
...****************...
Berbisik di telinga Vivian, "sayang akhirnya kau datang," senyum menyeringai lebar, dan menatap mata bulat biru laut milik Vivian dengan pesonanya.
Brian memblokir dengan tubuhnya, "Tuan Xi Yuan, harap jaga sopan santun mu dihadapan banyak orang," memisahkan Xi Yuan dari Vivian.
"Ahh maaf aku terlalu merindukannya," melangkah mundur.
Vivian bersikap acuh mengabaikan tatapan Yu.
"Vivian adalah partner ku, tolong menjauh dari sisi nya, okey"
"Baik, baik aku mengerti,"
Meraih dua gelas air dari pelayan yang lewat. "Tuan Brian, terimakasih karena kau sudah menghadiri acara ku"
Mengalihkan diri. "Vivian, mari lihat apa yang kau suka dari mereka semua," mengarahkan telunjuk tangan pada pameran perhiasan di sekeliling gedung itu.
Xi Yuan diam-diam mengikuti mereka dari belakang.
Vivian berbalik menghadap Yu.
"Bisakah kau tidak mengikuti kami, aku merasa tidak nyaman"
"Tidak nyaman di bagian mana? Biar aku yang melihat nya," mencoba menyentuh Vivian.
Menarik tangan Xi Yuan dengan cepat. "Tuan Xi Yuan, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu. Antar aku ke ruang pribadi dan tertutup"
Menarik tangan Xi Yuan menjauh dari Vivian.
Seketika mengubah wajah nya menjadi serius. "Katakan"
"Yu, Richard belum ada menunjukkan gerakannya di sana"
"Sama, disini juga lancar-lancar saja"
"Apa dia sudah menyerah?"
"Brian, aku tahu dia sama seperti ku. Dia terlihat tenang tapi percaya atau tidak dia pasti sudah merencanakan sesuatu untuk kita"
"Bagaimana dengan tanah itu?"
Menyalakan rokøk, "Tanah sudah aku atasi beberapa hari lalu, berikutnya tinggal mencari cara untuk menguasai tanah mafia milik nya yang berada di kota itu"
"Kau tenang saja itu urusan mudah, aku yang akan mengurus nya"
"Bagaimana kau akan mengurus semua itu? Kau juga tahu seberapa banyak kekuasaannya di kota C"
"Tuan Xi Yuan, apa kau tidak ingat siapa yang sudah membantunya membesarkan mafia itu, hum?"
"Ya, ya, ya, itu memang tugas mu, semoga saja kali ini kau bisa mengatasi semuanya dengan benar"
"Setelah semua tanah berpindah hak, akan lebih mudah bagi ku memerintahkan orang-orang itu untuk menyerang Richard"
"Vivian harus tetap dalam pantauan mu, jangan pernah meninggalkan nya sendiri di sana"
Menepuk pundak Xi Yuan, "Kau tenang saja Yu, aku lebih handal dalam MENJAGA seorang wanita," mengedipkan satu mata.
"Jangan coba macam-macam dengan ibu dari anak-anak ku!" mengejar kepergian Brian.
Vivian melihat dia orang itu keluar, "Brian, kenapa lama sekali"
"Maaf SAYANG," mengelus rambut Vivian, menyeringai ke arah Xi Yuan.
__ADS_1
"Kurang ajar kau!"
Setelah acara selesai, Brian dan Vivian kembali ke dalam apartemen milik Brian di kota ini. Sementara Brian sendiri menyewa hotel terdekat.
Di tempat lain.
"Tuan, Tuan muda dengan nona Vivian, mereka berpisah,"
"Em, terus awasi"
Seorang wanita masuk, "Tuan Richard, haruskah kita melancarkan serangan sekarang?"
"Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan ikut campur" berjalan menuju pintu.
"Tapi Tuan, kau bilang mau membunuh kedua putra mu dan aku hanya menitip seorang wanita saja, kenapa memerlukan waktu yang sangat panjang,"
Richard berhenti, tanpa berkata.
"Apa kau tahu, aku tidak suka melihatnya bahagia, baik itu dengan Xi Yuan ataupun Brian," lanjutnya
Richard berkata, "Atasi dia," memerintahkan anak buahnya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan! Lepaskan aku!"
Mereka membawa Ai Ling Ke kamar nya lalu mengunci kamar tersebut.
"Keluarkan aku! Keluarkan!!"
Mengacak rambutnya kasar. "Aghh si@l! Jika aku bisa membunuh Ming Ke tanpa harus mengkhawatirkan Yu ataupun Brian, dari awal itu sudah ku lakukan. Dan tidak akan menunggu lama seperti ini!"
Kota A
Balkon Apartemen Brian
"Ya Brian, ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya memastikan apartemen itu nyaman untuk kau tinggali"
"Ahh tempat nya bagus dan terawat, tenang saja aku nyaman kok"
"Baiklah jika begitu pergi tidur, besok pagi kita sudah harus kembali ke kota C, jangan biarkan Richard ataupun ibumu mencurigai kita"
"Baik, sesuai perintah mu saja"
Melangkah masuk, menutup pintu balkon lalu menutup nya kembali dengan tirai menggunakan tombol dekat dinding.
Saat berbalik, "Ahhh!!" pekik nya menutup wajah dengan tangan dan juga helaian rambut panjang nya.
"Tenang Vivian, ini aku"
Membuka dan melihat, "Hak! Xi Yuan!"
"Apa yang kau lakukan disini!"
"Aku hanya mampir dan melihat-lihat Apartemen di gedung ku ini masi di tempati atau tidak,"
"Gedung mu?" menatap heran.
"Yeahhh... Ini gedung pencakar langit milik perusahaan ku kami juga menjual belikan beberapa apartemen mewah disini, salah satunya yang di miliki oleh Brian ini"
Menunduk berfikir lalu menatap tajam Xi Yuan. "Bukannya perusahaan keluarga Xi mengelola perhiasan? Apa kau sedang menguntit ku!"
"Penguntit? Sepertinya tidak, aku hanya memastikan saja"
__ADS_1
"Kau bagaikan setan dimalam hari! Apa aku bodoh percaya dengan kata-kata mu! Apa kau begitu sibuk hingga tidak memiliki waktu lain melihat-lihat disini!"
"Aku sudah bilang sekalian mampir," tersenyum smrik jahat.
"Ahh sudahlah, aku juga tidak punya waktu berdebat dengan mu," mengambil langkah kanan ingin meninggalkan.
Xi Yuan menghalangi pergerakan Vivian dengan tangan kirinya, Vivian melirik malas lalu kembali mengambil langkah kanan, tapi Xi Yuan lagi-lagi memblokir nya dengan tangan lain.
Menepuk jidatnya dengan tangan, memutar badan menatap wajah Xi Yuan, "Tuan Yu, aku sudah lelah. Jika kau ingin memeriksa, periksa saja, aku tidak mencampuri urusan mu,"
Merapatkan diri ke tubuh Vivian yang sudah tertempel di dinding. "Benarkah? Lalu bisakah aku memeriksa yang lainnya?"
"Periksa saja sesuka mu, dan izinkan aku pergi dari sini," Vivian ingin mengambil langkah dengan menundukkan kepalanya, berharap bisa lolos dari blokiran kedua tangan Xi Yuan.
"Baiklah, jika kau mengizinkan ku, maka aku tidak akan sungkan lagi!" melepaskan tangannya,
Menggendong Vivian ala karung beras, "Tuan Yu, apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" memukul-mukul pundak Xi Yuan.
Plakk. "Jangan berisik," menepuk bokøng Vivian.
Yuan membawa nya masuk ke dalam kamar, menurunkan wanita itu di atasnya. "Bukannya tadi sudah di beri izin, aku juga tidak akan sungkan,"
"Bi@d@p kau! Aku tidak bilang begitu! Lepaskan tangan ku!!" memberontak.
Menindih kaki Vivian, tangannya menahan kedua tangan Vivian, tangan lainnya membuka dasi dan juga kancing jas nya.
"Benarkah?" menyeringai senang.
Memikirkan kembali ucapan Xi Yuan sebelumnya. "(Lalu bisakah aku memeriksa yang lainnya?)" Vivian melotot terkejut setelah memahami betul perkataan tersebut.
Sambil menarik nafas, "Hem..." menatap tajam ke arah Xi Yuan yang sudah membuka semua kancing baju nya.
"Jadi itu maksud mu! Tuan Yu, kau nakal! Kau menjebak ku!" terus mencoba memukul Yu.
"Sttt.... Mari lakukan saja"
Tep...
Tiba-tiba saja lampu apartemen mati.
"Arghh!!" teriakan melengking keluar dari mulut Vivian.
Xi Yuan sebagai korban teriakannya, "He Yakk! Vivian kau membuatku tuli!"
Tidak menjawab namun Vivian langsung menangis memeluk Xi Yuan yang masih menumpangi tubuhnya.
"Huaa..."
"Hei kenapa kau menangis? Sudah tenang lah aku akan mencari lampu, kau tunggu disini sebentar," perlahan melepaskan pelukan Vivian.
Namun Vivian malah semakin memeluk nya erat, "Tidak! Tidak! Jangan tinggalkan aku! Aku-aku-"
Membalas pelukan Vivian, "Baik, baik, aku tidak akan melepaskan pelukan ini, tapi bisakah kita cari ponsel ku dulu"
Mereka bergerak mencari ponsel masing-masing, dengan tubuh Vivian yang tetap berada dalam pelukan Xi Yuan.
......................
...Ai Ling...
...Bahagia paling sederhana...
...ialah tersenyum dan mensyukuri apa yang kamu punya...
__ADS_1