
Waktu telah berjalan selama tiga Minggu. Safira baru saja terbangun dari tidur nya. Safira di rawat oleh dokter kandungan terbaik yang juga melaku kan operasi sebelum nya.
Safira merasa kan cahaya memasuki mata nya, sangat sakit. Safira mengedi-edip kan mata nya membuat dua orang yang menjaga nya tersadar dari lamunan masing-masing.
"Baby, kau sudah bangun?" Shine langsung melihat dekat dengan Safira. Safira yang sudah bisa menetral kan iris mata nya, mata nya sudah membuka sempurna. Dia melihat dua orang ada di sana.
Shine suami nya dan Aurora Kakak ipar nya si muka datar dan dingin. Bah kan saat bangun dari tidur panjang nya Aurora tidak menanya kan apa pun bah kan untuk sekedar mengata kan hai. Memang turunan Browns sangat menyebal kan tak terkecuali suami nya.
Tiba-tiba pikiran Safira beralih ke insiden kemaren yang membuat nya hamoir mati. We' mati.
"Putri ku?" Safira langsung memegang perut nya. Rasa kaget yang begitu menyesak kan membuat Safira terkejut.
"Di mana bayi ku Shine, apa dia baik-baik saja. Dia baik-baik saja kan," Safira bertanya dengan suami nya dengan wajah sumringah nya. Saat ini Safira menanti jawaban Shine Devgan memegang tangan pria itu berharap kabar baik yang akan di terima nya.
Tidak ada jawaban dari Shine membuat Safira jengkel. Pria tertunduk dengan lesu. Safira menghempas kuat tangan Shine, wajah pria itu membuat nya semakin ketakutan. Kini Safira kembali beralih pada kakak ipar nya
"Kakak ipar di mana Shine meletak kan bayi ku? Aku ingin bertemu dengan nya," ucap Safira berharap Aurora menjawab nya.
Aurora yang tidak pernah membujuk seseorang seperti ini mengelus tangan Safira.
"Ikhlas kan dia Safira. Dia sudah berbeda alam dengan kita," ucap Aurora dengan suara rendah. Dia juga sedih menga kan ini, tapi apa boleh buat lebih cepat lebih baik jangan Safira berharap tinggi tentang anak nya atau itu akan lebih menyakit kan dari saat ini.
"Kakak ipar" Safira membentak Kakak ipar nya sekuat tenaga. Dia tidak terima jika putri nya sudah mati seperti yang di kata kan kakak ipar nya.
Shine langsung memeluk Safira.
"Benar yang di kata kan kakak Baby, putri kita sudah tiada akibat insiden itu," jelas Shine memeluk erat tubuh istri nya.
"Lepas kan sialan! Ini semua gara-gara kamu baji Ngan!" Safira mendorong tubuh Shine sekuat yang dia bisa.
"Ini semua gara-gara kamu, kau sama sekali tidak pernah mengakui nya breng sek," ucap Safira dengan keras. Bah kan air mata nya saat ini sudah ke luar.
"Baby, apa maksud mu?"
"Bah Ingan sialan, apa kau pura-pura bodoh hiks hiks, kah sama sekali tidak pernah menyapa nya, kau bah kan tidak pernah mencium nya seperti ayah lain yang menanti kan kehadiran anak pertama nya," ucap Safira menunjuk-nunjuk wajah Shine.
Shine tidak bisa berdalih dari ucapan istri nya.
__ADS_1
"Baby, maaf kan aku!" Shine memohon pada istri nya. Hal yang tidak pernah di laku kan Shine pada siapa pun terkecuali pada Dad dan mom nya dan seperti yang kalian tau saat itu, Shine memohon pada Rosaline dan Rhadika agar membujuk Safira kembali ke mansion nya, semua yang di laku kan Shine dalam bentuk permohonan segala nya tentang Safira
"Pergi hiks pergi dari sini! Kakak ipar tolong aku. Jauh kan pria ini dari ku, aku...aku tidak ingin hiks bertemu dengan nya hiks. Dia adalah sumber luka ku," ucap Safira.
Shine terjatuh lesu di lantai mendengar ucapan istri nya, dia adalah luka untuk istri nya. Yah, itu benar. Shine adalah luka Safira, jika saja Safira tidak menikah dengan nya, dia tidak akan mengalami semua ini, jika saja Shine membiar kan Safira pergi bersama Elvio, Safira tidak akan mengalami ini semua.
Aurora sebenar nya juga marah mendengar ucapan adik ipar nya, tapi saat ini dia tidak boleh menambah kan oli pada pada api yang sedang membara atau itu akan benar-benar meledak dan keluarga Shine akan benar-benar hancur.
"Shine ke luar lah, jangan menambah masalah saat ini. Istri mu baru pulih, biar kan dia istirahat terlebih dahulu," ucap Aurora.
Kini Aurora senantiasa merawat adik ipar nya dan tentu saja melapor kan nya pada mommy dan Daddy nya.
Beginilah kisah dari Shine dan Safira berjalan selama satu bulan belakangan ini. Safira tidak berbicara sama sekali dengan siapa pun, bah kan dengan dokter psikiater pun Safira tidak berbicara sama sekali.
Darren tidak bisa mendiagnosa Safira karena jika di kata kan trauma, Safira tidak menunjuk kan gejala nya, jika di kata kan Safira gila, Safira tidak seperti ibu-ibu yang kehilangan bayi nya dan menimang-nimang bantal sebagai anak nya, jika Safira di kata kan ada kerusa kan mental, psikiater sama sekali tidak berguna di hadapan Safira, bah kan satu kata pun tidak ke luar dari mulut Safira.
Wanita itu hanya diam duduk dan melihat jalanan dari lantai paling tinggi rumah sakit ini. Enjang wanita itu yang sangat dekat dengan kaca transparan memudah kan wanita itu untuk melihat keadaan di luar, tapi mulut itu tetap terbuka.
Aurora yang berperan sebagai Kakak ipar pun tidak bisa melaku kan apa pun dan hanya bisa menjaga Safira, karena dia harus waspada karena sewaktu-waktu Safira mau menangis hingga tersedu-sedu, dan dengan usapan tangan Aurora di punggung nya wanita itu akan diam sendiri dan akhir nya tertidur.
Malam ini Shine, Darius, Darren dan Xavier akan membahas tentang penyerangan besar-besaran ke pada musuh mereka yang akan menjadi dalang di balik kecelakaan yang menimpa Safira. Meski pun mereka belum mengetahui identitas dari ketua klan baru itu, namun mereka akan mendapat kan nya di saat perang
mereka semua berencana membahas nya di ruangan Safira saja, Aurora sudah pergi ke entah ke mana tapi Shine menerima pesan dari kakak nya bahwa dia ada urusan sebentar.
Seorang wanita yang masih menggantung di jendela sedang berusaha naik ke atas, mendengar suara derap langkah ada yang mendekat, dia berusaha cepat memanjat dari jendela dan segera memakai baju pasien yang tergeletak di bawah brankar dan akhir nya melompat ke ranjang dan tidur membelakangi sofa di ruangan itu. Berusaha mengatur napas nya agar teratur hal yang harus segera di laku kan nya sekarang agar akting nya benar-benar dapat.
Ceklek
Terdengar pintu sudah di buka dan menampak kan empat orang pria sekaligus memasuki ruangan itu.
"Apa kau tidur Baby?" Shine mendekat ke arah Safira dan mengecup singkat kening sang istri uang membelakangi tempat Darren dan yang lain nya duduk.
Sama seperti biasa nya, Safira tidak akan terganggu dengan suara-suara yang ada di ruangan nya jika seang tidur, bah kan jika Aurora sengaja melempar kan mangkok kaca ke dinding Safira sama sekali tidak akan terganggu, itu lah mengapa Shine memilih berunding di ruangan Safira, selain menjaga istri nya juga.
Shine mengusap lembut pipi sang istri kemudian ikut bergabung dengan teman-teman nya.
"Dia berada di New York," suara Xavier membuka pembicaraan mereka. Meski pun masih ada perban di kepala pria itu namun hal itu sama sekali tidak mengurangi ke cekatan nya dalam bekerja
__ADS_1
"Bagaimana dengan Mateo?" Shine membuka suara
"Dia sama sekali tidak ada kabar sejak pembicaraan dia sedang di grebek oleh musuh," jawab Darius.
Yah, terkahir kali Darius menghubungi Mateo, pria itu di datangi oleh musuh ke tempat tinggal nya dan berkhir telepon terputus dan sampai sekarang belum ada kabar.
"Darren, saat kau menyusup ke markas nya untuk mengobati pasien di sana apa kau juga menemu kan chip di kepala nya?"
"Benar, alat yang ku bawa berhasil mendeteksi chip di kepala mereka"
"Itu berarti kita tidak salah sasaran."
"Meski pun kita tidak tau siapa pemimpin nya, kita tetap akan memburu mereka."
"Darius, kau sama sekali tidak di kenal oleh mereka, bagian mu adalah mengamati siapa ketua sebenar nya. Aku akan muncul di depan untuk memancing mereka," ujar Shine.
"Apa kau yakin dengan keadaan mu Shine. Itu sangat tidak memungkin kan," ujar Darren
Wanita yang seja tadi tidur di brankar mengernyit kan dahi nya. "Ada apa dengan Shine? Aku melihat belakangan ini badan nya semakin kurus," batin Safira.
"Kau sama sekali tidak perlu mengkhawatir kan ku, kita harus mendapat kan si breng sek sialan itu," rahang Shine mengeras mengingat apa yang terjadi pada istri nya.
"Tidak, mereka tidak boleh mencari siapa ketua mereka dan yang menyebab kan aku kehilangan putri ku. Aku harus melakunkan sesuatu," barin Safira. rasa khwatir dan takut kembali bersemayam di dada nya.
Brak
Tiba-tiba pintu di buka dengan kasar.
Serentak setelah perhatian pria-pria itu mengarah ke orang yang berada di pintu kemudian beralih ke arah Safira yang sedang tidur. Untung saja Safira tidak terganggu sama sekali
"Kak, apa yang kau laku kan?" Shine menatap nyalang ke arah Aurora yang berada di pintu. Tak berbeda jauh dengan tatapan Shine, Aurora juga melayang kan tatapan tajam pada sang adik.
"Kenapa kau menyembunyi kan nya adik sialan? Kau...kau membodohi ku selama ini? Bagaimana aku harus menanggung semua ini?" Aurora memukul-mukul adik nya kuat.
Shine bingung dengan ucapan Kakak nya, dia juga melihat amarah di wajah sang kakak. Safira pun yang berbaring berpikir apa yang di maksud Kakak ipar nya.
Atau apa Kakak nya sudah mengetahui siapa dalang di balik penyerangan nya?
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍👍
Agar author nya semangat up nya 🙂👍👍