
...****************...
Aula Hotel
Xi Yuan dan kedua temannya menunggu Ming Ke cukup lama, namun Keke belum juga kembali dari toilet.
"Tolong periksa Keke di toilet," pinta Bo Gum pada seorang pelayan.
Selang beberapa detik. "Tuan, tidak ada siapapun di dalam toilet," tukasnya.
"Dimana dia," ujar Yuan khawatir.
Buzz
Buzz
Seseorang menelpon Xi Yuan.
"Ya"
"Yu, ini aku. Ming Ke pergi dengan deraian air mata. Ada apa? Apa kalian bertengkar?"
"Pergi kemana?" tanyanya dengan suara keras.
"Entahlah, dia hanya singgah sebentar. setelah itu pergi lagi," ucap Chu Xia.
Yuan memutuskan panggilan.
"Bo, Rey. Ayo cek rumah," pinta Yuan.
Mereka segera bergegas kembali ke Rumah utama Xi Yuan. Sesampainya di sana.
"Apa yang di tuju Ming Ke saat kembali?" tanya Rey.
"Dia langsung masuk kamar,"
Xi Yuan keluar dari kamar. "Dia mengambil password nya," tukas Yu.
"Password? Ada apa ini?" tanya Chu Xia.
Bo menjawab, "Pagi ini sebelum acara dimulai, Brian mendapat kabar penemuan mayat seorang wanita di Markas lama Tuan Richard,"
"Apa kepergian Keke ada hubungannya dengan dia?"
"Kemungkinan besar begitu,"
"Rey, cari tahu kemana dia pergi. Aku akan mencari lokasi ponselnya. Bo, ayo pergi ke bandara"
Mereka semua langsung bergerak.
"Tolong jaga anak-anak. Jika ada bahaya segera hubungi aku," ujar Xi Yuan sebelum meninggalkan rumah.
Bandara.
"Dapat! Ming Ke baru saja mendarat di Bandara Internasional Kota C"
"Kerja bagus Rey"
Bandara Internasional Kota C.
Mereka tiba di Kota C setelah Ming Ke.
"Xi Yuan!" pekik Brian.
Mereka bertiga menghampiri Brian. "Kau sudah lama?"
"Baru saja sampai"
"Ayo, ikuti GPS ponsel nya," Xi Yuan menunjukkan pada Brian.
"Ini menuju ke, 005? Gawat!" ucap Brian panik.
"Gawat kenapa?"
"Itu adalah rumah sakit terbengkalai," ujar Brian membuat semuanya panik.
"Kita harus cepat!"
Keadaan Ming Ke.
__ADS_1
"Kenapa rumah sakit 005 usang seperti sudah lama tidak di gunakan," gumam Ming Ke. "Tempat ini sangat sepi, samasekali tidak ada orang disini," lanjutnya.
Dari arah lain, seorang pria datang menyergap dengan sapu tangan racunnya menghambat hidung Ming Ke.
"Emm... Emm..." teriak Keke sebelum akhirnya pingsan di badan pria tersebut.
Ming Ke diikat di atas ranjang, dengan tangan dan kaki yang terbentang.
"Aku sudah lama menunggu waktu ini," ujar pria tersebut memotret Ming Ke.
Dalam mobil.
"GPS semakin dekat, tapi dimana Ming Ke?"
"Aku akan turun, jika ada bahaya kalian menyusul," tukas Yuan membuka pintu mobilnya.
Xi Yuan mencari dimana ponsel Ming Ke. "Itu dia!" melihat ponsel Keke terjatuh di halaman rumah sakit.
Rey memanggilnya dari dalam mobil, "Yu, cepat kembali!"
Dengan sigap Yuan langsung kembali masuk kedalam mobil.
"Lihat, Keke sudah di sandra Richard," menunjukkan sebuah foto kiriman.
"Keke, dimana lokasi itu!"
"Aku sudah mencarinya. Tapi lokasi tetap tidak bisa ku dapatkan"
"Si@l! Kalau sampai dia menyentuh satu inci saja dari tubuh Ming Ke, aku tidak akan segan-segan untuk menusuk jantungnya!" ujar Xi Yuan mengepalkan tangannya.
"Pesan dari XY03II mengirim lokasi!" ujarnya.
"Cepat cari!" jawab Xi Yuan.
Mereka melaju mobil menuju alamat yang diberikan hacker tersebut.
"Kalian sudah tahu siapa XY itu?"
"Belum," jawab Rey.
"Bagaimana jika ini jebakan juga!" pekik Brian menghentikan laju mobil nya.
"Tidak, percayalah. Kali ini aku punya firasat baik. Cepat, cepat!" tukas Yu.
Butuh waktu hampir 2 jam untuk mereka melaju ke alamat itu. Sesampainya di sana lagi-lagi yang terlihat adalah gedung terbengkalai yang sangat sepi.
"Firasat mu sungguh akurat, Yu" ujar Brian.
"Ayo periksa"
"Yuan, kita hanya berempat. Apa kau bisa menjamin keamanan kita semua?" tanya Brian.
"Kenapa tidak memanggil pasukan!"
"Tunggu sebentar lagi, mereka sedang menyusul," ujar Rey.
"Tidak bisa! Aku harus menyelamatkan Ming Ke"
Xi Yuan bersikeras masuk kedalam Gedung. Tidak ada yang bisa menghentikannya alhasil mereka masuk ke dalam Gedung.
Saat berada di lantai paling atas. Mereka terpanah melihat ranjang yang sempat di gunakan untuk menyandera Ming Ke berlumur darah.
"Ada apa ini! Apa kita terlambat! Dimana mereka? Dimana Ming Ke!" pekik Xi Yuan menggeledah seisi kamar.
Tiba-tiba saja pintu terkunci.
"Gawat! Ini jebakan!" pekik Brian. "Cepat buka!"
Mereka mendobrak pintu, "tidak bisa! Xi Yuan, hentikan! Mereka sudah membawa nya pergi. Kita harus segera keluar dari sini!"
"Pasti ada celah lain dibalik dinding," gumam Xi Yuan penuh kepanikan.
Cresss... Diwaktu yang bersamaan asap tebal muncul dari setiap sudut ruangan.
"Gas beracun! Tutup mulut dan hidung kalian. Jangan biarkan mata juga terinfeksi," pekik Brian.
Mereka mencari alat, menghancurkan kaca kamar.
"Berhasil!" ucap Bo Gum.
__ADS_1
"Ayo, cepat keluar!" pekik Rey.
"Xi Yuan! Jangan gila. Ini berbahaya, ayo keluar!" ajak Brian.
Tapi Yuan menolak, "Tidak!!"
"Gawat asap semakin tebal," batin Rey. "Brian, Xi Yuan keluarr....!" ucapnya melemparkan badan melompat dari ketinggian Gedung tersebut.
"Awass!!" teriak Brian.
"Dimana Xi Yuan?" tanya Rey.
"Aku sudah menariknya, tapi dia malah mendorong ku!" jawab Brian.
"Brian, seberapa bahaya gas beracun itu?"
"Menurut taktik Richard. Gas itu mampu membuat paru-parunya terinfeksi, bahkan bisa membuatnya mati," jelas Brian.
Bala bantuan datang.
"Kenapa lama sekali!!" pekik Bo Gum.
Seorang anak kecil keluar dari dalam mobil tersebut.
Mereka terheran-heran melihat nya. "Brian, ini bukan pasukan mu 'kan?" tanya Bo.
"Bukan. Ini juga bukan anak buah Yuan 'kan?" sahut nya.
"Bukan," jawab Rey.
"Kalian terlambat, satu jam 30 menit. Jika Tuan kami tidak baik kemungkinan dia tidak akan kembali kesini untuk membantu kalian," ujar salah satu bodyguard nya.
"Ayo," ucap anak kecil yang menutupi hidung hingga mulutnya dengan masker hitam.
Mereka melangkah naik ke atas Gedung. Membuka pintu kamar dimana Xi Yuan terjebak didalamnya.
"Hancurkan, atasi masalah di sana," pintanya.
"Baik, Tuan"
Setelah asap racun di hilangkan barulah anak ini masuk kedalam kamar tersebut. Melihat pria itu sudah bersimpuh tidak berdaya.
"Chk, ternyata cukup kuat," ujarnya menjulurkan tangan.
"Si-siapa kau?" tanya Xi Yuan mencoba bangkit.
"Kau bisa menembus jalur tol untuk sampai kesini dalam hitungan 30 menit," tukasnya membantu Xi Yuan. "Tapi dengan bodohnya kalian melewati jalur penuh antrian itu"
"Kenapa suara nya terasa tidak asing," gumam Xi Yuan. "Ming Ke! Keke, dimana Keke?" seketika Yuan sadar sedang mencari apa disini.
"Dia sudah aman bersama ku," jawab anak itu. "Ini sudah ke sekian kalinya aku membantu mu. Apa kau tidak ingin berterimakasih pada ku, Ayah?" membuka maskernya.
Semua orang tertegun menatap wajahnya. "Xi Yi!" ucap semua orang yang ada di sana kecuali anak buahnya.
"Yahh, aku Xi Yi. Aku sudah membantu mu menemukan Bibi, membantu mu menyimpan Giok ibu, juga menolong mu dari kematian," ucapnya.
Mereka semakin terbelalak. "Jadi hacker itu kau!" tukas Rey.
"Hehee, Tuan Rey. Maaf sudah menyusahkan mu belakangan ini,"
Bo Gum membaca simbol dari mereka, "XY? Jangan bilang kau juga yang membantu perusahaan menangani kekurangan stok batu permata beberapa hari lalu,"
"Benar, itu aku."
"Sudahlah, kita lanjutkan ceritanya nanti. Apa yang kau lakukan di sini? Dimana Ming Ke?" tanya Xi Yuan.
"Ibu baik-baik saja. Dia sudah pulang ke Kota A. Yang seharusnya kalian atasi saat ini adalah dia," menunjuk ke halaman bawah.
Seorang pria yang sudah terikat kuat dengan tali, berdiri dengan dua orang pengawal.
"Richard!!" ujar Xi Yuan.
Mereka segera turun menghampiri Richard yang sudah tidak berdaya itu.
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Kamu tidak tahu seberapa sulit seseorang merubah dirinya untuk...
__ADS_1
...jadi lebih baik, Maka jangan bandingkan dia yang sekarang...
... dengan masa lalu kelam nya itu...