
Darren membuka baju rumah sakit yang di guna kan oleh Shine. Benar saja, ruam-ruam di tubuh pria itu nampak sudah rata.
"Breng sek kau Shine, kenapa tidak menghubungi ku saat ruam nya masih sedikit sialan," maki Darren di sela-sela gera kan nya. Meski pun di Landa emosi tinggi, Namun gerakan pria itu tetap santai seperti tidak terjadi apa-apa
Jika bukan karena perawat yang melapor kan ini pada Darren, maka pria itu tidak akan tau penderitaan apa yang di alami oleh sahabat sekaligus atasan nya itu. Jika setelah sakit sedikit di beritahu kan pada nya, Shine tidak akan mengalami ruam dan sakit sebesar ini.
"A...aku, aku akan menghubungi Tante," ucap Briana setelah dia Melaku kan apa yang di kata kan oleh Darren. Dia sangat kasihan dengan teman masa kecil nya itu.
"Nona, anda tidak perlu ikut campur di sini. Tolong ketahui situasi dan kondisi saat ini," ucap Xavier dingin.
Shine menahan rasa sakit di tubuh nya sejak Safira berada di sini, namun sebisa mungkin dia menahan nya.
"Apa istri ku sudah pergi?" tanya Shine dengan wajah ajah memerah.
Darren tidak menjawab nya karena dia sangat kesal ke pada sahabat nya itu.
Shien terpaksa mengalih kan pandangan nya dari Darren karena Shine sudah tau tidak akan mendapat kan jawaban dari sahabat nya itu
"Nyonya sudah pergi bersama dengan Nia Tuan," ucap Xavier menjelas kan dengan tenang.
Shine mulai tenang perasaan nya namun tidak dengan tubuh nya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Xavier, tolong bawa Dokter Briana keluar. Aku bisa menangani Tuan sendiri," ucap Darren yang sudah bisa mereda kan rasa sakit Shine.
"Dokter Darren, saya bisa memban..."
"Tolong kerjasama nya Nona," ucap Darren dengan tegas.
Mau tak mau Briana ikut bersama Xavier dan ke luar dari sana.
"Apa kau gila sialan! Bisa saja nyawa mu melayang. Apa kau ingin kepala ku pisah dari tubuh ku karena Daddy mu?" Darren mengusap kepala nya kasar melihat sikap Shine satu ini
Shine hanya mendengus kesal mendengar umpatan Sahabat nya itu. Dia berantai setelah rasa sakit tadi. Ruam-ruam itu hanya tinggal bekas saja tapi rasa sakit nya sudah menghilang.
"Bersikap lah seperti biasa nya Shine, jangan bodoh Karena cinta sialan. Apa kau pikir jika nyawa mu melayang istri mu itu akan aman? Guna kan otak mu sialan," ucap Darenw dengan nada tinggi.
Setalah itu, Darren memilih ke luar dari sana dari pada menatap wajah bodoh sahabat nya itu.
Brakkk
Darren membanting pintu VVIP itu dengan emosi yang tinggi karena tidak tahan dengan kebodohan sahabat nya itu.
Xavier yang berjaga di depan pintu memaklumi apa yang terjadi. Jika sesuatu terjadi pada Shine, Darren adalah orang yang akan merasa paling bersalah karena dia adalah orang yang bertanggung jawab untuk kesehatan, saat ini juga dia akan tau ke mana Darren pergi. Pria itu tidak ingin gagal untuk ke dua kali nya untuk menolong sahabat mereka karena dia terlambat.
"Tuan," ucap Xavier melihat Shine yang merasa bersalah.
"Apa dia pergi ke sana?"
"Seperti nya Tuan. Saya melihat Darren sedih tadi," ucap Xavier.
"Apa kau sudah mendapat info tentangaracun itu?"
"Masih dalam tahap penelitian Tuan, tapi sudah di pasti kan itu bukan dari mansion," jelas Xavier.
Shine juga menduga hal itu, karena dia merasa selama ini tidak ada yang bermasalah dengan makanan mansion.
Dia mengingat-ingat kapan dia makan di luar mansion, yah dan itu sering kali karena dia sering makan di luar mansion karena perang dingin nya dengan Safira, dia kadang jika harus makan sendiri di meja makan besar itu.
"Pasti kan istri ku juga bebas dari racun itu!"
"Baik Tuan," jawab Xavier.
"Apa semua aman?"
"Aman Tuan! Musuh sebelum nya tidak muncul ke permukaan,"
"Hmmm, kau harus siapa menangkal bom yang mereka siap kan Vier," ucap Shine serius.
"Baik Tuan."
Hening sejenak, Shine kembali buka suara.
"Bagaimana dengan dad dan Mommy,"
"Saya tidak bisa menghalangi berita Ini sampai ke pada Tuan besar Tuan,"
"Apakah mereka sehat?"
"Nyonya besar sehat Tuan, begitu juga dengan tuan besar."
Xavier terlihat ke luar dari ruangan tuan nya saat ini. Dia sudah banyak pekerjaan saat ini, terutama perusahaan dan klan yang harus di pimpin nya.
Shine mendesah di ranjang nya. Dia mengambil ponsel nya yang ada di meja samping ranjang.
"Mommy, Shine hanya terkena serangan biasa. Tenang lah di sana, hmmm,"
"No,. Mommy akan datang. Kau putra ku satu-satu nya,"
"You trust me mom?"
Terdengar helaan napas Rosaline di sana. Bukan nya dia tidak percaya pada sang anak, tapi bagaimana hati seorang ibu membuat kan anak nya di luaran sana pad ahal sedang sakit.
"Dad, bujuk Mommy, please" Shine langsung menutup ponsel nya.
Pria itu memandang lurus ke depan
Dia hampir mati kali ini. Tidak terpikir kan oleh nya saat ini bagaimana dia berakhir di ranjang orang pesakitan seperti ini.
Dia juga berpikir tentang ucapan Darren. Dia merasa bersalah juga pada sahabat nya itu yang membuat satu kisah persahabatan mereka yang kelam.
__ADS_1
Di mansion Shine, Safira sedang bersantai ria setelah dia sudah selesai makan. Tapi entah Kenapa mood Safira saat ini tidak begitu baik, entah apa lah alasan nya.
"Nia, apa kamu ada dugaan dari mana racun itu berasal. Suami ku bukan tipe orang yang tidak teliti, dia sangat hati-hati dalam segala hal," ujar Safira yang sedang duduk bersantai di hamparan rumput di belakang mansion.
"Saya tidak bisa berasumsi Nyonya, kita akan mendapat kan informasi dari Tuan Xavier," jawab Nia yang setia di belakang nya.
"Bagaimana menurut mu Mateo? Apa ada praduga mu?" tanya Safira.
"Saya tidak tua Nyonya karena Tuan jarang bersama saya," jelas Mateo. Dia juga tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja.
Safira mengangguk singkat, dia mengikuti hamparan luas yang ada di sana.
"Nyonya, sebaik nya anda istirahat sebentar setelah itu kita akan menjenguk Tuan sesuai plan yang Nyonya buat," ajak Nia
Safira mengangguk saja dan mengikuti plan yang di kata kan Nia, dia juga belum beristirahat sejak Shine amsuk rumah sakit.
"Kemana?" tanya Nia yang saat ini duduk di ruang tamu mansion
"Tolong titip Nyonya sebentar," jawab Mateo.
"Yang di tanya apa, yang di jawab apa," jawab Nia Kesal.
"Aku tidak perlu melapor pada mu Nia," jawab Mateo acuh tak acuh
"Benar juga. Jika Nyonya bangun aku tidak perlu mengata kan apa pun," jawab Nia manggut-manggut
Mateo kesal dengan jawaban rekan kerja nya itu. Itu bukan sebuah jawaban yang di ingin kan oleh Mateo. Dalam ucapan Nia tersirat bahwa dia akan melapor kan Mateo yang hilang tanpa jejak
"CK, aku ingin bertemu seseorang. Hubungi aku jika Nyonya ada tanda-tanda bangun," Mateo terpaksa menjawab pertanyaan Nia.
Nia meneliti Mateo dari atas sampe ujung kaki pria itu. Pakaian santai yang berbeda dari biasa nya.
Mateo yang di lihat seperti itu jijik dengan pandangan Nia yang seakan ingin menelanjangi nya
"Aku tidak mau tidur dengan mu," ucap Mateo Sarkas.
"Cih, kau pikir aku niat dengan pria yang bermain pedang? Meski pun sudah mulai tidak berbelit saat ini," ucap Nia tak mau kalah dengan ucapan Mateo.
Ingin rasa nya Mateo meremuk kan tubuh Nia karena mulut tajam wanita itu. Namun dia memilih pergi dari sana sebelum Nyonya nya bangun dia tidak bisa pergi lagi.
Mateo nampak berpapasan dengan seorang pelayan wanita yang baru saja masuk ke dalam gerbang mansion. Dia tidak ada waktu saat ini dan mengirim pesan ke Nia.
Ting
Sebuah pesan menghenti kan kesenangan Nia, dia saat ini sedang memeriksa aset nya yang berada di berbagai tempat.
"SELIDIKI PELAYAN YANG DI BAWA NYONYA KE MANSION," pesan singkat itu mengalih kan perhatian Nia.
Dia mengingat-ingat pelayan yang di bawa Nyonya nya.
"Ahhh, Pria paruh baya itu. Ada apa dengan nya?" batin Nia.
Nia tidak mengabai kan perintah Mateo karena insting pria itu selalu bisa di andal kan.
...****************...
Dia orang Insan sedang berada di dalam sebuah mansion dan besar
Satu nya sedang marah lantas aang kekasih keterlaluan pada sahabat nya, satu lagi dengan setia membujuk sang kekasih.
"Itu bukan salah ku Sayang, itu salah kalian," ucap pria itu tak mau mengaku salah. Inilah kadang yang membuat nya jengkel terhadap pria nya ini.
"Terserah Al, aku marah," ucap wanita itu yang tak lain adalah Aurora.
Pria itu berinisiatif mendekat ke arah sang kekasih dan segera mengangkat kekasih nya ke atas pangkuan nya.
"Ini hadiah yang di siap kan untuk ku yang datang jauh-jauh ke sini?" tanya Al mengelus pipi Rora.
Wanita itu tidak menjawab membuat Al gemas.
Dia mengambil tangan wanita itu agar menyentuh wajah nya. Secara perlahan, Al menurun kan jari Rora hingga ke bibir nya.
Perlahan, Al memasuk kan ibu jari Rora ke dalam mulut nya. Menjilat dan mempwemain kan ibu jari wanita itu dengan lihai layak nya seorang player.
Rora merasa kan angin di sekitar nya tiba-tiba saja dingin.
Nghhhh
Rora mengalih kan pandangan nya ke arah Al. Dia langsung menarik tangan nya dan membungkam bibir Al dengan bibir nya.
Rora ingin mendominasi dengan akal mempermain kan bibir kekasih dengan menghenti kan bibir nya sesaat-sesaat di bibir Al.
"Kau mempermain kan ku?" batin Al menyeringai.
Tiba-tiba dia mengganti posisi dan membawa Rora telentang di sofa. Hot pant yang di gunakan oleh Rora seakan menyetujui untuk membalas perbuatan Rora.
Al mengelus kaki jenjang Rora yang terbuka dengan lembut dan penuh damba membuat Rora merasa kan sengatan dalam tubuh wanita itu.
Perlahan tapi pasti, Al Sampai di paha mulus Rora. Mengecupi kulit mulus itu dengan basah. Tangan Rora ingin menyingkir kan penggoda di atas nya namun segera di hambat oleh tangan Al yang menggenggam nya ke atas kepala nya.
Al semakin menyeringai melihat dia bongkahan di depan nya yang menyembul.
Bibir pria itu kemudian naik dan bermain sebentar di dada sang kekasih yang masih di tutupi kaos kebesaran itu.
Nghhh ahhh...
"Al, ahhh.. cukup....aku ahhhh gak akan mancing kamu lagi" ucap Rora di sela lenguhan nya.
Tak berhenti di sana Al kemudian menyiksa Rora dengan menjilati leher wanita nya,.menyesap dengan kuat meninggal kan tanda cinta Al di sana.
__ADS_1
"Ahhhh, Sayang sakit" pekik Rora, namun itu hanya berlangsung sejenak karena Shine membungkam bibir yang ribut itu.
Hmmmppp
Rora merasa tersiksa karena Al menggigit bibir nya di akhir ketika dia sudah kehabisan oksigen.
Rora merasa kan bibir nya basah oleh darah akibat luka yang di sebab kan oleh gigitan kekasih nya.
"Kau...hmmmmpppp,"
Kembali bibir Rora di bungkam oleh pria itu. Ingin marah, tapi pria itu selalu bisa.membawa nya ke awang-awang.
Kring kring kring
Suara telepon mengganggu aktivitas yang membuat Al bergairah membuat pria itu kesal setengah mati.
"SH it," umpat Al berdiri dari kungkungan nya.
"Dasar pria mesum sialan!" maki Rora.
"Kau akan tau seberapa mesum nya aku jika sudah berada di dalam milik mu Sayang," ucap Al berjalan meninggal kan Rora.
Blush
Wajah wanita itu memerah mendengar ucapan frontal sang kekasih. "Si pria mesum itu," kesal Rora menahan wajah memerah nya.
"Tuan, tuan Rhadika berada di rumah sakit. Kami tidak bisa mengetahui keadaan pasti pria itu karena dokter keluarga Browns yang menangani nya," ucap seorang di seberang sana.
"Bagus. Pantau terus. Kita akan bergerak secara perlahan," ujar Al
"Satu lagi Tuan, istri nya seang hamil," lapor pria di seberang sana.
Al menyeringai mendengar kabar baik itu.
"Apa kita akan membunuh nya Tuan?"
...****************...
Safira merasa tidak nyaman sejak tadi, tidak bisa tidur juga dan merasa seakan ada yang menggangu hati nya.
Dia memilih beranjak dari ranjang ke luar dari kamar.
"Nia aku tidak nyaman di mansion, kita ke rumah sakit," ucap Safira dari lantai atas ketika melihat Nia berada di ruang tamu.
"Baik Nyonya," ucap Nia lalu mengetik sesuatu di ponsel nya.
"Rekan ku menghubungi Sayang, aku pergi. Jaga baik-baik diri kamu hmm, Beri tahu kabar pada ku jika di breng sek itu menyentuh mu!"
Mateo yang baru saja bersama kekasih nya harus di pisah kan oleh perintah sahabat nya di sana. Meski punbegitu dia tidak marah sekali pun itu Mateo tidak menemui nya untuk waktu yang cukup lama.
"Jaga sahabat ku baik-baik yah," ucap nya melambai kan tangan melihat kepergian Mateo.
Mateo bergegas dan segera menyaa kan motor sport nya. Dia harus cepat sampai sebelum Nyonya nya bergerak.
"Mateo? Dari mana saja?" tanya Safira melihat pria itu mengguna kan pakaian santai.
"CK, dia sedang latihan tidak bermain pedang-pedangan Nyonya," ujar Nia yang berada di samping Safira.
Mateo langsung menghunus tatapan tajam nya ke arah Nia yang sembarangan bicara.
Safira yang mendengar itu tersenyum lantas menatap Mateo dengan lekat.
"Berusahalah Mateo, selaku adik mu aku akan berdoa untuk mu," ujar Safira dengan tulus.
Mateo mendengus kesal sekaligus nahamn hari nya mendengar Safira mengata kan bahwa istri tuan nya menganggap diri nya sebagia Kakak
Seorang pelayan membawa jas milik Mateo. Pria itu langsung mengguna kan nya agar pakaian nya terlihat formal.
"Mari Nyonya, jangan dengar kan budak cinta dokter mesum itu," ujar Mateo dengan datar membuka pintu mobil untuk Nyonya nya.
Safira menatap bingung ke arah Mateo, lalu tetapan nya beralih ke arah Nia. Namun wanita itu langsung berjalan dan masuk ke arah kursi belakang di samping Safira.
"Siap? Siapa dokter itu, oh God. Ternyata Nia sudah besar," ucap Safira heboh sendiri.
"Nyonya, tuan Xavier mengata kan Tuan sudah baik-baik saja saat ini. Penyebaran nya susah bisa di tangani," ucap Nia mengalih kan sifat kepo sang Nyonya.
"Benar kah? Baguslah. Apa si pelaku sudah di temu kan?" tanya Safira.
"Belum Nyonya, masih dalam penelitian," ucap Nia.
Mateo yang sedang menyetir diam-diam mendengar kan pertanyaan Nyonya nya. Memang cocok Nia dengan Nyonya nya itu berteman, satu sangat polos dan kadang menyeram kan satu sangat mudah menipu, memanipulasi, licik dan pecandu se x.
Yah Mateo dan Nia sudah mendapat kan setidak nya sedikit informasi, namun Nia selalu bisa membawa Nyonya ke dalam kondisi terbaik dan tidak membuat nya khawatir.
Ckittt
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat Nia dengan waspada langsung memeluk sang Nyonya sebagai upaya melindungi tubuh dan bayi Nyonya nya.
tubuh Nia terbentur kuat ke kursi yang berada di depan nya.
"Nyonya baik-baik saja? Tidak ada yang sakit?" tanya Nia dengan khwatir.
"Aku baik-baik saja, Kenapa mengerem mendadak Mateo. Aku hampir saja jantungan," kesal Safira.
"Ada kucing yang menyeberang dengan tiba-tiba Nyonya," ucap Mateo menatap spion ke arah ania sejenak.
"Aihhh, lain kali hati-hati," ujar Safira.
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍
__ADS_1
Agar author nya semangat up nya 🙂🙂👍😊👍👍👍👍
Jangan lu