Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Teman-Teman


__ADS_3

...****************...


Keke menggenggam erat iPad ditangannya.


Xi Yuan meraih tangan Ming Ke. "Keke, dia sudah sangat keterlaluan. Meskipun kau melarang ku, aku akan tetap memberikannya hukuman yang sebanding,"


"Aku ingin pulang," jawab Ming Ke dengan pikiran campur aduk.


"Tapi, kau harus menetap di sini minimal 2 hari setelah operasi, sayang,"


"Aku bosan, aku mau pulang," Ming Ke menatap melas kepada Xi Yuan.


"Oke-oke, baiklah. Sudah jangan menangis lagi, pikirkan kesehatan mu," Xi Yuan meraih wajah Ming Ke, memeluknya erat di antata dada dan perut Xi Yuan.


Chu Xia dan anak-anak kembali masuk setelah mendengar bahwa Ming Ke kembali merasakan sakit.


Pintu terbuka


Menarik anak-anak dikedua tangannya. "Ming Ke, mereka bilang-, Eh!" Chu Xia langsung berbalik arah bersimpuh dan menutup mata anak-anak.


Chu Xia terkejut melihat pemandangan indah dan hangat itu.


"Kalian, kalian lanjutkan saja. Aku akan membawa anak-anak kembali keluar,"


"Tunggu, Chu Xia! kembali," panggil Ming Ke.


Xi Yuan berkata dengan dirinya sendiri. "Arghh, wanita ini! Baru saja aku mendapatkan kembali Ming Ke ku. Dia berani mengacaukan nya!!" matanya menatap sinis kepada Chu Xia yang melintas di hadapannya.


"Ada apa?"


"Chu Xia, bantu aku mengemasi barang-barang, aku ingin kembali,"


"Ibu kita pulang?"


"Benarkah! Eh, apa Mommy sudah sembuh?"


"Sudah Ming Wei sayang,"


"Yeayyy, pulang, pulang, pulang..."


"Ibu, kau masih membutuhkan perawatan,"


"Xi Yi tenang saja, ayah akan memanggil kan dokter profesional untuk merawat ibu mu di rumah,"


"Chk, siapa juga yang setuju kau ayah ku," ujarnya menghindari Xi Yuan.


"Anak-anak, ayo kita kembali berkemas,"


"Baik, Bibi!" ucap Ming Wei riang.


Rumah Utama Xi Yuan.


"Ayah, kita dimana?"


"Wei-Wei, ini adalah rumah ayah. Mulai sekarang rumah ini akan menjadi milik mu juga,"


"Benarkah? Ini rumah Wei-Wei! Mommy lihat rumah yang sangat besar itu punya Wei-Wei!!" ujarnya menunjuk ke arah rumah besar di depan.


Halaman Rumah


"Woahhh.... Rumah nya besar sekali!"


Mereka mengemasi barang-barang dari mobil.


Xi Yuan yang mendorong kursi roda Ming Ke. "Kau suka, sayang," membelai rambut Ming Wei.


"Suka dong! Bibi lihat, akhirnya Wei-Wei punya rumah, besar lagi..." ujarnya dengan riang.

__ADS_1


"Wahh, selamat ya Ming Wei, mulai sekarang kau tidak akan merasakan getaran petir lagi saat hujan,"


"Benar! Tapi, sebenarnya Wei-Wei juga rindu rumah Nenek," menundukkan kepalanya.


"Ayah punya 5 helikopter, 10 kapal, 100 mobil, 20 honda. Kau bisa ke sana kapan pun kau mau, sayang"


"Chk... Aku bisa menghilangkan semuanya dalam satu menit saja," tukas Xi Yi mendahului mereka.


"Salam Tuan muda, Tuan Besar, Nona Besar," mereka berbaris memberikan salam sapa seperti biasanya.


Xi Yuan masuk ke dalam rumah, diikuti dengan Chu Xia dan juga 2 sahabatnya yang menenteng semua barang bawaan mereka.


Xi Yuan berhenti di depan pengurus utama rumah nya. "Siapa kau? Aku tidak ingat pernah memperkerjakan mu sebagai pengurus utama di sini,"


"It-itu..."


"Tuan, dia pengurus rumah ku, Xiao Mi. Hari ini pengurus utama rumah mu cuti. Jadi aku menggantikannya sebelum kita kembali,"


Dua orang wanita kecil berlari dari dalam rumah.


"Mama, kakak menghancurkan lukisan ku," dia berhenti dari lari nya.


Keduanya berhenti bermain, mereka tertegun melihat keramaian di pintu rumah.


"Siapa mereka," tanya Xi Yuan.


Pelayan itu maju menarik tangan kedua anaknya, "Tuan, maaf. Mereka putri ku,"


"Masih ada anak?" menatap kepada Bo Gum.


Ruang Tamu


Setelah Xi Yuan membaringkan Ming Ke.


"Jelaskan,"


"Tuan, aku-"


"Huh... Bo, kau tahu standar untuk menjadi pelayan ku. Tapi ini?"


Ming Wei terus menatap ke arah Xi Yuan.


"Wei-Wei ada apa?"


"Ayah bolehkah aku bermain dengan mereka?"


"Tidak, kau berbeda dengan mereka," ucap Xi Yuan tegas.


Ming Wei terdiam. Anak-anak itu menyembunyikan diri di balik kaki ibu nya.


"Aku tidak mengizinkan mu untuk membatasi kesenangan adik ku," jawab Xi Yi menarik tangan Ming Wei.


"Kakak? Apa boleh?"


"Boleh dong, Ming Wei ingat yang ibu pernah katakan saat di rumah nenek?"


"Emm..." berfikir sedikit lama. "Ahh ingat! Ibu bilang, kita tidak boleh menyakiti teman. Karena teman adalah keluarga dan kita harus menyayangi keluarga. Wei-Wei benarkan, kakak?"


"Tepat sekali. Jadi menurut Wei-Wei, apakah perkataan ayah mu tadi tidak menyakiti mereka?"


Wei-Wei menatap Xi Yuan, "Ayah sudah menyakiti hati mereka, cepat minta maaf. Kalau tidak-"


"Kalau tidak kenapa, heumm?"


"Kalau tidak, kau di pecat jadi ayah ku,"


"Sayang, yang ayah katakan benar, Nak. Mereka bukan lah teman untuk mu,"

__ADS_1


"Hemph... Kau di pecat!" Ming Wei berjalan menuju kedua gadis itu.


"Mereka keluarga ku. Tapi kau tidak, Hemph..." Wei-Wei berjalan menarik tangan keduanya untuk bermain. "Ayo, kita cari tempat yang cantik!" ujarnya seketika mengubah mimik wajahnya menjadi sangat riang.


"Ming Wei!"


Seolah sedang memainkan pistøl menggunakan tangannya, lalu meniup nya. "Phiuw... Kalah," ujarnya meremehkan Xi Yuan.


"Anak ini..." gumam Xi Yuan melihat tingkah anak laki-laki itu.


"Kau, Xiao Mi 'kan. Setelah pengurus rumah ku kembali. Kau tidak perlu di sini lagi,"


"Baik, Tuan"


Yuan keluar dari rumah mencari keberadaan Ming Wei. Sementara Bo Gum melihat Chu Xia yang tengah tertawa sendiri sambil menatap Rey dari kejauhan.


"Matanya sangat tajam," gumam Bo Gum, melihat Rey yang tengah memainkan laptop nya.


Bo menghampiri Rey, "Sudah lama tidak kembali. Lepaskan benda itu, ayo ke ruang bawah tanah," ucap Bo Gum menghalangi pandangan Chu Xia.


"Hei! Anak itu! Apa yang dia lakukan, dia merusak semua pemandangan indah di sana!" gumam Chu Xia mencoba menggeser kepalanya ke kanan dan kiri mencari selah untuk melihat wajah Rey. "Si@l, dia menghalangi semua sisi"


Melihat Bo Gum yang dengan sengaja duduk di meja menghalangi. "Kenapa kau duduk di sana?" ujar Rey.


"Huh, akhirnya dia pergi juga," setelah memastikan Chu Xia pergi, Bo turun dari meja. "Tidak ada" berlalu dari sana.


"Hei! Kau tadi mengajak ku pergi ke bawah?"


"Tidak jadi!"


"Chk, dasar gila," gumam Rey melihat Bo Gum keluar dari rumah.


Di tempat lain.


"Teman, bolehkah aku tahu siapa nama mu," tanya Ming Wei.


"Kakak..." ujar gadis yang masih berusia 2 tahun itu.


"Tuan putri, nama saya Ji-ji sedangkan adik Na-na, kami bermarga Ao."


"Panggil aku Wei-Wei, marga ku Ming. Mulai saat ini jangan panggil tuan putri lagi tau..."


"Baiklah Tuan put-. Eh maksudnya Wei-Wei,"


"Ahahaa...."


Mereka tertawa bersama sembari memegang beberapa permainan anak di taman belakang rumah.


Xi Yuan yang mendengar percakapan mereka berdua. "Ao? Marga ini sedikit tidak asing," gumam Yuan.


"Tuan, ternyata kau disini"


"Bo, mereka bermarga Ao?"


"Benar, aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Mereka putri dari Ao Ting. Dan Xiao Mi merupakan istri sah yang telah di gugat cerai olehnya."


"Selidiki ini, bisa saja Ao sengaja menggunakan keluarganya untuk mencelakai Ming Ke"


"Tuan, jangan salah sangka, mereka orang yang baik. Karena Ao Ting tidak bertanggung jawab atas nafkah kehidupan mereka. Xiao Mi dengan terpaksa harus bekerja sambil merawat keduanya,"


"Kau yakin?"


"Yakin, malah karena demi bisa membuat berita negatif Ao Ting menghilang, Dia rela menjual aset peninggalan keluarganya. Agar berita itu tidak terdengar oleh anak-anak,"


"Berita negatif? Aku mau tahu semuanya dalam 5 menit. Tampaknya ini bukan hal biasa," ujar Xi Yuan memberikan perintahnya untuk Bo.


...----------------...

__ADS_1


...Qarry_Adz...


...Berjanji lebih mudah daripada Menepati. maka Berhati-hatilah...


__ADS_2