
...****************...
"Ini!..."
Merapatkan diri dengan Yu, "Tuan... Siapa mereka... Lalu ini, bukannya ini Nona Ming Ke?" ujar Bo Gum.
"Aku tidak tahu siapa mereka, yang pasti wanita berambut merah muda ini, dia adalah Chu Xia."
"Sedangkan kedua anak di samping Ming Ke... Mungkinkah ini anak-anak?..." memperhatikan dengan seksama.
Bo melanjutkan perkataannya, "Lihat! Bola mata Hitam anak pria ini menyerupai milik mu, meski dia berambut coklat seperti Keke..."
Melihat lagi, "kau benar Bo... dan wanita kecil itu memiliki rambut hitam seperti ku, namun bola mata biru laut seperti Ming Ke"
"Benar-benar benih yang bagus," ucap Rey.
Seketika Xi Yuan langsung meninggikan diri. "Apa kau tidak lihat siapa ayah nya..." merapikan rambutnya yang tidak berantakan.
"Astaga kau tidak seimut mereka, SERIGALA TUA," ucap Bo Gum kebablasan.
"Chk..." Xi Yuan rolling eyes kepada Bo.
"Rey, pergi ke kota C... Cari mereka sampai dapat... Aku mengandalkan mu..."
Rey langsung melaksanakan tugasnya, memesan penerbangan secepat mungkin menuju Kota C. Sementara Xi Yuan kembali mengangkat ponsel genggamnya dan menghubungi seseorang.
"Ada apa Yu?"
"Jika aku tidak mencari tahu, sampai kapan kau akan menyembunyikan kebenaran ini..."
"Kebenaran? Maksudnya apa?"
"Brian... Saat ini aku yang berkuasa lebih banyak dari mu, kalau tidak ingin musnah... Jangan pernah sekalipun mengkhianati perjanjian kita..."
"Kau sudah tahu!" terkejut fatal. "Yu, bukan aku sengaja, tapi sampai saat ini aku juga tengah mencari keberadaan mereka"
Berbohong untuk memperingati Brian. "Tidak perlu, aku sudah menemukan lokasi nya. Ingat, Dia masih di tangan ku"
"Xi Yuan! Kau berani mengancam ku dengan Vivian!"
"Lakukan saja tugas mu dengan benar"
Panggilan diakhiri oleh Yu.
"Si@l! Berani-beraninya dia mengancam ku dengan wanita yang ku cintai!..." kesal Brian.
Pintu kamar terbuka.
Keke keluar dari dalam kamarnya.
Berbalik, "Keke, kau mau apa?"
"Tuan, aku bosan"
"Panggil dengan nama saja, pergi gunakan pakaian tebal.. Aku akan membawa mu berkeliling"
Mereka berkeliling sampai malam menjelang, saat Ming Ke mengingat gambar-gambar kenangan dari satu tempat, Xi Yuan segera memeluk dan melarang nya.
Yuan sangat berhati-hati, karena tubuh lemah Ming Ke belum sanggup menerima memori besar selama 5 tahun itu.
Pukul 11 malam mereka kembali ke apartemen, melihat nya terlelap, Yu mengangkat Keme dengan kedua tangannya. Saat keluar dari lift. Mereka berselisih dengan Ai Ki tapi tidak menyadari nya.
Pagi Menjelang, matahari bersinar dari timur. Cahayanya menusuk-nusuk diantara bentangan tirai yang menutupi kaca kamar Keke.
Seseorang yang terbangun karena aroma makanan. "Emph... Harum sekali... Siapa yang membuat daging bakar di pagi hari..." terus mencium aroma itu dan keluar dari kamarnya.
Meja makan.
"Kau sudah bangun... Apa aku membangunkan mu..."
__ADS_1
"Bukan kau... Tapi mereka..." menatap rakus ke arah meja makan yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam olahan.
Takh... Memukul lengan wanita itu menggunakan sutil.
"Aw..."
"Pergi basuh wajah, dan juga tangan kotor mu itu,"
"Kotor! Hemp..." menarik napas lalu pergi melaksanakan tugas nya.
"Chk..." tertawa kecil melihat tingkah wanita itu.
Setelah selesai dia kembali menuju meja makan.
"Sudah..." menjulurkan tangannya.
Takh... Memukul lagi
"Awh... Apalagi sih Tuan Yu... Apa kau tidak dengar cacing ku sudah demo..."
"Daging itu milik ku, ini milik mu," meletakkan semangkuk sup walet dihadapan nya.
Berkata dengan kesal, "Apa kau bercanda! Aku tidak menginginkannya aku ma-.. Emph..." menerima suapan dari pria gagah itu.
"Kau sudah memakannya, aku tidak memakan makanan yang sudah dimakan orang lain.." masih menggenggam pipi wanita itu agar membuka mulutnya.
Menelan dengan paksa, "Kau memaksa ku! Aku mau da-"
Kembali menerima suapan.
"Cukup!" berdiri dari kursinya.
Bukannya marah, pria itu alah berkata, "Ming Ke, sup ini bisa membantu mengembalikan kesehatan mu. Memori telah hilang sebanyak 5 tahun, sementara tubuh mu masih lemah saat ini. Apa kau tidak bisa berjuang untuk diri sendiri... Hum?" mendekat, menekan kembali bahu wanita itu agar kembali duduk.
Berfikir 2x. "Tuan, terimakasih... Kau sudah merawat ku, tapi..."
"Tapi apa?..."
"Alergi! Kenapa tidak bilang dari tadi!"
"Sudah! Tapi kau menghalangi ku!"
Panik. "Keke... Apa yang harus ku lakukan,"
Keke berlari menuju bath mandi. Menyalakan air hangat dengan terus mencakar kemana gatal.
Masih panik, "lambat sekali!" melihat air yang tak kuncung penuh.
Xi Yuan memeluk tubuh Ming Ke. Setelah dirasa cukup, Yu masuk ke dalam bath bersama dengan Keke yang masih dipelukannya.
Cukup lama mereka berendam bersama. Terdengar suara panggilan dari luar kamar.
"Tuan Yu!..."
"Xi Yuan... Ini sudah telat!"
Setelah berendam lama akhirnya bintik merah di tubuh Keke menghilang.
Mereka berdua berganti pakaian lalu keluar dari kamar bersamaan.
"Batalkan rapat nya," ucap Yuan dingin.
Melihat keduanya basah rambut, fikiran Bo sudah melayang ke angkasa.
"Astaga... ternyata karena perang, sampai-sampai rapat penting pun di batalkan, puft...." batinnya sambil terus menatap keduanya.
"Kau lihat apa!" judes Ming Ke.
"Tidak... Tidak ada...." ujar Bo berbohong.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan makan.
Bo berdiri di samping Xi Yuan. "Tuan, Yu. Dia sudah di kantor mu"
"Em.." melihat Ming Ke. "Keke, aku masih memiliki beberapa pekerjaan, pastikan kau tidak keluar rumah sebelum aku kembali," memperingati.
"Baiklah..."
"Jadilah patuh," mengusap manja rambut Keke, juga mengecup kening nya dengan mesra.
"Agh! Xi Yuan bajing@n... Aku masih terlalu suci untuk melihat kemesraan kalian!..." Bo memaki dalam hati nya.
Xi Yuan berlalu dan pergi dari apartemen.
"Sepertinya aku tidak pernah mendapatkan gambaran tentang Xi Yuan, tapi kenapa aku merasa sangat tenang saat bersamanya..." batin Keke menatap kepergian punggung Xi Yuan.
Dalam lift.
"Bla bla bla..."
Mereka sedang berbincang.
"Tunggu!"
Seseorang mengganjal pintu lift menggunakan kaki nya.
Menundukkan kepala, "maaf, aku sedang terburu-buru, karena sudah terlambat,"
"Ting?" ucap Bo setelah pria itu masuk dalam lift.
Mendongak terkejut, "Agh... Tuan Yu!... Ka-kau disini"
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah Tuan, aku membeli sebuah apartemen disini untuk tinggal,"
"Kebetulan sekali,"
"Tuan, apa yang membawa mu ke apartemen ini.."
"Aku juga baru membeli apartemen di lantai ini"
"Woah... Sepertinya Tuan Yu, juga menyukai gaya modern dari apartemen-apaertemen disini"
Xi Yuan diam tidak menggubris perkataan Ao Ting.
"Bagaimana dengan proyek nya" berbicara di tengah kesenyapan.
"Semua berjalan lancar, Tuan. Target pembangunan 4 tahun sepertinya jika tidak ada kendala dalam 3 tahun akan selesai."
"Bagus, terus awasi. Proyek ini sepenuhnya berada di tangan mu. Kelak jika kau berhasil mencapai limit, kau bisa menjalankan bisnis perhotelan ini sendiri."
"Hah! Itu artinya kau menjual semuanya pada ku!" terbelalak senang.
"Emh.."
"Terimakasih, Tuan, terimakasih..."
"Tapi ingat, jangan lupakan perjanjian kita sebelumnya. Menghancurkan seekor semut liar bukanlah hal yang sulit,"
Menelan saliva nya gugup, "Em.. Aku tahu, Tuan. Aku akan membantu mu sebisa ku."
Lift terbuka, mereka keluar dari sana pergi menuju parkiran bawah tanah mengambil kendaraan.
...----------------...
...Xi Yi...
...Jangan terlalu berharap...
__ADS_1
...Karena semua orang bisa berubah...
...Dan semua bisa pergi meskipun sudah berjanji...