
"Pasti kan kalian membawa wanita itu!" perintah seorang pria dari sana.
Beberapa kubu saling menyerang satu sama lain, sedang kan penghuni pesta berhamburan keluar dari lokasi mencari aman agar tidak terkena peluru.
"Jangan ikut menyerang, jangan terlalu mendominasi. Sebagian ambil posisi melindungi dan sebagian mengelabui musuh," perintah pria di seberang sana.
Pasukan yang di perintah langsung berbaur bersama dengan pasukan-pasukan lain dan tidak mendominasi. Sebagian ada yang langsung melindungi Safira dan m bgarah kan wanita itu ke tempat aman.
"Mari Nona, kau beri kami jalan," ucap pria berpakaian sama dengan pria yang sejak tadi melindungi Safira.
sedangkan Shine dia memakai diri nya sendiri, istri nya . Dia tidak bisa menemu kan nya. Apa yang harus dia laku kan. Lagi-lagi dia tidak becus menjaga sang istri.
Berharap Xavier bersama sang istri, namun dia melihat Xavier sedang berjuang dan tidak ada Safira di sana, membuat dia semakin resah.
Bug Bag
Beberapa botol yang berisi asap beracun di lempar kan ke lapangan pesta.
"Nyonya, guna kan masker ini," ucap pengawal di samping Safira. Pengawal itu juga nampak memberi kan masker pada fua pria di sebelah Safira.
Tanpa banyak bertanya, Safira langsung mengikuti perintah dari bawahan suami nya.
Satu pengawal yang bersama Safira sejak tadi memberi kan jalan ke pada sang nyonya untuk di bawa ke tempat aman. Dia menahan tembakan dari arah yang berbeda. Saat tembakan di alih kan oleh pengawal Safira mereka langsung berlari ke arah tempat yang aman.
"Ikut saya Nyonya, kita akan mencari aman terlebih dahulu. Kau ikut dengan dengan ku," ucap pengawal itu menunjuk seorang yang bersama nya sejak tadi. Yang di panggil ikut saja dan melindungi Safira.
Bug
Seorang wanita paruh baya menabrak tiga orang yang sedang melarikan diri.
"Nyonya Shine, apa anda baik-baik saja," seorang wanita paruh baya tidak sengaja m nabrak Safira.
"Saya baik-baik saja Bibi," jawab Safira. Namun wanita paruh baya itu tetap menghalangi jalan Safira.
"Anda nampak kedinginan, pakailah," ucap wanita paruh baya itu tersenyum.
"Anda lebih membutuh kan nya," jawab Safira.
"Nyonya, kita tidak memiliki banyak waktu. Kita harus cepat keluar dari sini," ucap pengawal yang sejak tadi menuntun Safira.
(Katakan lah dia pengawal A oke, satu nya pengawal B)
Pengawal A memandu jalan, melewati gang kecil hingga menemu kan sebuah mobil di ujung gang sana.
Pengawal A langsung masuk ke dalam mobil di susul pengawal B dan Safira.
Pengawal B berada di belakang bersama Safira untuk menjaga wanita itu jika ada bahaya yang masih mengincar.
Safira menarik nafas lega saat tidak ada lgi yang mengikuti mereka. Mobil melaju dan meninggal kan wilayah berdarah malam itu.
Safira bersandar di mobil dan mengeluar kan nafas dengan kasar. Beberapa detik kemudian terdengar isakah dari mulut kecil nya.
"Apa kalian melihat tempat itu tadi, hikss...banyak orang yang mati, bahkan orang-orang yang tidak bersalah pun mati di sana hiks... pertumpahan darah terjadi begitu saja," ucap Safira di tengah isakan nya.
Ke dua pengawal itu diam tidak terlalu menanggapi Safira. Bagi mereka itu adalah hal biasa, darah dan nyawa adalah santapan sehari-hari para mafia itu.
Safira menangis hingga beberapa saat.
"ini belum seberapa Nyonya. Itu hanyalah sebuah insiden kecil, bukan pertumpahan darah," jelas si pengawal A.
"Insiden kecil," ucap Safira tak percaya. Namun tidak ada tanggapan lagi dari pengawal itu. Sedang kan pengawal yang ada di samping nya hanya fokus ke depan dan sesekali melihat kebelakang siapa tau ada yang mengejar mereka.
Safira mengamati jalan yang mereka lewati, banyak persimpangan dan ini seperti menuju hutan. Banyak pohon besar dan tinggi yang menutupi cahaya masuk ke jalanan.
__ADS_1
"Ini bukan jalan menuju mansion, kita mau ke mana?" tanya Safira. Insting nya mengata kan ini bukan lah jalan yang tepat dan benar.
"Kita tidak mungkin menuju mansion Nyonya, di sana pasti nya tidak akan aman karena kita tidak tua strategi musuh," jawab pengawal A.
"Tapi di mansion menurut ku lebih aman, karwna banyak pengawal di sana," jawab Safira menyangkal. Kecurigaan nya semakin besar ketika tidak lagi mendapat kan jawaban.
"Henti kan mobil nya," perintah Safira. Namun tidak ada tanggapan dari ke dua pria itu.
"Cih, jangan bilang kalian adalah musuh suami ku," ucap Safira pada akhir nya setelah mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sejak tadi.
bahkan para bajingan di samping nya tidak melepas kan penutup wajah sekaligus masker itu.
"Maka menurut lah Nona, jika tidak peluru akan tembus ke kepala Nona sebelum sampai di tempat tuan kami.
Safira mengamati gera kan pria di depan dan samping nya.
"Sial, mereka memiliki pistol. Jika aku melawan pria di depan ku otomatis pria di samping ku akan dengan senang hati melubangi kepala ku," batin Safira.
Mau tidak mau dia harus menuruti perintah pengawal di samping nya. Dia tidak boleh mengambil resiko yang merugikan nya. Setelah sampai di tujuan saja dia akan melaku kan cara kabur yang sudah tertera di kepala nya.
Safira saat ini benar-benar fokus melihat jalanan agar dia tau ke mana arah pulang nya nanti.
Mobil telah berhenti setelah menempuh perjalanan hampir satu jam.
"Saat nya," batin Safira saat mobil sudah berhenti.
Dia memasang kuda-kuda nya. Safira tidak mau membuka pintu dan tetap berdiam di dalam mobil.
"Cepat turun Nona," ujar si pengawal A. Sedang kan pengawal B dia sudah turun terlebih dahulu.
"Tidak mau, kenapa?" kesal Safira.
"Jangan paksa kami untuk melaku kan kekerasan Nona," ucap pengawal A. Safira nampak tidak gentar dengan ancaman pria itu
Bug
Safira mendorong kuat pintu itu membuat si pria terhempas ke tanah. Safir ayang melihat itu dengan cepat keluar dari pintu dan segera siap berlari.
Namun baru beberapa langkah, Safira merem kaki nya secara mendadak. Hampir saja ia terjatuh dengan tidak etis di sana. Dia menelan ludah nya kasar.
"Sial," batin Safira sambil melihat beberapa orang berjejer di depan nya dengan moncong pistol yang mengarah ke pad Anya dan siap meluncur kan peluru nya.
"Percuma anda kabur Nona," ucap pelayan A tersenyum remeh. Safira menatap datar pria itu seolah dia tidak takut meskipun harus menjadi tawanan mereka.
"Hoooh, seperti nya Nyonya Shine telah di ajari dengan baik. Keberanian nya melebihi diri mu," ucap pengawal A menepuk bahu pengawal B.
"Kalian, bawa dia ke ruangan penyiksaan. Ikat dan jaga dia dengan baik! Bos akan segera datang" perintah pengawal A. Setalah itu dia pergi dari sana bersama dengan pengawal B.
Dia orang dari roai yang berbaris menodong kan Senjata pada Safira tadi langsung maju dan menyeret Safira. Tentu saja wanita itu tidak terima di perlaku kan kasar.
Safira melaku perlawan, dia sekuat tenaga menumbang kan pria yang ingin membawa nya. Berhasil tapi tiba-tiba Safira merasa kan kepa la nya pusing karena leher nya seperti di cotok sesuatu.
Sebelum gelap gulita melanda penglihatan Safira, dia melihat pria berwajah datar menatap nya tajam dan memapah dengan wajah seram. Safira merasa kan tubuh nya melayang di udara, ternyata dia di angkur seperti karung beras yang siap untuk di lempar kan.
**
Xavier terhenyak setelah melaku kan penelusuran untuk menemu kan siapa pelaku yang membawa sang Nyonya. Bukan keberadaan Nyonya nya yang ia dapat, melain kan fakta mengejut kan sekaligus mengeheran kan.
Dia gelisah saat ini saat mendengar sebuah rekaman Cctv.
Awla nya dia tidak tertarik dengan rekaman itu, namun melihat sasaran nya Elvio ada di sana, dia langsung memutar nya dan malah mendapat kan sesuatu yang akan membuat tuan nya sedih.
Rasa nya tidak ingin memberitahu kan ini pada Tuan nya, tapi kedapatan berbohong apalagi tentang sesuatu yang besar seperti ini akan membuat diri nya dalam kemurkaan sang Tuan.
__ADS_1
Setelah berpikir selama beberapa jam, akhir nya Xavier memutus kan untuk menghubungi tuan nya.
Bebrapa kali bunyi bit dari ponsel, akhir nya ponsel di seberang sana mengeluar kan suara singkat dingin dan datar.
"Kata kan!" perintah suara dari sana.
"Tuan, saya menemu kan sebuah rekaman sebelum nya dan saya sudah mengirim nya ke email Tuan," ucap Xavier dengan sopan.
"Apa itu penting sekarang Vier?" ucap Shine menggeram di sana.
"Xavier terdiam beberapa saat.
"Jangan menguji ku Xavier," suara Shine terdengar sudah tidak Ramah.
"Sangat penting Tuan," ucap Xavier pada akhir nya.
"Sebaik nya tuan segera melihat isi Vidio itu!"
Shine terdiam, jika sudah serius seperti ini, itu arti nya Xavier tidak bermain-main.
"Apa pasukan sudah kau kirim untuk mencari lokasi keberadaan istri ku ?" tanya Shine pada akhir nya.
"Sudah Tuan" jawab Xavier
Shine memutus kan sambungan telepon.
"Semoga Tuan kuat mendengar isi Vidio itu," ucap Xavier meletak kan ponsel nya dan kembali bergabung bersama dengan bawahan nya.
Saat ini, hanya beberapa orang yang di bawa nya dan itu semua adalah inti dari black Sky. Shine sudah memutus kan akan mengambil alih Black Sky Karena melihat keadaan yang tidak memungkin kan ini.
** Shine dengan cepat membuka Vidio yang di kirim Xavier.
Pertama dia melihat sang istri yang memasuki kamar mandi. Detik berikut nya terlihat Elvio di Vidio itu sedang berlari tanpa tujuan.
Shine menajam kan mata nya saat melihat Elvio berlari tanpa arah dan sial nya tanpa arah nya menuju kamar mandi di mana istri nya ada di sana.
Nafas nya memburu kala melihat Elvio memasuki pintu salah satu kamar mandi di mana istri nya juga ada di dalam sana.
Beberapa waktu kemudian datang beberapa pria berj jas hitam yang memasuki kamar mandi.
Shine mencermati Vidio itu dengan teliti agar tidak terlewat sedikit pun.
Shine menajam kan pendengaran nya saat mendengar suara aneh dari Vidio itu.
Rekaman Cctv tidak menampak kan apa yang terjadi di dalam kamar mandi, karena di dalam kamar mandi merupa kan privasi tiap orang.
"Ahhh...mmmm...lebih cepat...ah," Rahang Shine mengeras seketika mendengar suara itu berkali-kali terdengar. Shine tidak salah, dia mengulangi nya berkali-kali berharap itu bukan dari pintu kamar mandi di mana istri nya ada di sana bersama dengan pria sialan itu.
Namun pas kenyataan nya, Shine tidak bisa membohongi diri nya bahwa itu memang benar suara dari tempat istri nya berada.
PAK
Ponsel Shine terbanting begitu saja di lantai keramik Yang di injak nya. Urat leher nya nampak memegang begitu juga dengan kepalan tangan nya.
"Kenapa kau melaku kan ini pad aku Fira? Kenapa aku harus mengetahui semua ini?" batin Shine. Dia meninju dinding yang berada di samping nya. Tidak merasa sakit, sakit nya tak seberapa dengan hati nya yang di hantam beribu batuan.
"Ternyata kau sangat mesum kawan. Apa kau baru saja menyaksi kan kekasih mu menghabis kan malam bersama dengan pria lain. Ayolah, masih banyak wanita di dunia ini. Jangan terlalu emosi seperti ini," ucap si pria yang baru datang melihat teman nya sudah menghancur kan ponsel nya.
Jangan lupa like nya ya readers
Agar author nya semangat crazy up nya
Ayo dungs 😊🙏👍👍👍
__ADS_1