
Shine saat ini sudah berada di depan pintu kamar mereka di mana Safira berada. Pria itu menarik napas dalam dan membuka pintu.
Dia mengira akan mendapat tatapan tajam dan sinis dari istri nya, namun ternyata tidak. Safira sedang berada di atas ranjang.
Shine mendekat dan memasti kan Safira sedang tidur atau tidak. Shine mendengar napas teratur milik Safira.
Pria itu ikut berbaring di samping Safira.
Membawa wanita itu masuk ke dalam dekapan nya dan menjadi kan tangan nya sebagai bantalan kepala Safira.
"I"m sorry Baby. Aku menyakiti mu terlalu banyak," batin Shine. Tangan nya terulur menyingkir kan anak rambut Safira yang menghalangi Shine memandang wajah mulus Safira.
Terkahir adalah bibir manis Safira. Jemari Shine bermain-main di sana, tidak tahan dengan keinginan nya yang ingin mencoba bibir itu, Shine akhir nya menyesap bibir Safira.
Sial, Shine sangat menikmati nya, dia ingin lebih. Saat Shine menikmati sesapan itu, dia merasa kan lawan main bibir nya membalas kecapatnya.
Pria itu kaget sejenak, dia melepas kan tautan mereka dan melihat Safira sedang mengigau dan memaju-maju kan bibir nya.
"Dia mengigau? Kesempatan dalam kesempitan," batin Shine tersenyum senang.
"Jangan salah kan aku membuat bibir mu bengkak sayang," ucap Shine langsung melu mat bibir Safira dengan rakus.
Shine benar-benar merasa senang, Safira dalam igauan nya berhasil mengimbangi bibir nya, kapan lagi dia bisa merasa kan bibir ini tanpa perlawanan.
Setelah bebrapa menit, Shine tidak melepas kan bibir Safira.
Nghhhh
Terdengar suara erotis keluar dari mulut Safira membuat Shine semakin bersemangat. Namun nama yang keluar dari mulut Safira menjatuh kan Shine sedalam-dalam nya.
"Elvio, nghhh lanjut kan," ucap Safira dengan mata tertutup.
Spontan Shine melepas kan tautan bibir nya dengan Safira. Hati nya marah dan panas ketika Safira memanggil Elvio di tengah dia bersama sang istri di atas ranjang.
Ingin rasa nya Shine merobek-robek tubuh seseorang. Apa Safira benar-benar sudah berpindah ke lain hati? Ini kebodohan nya, Shine sangat menyesali nya.
Ponsel Shine tiba-tiba berdering, pria itu langsung mengangkat nya.
"Kata kan," ucap Shine dengan suara rendah.
Xavier yang berada di sana tau bahwa tuan nya sedang dalam keadaan suasana hati yang buruk.
"Mereka sedang bergerak Tuan," ucap Xavier di sebelah sana.
"Aku segera ke sana," jawab Shine memati kan ponsel nya.
Shine melirik ke arah Safira. Suara istri nya yang memanggil nama pria lain di atas ranjang nya begitu menyakit kan.
Shine melihat ke arah perut rata Safira. Dia menyingkap kaos yang di pakai wanita itu.
__ADS_1
"Jaga mommy yah nak. Dad harus pergi. Maaf sudah menyakiti mommy mu," ucap Shine mencium lama perut Safira yang masih rata.
Kemudian dia beranjak dari ranjang setelah mencium kembali kening sang istri. Pintu di tutup begitu pelan hingga tak membuat suara.
Safira yang sejak tadi pura-pura tidur langsung bangkit dari tidur nya.
"Breng" sek, rasa kan itu sialan," umpat Safira kesal.
Dia benar-benar kesal pada sikap Shine, baru saja kemarin pria itu mengata kan bahwa anak dalam kandungan nya adalah anak Elvio. Sekarang pria itu berlaku seolah-olah dia mengakui nya sekarang.
Sebenar ada kelegaan di hati Safira ketika Shin mengakui anak nya. Dan apa tadi, Shine langsung menghenti kan ciuman nya saat menyebut nama Elvio.
"Apa dia cemburu?" tanya Safira menebak. Tapi dia sangat senang, entah otak licik dari mana tadi ide itu ke luar, dia benar-benar ingin bersentuhan dengan Shine tadi sehingga dia berpura-pura tidur.
Namun sekarang perhatian Safira bukan ke situ. Dia mendengar kata mereka sudah bergerak tadi, berarti sedang ada masalah.
Safira bangkit dari ranjang dan berjalan mondar-mandir memikir kan ucapan Xavier tadi.
Tiba-tiba ponsel Safira berdering dan melihat si penelepon. Aish, waktu nya benar-benar tidak tepat, ternyata itu adalah kakak ipar kaku nya.
"Halo Kakak ipar," jawab Safira tersenyum karena itu adalah panggilan Vidio call.
"Bagaimana hubungan mu dengan adik ku," tanya Safira to the point dengan wajah datar di sana.
Safira membelalak kan mata nya sejenak dan itu bisa di tangkap Aurora di sana.
"Tidak ada sekedar basa-basi begitu? kakak dan adik sama saja, kaku," batin Safira namun wajah nya tetap tersenyum ke arah layar.
"Gila, kakak ipar bisa mengetahui isi pikiran ku," batin Safira menutup mulut nya.
"Kami baik-baik saja kak," jawab Safira.
"Benar kah, apa tidak seperti sebelum nya kau berbohong?" tanya Aurora dengan tajam
Safira terkekeh, Kakak ipar nya ini memang terlihat sangat menyeram kan namun hati nya sama seperti ayah mertua nya, lebih banyak perlakuan dari pada ucapan.
"Tidak kakak, hanya di bumbui pertengkaran kecil," ucap Safira tidak mau jujur.
"Baiklah, kakak harap kalian baik-baik saja di sana. Selesai kan segala permasalahan dengan kepala dingin, jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi, itu adalah penyelesaian dalam sebuah rumah tangga" jelas Aurora panjang lebar.
Safira melihat intens wajah Kakak ipar nya yang berada di layar.
"Ada apa?" tanya Aurora dari sana.
"Shine mengata kan Kakak ipar belum menikah, tapi sudah seperti pengalaman. Bahkan pacar pun Kakak ipar tidak punya, anehhh," ucap Safira menatap Kakak ipar nya.
Kini Safira seperti nya sudah lebih berani pada Kakak ipar nya.
"Cih, apa kau sudah di racuni bocah kecil itu. Tidak perlu membahas nya, memang nya harus punya pacar dulu baru mengerti?" jawab Aurora berkilah.
__ADS_1
"Yah benar Kakak ipar, jangan-jangan..Kakak ipar membe... tidak-tidak...," ucap Safira menggeleng kan kepala nya.
"Aishhh, bocah sialan. Kau pikir aku suka sesama jenis. Aku masih waras bocah ," kesal Aurora.
"Bukti nya Kakak ipar sekarang tidak memiliki pacar," ucap Safira tetap dengan tatapan menyelidik Masi dengan praduga nya.
Aurora benar-benar kesal di baut adik ipar nya ini.
"Aku sudah punya pacar . Puas," ucap Aurora dengan tatapan jengah.
Namun Safira masih belum percaya, kepala batu nya terlalu keras.
"Bukti nya Kakak ipar? Jika seperti ini aku akan mendukung ibu mertua ku dan mendesak Dad Dika untuk menjodoh kan kakak ipar," ucap Safira mengambil jalan tengah.
"Sialan, kenapa kalian sekeluarga gila dengan kata perjodohan," kepala Aurora.
Tangan nya terulur mengambil ponsel milik nya yang berada di meja.
Dia dengan kasar membuka ponsel nya dan menunjuk kan Poto nya bersama dengan Al.
"Puas?" ucap Aurora dengan malas.
"Jangan menipu ku Kakak ipar. Bisa saja itu adalah teman mu," ucap Safira masih setengah percaya.
Gila, Aurora benar-benar ingin memecah kan kepala batu Safira. Bagaimana Shine yang menghadapi kepala batu seperti istri satu nya ini.
Safira juga tadi melupa kan tujuan nya untuk mencari tahu tentang info yang dia dengar dari Xavier. Dia malah terlalu fokus pada kakak ipar nya DNA membuat wanita dewasa itu naik pitam habis-habisan.
"Berikan Fira tentang foto Kakak ipar sedang berciuman atau semacam nya," ucap Safira memaju kan wajah nya ke layar besar yang ada di hadapan nya.
Ingin sekali Aurora memaki Safira, tapi wanita itu sedang hamil, hal-hal buruk tidak boleh di dengar kan oleh keponakan nya meski pun anak itu masih sebiji jagung. Aurora juga tidak punya pilihan lain untuk menyalin kan adik ipar nya.
Aurora menggulir ponsel nya dan menemu kan foto saat dia dan Al berciuman di taman mansion Al yang potret nya di ambil asisten Dextrosa.
"Belum percaya?" tanya Aurora menahan emosi nya yang siap meluap.
Safira mengernyit kan dahi nya tak puas.
Dia memperhatikan wajah pria itu, memang sama dengan foto pria yang di perlihat kan Aurora. Bisa saja kan Kakak ipar nya berbohong dengan menunjuk kan wajah pria yang berbeda-beda
"Belum puas?" tanya Aurora melihat wajah tak yakin Safira.
"Kalau foto, bisa saja di edit sih," ucap Safira dengan wajah enggan untuk percaya.
"Apa aku perlu mengirim kan Vidio aku bermain bersama kekasih ku di atas ranjang?" tanya Aurora dengan suara menekan. Memang Vidio itu tidak ada, tapi dia sudah bisa melihat wajah tak percaya itu.
Boleh Kakak ipar," ucap Safira tanpa rasa Janggal.
Jangan lupa like nya yah gays 🙂🙏👍👍
__ADS_1
Agar author nya semangat up nya 🙂🙂🙏🙏