
"Apa berita yang kalian bawa?" tanya Alaska ketika melihat suruhan nya datang.
"Tuan Shine tidak mengakui anak di dalam kandungan istri nya Tuan, dan istri nya meminta nya untuk cerai," jelas pria suruhan Alaska.
"Jadi bagaimana kelanjutan nya? Mereka pisah?" tanya Alaska.
"Dari berita pagi ini yang kami dapat kan benar Tuan. Surat perceraian akan segera di dapat kan Nyonya Safira."
"Hmmm, pergilah pantau terus," ucap Alaska.
Alaska saat ini berada di ruang kerja. Dia sedang memikir kan strategi terbaik untuk mengalah kan Shine. Sebenar nya dia tidak meragu kan bala bantuan, tapi dia harus memiliki titik lemah pria itu setidak nya sebagai alat nya jika hal tak terduga terjadi.
Dia sudah mengorek informasi tentang keluarga itu tapi minim sekali, Shine memiliki seorang kakak perempuan namun Alaska tidak bisa menemu kan identitas itu sama sekali.
Padahal kesempatan Alaska kali ini seharus nya kakak perempuan Shine. Akhir nya pria itu membuat keputusan terakhir. Dia meraih ponsel nya.
"Tetap pada target," ucap Alaska pada bawahan nya langsung memati kan ponsel nya.
Tring Tring
Ponsel Alaska kembali berbunyi dan pria itu langsung mengangkat nya ketika melihat nama si penelepon. Ini adalah sumber energi nya.
"Ya sayang," jawab Alaska tersenyum pada Rora di seberang sana.
"Mommy dan Dad menjodoh kan ku lagi," ucap Rora dengan bibir di manyun kan.
Alaska terkekeh tapi dalam hati nya setiap kata di jodoh kan membuat hati nya selalu gelisah. Meski pun Alaska sudah sering mendengar kata ini.
"Terima saja..." ledek Alaska.
"Yah kalau pria di seberang sana tak segera bergerak aku bisa apa? Sekarang tidak ada yang mendukung ku, bahkan adik ipar ku sudah berpihak pada adik ku ikut membuli ku," ucap Rora malas.
"Yah terima saja pria itu dan dia akan segera ku bunuh di malam pertama kalian, dan akan seperti itu sampai laki-laki di dunia ini tinggal aku," kekeh Shine
"Cih, dasar" kesal Rora.
"Adik ipar ku sedang hamil, dia harus di jaga baik-baik karena dia adalah generasi keluarga kami. Hmmm tapi dia sangat keras kepala seperti batu," ucap Rora ketika mengingat percakapan nya dengan adik ipar nya itu.
"Aku yakin kalian tidak berbeda jauh Sayang," ledek Alaska.
"Tidak...tidak jauh berbeda, suatu saat akan ku kenal kan dia pada mu dan kau akan mengetahui kepala batu nya. Dan yang terpenting kau harus baik pada nya dan jangan menyakiti nya. Dia sangat baik dan penyayang. JANJI?"" jelas Rora panjang lebar. Dia bangga memiliki Safira
"CK, panjang sekali. Tidak mungkin aku jahat pada nya, atas dasar apa?" jawab Al.
"Janji dulu," ucap Rora dengan wajah imut nya. Dia memang sangat suka berekspresi.
"Hmmm janji," jawab Al mengalah.
"Lagi di mana?" tanya Rora
"Dalam misi, akan selesai. Tunggu aku ya sayang, semua nya akan selesai oke?" ucap Al.
"Oke, becarefull. Jika butuh bantuan, kekasih mu ini akan siap membantu," jawab Rora dengan sombong.
"Baiklah...baiklah, see you calon istri," ucap Al menggoda Rora.
"CK, tidak mempan tuan Mafia," ucap Rora.
"Ah aku lupa berhadapan dengan Queen mafia," kekeh Alaska.
Ingin rasa nya diri nya langsung menikahi Aurora dan memiliki wanita itu seutuh nya, tapi tidak untuk sekarang. Dia harus segera menyelesai kan segala nya saat ini baru dia akan memulai kehidupan nya yang sebenar nya.
*****
"Berani nya kau Darren sialan!" umpat Shine menendang tubuh Darren yang diam mematung saat ke dapatan mesum di mansion sahabat nya, terlebih lagi dia tepergok dengan tidak etis. Di ruangan dapur? Sangat memalu kan.
Darren terpental ke belakang membuat pantat pria itu mencium lantai dengan keras.
__ADS_1
"SH it, ini sangat sakit Shine," ucap Darren.
"Kau...kau.... Avicennia, kapan kau kenalan dengan Darren. Oh God, apa yang sudah kalian laku kan?" ucap Safira menutup mulut nya tak percaya.
Avicennia hanya menunduk sejak tadi. Dia tidak berani mengangkat kepala nya ke atas. Dia sungguh takut bersitatap dengan tuan nya.
"Maaf kan Saya Nyonya, Tuan," ucap Nia.
Shine tidak menanggapi permohonan maaf Nia.
"Temui Xavier!" perintah Shine dengan penuh tekanan. Meski pun Nia tidak salah dan Shine yakin Darren si penikmat bawah pusar lah yang menggoda Nia, tapi ini tidak di benar kan dalam pekerjaan.
"Baik Tuan," jawab Nia tanpa sorot takut akan menanti hukuman yang akan di terima nya.
Shine membawa Safira kembali ke meja makan. "Makan lah, makan sayur dan buah saja agar tidak mual," ucap Shine.
Safira menurut saja, dia harus mengisi perut nya agar anak di dalam kandungan nya tidak kelaparan anti. Tanpa di suruh pun dia akan tetap makan meski pun aroma makan itu menyiksa
Mereka makan dalam keheningan hingga mereka selesai.
"Bawa susu nya," perintah Shine pada pelayan Yang da di sana.
Safira meminum susu yang di sedia kan pelayan secar berkala hingga akhir nya habis.
"Kenapa?" tanya Safira setelah mereka sudah selesai makan dan pelayan sudah Merapi kan meja makan.
Shine mengernyit kan kening nya.
"Maksud mu?" tanya Shine bingung.
Safira menatap tajam ke arah Shine.
"Kenapa sekarang kau peduli pada kan dan anak ku? Apa ini sejenis perpisahan yang manis?" tanya Safira tersenyum getir.
Shine tidak bisa menjawab, dia hanya menatap intens Safira.
"Aku ada urusan bersama dengan Nia dan Teo, boleh kah aku bersama mereka?" ucap Safira mengalih kan topik menyakit kan itu.
"Untuk apa?" tanya Shine penasaran.
"Bukan urusan mu," ucap Safira pergi dari sana. Mood nya sudah berubah. Dia memilih ke ruangan latihan sendiri.
Shine menyuruh kepala pelayan untuk memanggil Mateo dan Avicennia yang akan pergi bersama Xavier untuk menikmati hukuman mereka.
Ke dua nya menghadap Shine dengan penuh hormat dan sopan.
"Apa kalian ada kegiatan hari ini dengan istri ku?" tanya Shine.
"Benar Tuan, nyonya ingin mengisi waktu luang nya untuk berlatih bela diri dan semacam nya," ucap Mateo segera menjawab pertanyaan Shine.
Shine menatap wajah dia orang berbeda gender di depan nya.
"Apa kalian Gila, Bela diri? Dia sedang hamil bodoh!" ucap Shine
"Nyonya memaksa Tuan," jawab Nia
"Pergi!" perintah Shine.
Avicennia dan Mateo langsung pergi dari sana sebelum amarah Tuan nya keluar.
Safira yang berada di ruang latihan di sambut dengan tatapan kaget oleh Anggota yang ada di sana. Semua orang yang awal nya latihan sontak menghenti kan segela kegiatan mereka terutama orang yang sedang latihan menembak.
Itu Sangat bising dan mereka takut itu membuat Nyonya Mereka tidak nyaman. Kemudian secara serempak mereka menunduk hormat dan mengapa Safira.
Safira tersenyum dengan kehangatan mereka.
"Nyonya mohon maaf, apa yang anda laku kan di sini? Di sini sangat berbahaya untuk Nyonya," tanya pemimpin ruangan itu.
__ADS_1
"Aku ingin belajar menembak, berlatih seperti mereka tadi," tunjuk Safira pada orang-orang yang bermain di atas ring.
"Maaf Nyonya, kami tidak memiliki kualifikasi untuk mengajari Nyonya," jawab Kepala penjaga tadi.
"Isshhh, jelas-jelas aku melihat kalian bermain dengan sangat baik. Kalian...kalian
apa kalian tidak menyukai ku hingga tak mau mengajari ku?" tanya Safira sedih.
"Tidak...tidak Nyonya, jangan bersedih," kepalang kepala penjaga itu agar Nyonya mereka tidak menangis yang akan berimbas untuk mereka. Otak nya memutar untuk mencari alasan yang pas.
"Nyonya, sesuai yang anda lihat orang-orang yang berada di sini juga pemula semua. Kami sedang latihan Nyonya, anda sudah melihat nya tadi," jelas Si kepala penjaga.
"Tapi dia hebat tadi bermain di atas ring, anda juga menembak dengan sangat baik," ucap Safira tak mau di bodohi.
Bagaimana mereka tidak lihai, mereka adalah senior-senior yang memperkuat diri untuk pertempuran nanti. Kepala penjaga menghela napas dan akhir nya mengalah.
"Baik Nyonya, anda akan kami ajari di mulai dari mengguna kan pistol saja," ucap Kepala penjaga.
"Tidak, aku ingin senjata otomatis, aku sudah terbiasa dengan pistol," ucap Safira.
"Nyonya, senjata otomatis yang anda pikir itu tidak semudah mengguna kan nya, senjata itu berat Nyonya," ucap Si kepala penjaga.
"Kau pikir aku lemah seperti itu? Aku tidak bisa menahan beban senjata itu?" marah Safira menggelegar membuat si penjaga kepalang .
Mood ibu hamil itu kembali di uji
Bukan begitu Nyonya sa...,"
"Bawa senjata nya sekarang," ucap Safira masih dengan oktaf yang tinggi.
Mau tak mau kepala penjaga langsung menyuruh bawahan nya mengambil senjata itu.
"Berikan!" perintah Safira.
Si pria yang di suruh mengambil senjata nya memberi kan pada Safira.
"Yakkk, kenapa seberat ini," ucap Safira meletak kan senjata nya di lantai
"Kalian mengerjai ku?" tanya Safira kini sudah sedih.
"Oh Tuhan, ujian apa iniiiii," batin kepala penjaga. Dia berharap Tuan nya segera datang menjemput Nyonya nya dan bisa melanjut kan persiapan mereka.
"Angkat senjata itu ke meja!" perintah penjaga
"Senjata ini memang tak seringan pistol Nyonya, maka dari itu kami melarang Nyonya," ucap si kepal penjaga.
"Tapi senjata yang ku beli di mall tidak seberat ini. Bah kan aku bisa membawa nya keliling mall," ucap Safira dengan polos.
"Tuhannn... Tolonggggg, apa kesalahan ku hingga mengalami hal konyol seperti ini," batin kepala penjaga.
Sedang kan yang lain nya tertawa dalam hati karena melihat kepala penjaga mereka yang sebelum nya hanya tau melatih, memukul dan berbicara sedikit kini harus melayani wanita tuan nya yang sangat konyol dan banyak bicara seperti anak kecil. Bertanya di luar kapasitas orang waras.
"Nona bisa memegang senjata dengan seperti ini," ucap Kepala penjaga sambil mempraktek kan diri nya juga memegang senjata, dia tidak mau bersentuhan dengan Nyonya karena itu sama saja mengantar nyawa.
"Kau mengajari bisa becus tidak, tunjuk kan dengan benar sialan," umpat Safira kembali ke mood marah.
Tiba-tiba pelukan dari belakang sambil senjata yang terletak di meja naik hingga dada Safira. jari nya memegang pelatuk dan mata kepala nya di arah kan dekat dengan teleskop senjata.
"Fokus, perhati kan jari mu," ucap pria itu.
Safira langsung nyaman dengan posisi itu, dia hendak berbalik namun tak sengaja putaran kepala nya membuat bibir Safira mengenai bibir Shine.
Semua manusia Yang ada di sana kecuali sepasang suami istri itu langsung Ke luar menjaga aman.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Agar author nya makin semangat up nya 🙂🙏🙏👍
__ADS_1