
...****************...
Berjalan mendekat, tangan melayang hendak menampar wajah Ai Ki.
Ai Ki memblokir tamparan itu, lalu membalas tamparan ke wajah Xiao Mi.
"Xiao Mi... Sebaiknya kau tidak mencari keributan dengan ku disini," menahan kuat pergelangan tangan Xiao Mi.
"Kau lah yang merusak rumah tangga ku dengan Ao Ting! Aku sudah berjuang merawat kedua anak ku tanpa bantuannya dan kali ini dia berjanji akan menyerahkan saham itu sebagai ganti nya!"
"Jangan mim-!"
Pintu apartemen terbuka oleh seorang pria.
Melihat hal itu Ai Ki memulai sandiwara nya.
Dengan tangan Xiao Mi yang masih di pegang nya, Kiki membuat seolah dia telah di dorong. "Akh... Nona aku tidak bermaksud pergi ke sini, kenapa kau marah pada ku," bertingkah sebagai korban.
Ao Ting, "Xiao Mi! Apa yang kau lakukan pada Kiki!"
"A-aku tidak melukai nya Suami ku"
Membantu Ai Ki. "Kita sudah berakhir! dan aku meminta mu kesini untuk mengambil alih saham itu sebagai tanggung jawab ku pada anak-anak, aku juga sudah berkata untuk tidak menyalahkan Kiki!"
"Tapi aku benar tidak mendorong nya Ting," mencoba meyakinkan.
Ai Ki bertindak, "aduh kaki ku... sakit sekali Ao Ting," memeluk separuh badan Ao Ting dengan sengaja.
"Lihat kau sudah membuat Ai Ki menderita!" menarik napas dalam-dalam. "Hufh.. Sudah lah Xiao Mi, kita sudah berakhir... Pergilah... Aku tidak ingin menyakiti mu demi anak-anak," membopong Ai Ki menuju sofa.
"Bagaimana dengan janji mu!" dengan nada sedikit meninggi.
"Janji?... Maksudmu saham?... Kita batalkan itu, aku akan memberikan 2juta Land setiap bulan nya untuk kalian,"
"2juta Lan? Kau tidak masuk akal! Itu mungkin hanya cukup untuk makan kalo sehari-hari saja! Sementara mereka sudah mulai sekolah"
Menyeret Xiao Mi keluar dengan paksa. "Enyahlah! Jika masih kurang juga aku bahkan tidak akan membiayai kalian!"
Pintu ditutup keras, Xiao Mi berkali-kali mencoba untuk masuk lagi, tapi semua usahanya sia-sia. Dia berjalan dengan linglung menuju lift.
Berpapasan dengan Bo Gum dan Dokter.
Bo berhenti, meminta dokter untuk mendahului nya. "kau masuk saja ke ruang 125, aku akan menyusul,"
Menghampiri Xiao Mi. "Halo, maaf apa kau jika aku tidak salah ingat... apa kau ibu Xiao Mi?"
Mengangguk.
"Ternyata benar kau! Em.. Ada apa dengan raut wajah mu?"
"Siapa kau?"
"Aku pria yang kau tolong waktu itu, kau ingat?"
Mencoba memperhatikan dengan jelas, "Emm.. Ahh... Kau pria yang menyelamatkan anak ku dan terluka waktu itu, iya aku ingat!"
Tersenyum malu, "apa yang kau lakukan disini?"
"Cukup rumit, intinya aku tidak punya pekerjaan dan harus menghidupi kedua anak ku mulai sekarang,"
"Kau mau bekerja sebagai pelayan? Kebetulan aku baru saja membeli rumah tidak jauh dari kota, tapi karena pekerjaan yang menumpuk aku tidak sempat membersihkannya setiap waktu..."
"Aku mau! Tapi... mungkin tidak bisa sampai malam hari, ada anak yang harus ku jaga"
"Kau bawa saja mereka, aku juga jarang menempati rumah itu"
"Benarkah! Terimakasih untuk mu, Tuan.." memberikan hormat.
"Aku masih ada urusan, ini kartu namaku"
__ADS_1
Mereka berpisah.
Apartemen 125
Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Ming Ke, saat ini wanita itu juga sudah sadar dari pingsannya.
"Tuan Yu, aku sudah selesai. Dia belum bisa mengingat untuk satu minggu ke depan, soalnya efek obat terlalu kuat untuk tubuh lemah nya saat ini,"
"Aku paham, pergilah."
Dokter keluar dari apartemen itu.
"Bo, panggil Su Nian-Nian untuk menemui ku di kantor besok siang setelah rapat selesai,"
"Baik, Tuan Yu"
Xi Yuan kembali masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana? Apa yang kau rasakan?"
"Aku merasa lemas, tapi sungguh tidak apa-apa,"
Yu menyuapi bubur yang sudah dibuat nya kepada Keke.
"Tuan, aku masih kenyang"
"Makan apa... Bahkan sarapan pagi sudah kau lewatkan"
Menyuguhkan agar Keke membuka mulut nya. Sementara Keke tidak bisa berkata-kata lagi selain menuruti kemauan nya.
"Emh... Ini sangat lezat," menutup matanya dengan senyuman, juga menggelengkan kepala nya.
Memperhatikan dengan jelas, "Booohooo... Dia sangat imut," batin Xi Yuan melihat tingkah Ming Ke.
"Tuan... Tuan..." melambaikan tangannya di wajah Yu.
"Aku bertanya, dimana kau membeli bubur ini..."
"Di bagian selatan gedung," berbohong.
"Sepertinya aku bisa membeli ini lain kali, ini sangat lezat, khihi..." batinnya.
Selesai makan.
"Ming Ke, jangan mengingat apapun dulu... tubuh mu belum bisa menerima nya"
"Emh.. Tapi tadi sepertinya gambaran 2 anak kecil melintas difikiran ku dan aku juga. Ahk..." memegang kepalanya.
Memegang tangan Keke. "Hentikan Ming Ke! Jangan ingat itu lagi, aku akan membantu mu pulih sedikit demi sedikit..."
"Baiklah... Mmm Tuan, kenapa kau begitu gigih ingin membantu ku?"
Yuan bergerak membawa pergi piring kotor. "Kau akan tahu nanti"
Melihat Xi Yuan membuka pintu kamar, "09!... Tuan, aku tidak tahu alamat apa ini... Tapi itu selalu mengganggu ku,"
"Aku akan mencari tahu." Yuan pergi meninggalkan Keke.
Ruang tamu
Menghubungi seseorang.
"Ya, Tuan"
"Alamat dengan angka, itu hanya terdapat di Kota C. Cari tahu alamat 09, segera beritahu jika menemukan sesuatu,"
"Siap"
"Bagaimana dengan wanita dan juga dua anak yang aku inginkan..."
__ADS_1
"Sampai saat ini kami masih mencarinya, Tuan"
"Perluas medan pencarian, aku beri waktu 2 hari lagi... Jika gagal kalian yang akan menghilang dari dunia ini"
Nada takut, "Ba-Baik, Tuan"
Berbalik badan menghadap Rey yang sedaritadi menunggu nya.
"Katakan"
Rey mulai berbicara, "Yuan, dari setiap informasi yang aku dapatkan, sepertinya Brian lebih mementingkan Mafia peninggalan ayah nya dibanding dengan harta Richard"
"Jadi, bisa dikatakan saat ini dia memang bersungguh-sungguh tanpa ada dua muka membantu kita melawan Tuan R..."
"Kau bisa mempercayai nya saat ini, tapi juga harus siaga... jika dia memutar balik serangan, kita tidak akan mampu melawan Mafia milik nya,"
Xi Yuan terdiam sesaat memikirkan perkataan Rey. Tidak lama dari itu Bo Gum masuk diantara mereka.
"Xi Yuan! Kau benar-benar gila!"
Terbelalak mendengar teriakan Bo.
"Rey coba lihat, kau yakin kau bisa menemukan seseorang dengan ciri yang digambarkan Yu"
Tertawa sampai ngik-ngik. "Bwahahaha....."
Xi Yuan melihat keduanya tertawa. "Bahkan Rey yang bersifat acuh itu juga tertawa?" batinnya.
"Apa maksud tawa kalian!"
Mendekat, "Xi Yuan. Lihat... Saat itu kau meminta ku mencari sosok wanita dan sekarang kau meminta bawahan mu mencari seorang wanita dengan dua anak... Kau yakin mereka seperti ini... Bwahaha...."
Menunjukkan gambar yang sempat Yu buat sebagai bahan pencarian bawahannya di Kota C.
"Ini sudah sangat bagus! Aku pernah bertemu Chu Xia, menurutku ini cocok dengannya, lalu untuk dua anak ini... Apa kau tidak bisa lihat betapa miripnya mereka dengan ku..."
"Puft... Mirip bagaimana... Gambar anak TK bahkan lebih cantik dari milik mu..." batin Bo.
"Kau masih bisa tertawa? Apa pekerjaan mu kurang belakangan ini?" menatap Bo Gum dan Rey yang masih terbawa aura konyol gambar tersebut.
Buzhh...
Buzh...
"Ada apa!" jawab Yuan pada bawahannya.
Kaget, "Tu-Tuan, kami sudah mengunjungi alamat yang kau berikan, tapi sepertinya rumah itu sudah lama tidak berpenghuni. Bahkan jaringan saja sangat susah didapatkan, aku harus keluar dari desa untuk memberikan kabar pada mu"
Dari arah lain anak buah lainnya baru saja tiba lalu berteriak. "Bos, kami menemukan ini!"
"Tuan, sepertinya mereka menemukan bukti lain!" mendekati pria itu.
"Sebuah foto! Tuan, aku akan mengirimkan nya pada mu..."
Panggilan berakhir, Xi Yuan menunggu pesan masuk dari pria itu. Tidak butuh waktu lama, beberapa foto telah masuk kedalam ponsel Xi Yuan.
Terkejut melihat nya. "Ini!...."
...----------------...
...Ming Wei...
...Setiap kegagalan memberikan pelajaran...
...&...
...Setiap pelajaran memberikan perubahan...
..._Fighting_...
__ADS_1