
...****************...
Taman Kanak-kanak
Saat Xi Yi dan Ming Wei akan kembali, mereka di awasi oleh guru yang sudah dibayar oleh Vivian sebelumnya.
Halaman TK
Teriakan anak perempuan, "Aaaa"
Brukk
"Awhh... Sakit banget" mengelus kepala nya.
"Tuan, kau tidak apa?"
Tidak menjawab, melipat tengkuk lutut nya. "Kau menabrak ku nona kecil,"
"Maaf pa.... man" sambil melirik.
"Wahhhh paman kau tampan sekali" memeluk pria itu.
"Ming Wei!!"
"Lagi-lagi kau menjebak ku di antara wanita itu!! Wei-Wei dimana kau!" teriaknya kesal.
Tiba-tiba sadar dan terkejut, "HAH! paman tolong lindungi aku" bersembunyi dibalik kaki nya.
Melihat anak kecil lainnya, "ooh ternyata lagi bersembunyi," Lirih nya licik lalu berteriak, "Hei kau"
Melihat nya. "Aku? Ada apa?" mendekat.
"Emm" memberi isyarat bahwa seseorang telah bersembunyi di belakangnya.
"Ming Wei!!" teriaknya kencang sekali, sampai-sampai pria itu harus menutup telinganya.
Perlahan muncul, "I-iya"
Menarik napas dalam-dalam, "kauuu! Huhh" Lalu menghembuskan nya sambil menarik tangan Wei.
"Sudahlah aku tidak mau berdebat, ayo" menarik tangan adik nya.
"Berhenti!"
"Ada apa?"
"Aku sudah membantu mu, apa tidak lebih baik jika kau berterimakasih,"
"Iya sama-sama," Yi acuh.
"Yakk. kau yang harus berterimakasih pada ku!"
"Makasih," berhenti lalu melanjutkan jalan nya lagi.
"Heii aku belum selesai!"
Yi berbalik, "Em"
"Kalian sedikit mirip"
"Paman, kami kembar lihat, hiiii" menunjukkan gigi kecilnya.
"Pantas saja, oh ya apa kau tahu ini" menjulurkan foto.
"Ini rumah" jawab Yi.
"Iya aku tahu, maksudnya apa kau tahu dimana rumah ini,"
"Maaf aku bukan maps"
Asistennya terpekik kecil.
Menoleh kebelakang, "Diam!"
"Hmm, Ming Wei yang baik apa kau tahu dimana alamat rumah ini,"
"Wahh paman hebat bisa tahu nama lengkap ku"
"Aku tadi berteriak, jika dia tidak dengar mungkin saja dia jelmaan batu,"
"Kau!" matanya terbelalak.
__ADS_1
"Ch" menatap malas pada nya.
"Wei-Wei tidak tahu, yang Wei tahu paman sangat tampan, sama seperti paman Fei," jawab Wei.
"Fei? Maksud mu-"
"Wei-Wei, Xi Yi, jemputan sudah datang, ayo pulang" ujar seorang guru yang tengah berdiri di depan jalan raya.
"Dahh paman"
"Manis, mirip sekali dengan Nya,"
"Ahaha pria kecil itu seperti cerminan mu, Yu" ujar Bo Gum.
"Kau ini!"
"Tapi tadi dia bilang Fei? Apa itu Liu Fei?"
"Kau ada-ada saja, ini dulu kita apa Xi Yuan, mungkin saja ada Fei lain disini."
"Mm kau benar,"
"Gadis itu bermarga Ming, sama seperti marga nya Keke," terus menatap kepergian mereka, "pria kecil itu juga bermarga Xi seperti ku," gumamnya.
Guru kembali ke halaman sekolah.
Mendekat, "permisi, aku ingin menanyakan alamat ini, apa kau tahu?"
"Maaf aku juga orang baru disini," jawab wanita itu.
"Tuan, ini aneh, alamat yang kita dapat saat di Kota A tidak bisa di lacak disini, apa jangan-jangan kota ini memang menyeramkan," sambil bergidik seram.
"Hentikan omong kosong mu, ayo kembali ke hotel,"
Ketika lokasi di lacak dari kota A, mereka menemukan jalannya, tapi saat di sini Bo dan Yu tidak bisa melacak lokasi tersebut.
Rumah Nenek
"Yi, kenapa di rumah nenek ramai orang?"
Yang dari tadi menatap pesan dari ibu nya. "Mm. Ada apa ya?"
"Bibi Chu! sejak kapan kau kembali? Ini ada apa kenapa ramai sekali? dimana nenek?" tanya Wei bawel.
"Wei-Weiii, Xi Yi, Huaaa nenek sudah tiada Uhuhuu..." memeluk kedua anak itu.
"Tadi saat kami pergi nenek masi baik-baik saja,"
"Nenek Chu, Huaaa nenek.... kenapa pergi tinggalin Wei-Wei nenek Hikss..."
Mereka menangis meratapi kepergian nenek.
"Yi, dimana ibu mu? kenapa belum kembali?"
"Ibu bilang, karena sudah libur seminggu ibu harus menjalani hukuman kerja lembur selama seminggu juga, bi"
"Vivian yang malang, ini semua karena pria brengsék itu," lirihnya.
"Wei, Yi, bibi janji, selama ibu ku tidak menemani kalian, bibi yang akan menggantikannya," berdiri meyakinkan keduanya.
"Bibi kami sudah besar, ibu juga sudah memberitahu kami bagaimana cara pergi ke sekolah dengan aman," jawab Yi.
"Tidak! Tidak! Bibi akan tetap menemani kalian, dengan begitu bisa jauuhhh lebih aman,"
Setelah berbincang dengan mereka Chu Xia menatap langit gelap dan mengingat kembali masa-masa indah nya dengan nenek ketika kecil dulu.
Mengingat bagaimana nenek melarang nya berhubungan dengan pria itu, tapi Chu yang bandal malah mengabaikan nenek nya.
Chu Xia kembali meneteskan air mata mengenang kan segala hal itu.
Pagi Hari
Rumah Richard
Melihat Vivian sedang membersihkan debu di depan televisi, "Eh kau Ming, em Vivian, pijat kan kaki ku"
"Maaf, pekerjaan saya masih banyak," mau menghindar.
"Apa kau tidak dengar!" teriaknya.
"Ada apa ini" turun membawa dasi dan jas kerjanya.
__ADS_1
"Richard lihat pelayan baru itu, dia tidak mau mengikuti perintah ku," ucap Ling manja.
"Mau tambah hukuman! Jika tidak lakukan apa yang diperintahkan nya," membenarkan ucapan Ling.
Tersenyum licik kepada Vivian.
Saat hendak duduk memijat kaki Ai Ling, Brian pun turun. "Pela©ur mana yang berani memberi perintah untuk wanita ku" mengucapkannya dengan santai.
"Kau!"
"Vivian ayo, rapikan saja dasi ku, jangan perdulikan dia," membangunkan Vivian dari lantai.
"Oh iya, rumah ini punya CCTV dan itu terhubung di laptop perusahaan, aku bisa tahu jal@ng mana yang mencoba melukai mu nanti," mengelus rambut Vivian.
"Brian cukup!, kita sudah sepakat hanya perjanjian diatas kertas saja, jangan melebih-lebihkan!" ucap Vivian ditelinga Brian.
"Maaf, aku kelewatan," balasnya.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Hati-hati jangan sampai ada yang terluka,"
Meninggalkan rumah.
"Chh" berpaling dari hadapan Vivian.
Brian meminjamkan uang pada Vivian dengan syarat Vivian harus menjadi wanita Brian. Dia menerima kesepakatan tersebut dengan garis bawah tidak boleh berlebihan, hanya sebatas kertas.
Dalam kamar Ai Ling.
Sedang menelpon. "Dasar kura-kura! Entah apa saja yang kau kerjakan di kota ini, bisa-bisanya mencari tahu keberadaan satu orang saja harus membutuhkan 2 tahun lebih, dan itu juga tidak menemukannya"
"Maaf Bu, pekerjaan ini sedikit sulit, apalagi aku sendiri disini," ucap nya.
"Chh alasan! sudahlah."
"Kembali saja kau ke kota A, bantu kakak mu mengurus perusahaan, target sudah di tangan ku, aku akan mengurus ini sendiri,"
"Kau menemukannya!"
Tutt Tutt
Wanita itu, "Chh kau kira selama ini aku mencarinya!? Aku tidak mau merepotkan diri ku sendiri, toh akhirnya kau berhasil menemukan Ming Ke tanpa bantuan ku bukan,"
"Kakak? Hengg... Sahabat + rekan kerja ku jadi kakak? aishh entah dosa apa yang sudah di lakukan ayah ku saat itu, hingga aku harus mempunyai ibu murah@n seperti dia,"
Wanita yang terus mencibir itu adalah Su Nian-Nian, yang dikirim Nenek Ai ke kota ini untuk mencari Ming Ke tahun lalu. Selain berpesta Nian-Nian tidak melakukan tugasnya, karena menurutnya itu bukan hal penting.
Taman Kanak-kanak
Bell Pulang
"Yiii tunggu!" meraih sepatu.
Menghentikan langkah nya.
"Xi Yi,"
Memutar badan, "Ya, oh kau lagi, ada apa?"
"Kau dan Ming Wei kembar bukan?, lalu kenapa kalian berbeda marga"
"Ibu ku juga seperti itu"
"Ibu? Siapa nama ibu mu?"
Dari belakang berlari gadis kecil, "namanya Vivian!" jawab nya.
"Mm Ming Wei, apa kau kenal dengan Liu Fei, lalu apa ibu mu juga bermarga Ming?" selidik Yuan.
"Ibu ku bermarga-"
Membelakangi Xi Yuan, "Xi Yi, Ming Wei, Hosh.. Hosh... Maaf bibi terlambat," sambil memegang lutut kaki nya.
Menarik napas, "Huupp Huuhhh... sudah, ayo pulang!" Su Nian-Nian berbalik badan.
"Chu... Chu.. Shhh." Xi Yuan mengingat-ingat kembali siapa nama teman dekat Ming Ke saat bekerja di kantor Liu Fei saat itu.
"Tu, Tuan Xi Yuan!"
"Chu Xia! Benar, kau Chu Xia!"
Ucap mereka bersama-sama.
__ADS_1