
...****************...
Ming Ke berjalan menghampiri Charles ke ruang penyimpanan sayuran mentah kantin.
"Chef, kau sudah kembali?"
"Sudah, aku hanya membeli jamur. Kebetulan stok jamur sudah habis,"
"Apa yang akan kita buat selanjutnya?"
"Aku berfikir untuk membuat Enoki Gochujang, tapi setelah di pikir-pikir itu cukup pedas untuk anak-anak. Bagaimana dengan sup daging sapi dengan jamur emeji?"
"Menurutku itu lebih sesuai untuk mereka,"
"Baiklah, aku akan membawa ini, ini dan ini. Kau bisa bantu aku mengambil beberapa barang lagi?"
"Tidak masalah, aku akan membawakannya," ucap Ming Ke.
Xi Yuan kembali mendekat dengan Ming Ke. "Sini, biar aku saja. Kau tidak di perbolehkan mengangkat beban,"
"Aku bisa,"
"Tidak terima bantahan," ujar Xi Yuan menepis tangan Ming Ke.
Xi Yuan terus saja mengusik pekerjaan Keke. Saat Ming Ke membalik panggangan daging, "jangan pegang itu, tangan mu akan terbakar."
Ketika mengiris bumbu, "Nanti jari mu terpotong, biar aku saja,"
Mencuci sayuran, "Biar aku saja,"
"Biar aku saja,"
"Biar aku saja,"
Charles terus memperhatikan betapa Xi Yuan ingin mengerjakan semua kesibukan Keke. Dirinya merasa tindakan itu terlalu berlebihan. Tapi itu semua demi seseorang yang di cintai nya.
Bahkan Charles merasa sifat dinginnya Xi Yuan langsung mencair saat bersama dengan Ming Ke. "Puft... pasangan bahagia ini," gumamnya dalam hati.
"Tuan Yu! Sudah cukup! Jika semua nya kau yang mengambil alih, kapan aku akan belajar!" kesal Ming Ke.
"Tapi aku tidak ingin kau terluka, apalagi saat ini kau masih seorang pasien," dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Menarik napas panjang lalu menghembuskan nya, "Aku sudah baikan. Tuan bisakah kau tidak mengacau lagi?"
Melihat tatapan Ming Ke, Xi Yuan tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauannya. "Baiklah, tapi kau harus berjanji tidak akan terluka lagi,"
"Iya, iya aku tahu,"
Di sela-sela itu asisten cadangan Xi Yuan menghampirinya. "Tuan, aku sudah meletakkan beberapa dokumen yang memerlukan tanda tangan mu di atas meja kantor mu,"
"Tuh, lihat... Seseorang bahkan lebih sibuk, sempat-sempat nya mengacau pekerjaan orang lain," sindir Ming Ke.
"Em. pergilah," jawab Xi Yuan tidak senang kepada asisten tersebut.
Xi Yuan mendekatkan diri, memeluk Ming Ke dari belakang. "Aku akan bekerja, setelah selesai ingat mengantarkannya untuk ku cicipi," ucap nya manja.
"Iyaa... pergilah..." usir Ming Ke.
Xi Yuan meninggalkan Ming Ke dan juga Charles di dapur kantin.
Di tempat lain, Mall.
"Hosh... Hosh..." menarik napas lagi, "Huuuu..... Bwahahaha... Bibi ini seru!!" teriaknya.
"Kau suka?!"
__ADS_1
"Iya!!" jawab nya.
Setelah permainan selesai.
"Bagaimana? Sudah lelah?" tanya Su Nian-Nian membawakan minum untuk Chu Xia dan juga Ming Wei.
"Belum, kita baru memainkan 2 permainan. Bermain sepatu roda juga perang mobil. Aku ingin mencoba permainan itu. Bibi, boleh 'kan?" Ming Wei menunjuk pada permainan panjat tebing.
"Kau cengeng, kalau jatuh. Bibi juga yang akan di salahkan ayah mu," sahut Xi Yi ditengah keheningan nya.
"Tidak! Wei-Wei sangat pemberani..." bangga nya menenteng tangan.
"Cengeng..." terus mengolok-olok si adik.
"Tidak! tidak! Tidakkkk! Bibi, lihat Yi-Yi..." dengan tatapan kasihan.
"Tuh kan sudah mau nangis,"
"Sudahlah Xi Yi, jangan membuat adik mu kesal.." jawab Chu Xia.
"Kau mau bermain itu kan? Baik kali ini Bibi Su Nian-Nian yang akan menemani mu, boleh?"
Mengangguk-angguk kepala nya, "Em.. Em... Yeyy... Saatnya bermain lagi!" teriak Ming Wei.
Setelah Ming Wei dan Su Nian-Nian pergi bermain, Chu Xia mendekatkan diri pada Xi Yi yang tengah asyik dengan laptop baru nya.
"Kau sedang apa?" tanya Chu Xia.
"Tidak ada," secepat kilat menutup halaman yang di kunjungi nya sebelumnya.
Seorang wanita berteriak dari samping kanan. "Anak-anak!"
Xi Yi dan Chu Xia menoleh ke arah sumber suara. "Ai Ki?" sahut keduanya.
"Wahh... Kebetulan sekali, ternyata kalian juga bermain di Mall ini,"
"Klien mengubah tempat pertemuannya, dan siapa sangka kalian juga memilih Mall ini," jawab Ai Ki.
"Sayang, kau sedang apa?" duduk di samping Xi Yi.
Xi Yi berdiri pindah tempat. "Jangan kira aku tidak tahu siapa kau, hentikan panggilan menjijikkan itu," sahut Xi Yi setelah duduk kembali.
"Xi Yi, tidak boleh begitu," ucap Chu Xia.
"Tidak apa-apa, mungkin dia belum terbiasa dengan ku," jawab Ai Ki, padahal. "Huh... Dasar anak ini, jika bukan karena Xi Yuan, aku juga malas mendekati mu," batinnya, sambil terus tersenyum kepada Xi Yi.
Mereka terdiam untuk waktu yang lama. Waktu sudah menunjukkan pukul 01, Chu Xia memanggil Su Nian-Nian dan Ming Wei untuk mengakhiri permainan untuk makan siang.
Melihat ke arah Chu Xia, lalu melirik kepada wanita di samping nya. "Hah! Mommyyy... Kau disini!" berlari mendekati Ai Ki.
"Ahaha... Iya sayang," sahut Ai Ki membalas pelukan Wei-Wei.
"Ming Wei, ayo pergi ke sana," Chu Xia menunjuk pada resto kecil di dalam Mall.
"Ayo! Mommy juga ikut 'kan?"
"Ikut dong, mommy juga lapar..." jawabnya sambil terus menggandeng tangan Ming Wei.
Selesai Makan.
Melihat kedua anak-anak di hadapannya, Ai Ki memikirkan ide buruk. "Saat ini Ming Ke pasti di sana," batinnya.
"Pelayan, tolong bungkus seporsi makanan dengan menu utama kalian," pinta Ai Ki pada pelayanan resto.
"Baik, silahkan di tunggu,"
__ADS_1
"Mommy, apa kau masih lapar?"
"Tidak, mommy akan membawakan ini untuk ayah mu,"
Ming Wei tergugah, "Ayah belum makan?"
"Ayah mu seorang pekerja keras, bahkan untuk makan saja dia sering terlambat," jelas Ai Ki.
Pelayan datang dengan pesanan Kiki. "Nona, milik mu,"
"Terimakasih," mengambil nya. "Semuanya duluan ya," pamit Ai Ki.
Mereka tidak menggubris nya.
Tapi tidak dengan Ming Wei, "Mommy tunggu!"
"Kena kau," batinnya Kiki. "Iya, Wei-Wei. Ada apa?" memutar badannya.
"Mommy mau bertemu ayah, 'kan? Apakah Wei-Wei boleh ikut?"
"Tidak!" jawab Xi Yi.
"Kakakk! Wei-Wei juga mau melihat ayah..."
Su Nian-Nian ikut membantu Xi Yi berbicara, "Ming Wei, kantor adalah tempat untuk bekerja bukan untuk melepaskan rasa kangen," ucap nya menyindir Ai Ki.
"Tapi Bibi..."
"Wei-Wei tidak boleh menggangu ayah loh... Ingat tidak nenek pernah hilang apa?" ujar Chu Xia.
"Wei-Wei tidak boleh mengganggu orang tua yang sedang bekerja," jawabnya lirih.
"Nah, itu ingat..."
"Mommy apa kita benar mengganggu ayah?" tatap nya ke atas.
"Tidak dong sayang, saat ini ayah mu sedang istirahat." bujuk Kiki agar Wei-Wei ikut dengannya.
"Bibi, Wei-Wei mau ikut. Janji tidak akan mengganggu ayah, setelah mengantarkan makan siang nya kami akan langsung pulang, janji!" ucap Ming Wei menyodorkan jari kelingking nya.
Melihat Wei-Wei yang kukuh akan ucapannya, Chu Xia, Su Nian-Nian dan juga Xi Yi. Tidak dapat menghalanginya lagi.
"Baiklah, kau harus janji untuk berhati-hati,"
"Baik bibi Chu!" jawab Wei-Wei dengan penuh senyuman ceria.
Ai Ki berhasil membawa Ming Wei pergi dari mereka. Kiki langsung bergegas menuju perusahaan Xi Yuan dengan ditemani anak ini. "Kita lihat, apa yang akan terjadi selanjutnya," batin Kiki sambil terus memandangi anak kecil itu dengan senyuman liciknya.
"Kita sampai..."
"Woahhh... Besar sekali perusahaan ayah," ucap Ming Wei mengagumi perusahaan Xi Group.
"Ayo masuk," Ai Ki menggandeng tangan Ming Wei memasuki perusahaan.
Para awak perusahaan, karyawan-karyawan yang melihat itu. Semuanya menaruh perhatian pada Ming Wei yang sangat imut.
Ai Ki keluar dari lift menuju kantor Xi Yuan. Selang beberapa detik, Ming Ke juga keluar dari Lift dan berjalan menuju kantor Xi Yuan juga.
"Ayahh!...." teriak seorang gadis kecil.
Xi Yuan menoleh ke arah suara itu berasal.
...----------------...
...Qarry_Adz...
__ADS_1
...Jadi orang tua tidaklah mudah, apalagi seorang ibu. Dia akan tetap disalahkan sampai kapanpun meski kesalahan itu berasal dari anaknya sendiri. ...
...Hargai selagi ada. Do'akan jika sudah tiada...