
Shine sedang membaca laporan yang di beri kan oleh seorang informan nya, mungkin jika di lihat sekilas orang-orang tidak akan mengetahui bahwa pengawal sekaligus informan bayangan nya yang berkeliaran di sana sini.
Setelah membaca semua laporan di depan nya yang berupa dokumen itu, dia mengambil ponsel nya dan mengirim pesan singkat.
Setelah menyelesai kan urusan shine tentang masalah satu ini dia beralih dengan urusan perusahaan. Ingin sekali diri nya fokus pada klan baru yang mengusik nya, namun belakangan ini mereka tidak terlihat dan menampak kan batang hidup nya.
Jadi dia lebih fokus ke pada perusahan nya, dia saat ini masih merasa tidak begitu baik Karana masalah rumah tangga nya yang di ambang ujung tangga yang tidak rata dan banyak pelumas yang akan membuat nya tergelincir.
Medan tempur bukan lah taman yang indah yang hanya membutuh kan tenaga untuk mengelilingi nya, tapi sebuah jurang tajam yang membutuh kan tenaga dan fokus yang tinggi agar bisa bertahan hidup.
Shine melihat ke arah jam tangan nya dan angka itu menunjuk kan pukul dua subuh. Shine menghela napas dan memejam kan mata sejenak.
Kemudian dia pergi ke ruangan lain yang ada di ruangan CEO milik nya. Dia langsung merebah kan diri nya di ranjang dan menatap langit-langit kamar itu.
"Jika itu adalah kebahagiaan mu aku tidak kan menahan mu," batin nya dengan sedih kemudian Shine memilih untuk menyelami alam mimpi hingga dia tidak sadar bahwa sudah melewati ambang batas tidur nya seperti biasa nya.
**
__ADS_1
Nia yang hampir terjungkal hampir saja bokong nya mencium lantai dengan mulus namun pinggang nya di dekap seseorang.
Nia melihat siapa orang yang menolong nya dan berdecih tidak suka. Dia tidak sudo bersentuhan dengan manusia yang ingin memisah kan tuan dan Nyonya nya.
"Cih, lepas kan tangan mu!" ucap Nia.
Karena merasa jengkel, Elvio langsung melepas kan tangan nya dari pinggang Nia dan menjatuh kan wanita itu tanpa perasaan.
"Bukan nya berterimakasih, Cih," ucap Elvio dengan dingin sambil mengibas ngibaskan tangan nya seperti jijik bersentuhan dengan Nia.
Safira merasa lucu dengan tingkah dua orang di depan nya.
Ingin rasa nya Elvio mencin Cang tubuh Nia habis-habisan, tapi dia harus menjaga image nya di depan Safira agar wanita nya tidak ilfeel pada nya.
"Sialan, aku akan membunuh wanita ini dengan tangan ku sendiri," batin Elvio dengan geram.
Bukan kah seharus nya diri nya mendapat kan ucapan terimakasih Karana telah menolong nya, tapi wanita ini benar-benar tidak punya akhlak sama sekali.
__ADS_1
Kini Nia menghadap Kay yang memiliki keberanian tinggi untuk mengusik nya.
"Bit ch, ternyata kau memiliki keberanian singa rupaa nya, apa kau lupa sudah kehilangan kekuasaan mu?" heran Nia langsung melempar kan rambut wanita itu hingga tubuh Kay terjerambap ke lantai.
Tidak sampai di situ Nia langsung menghampiri Kau dan menarik kembali rambut wanita itu.
"Apa kau tau sekarang kau hanyalah salah satu budak sampah hah, bahkan anjing pun tidak akan Sudi melihat wajah mu saat ini. Berlakulah baik atau akh sendiri yang akan mengantar kan nyawamu," ucap Nia dengan tak berbelas kasihan.
Bahkan saat ini wajah Kay sudah berbekas dengan entah berapa jarj Karana Nia benar-benar menumpah kan kesalahan nya.
Elvio juga tidak terpengaruh dengan tatapan memohon Kay, dia acuh dan malah sibuk menempeli Safira.
Kegiatan menyiksa Nia harus berhenti karena dia menerima pesan saat ini. Dia langsung berbalik dan melihat ke arah Safira. Mateo yang mengerti sesuatu langsung meng cek ponsel nya.
Antara tidak dan iya, Nia bimbang apa perlu memberi tahu kan berita kecil ini pada Safira. Dia juga bingung.
jangan lupa like nya 😊👍👍
__ADS_1
Agar author nya semakin semangat update nya 😊🙏👍👍👍