
Berbeda dengan Safira, Shine saat ini merasa stres karena ulah nya sendiri. Memang benar penyesalan selalu datang terlambat.
Di saat Safira mencintai nya, dia menjauh bahkan tak sudi bersentuhan dengan istri nya. Dan inilah saat ini, justru Safira yang tak ingin berdekatan bahkan terlihat seperti enggan mengenal nya.
"Tuan, Nyonya saat ini berada di mansion Tuan Elvio dan saya mendapat kabar Nyonya akan menginap di sana Tuan," ucap Xavier.
Meski pun Xavier tidak di beri perintah untuk melapor kan sang Tuan tapi Xavier sudah mengetahui gelagat Sang Tuan yang akhir-akhir ini mengkhawatir kan sang Nyonya.
Shine menatap lurus ke depan. Tidak ada ekspresi yang di tunjuk kan pria itu seakan apa yang di beritahu kan Xavier baru saja sudah di ketahui nya.
"Apa kita perlu menjemput Nyonya Tuan?" tanya Xavier pada akhir nya.
Beberapa menit dengan posisi yang sama, akhir nya Shine buka suara.
"Tidak, aku tidak boleh melarang nya Vier, atau dia akan semakin benci pada ku," ucap Shine lemas.
Xavier juga tidak bisa mengata kan apa pun lagi. Dia juga belum menikah bukan? Jadi dia tidak bisa memperbaiki masalah antara tuan dan nyonya nya, dan dia juga merasa sulit saat ini karena tidak bisa membantu Tuan nya di saat-saat sulit seperti ini.
"Siap kan semua file di meja kerja ku Vier, aku akan memeriksa nya!" perintah Shine mulai fokus ke lembaran-lembaran yang ada di meja nya.
"Tapi Tuan, ini sudah waktu nya istirahat. Tuan harus menjaga kesehatan. Beberapa hari belakangan ini anda tidak pernah teratur istrirahat," ucap Xavier. Sebagai asisten, dia sangat perhatian pada Tuan nya.
Shine tersenyum tipis mendengar ucapan Xavier.
"Kenapa kau sangat cerewet Xavier. Istri ku saja tidak peduli pada ku, aku hanya punya pekerjaan ini, tidak ada kegiatan lain seperti pulang dan bertemu istri atau semacam nya layak nya orang yang menikah," ucap Shine panjang lebar menghenti kan sejenak goresan pena yang ada di tangan nya
"Karna anda dulu tidak seperti ini Tuan, jika l lah anda akan mencari wanita lain untuk menemani Tuan," batin Xavier.
""Baik Tuan, saya akan menyiap kan semua file nya!" ucap Xavier. Dia memilih untuk mengalah.
"Setelah ini pulanglah!" perintah Shine sebelum Xavier menutup pintu.
Xavier hanya bisa menunduk saja.
Shine hanya bisa mengalih kan beban pikiran yang benar-benar menyiksa nya saat ini dengan mengerja kan pekerjaan di perusahaan mau pun di klan.
kadang-kadang Shine pergi ke markas dan sesekali mengawasi perkembangan pencarian klan baru yang akhir-akhir ini selalu mengusik nya.
__ADS_1
Saat Shine sedang fokus dengan pekerjaan nya, tiba-tiba dia teringat dengan istri nya yang sedang hamil.
Dia langsung mengambil ponsel nya dan langsung menelepon asisten Xavier.
"Pasti kan istri ku melaku kan kegiatan rutin nya!" ucap Shine kemudian memati kan ponsel nya.
Meski pun di abai kan kesehatan Safira adalah yang terutama untuk nya.
Berbeda dengan keadaan Shine saat ini yang memaksa diri untuk menenangkan diri dengan menyiksa tubuh nya, Safira justru dengan santai dan penuh gembira berbicara bersama dengan pengawal dan penghuni mansion Elvio.
"Apa kau serius akan menginap Fira?" tanya Megan yang tak percaya dengan ucapan Safira.
"Mmmm, Elvio mengata kan pintu mereka terbuka untuk ku. So tempat sebagus ini tidak mungkin ku sia-sia kan bukan?" jawab Safira enteng tanpa beban sedikit pun
"Kau tau bukan apa maksud ku Fira?" tanya Megan lagi dengan nada yang lebih serius.
Safira yang sebelum nya pura-pura bodoh mengh la napas dengan pelan.
"Shine?" tanya Safira dengan malas.
Megan mengangguk dengan pasrah melihat wajah Safira.
"Nyo...nyonya, ini minuman nya," suara seseorang tiba-tiba menghenti kan niat Safira yang ingin menjawab pertanyaan Megan.
Ternyata seorang pelayan muda membawa minuman yang sudah di pesan oleh Safira sejak tadi.
"Bukan kita bisa menikmati hari ini dengan minum teh buatan pelayan Kay Meg?" tanya Safira tersenyum ke arah Megan.
Megan dengan malas melirik ke arah Kay yang saat ini cosplay menjadi seorang pelayan dan itu adalah permintaan Safira. Yah, Megan tau, ini baru permulaan.
"Bisakah kamu bekerja dengan profesional dan mengetahui etika kerja? Kamu tidak melihat aku sedang berbicara, seharus nya otak mu kau gunakan sialan," kesal Megan.
Megan tak tanggung-tanggung mengumpat Kay yang dulu di jadi kan ratu di mansion ini oleh para pelayan dan bis Adi kata kan juga diri nya. Dia sangat malas berurusan dengan Kay karena berhubungan dengan wanita itu suatu saat akan berhubungan juga dengan Elvio dengan alasan tak wajar.
Kay yang belum biasa mendapat perlakuan sialan seperti ini menatap tajam ke arah Megan. Dia berdiri hendak membalas Megan namun urung karena kembali suara meyebal kan Megan terdengar.
"Tau lah posisi mu bit ch," kesal Megan tak peduli dengan kekesalan Kay. Megan akhir nya bisa membalas kan rasa tak suka nya pada Kay yang selama ini selalu mengganggu nya karena itu dengan kedekatan nya dengan Elvio.
__ADS_1
Pada hal jika di tanya, apakah Megan menyukai Elvio? Senang berdekatan dengan pria itu? CK, jauh-jauh.
"Kau, ambil minuman untuk ku!" tiba-tiba Nia dengan tengil nya datang dan menyuruh Kay dengan sekena nya. Dia langsung duduk dan mengecek ponsel nya siapa tau ada perintah baru dari tuan nya.
Safira tersenyum melihat Avicennia yang mulai bertingkah, dia tau Avicennia Masi memiliki dendam pada Kay.
Mendengar tidak ada suara yang menyahut nya, Nia di Landa kekesalan.
"Kau tidak mendengar ku pelayan?" kesal Nia langsung berjalan ke arah Kay.
Di sana juga ada Mateo yang selalu berad di sisi Safira. Tapi pria itu tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di sana selagi itu tidak mengancam keselamatan Nyonya nya.
"Anda bukan Tuan saya Nona,' jawab Kay berusaha menahan amarah nya. Harga diri nya saat ini seperti di injak-injak oleh Nia.
"CK, sejak kapan pelayan sialan seperti mu berani bertanya pada tamu maji kan, hah?" kesal Nia. Dia terus membuat harga diri Kay di bawah kaki nya Karna rasa kesal nya pada wanita itu.
Elvi Melihat mantan tamu ranjang nya di perlaku kan seperti itu hanya bisa pasrah karena dia sudah menyerah kan sepenuh nya kaya pada Safira. Tapi dia merasa janggal dengan wanita yang berperan melebihi majikan yang berusaha mengatur pembantu nya.
"Atau aturan pemilik mansion ini serendah itu?" ucap Nia sengaja ketika melihat bayangan Elvio di sana. Bisa di kata kan Nia adalah provokator sejati
"Tolong jaga ucapan anda Nona," ucap Elvio dengan dingin setelah mendengar ucapan tak wajah Nia.
"Dan anda jangan sesuka hati seakan anda adalah pemilik mansion ini," tambah Elvio lagi dengan tatapan tak suka nya pada Nia. Dominasi Elvio jelas terasa dalam ruangan ini.
Megan yang sudah tau bagaimana tipe tuan nya mulai merasa merinding karena merasa kan aura menyeram kan tuan nya.
"CK, jika anda tidak suka melihat saya di sini, usir saja Nyonya Safira maka saya akan pergi dari mansion anda
Suya juga tidak tertarik Tuan," bisik Megan tak gentar.
Avicenia sudah sering merasakan dominasi dari para musuh. Dominasi Elvio, CK sama sekali tidak mempan. Bahkan Nia dengan Berani mendekat ke arah Elvio dan menatap tajam Elvio.
Srak
Tiba-tiba rambut Nia di tarik dengan kasar menyebab kan wanita itu terjungkal karena tidak siap.
Spontan Mateo, Safira dan Megan berdiri dan langsung menolong Avicennia.
__ADS_1
Jan lupa like nya 😊👍👍👍
Agar author nya tambah semangat yah 😊👍👍👍👍