
...****************...
Pesawat
Seorang pria yang baru saja keluar dari toilet, menuju kursi tempatnya duduk.
Sadar seseorang datang, membuka penutup mata yang dikenakannya. "Kau, kenapa kau disini?" Tanyanya dengan suara tinggi.
"Ini memang kursi ku," menunjukkan tiket nya.
"Kenapa bisa kau disini?"
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau mengambil kursi Xi Yuan?"
"Aku tidak ingin, tapi lihat," mengarahkan pandangannya.
"Astaga, ternyata siasat lagi," batin nya. "Yasudah, jika kau tidak mau bersama ku. Carilah kursi lain,"
"Kenapa aku? Itu kau, seharusnya kau yang pergi!" pekiknya.
Seorang pramugari datang ditengah keributan mereka. "Halo, Tuan, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin kursi lain" ucap keduanya.
"Ahh... Maaf tuan, nona. Untuk kelas bisnis, semua kursi sudah terisi. Kalau kau mau bisa pindah ke kelas biasa," ucapnya.
"Kau saja,"
"Mana mungkin, aku adalah asisten nya. Kau, siapa kau?"
"Baik, aku yang akan pergi," kesalnya.
"Pergilah, pergi, pergi. Jangan kembali lagi," ujarnya mengusir Chu Xia.
Beberapa saat kemudian.
"Kenapa balik lagi?"
"Kursi nya tidak nyaman"
"Yoo... Bilang saja kau mau berduaan dengan ku,"
"Kau....!" tangannya ingin memukul. "Sabar Chu Xia sabar, sebentar lagi kau akan bertemu dengan pangeran mu. Jangan sampai wajah mu berkerut," batinnya menarik kembali kepalan tangannya.
"Kenapa tidak jadi, ayo pukul, pukul saja" ujarnya mengolok-olok Chu Xia.
"Chk..." membalikkan badan, menutup matanya dengan penutup mata tidur.
Kota A
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai" ujarnya membangunkan kedua anaknya.
"Biar aku yang urus, kau turun saja," tukasnya.
"Em, baiklah"
Mereka pun turun dari pesawat menuju pintu keluar Bandara.
Rey sudah menunggu di luar Bandara.
"Ahhh... Tuan Rey...!!" batin Chu Xia dengan mata berbinar.
Melangkah dengan cepat menggiring koper di tangannya. "Tuan Rey, apa kabar," tanyanya.
Mengabaikan Chu Xia. "Nona, serahkan itu pada ku," ujarnya mengambil alih koper lain yang berada di tangan Ming Ke.
"Ah, terimakasih.."
Rey memasukkan koper kedalam bagasi mobil. Chu Xia menghampiri nya.
"Rey, bisakah kau meletakkan ini juga?"
Lagi-lagi mengabaikan Chu Xia. "Tuan, silahkan," membuka pintu untuk Xi Yuan dan yang lainnya.
Bo yang melihat Chu Xia melamun mendatanginya. "Sini, biar aku bantu,"
Kaget, "tidak perlu," ucapnya sambil berusaha mengangkat koper.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, biar aku saja," tukasnya melihat koper itu belum terangkat.
"Maaf, biar aku saja," jawab Rey tiba-tiba datang ditengah mereka.
Merasa tersipu, "Ahh... Tuan Rey. Terimakasih," ujarnya senang.
Bo Gum merasa senang melihat senyuman manis Chu Xia. Mereka segera melaju ke rumah Utama.
Rumah Utama Xi Yuan.
"Perjalanan yang melelahkan, kalian pergi tidur saja. Besok pagi masih harus kembali bekerja," tukas Rey.
"Kalau begitu, maaf menyusahkan mu untuk koper-koper tidak berguna ini Rey," jawab Bo Gum.
Menoleh patah, "tidak berguna! Kau yang tidak berguna!"
"Kalian, dari kemarin selalu bertengkar. Biasanya cinta terjadi akibat pertengkaran," ujar Ming Ke.
Chu Xia terbelalak, "Aku? Cinta? Cuih..."
"Lebih baik, kau urus saja jawaban untuk pengeran mu ini, Nona" lanjut Bo Gum.
Ming Ke menunduk.
"Jawaban? Kau sudah melamar Nona, Yu?" tanya Rey.
"Kau terlalu mengurusi hidup orang," jawab Xi Yuan.
"Apa yang telah terjadi di sana?" tanya Rey pada Bo Gum.
Bo Gum menggandeng bahu Rey. "Kau mau tahu bagaimana Xi Yuan bodoh ini di tolak mentah-mentah, ayo aku akan memberitahukan semuanya dari awal," gumam mereka sedikit keras.
"Bo Gum, Ri Rey! Aku akan memecat kalian jika terus bergosip, kembali kalian!" pekiknya.
Tapi kedua orang itu tidak menggubris nya, dan terus menaiki tangga sambil asyik bercerita. "Hah! Benarkah?" terdengar suara kaget dari Rey.
"Eh, Anak-anak ayo kita tidur," Chu Xia menarik tangan keduanya.
"Ibu, kau tidak ikut?"
Mereka saling menggandeng tangan masuk ke dalam kamar.
"Setidaknya satu langkah sudah berhasil," batin Xi Yuan menatap kepergian Ming Ke.
Keesokan Harinya.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Kecuali Ming Ke.
"Dia belum turun juga?" tanya Chu Xia.
"Sedang apa dia?" tanya Xi Yuan.
"Entahlah, pagi ini dia menguasai kamar mandi hingga berjam-jam. Aku sampai harus memakai kamar mandi lain untuk membersihkan diri," jawabnya.
"Yi, kemana ibumu?"
"Tadi saat kami bangun, ibu sedang berdiri lama di depan lemari baju nya"
"Mommy juga bilang dia tidak punya baju," lanjut Wei-Wei.
Chu Xia terkejut, "Tidak punya baju? Bahkan lemari baju nya lebih besar daripada kamar tamu. Begitu masih bilang tidak punya baju?"
"Bukannya kau juga sama," tukasnya Xi Yi mematahkan kata-kata Chu Xia.
"Uhuk..." tersedak air minumnya. "Mana ada! Kapan Bibi bilang begitu?"
"Dua jam yang lalu," jawabnya.
"Xi Yi, kau ini sungguh kejam. Ingatan mu juga begitu tajam, ya," memukulkan bagian bawah pisau steak ke atas meja makan.
"Ahaha...." tawa semua orang kecuali Xi Yuan.
Chu Xia hanya dapat tertunduk malu. Setelah itu, Ming Ke keluar dari dalam kamar nya.
"Chu, tolong ketatkan ini," menyodorkan punggung belakang nya.
"Kenapa kau mengenakan kemeja ini jika sudah tahu sulit," mencoba menaikkan resleting kemeja putih Ming Ke.
__ADS_1
Ketiga pria dewasa itu tidak melepaskan tatapan nya melihat sedikit punggung Ming Ke yang belum tertutup.
Menatap Keke, lalu kembali menatap Bo dan Rey, "Dasar ceroboh. Mata mereka pun minta di butakan!" batinnya.
Xi Yuan berdiri mengambil tindakan. Menghalangi pandangan keduanya, menepis tangan Chu Xia. "Biar aku saja," ujarnya dengan tatapan menyeramkan.
"Em, baiklah..." jawab Chu Xia.
"Sudah"
"Terimakasih," berdiri.
"Untuk apa kau mengenakan setelan ini?"
"Bukannya hari ini adalah hari pertama ku bekerja sebagai karyawan magang di kantor mu? Apa kau lupa?"
"Astaga, ternyata dia benar-benar gigih untuk bekerja," batinnya. "Tidak, sebelum bekerja kau harus mengisi stamina terlebih dahulu," menarik bangku untuk duduk Ming Ke.
"Tidak perlu, aku akan terlambat nanti. Lagipula jika aku makan, maka rok ini akan mencekik perut ku," ungkapnya.
Mengelap kasar wajahnya, "Astaga kau ini,"
"Bo, Rey. Ayo pergi"
"Ah! Sekarang? Aku bahkan belum menyentuh sarapan ku," ujarnya Bo Gum.
"Kalau begitu kau makan saja sampai mati. Lalu aku akan mencari Asisten pengganti nantinya"
"Xi Yuan kau kejam sekali pada sahabat karib mu ini"
"Benarkah, Rey?"
"Tidak," jawabnya
"Tuh, dengar?"
"Kalian bersekongkol!" mendorong keluar tubuhnya untuk pergi.
Rey tertawa, "Chk.. Anak ini,"
Chu Xia menghentikan langkah kaki Rey.
"Eh, itu.. Ini untuk mu, kau belum makan apapun sekarang," menyodorkan bungkus bekal.
"Tidak perlu, aku bisa memesan makanan nanti,"
"Makanan luar tidak sehat, ini aku yang membuatnya. Apa kau tidak suka?"
"Ak-"
"Rey, cepatlah!!" pekik Xi Yuan dari luar rumah.
"Ya, aku datang!" menjawab nya. "Baiklah aku akan membawa ini, terimakasih,"
Tersipu malu, "sama-sama,"
Setelah Rey keluar dari rumah. Chu Xia langsung lemas tidak berdaya, "ohh, astaga... Lihat senyum itu. Arghhh... Kenapa dia begitu tampan," terhuyung memegang sudut meja.
Memegang dada nya, "Ahh tidak, jantung ku, jantung ku berdegup begitu kencang. Apakah aku terkena serangan jantung? Tidak, ini bukan serangan jantung. Melainkan serangan cinta dari Tuan Rey" batinnya.
Chu Xia berputar sambil menjerit, "Arghhh...."
Seketika wajahnya langsung berubah menjadi masam. Melihat tatapan heran dan aneh dari kedua anak di belakangnya.
"Hah!..." gumamnya cegukan. "Ka-kalian, sejak kapan ada di sana," tanyanya bodoh bercampur malu.
Xi Yi menjawab, "Sejak kau berkata. *kau belum makan apapun, *makanan diluar tidak sehat, lalu-"
"Cukup! Jangan dilanjutkan. Hihii... Cukup ya, cukup,"
"Astaga kenapa aku bodoh sekali," gumamnya sambil terus tersenyum malu.
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Lepaskan semua penat mu dengan menarik napas lalu menghembuskan nya...
__ADS_1