
"Tu, Tuan Xi Yuan!"
"Chu Xia! Benar, kau Chu Xia!"
Ucap mereka bersama-sama.
"Kau apa yang kau lakukan disini?"
"Kau juga bisa melihat nya bukan? aku menjemput keponakan ku"
"Bukan, maksudku kenapa kau berada di kota C,"
"Ini kampung ku, kenapa aku tidak bisa berada disini," memegang tangan kedua anaknya, lalu melangkah pergi ingin meninggalkan Yuan.
"Tunggu, kalau ini memang kampung mu, dimana aku bisa menemukan alamat 09?! " teriaknya.
"Gawat, ternyata Yu menyelidiki keberadaan Vivian" lirihnya.
"Tidak tahu, cari sendiri!!" Teriaknya.
Chu Xia mempercepat langkahnya nya meninggalkan Xi Yuan. Sementara Yuan sendiri merasa heran dengan tingkah laku Chu Xia yang mencurigakan.
Yuan menyalakan mobilnya dan mengikuti mobil mereka. Yu mengendarai mobil sendiri, karena Bo sedang melakukan tugas lain.
"Pak ayo masuk ke jalan blok L tembuskan hingga blok C"
"Kenapa kita menghindari paman itu, Bi"
"Wei-Wei, Yi-Yi, perlu kalian ketahui, pria itu penjahat yang akan menculik anak-anak lalu menjual mereka. Tapi tenang, bibi akan menyelamatkan kalian." Chu Xia membohongi mereka, demi menghindari Xi Yuan.
Kota ini sangat ramai, banyak sekali jalan tikus yang dapat digunakan untuk melarikan diri. Ini semua adalah buatan para Mafia, saat keadaan mendesak mereka akan menggunakan jalur ini untuk menghindari kejaran musuh.
Rumah Richard
Duduk di meja kerja Brian. "Brian, bagaimana perkembangan proyek kerjasama dengan pihak kota A?"
"Lancar, sama seperti yang diharapkan," sambil terus membuka-buka dokumen ditangannya.
"Bagus, karena sudah berjalan 5 tahun, pastinya semua stabil kan"
"Emm"
"Pergi ke kota A, aku ingin memperluas wilayah kekuatan ku di sana"
"Sampai kapan?"
"Sampai aku menyuruh mu kembali"
"Pa, sampai kapan kau terus begini, kapan kau akan pensiun dari mafia senjata ini"
"Ini juga demi keamanan mu dimasa depan"
"Aku tidak berminat dengan pekerjaan ilegal"
"Kau tahu apa, bukannya selama ini kau juga menikmati nya, hengg," menghampiri Brian ke sofa.
Berhenti dengan dokumen nya. "Dulu aku hanya tahu meminta saja, bahkan senang sekali jika ikut berburu mangsa((musuh)) dengan mu,"
"Benarkah, seru bukan?" merangkul Brian.
Menepis pelan tangan Richard,"itu dulu, kalau sekarang aku tidak ingin mengerjakan itu lagi, cukup mengurus perusahaan saja sudah melelahkan,"
"Chh, aku bukan mau menyerahkan mafia ku pada mu, kau hanya memantau perkembangan mereka saja, tidak lebih dari itu,"
"Berapa lama"
"Paling lama 3 hari. Karena umur ku tahun ini sudah menginjak 50, aku ingin merayakannya, mengundang semua anggota mafia ku, mengundang para teman-teman dan semua orang," menghayal kan betapa megah nya, acara itu nanti.
__ADS_1
"Dan juga, aku akan memberikan hadiah besar untuk mu"
"Tidak tertarik"
"Terserah mu saja, sampai waktunya tiba nanti kita lihat," mendekatkan bibirnya ke telinga Brian. "Apa kau masih mau jual mahal seperti ini atau tidak," menepuk pundaknya, lalu pergi dari ruangan Brian.
"Ch, Paling juga black card, atau pulau seperti biasanya," lirih nya.
Vivian masuk.
Tokk Tokkk
Cklekk
"Tuan, ini minum mu," meletakkan gelas.
Meraih tangan Vivian.
Vivian langsung menepis nya pelan, "Brian," memperingati.
"Iyaaa," Melepaskan. "Vivian, aku akan pergi selama 3 hari yang akan datang,"
"Lalu?"
"Kau tidak mencegah ku?"
"Kau bukan hak ku, dan aku juga tidak berhak menghalangi mu,"
"Vivian, aku..." berhenti sebentar.
"Vivian aku sudah terlanjur mencintaimu dari awal bertemu,"
Vivian terbelalak. "Brian, apa yang kau katakan!" bentak Vivian pelan.
"Aku sungguh-sungguh, dan jika, jika kau menghalangi ku, aku akan berhenti saat ini juga,"
"Papa meminta ku, mewakili nya ke Kota A dan apa kau tahu... jika aku gagal bertahan, mungkin aku tidak akan kembali lagi kesini"
"Kenapa begitu, bertahan dari apa?"
"Perebutan wilayah kekuasaan dalam berdagang, mungkin ini bisa jadi alasannya," menepuk sofa di samping nya.
Vivian duduk di sofa yang berhadapan dengan Brian. "Kau akan berperang?" bertanya dengan lembut.
"Emm,"
Jika melakukan perluasan wilayah biasanya mafia satu dengan mafia lainnya berebut, siapa yang bertahan maka dialah yang menguasai perdagangan senjata ilegal di kota tersebut.
Sudah lebih dari 10x perluasan wilayah Brian lah yang selalu turun tangan, dan jika berhasil Brian akan mendapatkan Black Card ataupun Pulau-pulau besar yang dimiliki Richard.
Brian melanjutkan perkataannya, "Vivian aku akan pergi, aku takut kali ini papa ku dibawah kendali Ai Ling, dan ingin melukai mu,"
"Aku bisa jaga diri kok,"
"Tapi kau tidak tahu bagaimana Ling yang sebenarnya,"
"Bagaimana aku tidak tahu, dia ibu ku, aku sangat paham sifat nya kepada ku selama ini seperti apa," batin Vivian.
"Brian pergilah dan kembalilah dengan selamat, aku akan menantikan kepulangan mu"
Setelah benar-benar memastikan bahwa Vivian akan baik-baik saja, Brian mendatangi tempat kerja ayah nya.
"Baik, aku pergi, tapi kau harus berjanji satu hal dengan ku,"
"Emm"
"Berjanjilah untuk tidak melukai Vivian, jika sampai itu terjadi aku tidak segan-segan menghancurkan benteng pertahanan di sana saat itu juga"
__ADS_1
"Emm"
Membuka laci, melemparkan sesuatu di atas meja. "Ambil ini"
"Gunakan itu saat kalian mulai bergerak"
"Kau mau membunuh ku,"
"Aku mau memperluas wilayah, bagaimana mungkin membunuh prajurit ku, termasuk kau"
"Ch" Brian pergi meninggalkan kan rumah menuju kota A.
"Aku memang ingin membunuh mu dari dulu, tapi kau seperti punya kekuatan tersendiri, tidak mati kena racun, tidak mati walau tertembak tepat di jantung mu,"
"Kau bukan anak ku jika bukan sebagai pion memperluas kekuasaan ku, aku juga malas mempertahankan orang seperti mu" gumamnya setelah Brian pergi.
Namun disisi lain, Vivian malah mendengar semua yang di ucapkan Brian barusan. "Ternyata ini tujuan mu," batinnya.
"Heh! Ngapain kau berdiri di sana, menguping Iya!" teriak Ai Ling melihat Vivian yang terdiam memegang gagang pintu ruang kerja Richard.
"Ahh bukan, bukan, aku sedang... Engg aku sedang membersihkan abu di pintu ini," bergegas pergi meninggalkan pintu.
"Dihh, dasar aneh," masuk kedalam ruang kerja.
Menghampiri Richard, "Sayangggg... Lihat apa yang aku beli kemarin," menunjukkan gaun terbuka milik nya.
"Ini untuk acara ulang tahun ku, apa kau akan mengenakan pakaian jelek ini,"
"Jelek gimana, ini edisi terbatas tau,"
"Pergilah" Richard mengusirnya dengan lambaian tangan.
Ai Ling pergi meninggalkan Richard.
"Lihat nenek lampir itu sudah seperti jal@ng"
"Dia kan memang wanita seperti itu,"
"Iya, iya, benar dan baju itu semakin menunjukkan sifat aslinya, iya tidak,"
"Ahaha kau benar,"
Ucap para pelayan yang membenci Ai Ling.
"Berhenti berbicara, tuan bisa mendengarkan ucapan kalian," peringatan Vivian sembari melewati mereka.
Mereka pun bubar dan melanjutkan pekerjaannya.
Kota A
Rumah Utama Keluarga Ming Lan
"Su Nian-Nian!!"
"Ada apa sih, Ki" menuruni tangga.
"Ada apa kata mu! Coba lihat apa yang sudah kau lakukan dirumah ini!" menunjukkan bekas sampah makanan ringan dan juga minuman yang berserakan di lantai.
"Hihhh tinggal bersihin saja kok repot sih!" jawab nya.
"Khah tinggal bersihkan saja kata mu," menenteng tangannya di pinggang, memalingkan wajah nya lalu kembali menatap Nian-Nian.
"Kau yang selalu mengotori rumah ini!, dan aku yang selalu membersihkan semua nya!"
"Duuhh bising kali sih ganggu istirahat ku saja, Hoamm..." berpaling meninggalkan Ai Ki.
"SU NIAN-NIAN!" Teriak Ai Ki
__ADS_1