Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Lorong


__ADS_3

...****************...


Tingg


📩 pergilah ke sini. Jalur sangat kecil kalian bisa meninggalkan kendaraan itu di rumah tua tidak jauh dari sana.


"Rey, Bo, aku tahu kita harus kemana,"


Xi Yuan mengarahkan Rey untuk mengikuti lokasi yang dikirimkan seseorang tersebut.


Setelah sampai lokasi, mereka tetap harus waspada, karena pesan ini bisa saja jebakan musuh.


"Rey, bawa ini. Bo, kau... emm... " Yuan meminta Rey membawakan beberapa barang miliknya dan berhenti berkata ketika melihat Bo juga terluka.


"Ahh kau tenang saja bukannya hanya sebuah laptop dan ransel, itu mudah..." sambil memboyong ransel dan juga laptop.


Sementara Xi Yuan membawa senjata yang sempat Rey ambil saat berperang tadi.


"Cepat, cepat, jangan sampai mereka mengetahui kita"


Bo dan Rey sudah melangkah menjauh dari mobil, tapi tidak dengan Xi Yuan.


"Tuan Yu, apa yang kau lakukan, ayo cepat," pinta Bo.


Xi Yuan berlari kecil menyusul mereka, "sudah, ayoo..."


"Yu, apa yang baru saja kau letakkan di sana?"


"Itu alat pendeteksi musuh dan juga kacamata yang kau serahkan tadi,"


"Kenapa kau meninggalkan nya!" ucap Rey menghentikan langkah nya dengan sedikit kesal.


"Kita lihat saja nanti,"


"Astaga Tuan Yu sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan," berjalan menyusul Xi Yuan.


Bo mulai merasakan penat, "Yuan, berapa lama lagi kita harus berjalan? Aku sudah lelah,"


Dorr


Dorr


Dorr


Mendengar suara tembakan dari arah rumah tua itu Xi Yuan langsung bisa menebak, "Mereka datang!"


Xi Yuan menarik tangan Bo dan juga Rey.


"Ayo cepat, tempat persembunyiannya sudah dekat!"


Mereka mempercepat langkah beberapa menit dan sampai di semak belukar.


"Yu, kau yakin ini tempat nya!" Rey melihat sekeliling lokasi tersebut.


"Hentikan omong kosong mu! mereka sedang mengejar langkah kita," Xi Yuan meraba-raba semak tersebut.


Bukh


Bukh


"Dapat! Ayo cepat bantu aku membuka nya,"


"Sudah semak belukar, sekarang membuka malah semakin konyol, berusaha membuka besi tua seperti ini," cerewet Bo.


"Terbuka!" Xi Yuan tersenyum lebar.


Yuan menarik tangan Rey, "Cepat masuk!"


Bo yang terlebih dahulu masuk kedalam, "Woahh ternyata disini ada tempat persembunyian bawah tanah, keren sekali,"


Disusul Rey. Berhubung pintu tersebut kecil, mereka hanya bisa masuk satu-persatu saja.


Xi Yuan melemparkan barang-barang mereka dari atas.


"Hati-hati, tangkap dengan benar," ujarnya Yu.


Melihat Bo Gum masih mengagumi tempat itu membuat Rey yang menerima semua lemparan Xi Yuan marah. "Hei! Apa yang kau lakukan, cepat bantu aku menangkap ini,"


Melihat Rey, "Aku tidak berminat, tangan ku kan terluka," lalu meninggalkan Rey sendirian di sana.


"Lihat saja aku akan mengutuk mu!" pekik Rey sembari menangkap barang-barang itu.

__ADS_1


Gemuruh langkah kaki anggota Richard semakin terdengar.


Lemparan terakhir. "Cepat ambil ini, mereka sudah disini,"


Dengan cepat Xi Yuan menuruni anak tangga pintu tersebut dan tidak lupa menutup nya kembali dari dalam.


"Uhh... Akhirnya kita selamat," ucap Rey.


Xi Yuan langsung membuka komputernya.


"Apa yang kau cari?"


"Aku hanya melihat apa mobil kita masih baik-baik saja atau tidak,"


Yuan melihat sekitar rumah tua tersebut, dan benar saja mobil yang mereka kendarai tadi, kini sudah di musnahkan.


"Yu, kau yakin mereka tidak akan menemukan kita?"


Yu kembali mengotak-atik komputer tersebut yang mengarah ke penyadap suara yang di letakkan Yuan sebelum masuk kedalam.


Grebukk


Grebukk


Langkah kaki mereka melewati alat sadap Yu,


"Lihat ini,"


"Ini pasti milik mereka,"


"Cepat cari!"


Yuan bertanya, "Siapa yang meninggalkan jejak?"


"Aku tidak meninggalkan apa pun," jawab Rey.


Bo memeriksa seluruh badannya, "Gawat! sepertinya itu ponsel ku!"


"Kau ini ada-ada saja! ponsel mu lebih banyak data penting dari pada ponsel ku!" bentak Rey


"Rey lakukan sesuatu, sebelum mereka melihat nya, tolong, tolong," ucap Bo sambil memohon


"Huh syukurlah masih sempat,"


"Lain kali kalau tertinggal lagi, kau yang akan ku tinggalkan di lautan hiu tuan Yu,"


"Sudah, sudah. Sepertinya mereka sudah pergi, sebentar lagi matahari terbit, kalian istirahatlah dulu," pinta Xi Yuan.


Pagi Hari


"Yu, apa yang kau lakukan? Kau tidak tidur?"


Menggelengkan kepalanya. "Aku mencari tahu siapa pengirim pesan itu,"


"Oh iya, dimana Ai Ki kalian tinggal kan"


"Dia bersama Ai Ling terakhir kali, setelah itu kami tidak melihat nya"


"Aku tidak dapat menemukannya, tapi nomor itu berasal dari kota A,"


"Kenapa bisa kota A? Bukannya kita sedang di kota C?" ucap Rey.


Rey bergerak membuka laptop milik nya. "Xi Yuan, kabar baik!"


"Ada yang mengirimkan cara keluar dari kota ini dengan aman"


Yuan melihat nya.


"Ayo kita lakukan,"


Mereka bersiap-siap keluar dari sana. Dengan langkah pelan dan hati-hati mereka berhasil keluar dari semak belukar tanpa diketahui orang nya Richard.


"Kita sudah seperti buronan yang dikejar polisi," ujar Bo


"Jika itu polisi aku masih bisa melawannya, setidaknya mati satu langsung habis, kalau ini mati 1 yang datang 10,"


"Mm kau benar sekali, entah berapa jumlah mereka semua,"


Mereka berdua terus mengobrol disela-sela pelarian, sementara Xi Yuan masih mengamati kemana jalan itu.


Langkah Yuan berhenti tepat di depan sebuah lorong kecil seperti gua.

__ADS_1


"Yuan, apa yang akan kita lakukan disini,"


"Lorong ini punya lebar sekitar 1 meter, untuk panjang sepertinya tidak terlalu panjang,"


"Rey, kau bawa ini," menyerahkan tas ransel pada Rey.


"Bo, kau masih bisa menggerakkan satu tangan kan?"


"Kenapa kau selalu memperhatikan ku Tuan Yu, bahkan luka di tangan mu lebih parah dibandingkan dengan milik ku," Bo menggeleng dan langsung masuk mengikuti Rey.


Mereka bergerak dengan cara tiarap didalam lubang itu.


Sudah hampir 7 jam mereka terus bergerak mencari ujung lorong tersebut.


Setelah 10 jam berlalu akhirnya mereka keluar dari lubang itu.


"Lihat, itu kendaraan nya,"


Bo menunjuk ke arah kendaraan yang sudah diatur orang tersebut.


Masuk kedalam mobil.


"Untuk ke kota A kita hanya perlu mengikuti peta ini saja," Rey menyetir sambil terus melihat arahan peta tersebut.


"Menunduk!!"


"Ada apa, Yu"


"Rey, jangan terlalu gegabah, jangan terlihat mencurigakan juga," Yuan menunjuk ke arah mobil-mobil yang mendahului mereka.


"Dragon-Wolf, ternyata mereka juga memasang stiker murahan itu di mobil mereka," ucap Rey.


"Bukan, sepertinya itu mengawal Richard,"


"Mm ada benarnya sih yang kau katakan Yu, mana mungkin mobil anggota bisa semewah itu," lanjut Bo.


"Biarkan mereka memimpin, kita ikuti saja peta ini,"


"Baik Tuan Yu,"


Mobil berputar-putar, belok kanan, belok kiri, masuk kedalam pedesaan, jalan lagi dari kota, masuk ke dalam Gg kecil, sampai melewati hutan-hutan, semua mereka lalui.


"Waahh ini sudah seperti mencari harta karun ya"


Ucapan Bo tidak di gubris oleh keduanya.


Apartemen Xi Yuan.


Setelah beberapa jam di perjalanan. "Sampai!" ujar Rey membangunkan Bo.


"Uuhh akhirnya sampai juga di kota A yang ku cintai, kota terdamai, dan ternyaman ini,"


"Sudah ayo masuk!" mendorong Bo dari belakang.


Mereka masuk, membersihkan diri lalu beristirahat.


Tit-tit


Tit-tit


Suara ponsel Bo Gum yang bergetar.


"Mm apa?"


"Aku di bawah, cepatlah, Tuan sudah menunggumu," langsung mematikan ponsel nya.


Seketika membangkitkan kepala nya. "Whatttt??? Kerja!"


Melemparkan ponselnya ke selimut, "Bukannya aku sudah izin cuti!"


Kembali menenggelamkan tubuhnya di atas kasur. "Ouhh rasanya aku ingin hidup di zaman batu saja agar bisa tidur, makan, lalu tidur lagi," Lirih Bo Gum


......................


...Ming Ke...


...Jangan jadikan orang tua mu sebagai jembatan ...


...Tapi jadikan lah mereka sebagai alasan...


...kenapa kau berjuang untuk sukses...

__ADS_1


__ADS_2