
...****************...
2 tahun kemudian
Kota C
Ming Ke atau Vivian lewati hari-hari gembira di desa kecil ini. Untuk bertahan hidup, Vivian sering kali bekerja sebagai paruh waktu, apalagi saat-saat musim panen seperti ini.
Vivian hanya sesekali mengeluarkan uang belanja dapur, sisanya nenek lah yang memberikan, nenek sudah menganggap Vivian sebagai cucunya sendiri, sedangkan kedua anak itu, nenek sudah menganggap nya sebagai cicit nya.
"Ming Wei, Xi Yi cepatlah nanti kalian terlambat" Vivian meneriaki anak nya.
"Sebentar lagi selesai, Bu"
Tahun ini mereka sudah menginjak usia 5 tahun lebih, Vivian sudah mendaftarkan sekolah untuk keduanya, dan hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah.
"Mommy lihat! Wei-Wei sudah selesai"
"Woahh anak mommy cantik sekali!"
"Yi juga sudah selesai"
"Emp sepertinya ada yang kurang," Vivian berlutut membenarkan dasi putra nya.
"Nah begini baru benar, hihihi..." Keke tersenyum dihadapan kedua anak itu.
Keke memasukkan bekal untuk mereka, "Ayo cepat habiskan makan kalian,"
Selesai makan
"Ibuu, apa kau yakin kita akan mengendarai ini" melirik ke arah sepeda tua yang di beli Ming Ke beberapa hari lalu.
"Yakin, kenapa tidak"
"Mommy, Wei-Wei gemuk, nanti mommy kecapean gimana"
"Tidak akan sayang... Bukankah mommy sudah pernah bilang, lelah nya mommy ak-"
Dipotong Wei-Wei, "akan hilang dengan senyuman kami, hiii" menunjukkan giginya.
"Ahahaa memang Wei-Wei yang paling imut," mencubit pipi kecilnya.
"Sudah ayo naik,"
Karena desa ini kecil dan terpencil, tidak ada sekolah didalam nya, Keke terpaksa harus menyekolahkan mereka ke kota.
Keke hanya memiliki sepeda untuk mengantarkan kedua anak nya, Ming Ke sama sekali tidak punya dana untuk membeli kendaraan yang lebih nyaman.
Wei-Wei duduk di depan, sedangkan Yi duduk di belakang. Sepeda sudah di rangkai khusus olehnya, jadi mudah untuk membawa mereka bersamaan.
Taman Kanak-kanak
Orang lain dengan kedua orang tuanya. "Dahh sayang..."
Vivian menurunkan kedua anaknya.
Ming Wei melirik, lalu menghela nafasnya, berbalik dan tersenyum, "mommy Wei tidak akan menyesal, karena Wei sudah punya mommy yang hebat, emmuachh..." Ming Wei mencium punggung tangan ibu nya.
"Sayangg mommy akan berusaha lagi agar menjadi ibu yang baik untuk kalian berdua."
"Buu sudahlah, Kau yang seperti ini kami mencintai mu kok," Yi ikut menggandeng punggung tangan Vivian yang lain.
"Ingat untuk tetap sopan,"
Wei menjawab, "Jujur"
"Dannn"
"Menuruti perkataan ibu guru!!" Yi menjawab sambil melompat.
"Ahaha anak pintar, sudah pergilah nak, belajar yang rajin okee"
Mereka menjawab, "Oke mommy, oke Bu"
Sementara itu, Vivian pergi ke Mall untuk melihat saldo dan menarik uang dari rekening nya.
__ADS_1
Mall
Setelah selesai menarik uangnya, Vivian berbalik badan, melangkah tanpa melihat kearah depan.
Bugghhh
"Ahh..." Vivian menabrak seseorang
Srakk... Kertas berhamburan di lantai Mall.
"Maaf, maaf tuan, maafkan aku," sambil terus membungkuk.
"Apa kau tidak punya mata!"
"Maaf tuan aku benar-benar tidak sengaja" mengangkat badannya.
Vivian menatap pria itu dan berkata, "Aku akan membantu mu," berlutut mengutip kertas-kertas itu.
Disisi lain, pria itu masih terpesona oleh kecantikannya, dan terus menatap kosong ke arah Vivian.
"Tuan, Tuan" melambaikan tangannya ke wajah pria itu.
Asistennya membuyarkan lamunan nya, "Tuan!"
"Ahh iya ada apa"
"Tuan ini kertas mu, sekali lagi aku minta maaf karena sudah ceroboh," menyerahkan setumpuk kertas ke tangannya lalu kembali membungkukkan badan.
"Emm tidak apa-apa, ini hanya setumpuk kertas tidak berguna, pergilah," membuka jalan untuk Vivian.
Asisten, "tidak berguna! yang benar saja, ini adalah kertas kuartal Mall, bagaimana mungkin ini tidak penting!"
"Tadi, tuan membebaskan nya tanpa hukuman? Sedangkan anak buah yang salah mengambilkan air untuk nya saja langsung di pecat, tapi iniii... Kenapa?" batinnya.
Brukk
"Rapikan sebelum rapat pemegang saham siang nanti," menyerahkan tumpukan kertas tinggi itu ke tangan asistennya.
"Baik, tuan." dalam hati berkata, "Astaga tuan Brian, kenapa aku juga yang kena dampak nya"
...----------------...
CATATAN📢
Pihak Eropa \= kota C
Author ganti biar lebih nok.
...----------------...
Setelah selesai belanja, Vivian kembali ke sekolah untuk menjemput anak-anak nya.
"Mommy datang!!"
"Sayangg... Bagaimana sekolahnya,"
"Bagus mom, ada banyak teman, Wei-Wei belajar dengan mereka tadi,"
Brian menatap kearah luar kaca mobil, dan melihat Vivian berada disana, "STOOPPP.... Berhenti! sepertinya aku melihat wanita itu!"
"Ada apa Tuan?"
"Putar balik cepat!!"
Mereka memutar balik dan berhenti tepat di depan taman kanak-kanak tersebut.
Brian langsung keluar dari mobil nya, "Dimana dia?"
"Tuan, sepertinya kau salah lihat,"
"Tidak! Aku yakin itu tadi dia!"
Melihat Brian terus melihat sekeliling. "Tuh kan aku kata juga apa, tuan tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja nona, jikalau itu benar aku akan pindah agama!" batin nya.
"Tuan tenang saja, aku akan membantu memerintah kan mereka untuk mencarinya,"
__ADS_1
Baru saja asistennya ingin menelepon, ponsel itu langsung diambil Brian.
"Untuk apa menggunakan mereka?!"
"Bukan kah kau mau menangkapnya?"
"Menangkap KEPALA MU!!"
"Kalau tidak lalu untuk apa...."
"Aku hanya ingin tahu siapa nama dan juga dimana rumah nya," ucap Brian sambil melangkah masuk kedalam mobil.
"Apaaa?! Ingin berkenalan...."
"Oh tuhannn, aku bercanda atas perkataan ku sebelum nya. Maafkan aku maafkan aku,"
"Sepertinya Tuan perlu istirahat yang cukup"
Lirihnya sambil mengikuti Brian ke mobil mereka.
Vivian keburu pergi sebelum Brian turun dari mobil, sehingga Brian tidak dapat menemukannya.
Sedangkan di sepanjang perjalanan pulang, Yi dan Wei terus menceritakan pengalaman pertama mereka hari ini pada Vivian.
Rumah Nenek
"Yi, Wei, segera bersihkan diri, lalu kerjakan tugas kalian, ibu akan membuatkan masakan kesukaan kalian ya..." Vivian mencium kening keduanya.
"Perintah diterima"
"Baiklah Mom"
Mereka masuk kedalam rumah membersihkan diri, lalu mengerjakan tugas masing-masing.
Keesokan harinya
Vivian kembali mengantarkan anak-anaknya menggunakan sepeda. Setelah itu dia kembali mengunjungi Mall karena nenek ingin membuat hotpot sebagai perayaan Yi dan Wei masuk sekolah, Vivian pun segera mencari bahan-bahan nya.
Dari arah depan, "Ahh itu dia," sambil bertingkah seolah-olah membaca dokumen di tangannya lagi.
Tapi Vivian mengabaikannya.
Brian tak habis akal. "Hei wanita!"
Vivian menoleh kebelakang, dan melihat ke kanan-kiri. "Ak-aku," sambil menunjuk kearah diri nya sendiri
"Iya kau" Brian mendekati nya. "Ingat aku," Brian berharap di kenali.
"Sepertinya tidak," jawab Vivian singkat.
"Aku, pria yang kau tabrak kemarin pagi,"
Keke berusaha mengingat. "Mmm.... Oh yaa, aku ingat. Ada apa ya Tuan?"
"Tidak ada, kebetulan ya jumpa lagi disini"
Asisten mencibir dalam hati, "kebetulan apanya, kaki ku pun bisa berbicara sudah berapa lama kau membawa kami berkeliling di Mall sebesar ini,"
Vivian menjawab, "Ahh sebenarnya aku tidak setiap hari kesini, kemarin ada beberapa yang terlupakan, jadi kembali lagi untuk membelinya"
"Ooh begitu, mm aku belum tahu siapa nama mu"
"Namaku engg.. nama ku"
"Tidak perlu takut, aku tidak akan memakan mu kok,"
Asisten berkata dalam hati nya, "tidak memakan wanita ini, tapi jika itu orang lain mungkin saja sudah jadi makanan buaya peliharaan mu,"
"Nama ku Vivian,"
"Wahh nama yang bagus, sama seperti orangnya"
Mereka terus mengobrol sampai Vivian selesai berbelanja pun Brian yang membayarkan nya.
Asisten, "Di Mall sendiri membayar belanjaan demi seorang wanita, tuan benar-benar membutuhkan perawatan Extra." cibir nya.
__ADS_1