagi-pagi begini.
Rora menggeleng, dan dia segera meraih ponsel nya.
"Bisa tidak ponsel mu kau buang sebentar honey. Kenapa harus waktu kita berdua di ganggu," decak Al tak senang.
Rora melihat nama si penelepon.
"Tidak bisa honey, ini sangat penting dan ku harap kau tidak di sekitar ku karena ini Vidio Call," tutur Rora.
"Harus kah? Kau seperti tidak suka melihat ku di sekitar mu. Apa dia pria?"
"Akan ku angkat,"
Al hanya bisa mendengus, dia beranjak dari sana dengan malas.
"Hai Kakak iparrrr," suara cempreng itu membuat Rora menatap malas pada adik ipar nya. Tapi sekaligus dia senang, karena Safira sudah kembali ke diri nya yang dulu ceria, tidak seperti kemaren saat dia pergi ke mansion adik nya itu.
Al yang mendengar itu merasa tidak etis, bagaimana seorang wanita bisa bersikap seperti itu, tidak elegan, tapi apa dia berkomentar, tentu saja tidak. Sangat di sayang kan jika burung nya yang akan menjadi pelampiasan amarah kekasih nya.
Ternyata Safira menghubungi Kakak ipar nya. Dia malas berbicara dengan Shine dan lebih memilih menghubungi Kakak ipar nya karena sudah lama juga wanita itu tidak di hubungi nya.
"Hmmmm, bagaimana kabar mu hmmmm?" tanya Rora.
__ADS_1
Sudah lembut Aurora karena dia jarang bicara seperti ini, biasa nya nada nya ketus saja, tapi demi wanita yang sedang hamil itu, dia harus bisa sesabar mungkin.
Namun lembut buat Aurora, bagi Safira itu sangat dingin membuat dia menunduk.
"Hei, kenapa di tanya malah diam?" Aurora melihat di layar ponsel nya, kepala adik ipar nya menunduk, dan tidak ceria seperti sebelum nya.
"Kakak ipar sama dengan Shine, tidak ingin bicara dengan Fira, selalu saja dingin," ucap Safira
Shine mendengar ucapan itu merasa jengkel, kapan dia bersikap dingin seperti yang di kata kan wanita itu, malahan dia bersikap lembut sebisa mungkin, dia juga sedang latihan, dari orang dingin tak tersentuh butuh waktu untuk menjadi pribadi yang lebih lembut
"Hei...hei... Bukan begitu maksud ku," terdengar suara Rora yang gelagapan di seberang Sana. Apa dia membuat wanita hamil itu sedih, oh tidak. Dia akan menjadi bual-bualan adik nya itu tadi.
Sedang kan Shine, dia tersenyum puas mendengar kakak nya yang dingin itu gelagapan, kapan lagi dia bisa mendengar itu.
Beda lagi dengan Al yang melihat kekasih nya itu gelapan.
"CK, tidak biasa nya seperti itu. Apa kah itu bunda nya?" batin Al. Ingin sekali diri nya berbicara dengan calon mertua nya yang telah melahir kan kekasih cantik nya.
Dia berjanji, jika suatu saat dia bertemu dengan ibunda kekasih nya, dia akan langsung berterimakasih dan memeluk calon mertua nya.
"Jadi kakak ipar ingin berbicara dengan ku?" tanya Safira mulai berseri.
"Tentu saja. Bagiamana kabar mu hmmm," senyum Rora terpancar dengan cerah di layar ponsel Safira.
"Aku baik kakak ipar, tapi suami ku sedang masuk rumah sakit," ucap Safira sendu.
"Aku tidak bertanya tentang kabar nya, tidak penting," kekeh Rora.
"Kakak ipar mah, is kesel,"
Sebenar nya, sama sekali bukan tipe Rora menjenguk seseorang seperti ini, Shine saja saat kecil ketika menangis Rora hanya menepuk-nepuk saja pantat anak itu.
Tapi dia harus lebih kuat dan sabar lagi hari nya.
"Bukan begitu, bagaimana kandungan mu? Apa kah sehat? Jaga diri baik-baik yah!" Aurora masih setia dengan wajah cerah nya.
"Siap kakak ipar. Kandungan ku baik-baik saja sejauh ini, hanya saja....,"
"Kenapa hmmm, apa kau ada butuh sesuatu?" tanya Rora dengan lembut.
"Nanti nya princess kami nanti juga butuh teman kecil dari kakak ipar juga. Jadi Fira berharap..."
"Kakak sedang sibuk, akan kakak hubungi lagi nanti yah," Aurora melambai pada adik ipar nya.
Fira yang mengetahui kakak ipar nya juga seorang CEO dan pasti nya sibuk mengangguk dengan penuh perhatian.
"Semangat kakak ipar....dan cepat lah menikah dengan pria yang tadi berada di kamar kakak ipar. Aku menunggu kabar baik nya," Safira berbisik di depan telepon dengan pelan agar tidak di dengar oleh Shine karena ini adalah rahasia nya dengan Kakak ipar nya itu.
Brukkkk
"Tari napas, hembus kan huuuhhhh....," ucap Rora berusaha menenang kan diri nya sendiri.
Hahahaha
Al terbahak-bahak tertawa melihat ekspresi sang kekasih tadi. Sungguh menggeli kan, baru kali Ini seorang Rora bisa mengekpresi kan diri.
"Sayang, kau sangat cantik jika berekpresi seperti itu," ejek Al sambil tertawa terbahak-bahak. Dia membalas ejekan Rora sebelum nya
Bug Bug bug
Rora langsung bangkit dari tempat tidur dan melampias kan rasa kesal nya yang di pancing oleh Safira adik ipar nya.
"Sayang stop ah, sakit stop hahaha,"
tawa dari ke dua nya lepas begitu saja. Terlihat pancaran kebahagiaan dari ke dua wajah itu
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍👍👍👍