
...****************...
Rumah Utama Xi Yuan
Membuka pintu dan langsung berbicara, "Astaga Tuan Xi Yuan, meski sudah seminggu berlalu, tapi capek yang ku alami saat melarikan diri melewati lubang kecil dan panjang itu masih ku rasakan! Sekarang, aku hanya mengambil cuti 1 hariii... saja, kau bahkan memanggil ku lagi!" protes Bo Gum pada Xi Yuan.
"Tutup mulut mu! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian,"
"Setelah mencari tahu siapa orang yang membantu kita kemarin, akhirnya tadi pagi dia mengirimi ku pesan ini," menunjukkan pesan tersebut.
Mereka berdua membaca teks tersebut, "(Kau sudah bersusah payah mencari tahu siapa aku, baiklah kita bertemu saja, agar kau tau siapa aku)"
"Semudah itu?"
"Kalau dia tahu kita mencari nya selama ini, kenapa harus menyembunyikannya, bukankah begini lebih mudah," kesal Bo Gum.
"Sudahlah, ayo,"
Mobil bergerak menuju tempat yang sudah di janjikan.
Sementara itu di tempat lain.
"Ayo, ikut aku menemui seseorang yang sudah lama ingin bertemu dengan ku,"
"Untuk apa aku ikut, itu kan urusan mu?"
"Sekarang memang urusan ku, tapi nanti juga akan menjadi urusan mu," memegang tangan nya dengan penuh kelembutan.
Dari arah lain. "Mau kemana kalian?"
"Bertemu klien,"
"Kau urus saja urusan mu sendiri," ujar pria yang menggandeng tangan seorang wanita tersebut.
Lokasi yang di janjikan. (BAR)
"Yuan, kita sudah lama menunggu disini, apa kau yakin mereka akan datang?"
"Kita tunggu saja"
Bo meliar kan matanya, melihat dan menggoda para gadis di sana.
"Xi Yuan, coba lihat," Menunjuk ke arah depan.
"Bukannya itu Brian?" timpah Rey.
"Dan wanita yang di samping nya itu, bukankah itu.."
"Ming Ke!" ucap Yu.
Yuan berdiri dan langsung menghampiri mereka.
"Tuan Brian,"
Terkejut dalam hati. "Hah! Xi Yuan!!" Vivian terbelalak melihat siapa yang memanggil kekasihnya barusan.
"Ah Yu, sudah lama menunggu?"
"Menunggu, maksud mu?"
Mencoba melepaskan Vivian, namun Vivian terus menggenggam erat tangan Brian. "Sudah, ayo, aku sudah memesan ruangan khusus untuk kita,"
Yuan yang melihat itu langsung berpaling.
Ruangan VIP.
"Kenapa kau membawa ku kesini?"
"Tidak perlu takut, ini bar ku, dan ini ruangan milik ku pribadi, disini tidak ada kamera ataupun penyadap lainnya," melonggarkan genggaman Vivian.
"Kau sedang apa disini?" tanya Brian pada Xi Yuan.
__ADS_1
"Aku sedang menunggu seseorang,"
"Seseorang yang sudah membantu mu menyelamatkan diri dari Richard?"
"Benar,"
"Tuan, dia orang nya!" Rey tiba-tiba berbicara ditengah mereka sambil menunjukkan hasil selidikan nya.
Menoleh ke arah Rey, lalu kembali memandang Brian. "Kau?"
"Baiklah kita persingkat waktu saja. Aku Brian pria yang membantu mu lolos dari Richard,"
"Tapi kenapa?"
"Sebenarnya, saat Richard bilang akan memberikan ku hadiah besar atas keberhasilan ku malam itu, aku sudah mulai curiga" melepaskan jaket nya.
"Setelah ku telusuri ternyata, aku bukan anak kandung melainkan anak angkat nya Richard, dia sengaja mengangkat ku agar lebih mudah merebut kepemimpinan mafia warisan ayah ku untukku"
Brian melanjutkan pembicaranya sambil menuangkan bir di gelas mereka masing-masing.
"Richard ingin membunuh ku, jadi mereka sengaja mengancam Vivian menggunakan anak-anaknya agar bertunangan dengan ku."
"Dengan begitu mereka akan lebih mudah membunuh kalian berdua," lanjut Rey.
"Kau tahu darimana?" tanya Brian.
"Aku ingat, Ai Ling juga berkata seperti itu pada Ai Ki saat acara berlangsung."
"Jadi, kenapa kau menyelamatkan kami? Kami kan tidak ada dalam rencana mereka?" tanya Bo.
"Xi Yuan adalah anak kandung nya, dia tidak mau mewariskan semua nya meski itu untuk putra nya."
"Jadi maksud mu, mereka juga ingin membunuh Tuan Yu?" tanya Vivian penasaran.
"Benar, mereka ingin memusnahkan kita bertiga," ungkap Brian.
"Keluarga Ai, ingin membunuh Ming Ke karena warisan peninggalan yaitu saham kakek dan ayah nya semua di atas nama kan untuk Ming Ke," lanjut Xi Yuan.
"Aku sudah menyelidikinya,"jawab Yu.
"Sekarang semuanya sudah jelas, selanjutnya bagaimana kita akan memusnahkan pria tua itu!" ucap Bo sedikit meninggi karena kesal.
"Untuk saat ini, kita ikuti saja alur yang mereka buat, sambil memikirkan cara untuk melawan nya," ungkap Brian.
Yuan berkata, "Kau benar, dengan begitu saat ada celah kita bisa langsung memusnahkan mereka,"
"Kalian tetap harus waspada, Richard sudah lama menggeluti Mafia, jangan sampai melukai salah satu dari kita," lanjutnya.
"Baiklah, kami harus segera kembali ke kota C, jika tidak Richard akan mencurigai ku,"
Yuan ikut berdiri bersamaan dengan mereka, "Pergilah, dan... berhati-hati lah di sana," mengecup kening Vivian.
Sontak membuat semua orang di sana seperti kena cuka.
"Hei! Kenapa kau mencium kekasih ku!"
"Kekasih mu? bukannya ini semua hanya bagian dari sandiwara. Lagi pula itu bukan ciuman tapi kecupan," Xi Yuan menatap licik ke arah Brian dan Vivian.
"Sandiwara itu hanya untuk ayah mu! Tapi untuk Vivian semuanya nyata!"
"Ouh benarkah?" Xi Yuan menarik leher Vivian dan langsung *****@* bibir tipis miliknya.
Melepaskan ciuman nya, "Eumm.. Lezatt..." menarik bibir bawahnya nakal.
"Xi Yuan binatang!" Vivian melayangkan tangannya ke arah Yu.
"Eitsss... Bukannya KEKASIH seminggu mu ini ingin mengetahui apa itu arti ciuman, aku hanya menunjukkannya saja sayang," ucap Yu dengan sentuhan lembut di rambut Vivian.
"CUKUP! Kau sudah melēcehkan wanita ku!"
"Lihat, kau juga mau tau artinya melēcehkan seorang wanita itu bagaimana?"
__ADS_1
"kalian berhentilah! Termasuk kau Tuan Xi Yuan, satu kata yang harus kau ingat. AKU MEMBENCI MU!!" Vivian menarik paksa tangan Brian keluar dari dalam Bar.
Menatap kepergian mereka. "Uuh menarik. Kalian lihat betapa dia sangat mencintaiku tadi," Xi Yuan tertawa seolah dirinya sudah menang.
Rey melirik ke arah temannya, "Bo, sepertinya sahabat mu sudah gila"
"Bukan, dia sahabat mu bukan sahabat ku," merinding sambil terus melihat tingkah Xi Yuan.
Rumah Utama Xi Yuan.
Ponsel Yuan berdering.
"Hallo sayang, apa kau merindukan ku?"
"Tidak"
"Bagaimana mungkin! Ini sudah sepekan aku tidak menemani mu.."
"Mm"
"Apa kau marah?"
Terdiam.
"Sepertinya kau benar-benar marah,"
Masih hening.
"Baiklah, baiklah. Aku mengaku salah, karena pergi tanpa seizin mu," jelasnya.
"Tapi, tapi bukan aku sengaja loh ya... Aku hanya merindukan ibu ku saja,"
"Ooh,"
"Besok pagi aku akan kembali, jangan lupa tunggu aku ya... Byee honey.." mematikan ponselnya.
"Ckhh, kau juga tidak penting!" melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
Sementara itu disisi lain.
Kota C
"Bagaimana?"
"Tebakan ku memang tak pernah salah. Dia, Xi Yuan berhasil kembali ke kota A,"
"Bagaimana mungkin! Tuan Richard bahkan mengerahkan semua personil kepercayaannya untuk mencari mereka dan menutup jalur akses untuk mereka,"
Turun dari tangga, "Itu bisa saja terjadi..."
"Tuan Richard," mereka menundukkan kepala nya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" mendekati Richard.
Duduk di atas sofa. "Ai Ling, apa kau masih belum paham juga, dia itu putra ku sudah pasti dia juga mewarisi sifat kelicikan ku,"
"Tapi jika dia selamat tanpa mendapatkan luka tembak atau serangan apapun..."
"Ken-kenapa, Tuan?"
Menggoyangkan gelas bir nya, meneguk lalu meletakkan gelas tersebut dengan kasar ke atas meja, "Pasti ada salah satu penghianat diantara kita," melirik tajam ke arah Ai Ki.
"Ahh Tuan dia putri ku kami sama-sama ingin membunuh Ming Ke, bagaimana bisa dia mengkhianati,"
"Be-benar Tuan, saya tidak akan berani bermain dibelakang, mu"
Berjalan pergi meninggalkan mereka, "aku tidak bilang pengkhianat itu kau."
......................
...Xi Yuan...
__ADS_1
...Benteng pertahanan yang harus dijaga ialah Diri Sendiri...