Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Bag Biru


__ADS_3

...****************...


Setelah beberapa saat.


"Kau siap!"


"Keke, kenapa kau mengajak ku naik perahu?"


Keke menghitung mundur, "3, 2, 1, Pegangan erat-erat, Woooohhhh....!!"


Xi Yuan terkejut ternyata perahu akan terdorong ombak besar dari arah belakang mereka. "Bwaaa...!!!" Yuan oleng di atas perahu karena tidak bersiap sebelumnya.


"Woohohoo.... Seru sekali...." ujar Ming Ke ketika perahu sudah berhenti dari dorongan ombak.


"Seru bukan..." menoleh ke arah Xi Yuan dibelakang nya.


"Ah... Tuan, kau baik-baik saja," Ming Ke memeriksa kepala Xi Yu yang terhuyung huyung.


"Kenapa kau tidak bilang akan ada ombak dari belakang?" gumamnya.


"Aku kan sudah bilang untuk berpegangan yang erat tadi,"


"Ahh... Sudahlah. Aku turun saja, kepala ku sudah hampir jatuh,"


"Baiklah, kita akhiri saja,"


Mereka pun turun dari perahu karet, lalu berganti pakaian.


Xi Yuan tergeletak di kursi santai yang berada diantara kolam bermain. Ming Ke datang dengan segelas air di tangannya.


"Tuan, apa masih sakit?"


"Em..." terus memegang kepalanya.


Anak-anak dan yang lainnya juga ikut mendekat.


"Tuan, kau kenapa?" tanya Bo Gum antusias.


"Itu, dia sepertinya m@buk akibat gelombang air,"


"Kalian main itu? Wahh... Aku mau juga!" pekik Chu Xia.


"Chk.. Begitu saja sudah K'O..." ejek Xi Yi.


Xi Yuan langsung bangkit, "mana ada, aku tidak selemah itu!"


Seketika semuanya menatap Semangat 45 Xi Yuan.


Yuan melihat semua tatapan seram di depannya. "Ahh... Itu aku-"


Ming Ke marah melemparkan botol di tangannya ke kaki Xi Yuan, "Hemph!!"


"Chk... Akting mu terlalu mudah di tebak," tugas Xi Yi.


"Kau...!!" Xi Yuan geram kepada Xi Yi yang menyebabkan Ming Ke tidak lagi khawatir padanya.


"Woo..." Ming Wei membulatkan bibirnya.


Xi Yuan mengejar Ming Ke. Begitupun dengan Chu Xia dan Bo Gum.


"Keke tunggu!!"


"Ming Ke, dengarkan aku, aku..."


Ming Ke menghentikan langkahnya, "kau puas?"


"Maaf, aku hanya ingin tahu apa kau akan khawatir jika aku terluka. Aku tidak bermaksud menipu mu,"


"Tidak bisa," tugas Ming Ke.


Chu Xia menengahi mereka, "Kalian sudahlah, anak-anak melihat tingkah kekanak-kanakan kalian"


Mereka mengedarkan pandangan kepada kedua anak nya.


"Begini saja, siapa yang dapat bertahan dari ombak dahsyat. Mereka yang akan menang dan berhak mendapatkan pelayanan penuh pihak yang kalah,"


"Ini bisa," jawab Bo Gum.


"Satu lagi, yang kalah, pulang tidak boleh naik mobil,"


"Masih ada aturan seperti itu?" tanya Bo Gum.

__ADS_1


"Baiklah!" jawab Xi Yuan.


"Yuan..." lirih Bo menatap Xi Yuan.


"Baik! Anak-anak, kalian jadi juri nya. Oke!" teriak Chu Xia.


"Oke, Bibi!!" jawab mereka.


Xi Yuan berlagak cool. "Tenang saja, kita pasti akan mengalahkan mereka," ujarnya membayangkan kenyamanan bila dapat mengalahkan mereka.


Setelah berganti pakaian, perahu satu yang dipimpin oleh Ming Ke sudah bersiap. Perahu dua yang dipimpin oleh Xi Yuan juga sudah bersiap.


Xi Yi meniup peluitnya, "Mulai!"


Ombak terdahsyat langsung mendorong kedua perahu di depannya.


Perahu pertama.


"Wooaaa.... Ming Ke, bertahan!!"


"Arghhh.... Kenapa ombaknya lebih besar!!"


"Aku yang mengaturnya!! Hwoooo..."


Perahu ke dua.


"Kau jangan oleh ke kanan!!"


"Tidak bisa, badan mu yang membawa kita terus ke kiri!!"


"Tidak! Aku pemimpin di sini, kau harus mengikuti arahan ku!!"


Kapal oleng.


"Kita akan jatuh! Xi Yuannnnnn...!!!"


"Bwaaaa!!!....." teriak keduanya.


Pluit kembali berbunyi, "Perahu dua terjatuh!... Perahu pertama pertahankan keseimbangan kalian!!" teriak Xi Yi.


"Ayo Mommy, ayo Bibi.... Bertahan!! Kalian harus menang!!"


Setelah beberapa saat.


"Ini semua gara-gara kau, aku bilang untuk mengikuti arahan ku"


"Bagaimana bisa aku mengarahkan perahu karet itu ke kiri sementara kau juga mengarahkannya ke kiri"


Xi Yuan terus berdebat. "Apa kau tidak tahu ada pusaran ombak di sebelah kanan tadi"


"Karena pusaran susulan sebelah kanan, seharusnya kau bawa badan mu ke kanan untuk bertahan bukan ke kiri"


"Tidak, kau yang salah..."


"Kau! Itu kau!" pekik Bo Gum.


"Sudahlah, kalian harus menerima kenyataan. pulang tanpa mobil," jawab Xi Yi melewati mereka.


Yuan mendekati Ming Ke, "Keke, aku adalah supir nya. Dan aku juga pasti harus memastikan keselamatan para penumpang ku, bukan?"


Chu Xia mengeluarkan SIM nya. "Tidak perlu, aku lebih handal dalam mengendarai mobil"


"Kau wanita, bagaimana kalau kalian di cegah para penjahat? Biar aku saja yang akan membawa kalian, karena kesalahan datang dari Tuan Bo, jadi kau lah yang harus menerima hukumannya," tukas Xi Yuan memandangi Bo Gum.


"Enak saja! Kau juga satu tim dengan ku!"


"Jika tahu begitu, lebih baik aku tidak masuk Tim mu,"


Ditengah pertengkaran. "Stoopppp!!"


Semua mata menuju Ming Ke.


"Kalian sudah kalah. Chu Xia akan menyetir, tidak perlu mengkhawatirkan kami, khawatirkan saja diri kalian masing-masing. Ayo," Ming Ke mengajak semuanya pergi.


"Tatah, Tuan-tuan..." Chu Xia melambaikan tangannya.


"Shh... Ini semua gara-gara kau.." ujar Xi Yuan


"Tidak! Ini karena mu!"


Blablabla....

__ADS_1


Dalam mobil


"Hehh... Mereka seperti anak-anak,"


"Tidak tahu malu, huuu," sambung Chu Xia.


"Kita berhenti ke supermarket sebentar ya, sepertinya aku akan mengalami masalah,"


Ming Ke yang paham maksudnya Chu Xia menganggukkan kepala nya. "Ya.."


Supermarket


Ming Ke, Xi Yi dan Ming Wei. Tetap berada di dalam mobil, hanya Chu Xia yang keluar.


"Kakak, apa yang ada di bag biru itu?" tanya Wei-Wei menunjuk ke arah bag biru di bawah kaki Xi Yi.


"Tidak ada, hanya 2 pasang baju tidak berguna," Yi keluar dari mobil.


"Kau mau kemana, Nak?" tanya Ming Ke.


"Buang kotoran," melemparkan bag biru ke tempat sampah. Lalu kembali masuk ke dalam mobil.


Setelah Chu Xia selesai mereka kembali melaju mobil menuju apartemen. Sementara itu di tempat lain.


"Aku ingat tadi meletakkan mereka disini,"


"Aku juga menempatkan baju ku di sisi lain baju mu"


Dua orang pria yang masih mengenakan celana dan baju renang mereka. Tengah menggeledah seluruh area ganti.


"Kemana baju ku"


"Kita sudah mencarinya, lama sekali"


"Siapa yang berani menggeser baju ku, bukannya Taman ini juga sudah ku sewa. Siapa lagi yang bisa mengambil baju kita," Xi Yuan mencoba berfikir.


"Kecuali...." Mereka saling menatap. "Xi Yi!!" ungkap mereka bersama-sama.


Yuan ingat. "Ya benar! Kau ingat saat kita berdebat tadi, dia keluar dari ruang ganti dengan bag biru ditangannya"


"Benar! Dia juga mengatakan ini _toko baju jauh dari sini_ sebelum naik mobil" menirukan logat Xi Yi.


"Xi Yi....!!" Teriak keduanya.


Dalam mobil.


"Hatciuhhh..."


"Sayang, kau sakit?" tanya Ming Ke pada Xi Yi.


"Tidak Bu, mungkin ada seseorang yang tengah menyebutku," ujarnya tahu siapa orang tersebut.


Apartemen


Ming Ke dan anak-anak juga Chu Xia tengah menikmati cemilan sambil menonton televisi.


Pintu terbuka, "Kami pulang..." dengan wajah biasa saja.


"Wah... Tidak sangka, ternyata kalian cepat juga ya jalan nya," ledek Chu Xia.


"Eih, kenapa baju kalian berbeda? Bukannya tadi pakai baju santai?" melihat baju kaus keduanya.


Mereka melirik kepada anak laki-laki yang tengah asyik dengan televisi tersebut. "Seseorang dengan sengaja membawa baju kami menggunakan bag biru miliknya," tukas Xi Yuan.


Ming Ke dan Chu Xia melihat satu sama lain. "Bag biru?" ucap keduanya mengingat kembali barang yang di buang Xi Yi di tempat sampah siang ini.


"Jangan-jangan," gumam Ming Ke tanpa memalingkan wajahnya dari Chu Xia.


Mata Chu Xia selalu memberi perintah, "Stt..."


Melihat ke arah Xi Yuan dan Juga Bo Gum. "Ah, Tuan. Hari ini sampai disini saja, kalian boleh istirahat. Selamat malam," Chu Xia mencolek Ming Ke untuk bangkit, dan juga menarik anak-anak agar segera meninggalkan ruangan.


Brakk


Pintu di banting kuat oleh Chu Xia dan Ming Ke.


...----------------...


...Qarry_Adz...


...Kamu dilahirkan untuk menjadi nyata, bukan Sempurna. ...

__ADS_1


__ADS_2