
...****************...
Pantai
"Kau minta Cium!!" kagetnya, mengucapkan dengan keras.
Seketika semua orang yang berada di sekitar mengarahkan pandangan mereka kepada keduanya.
"Sttt..." berdiri mengatup bibir Bo. "Apa kau tidak bisa perlahan lagi!"
"Ahahaa... Maaf, aku hanya terkejut. Sebab, kau. Kau adalah Xi Yuan, yang angkuh dan acuh kepada semua wanita di sekeliling mu. Tapi sekarang, kau bahkan mengemis hanya untuk sebuah kecupan? Wahhh.... Ini berita langka untuk Kota C, sepertinya aku harus meledakkan nya..." tukasnya merendahkan.
Mengangkat kelapa muda miliknya, "ketawa lagi?"
"Ehh, tidak, tidak. Aku hanya bercanda," masih tertawa.
Meletakkan kembali kelapa yang di pegang nya. "Setelah ini, temui aku sebagai karyawan magang di perusahaan"
"Ops, tidak bisa," menahan tangan Xi Yuan. "Baiklah katakan kau butuh apa"
Yuan melanjutkan ceritanya. "Sampai sekarang dia masih mengabaikan ku. Padahal aku sudah sangat marah padanya"
"Yu, begini saja. Bagaimana kalau...."
Mereka berbicara tentang sebuah rencana.
1 jam berlalu.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah restoran yang berada di tepi pantai.
"Mommy, Wei-Wei mau seafood"
"Baiklah. Xi Yi mau apa?"
"Aku mau makan tuna intip"
"Baik. Ibu mau pesan, Oseng telur ikan, Udang bakar, Kepiting asam pedas, Ganjang gejang (Kepiting Fermentasi), Jjamppong (sup seafood pedas), Muneo-jorim (Gurita), Kkotgetang (sup kepiting), Pangsit udang, dan Cumi bakar pedas"
"Wahh.. Kenapa banyak sekali?" tanya Chu Xia
"Tidak apa-apa, ini adalah kali pertama mereka makan-makanan laut. Biar mereka mencoba satu-persatu nanti," jawabnya
Makanan terhidang.
"Silahkan di nikmati," ucap pelayan.
"Terimakasih,"
"Xi Yi, Wei-Wei. Coba ini," meletakkan sepotong gurita penuh bumbu di mangkuk keduanya.
Mencoba, "Emmm.... Lezatnya!" seru Ming Wei.
"Waghh.... Ibu, ini juga lezat," ujar Xi Yi mencoba daging kepiting.
Tersenyum indah. "Enak, bukan?"
Keduanya menjawab, "Em..."
"Xi Yi, Wei-Wei. Ayo makan yang banyak, jarang-jarang kita bisa makan-makanan ini," ujar Chu Xia.
"Baiklah, ayo makan!!" seru mereka.
Setelah selesai makan.
"Eh, dimana mereka," Chu Xia melihat ke tempat dimana Xi Yuan dan Bo Gum berada sebelumnya.
"Apa mereka juga makan?"
__ADS_1
"Entahlah, tapi tadi mereka bilang tidak lapar"
"Sudahlah, ayo pergi...." ajak Ming Ke.
Ketika hendak keluar dari kursi, seorang penyanyi diiringi dengan gitar di tangannya, berhenti di depan mereka. Dia juga menghibur dengan lagu tentang manisnya kisah cinta.
Ming Ke yang tidak terlalu suka dengan musik mengambil langkah pergi setelah memberikan beberapa lembar uang nya untuk seorang gitaris tersebut.
Menyusul Ming Ke. "Keke, kenapa kau malah memberikannya uang?"
"Mungkin dia seorang pengamen. Lagipula kau juga tahu aku tidak terlalu suka musik,"
"Tapi sepertinya dia terus mengikuti langkah kita," ujar Chu Xia menoleh kebelakang.
Keke juga ikut menoleh, "Kau benar, kenapa dia mengikuti kita," Ming Ke mulai berfikir buruk. "Chu, bawa anak-anak masuk ke mobil atau kalian cari Yuan terlebih dahulu. Aku harus mengalihkan perhatiannya agar menjauh dari kita,"
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Kau tenang saja, aku takut dia mengincar ku dan juga anak-anak"
"Baiklah, kau ke sana. Aku kesini,"
Mereka berpencar. Chu Xia berjalan menuju tempat dimana Yuan dan Bo berdiri terakhir kali. Sedangkan Ming Ke pergi ke tempat dia bermain istana pasir dengan anak-anak sebelumnya.
"Kenapa dia terus mengikuti ku. Tuan Yu, dimana kau..." batinnya mulai gelisah.
Keke masih berjalan menyusuri pantai. Dengan sesekali menoleh kebelakang melihat gitaris yang terus bernyanyi sambil melebarkan senyumannya.
Berjalan menunduk, "Aku harus bagaimana, anak-anak sudah aman. Tapi dia masih mengikuti ku..." takut nya.
Brukk...
Dia tertabrak dada seseorang yang berdiri tegap dihadapannya. "Tuan Yu!" kagetnya senang juga memeluk Xi Yuan.
"Hei, ada apa?" melepaskan kepanikan Ming Ke.
Melihat ke arah belakang. "Puft... Kenapa? Kau takut? Oh, astaga..." tersenyum lebar.
Orang-orang mulai mengelilingi mereka berdua.
Melihat sekeliling, "Tuan, ada apa ini... Kenapa semua mata menatap kita?" khawatirnya.
"Ming Ke, jangan lihat mereka. Tatap aku saja," menggenggam wajah Ming Ke agar tetap lurus.
Keke pun menurut.
"Ming Ke, dengarkan ini. Aku tahu, selama ini sudah mengabaikan mu dan juga anak-anak kita. Aku telat datang, aku telat memberikan kalian cinta, aku terlambat dalam segala hal. Tapi, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku berjanji akan membahagiakan kalian dengan caraku, dengan semua yang ku miliki."
Xi Yuan melepaskan tangan Ming Ke yang masih melingkar di pinggang nya. "Aku akan menebus semua keterlambatan ini"
"Yuan, apa maksud mu?" lirih nya.
Xi Yuan membalikkan badan Ming Ke. "Apakah kau mau memberikan kesempatan untuk ku menebus semuanya?"
Tampaklah oleh Ming Ke, sebuah meja dorong dengan rangkaian bunga mawar merah berbentuk hati yang sangat besar juga kue 3 tingkat yang menghiasi tengah nya masuk di tengah kerumunan orang-orang di pantai.
Semua orang terpanah melihat meja tersebut termasuk Ming Ke.
"Hah!! Omg..."
"Ini sangat indah!"
"Aa... Romantis sekali..."
"Woo... Aku cemburu..."
"I-ini, ada apa?... Tapi ini benar-benar cantikk!!!" batin Keke.
__ADS_1
Xi Yuan berjalan mendekati meja dorong tersebut. "Aku tidak pandai dalam berkata manis, ini juga pertama kalinya aku tidak mengerti apa yang ku lakukan," ungkap nya tertawa bodoh, sembari mengambil kotak merah kecil di tingkat paling atas kue tersebut.
"Tapi, kau tidak perlu bimbang. Meski begitu, aku benar-benar serius dengan isi hatiku. Angin pantai, pasir putih dan juga semua yang ada disini. Mereka akan menjadi saksi, ketulusan ku padamu," membuka kotak dan berlutut satu kaki dihadapan Ming Ke.
"Xi Yuan, apa yang kau lakukan, cepat berdiri.." bujuknya.
Menatap lurus ke wajah Ming Ke. "Sayang, maukah kau menerima cinta ku yang terlambat ini?"
Ming Ke terkejut mengatup mulutnya. "Hah!" matanya berbinar melihat ketulusan pria dihadapannya.
Semua orang bersorak.
"Wohohohohoo...."
"Anak muda yang pemberani"
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!"
"Terima lah, Nona!"
"Pakai cincinnya, pakaikan!!"
Semuanya berteriak, tapi Ming Ke masih diam. Dia melirik ke arah lain, melihat kedua anak yang juga tengah menyaksikan acara tersebut.
Ming Ke menarik napas nya dalam-dalam lalu berkata, "Tuan, berdirilah..."
Seketika semuanya terdiam mendengar jawaban Ming Ke. Begitupun dengan pria yang sudah berlutut itu. Dengan terpaksa Xi Yuan mengikuti arahan tangan Keke untuk segera bangkit.
"Tuan, aku menerima baik niat mu. Aku juga sangat berterimakasih untuk segala nya, tapi sepertinya aku masih belum bisa mempercayai siapapun untuk saat ini," jawabnya sambil terus melihat kedua anak di ujung kanannya.
"Yah..." desah semua nya.
"Sayang sekali..."
"Em... Padahal pria itu sudah sangat serius..."
"Kue nya jangan di buang ya, aku juga mau"
Memukul, "heh! Kau ini, orang masih bersedih kau malah memikirkan makanan"
"Argh, sakit tau!"
Ujar mereka yang mengelilingi keduanya.
Xi Yuan menoleh sebentar kearah yang sama. Yuan kembali menarik napasnya dalam-dalam. "Hm... Sayang sekali, padahal aku sudah percaya diri akan diterima. Chk... Sungguh bodoh," gumamnya.
"Maaf," jawab Ming Ke.
"Tidak, ini bukan salah mu. Aku yang salah, karena sudah sangat terlambat memberikan ini semua," Xi Yuan menutup kotak dengan sebuah cincin berlian bermata biru di dalamnya.
"Baiklah, sepertinya kau juga sudah tidak dibutuhkan lagi," Yuan mengambil ancang-ancang ingin melemparkan nya ke pantai.
Saat itu juga keke langsung berteriak, "Jangan!!!"
Tapi tetap terlambat....
Plupp...
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Jadilah seperti yang kau inginkan, Bukan karena ingin dilihat orang lain...
__ADS_1