
...****************...
Parkiran
"Tuan, ini uang mu," menyerahkan uang untuk menggantikan uang Brian yang terpakai tadi.
"Tidak, tidak, aku tidak kekurangan uang, ambil saja untuk keperluan mu"
"Jika begitu aku berhut-"
"Kau tidak berhutang, aku yang memberikannya karena aku mau, sudahlah lupakan saja."
"Mm terimakasih banyak, aku akan mengingat kebaikan mu, permisi."
Asisten berkata dalam hati, "kalau begitu bolehkah aku borong makanan juga Tuan," pekik nya kecil.
Melihat Vivian mengambil sepeda nya. "Emm Vivian, kapan kau ada waktu luang?"
"Ada apa Tuan?"
"Aku hanya ingin mengajak mu makan bersama,"
"Karena apa?"
"Kau sudah menabrak ku kemarin dan kau hanya meminta maaf saja? Aku menolaknya,"
"Tapi Tuan, aku sungguh tidak punya banyak uang untuk menebusnya"
"Aku tidak butuh uang mu, aku hanya mengundang mu untuk makan malam bersama dengan ku"
"Makan malam, aku tidak bisa"
"Yasudah siang saja, aku akan menunggumu di kafe itu besok di jam ini ya.."
"Emm" Vivian menganggukkan kepalanya. Dia mengayuh sepedanya pergi.
Brian masuk kedalam mobil, "sepertinya ada yang tertinggal"
"Apa itu?" jawab Asistennya.
"ASTAGA! aku belum memperkenalkan diri ku padanya"
"Teruss? Bukannya kau juga senang menutup identitas mu selama ini"
"Kali ini berbeda"
Asistennya kembali mencibir, "beda apanya dia juga seorang wanita sama seperti yang lainnya, atau jangan-jangan tuan terpesona oleh nya," sambil melirik ke arah Brian.
"Matamu ingin ku cungkil kah"
"Tidak, tidak maaf tuan"
"Cepat jalan, aku sudah ketinggalan rapat sejak 30 menit yang lalu!" meneriaki supirnya.
Asistennya, "ini juga karena ulah mu sendiri" lirihnya pelan.
"Apa kata mu!!"
"Ahh maaf tuan, aku tidak sengaja keceplos-"
"Ooh jadi selama ini kau mencibir ku diam-diam!" sambil memukul asistennya menggunakan gulungan dokumen.
"Tidak tuan, tidak..." sambil memperhatikan ke arah kaca luar.
"Tuan, lihat bukannya itu Vivian!" teriaknya, melihat vivian sedang di ganggu 5 orang penjahat.
"Cepat hampiri mereka!"
Halaman Taman Kanak-kanak
"Ibuu," Yi berlari menghampiri.
"Dimana Wei-Wei?"
"Mommy Yi tinggalin Wei-Wei!" mengadu.
"Yi marah karena kau Yi kini di kejar para wanita itu," menunjuk ke arah anak-anak lainnya.
"Jangan salahkan Wei-Wei, kau kan memang tampan," sambil Wink.
Dari arah samping
"Benar itu orang nya"
"Cepat tangkap!"
__ADS_1
Mereka menghampiri Vivian dan kedua anaknya, pelan-pelan mereka mengambil kedua bocah itu diikuti dengan Vivian.
"Heiii apa yang kau lakukan!!"
"Lepaskan anak-anak ku!" Vivian terus melawan, berusaha menolong anak-anaknya.
Mereka tidak sabar. "DIAMLAH!" saat ingin memukul punggung Vivian dari belakang, Brian dan Asisten juga supirnya turun menghampiri mereka.
"Berhenti!!" teriak Brian.
"Siapa kau!"
Tanpa jawaban Brian langsung menghadapi mereka sendirian sementara supir dan asistennya berusaha mengejar 2 orang yang berlari membawa anak-anak Vivian.
Baghh
Bughh
Kltak
Aghhh
Brian menghabisi mereka sampai mematahkan tulangnya.
Vivian ikut berlari mengejar anak-anaknya. Setelah 2 penjahat itu babak belur, Wei dan Yi berlari menghampiri Vivian sambil terus menangis.
"Huhuuu Ibuuuu, Yi sangat takut"
"Huaaaa.... Mommy mereka berani pegang-pegang Wei-Wei"
"Sudah sayang sudah tidak apa," memeluk hangat kedua anaknya.
Mereka berkumpul kembali di halaman taman kanak-kanak.
Berjalan cepat menghampiri Vivian, "bagaimana keadaan mu? Kau baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja." melepaskan sentuhan Brian di pundak nya.
Membungkukkan badan, "Tuan terimakasih banyak atas bantuan mu"
"Syukurlah mereka belum sempat melukai mu dan...." Menatap kearah anak-anak.
"Ini putra dan putri ku, ayo ucapkan terimakasih pada tuan ini," memegang pundak keduanya.
"Terimakasih paman yang baik, Wei suka padamu," ucapnya girang.
Sontak perkataannya langsung mendapatkan tatapan dari mereka semua, tapi tidak dengan Brian.
Brian berkata, "jika kau menyukai ku, aku akan terus berbuat baik untuk mu," berlutut sambil memberikan lolipop kepada Wei-Wei.
Asistennya, "Eihh darimana datangnya permen sogokan itu," batinnya.
"Wahhh terimakasih pama baik," Wei memeluk Brian.
Melihat Brian juga membalas pelukan putrinya Vivian hanya terdiam, Vivian menatap ke arah halaman. "Tuan, kemana penjahat yang kau lumpuhkan tadi?"
"Mereka sudah ditahan polisi"
"Ooh syukurlah, jika tidak mereka bisa melukai orang lain lagi,"
"Emm Tuan, kami harus segera kembali, sekali lagi kami mengucapkan terimakasih atas bantuan mu"
"Sudahh pergilah, sampai kapan kau akan terus membungkuk kan kepala mu seperti ini," membangunkan Vivian dari bungkuk nya.
Vivian meninggalkan Brian dan yang lainnya.
"Dahhh paman.. Emmuah" Kiss Bye dari Wei-Wei.
"Wei-Wei cukup, siapa yang mengajarimu seperti itu," ucap lirih Vivian malu.
"Hihihii Wei kan anak pintar mom,"
Vivian hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak nya.
Brian berkata, "akhirnya aku bisa langsung punya anak tanpa harus menunggu lagi"
Asistennya, "anak? Apa tuan berencana menikahi wanita itu?!"
Dalam mobil Brian.
"Tuan mereka mata-mata dari kota A dengan tujuan menculik wanita itu," tukasnya.
"Aku kesana" jawab Brian.
"Tuan, rapatnya"
__ADS_1
"Tunda. Aku akan mengurus mereka dulu"
Ruang Sandera Mafia.
Brian terus bertanya pada ketiga pria itu, siapa yang memerintahkan, tapi mereka tetap bungkam.
Dreett
Ponsel salah satu dari mereka bergetar.
"Nyonya?" Brian melirik kearah mereka lalu menyodorkan ponsel tersebut.
"Jawab dengan benar, jika tidak pistol ini akan menembus kepala mu" kata Brian sambil meletakkan pistol ke dahi nya.
"Ha.. Halo Nyonya"
"Bagaimana? Apa kalian berhasil menangkapnya"
"Tid, tid-"
"APA, Gagal! Sudah 2 tahun dan malah gagal!!"
"Dasar tidak berguna! Aku akan menemui kalian dan lihat apa yang akan kalian dapatkan!!"
Tuut.. Tuutt...
Brian memutuskan sambungan, lalu bertanya, "Siapa dia"
Tawanan 1, "Diaa, dia orang yang memerintah kan kami"
"Kenapa kau mengatakannya," ucap tawanan 2.
"Aku masih harus menafkahi anak-anak ku," jawab tawanan 1.
"Dia benar, lebih baik aku langsung tertembak mati disini, daripada harus bertemu dengannya dan menjadi orang lumpuh tidak berguna," jawab tawanan 3.
"Baguss.... Baguss sekali," Brian mendekati tawanan 3. "Katakan pada ku, siapa nama nya"
"Kami hanya tahu marganya Ai"
"Terimakasih bantuannya," Brian berdiri menembak mereka secara bergilir.
Duarr
Duarr
Duarr
"Bereskan, segera cari tahu orangnya, lalu jatuhkan pesawat nya"
"Pasti akan memakan banyak korban jiwa Tuan"
"Bukan urusan ku. Dia sudah berani mengganggu wanita ku"
Asistennya, "sejak kapan Vivian jadi wanita nya tuan." Sambil berjalan mengikuti Brian.
Rumah Nenek
Didalam kamar, "tabungan ku semakin hari semakin menipis, disini juga sudah habis musim panen, sementara anak-anak masih harus sekolah, apa aku cari pekerjaan saja ya, tapi dimana?" batin Vivian sambil terus menatap sisa uang nya.
Keesokan hari
Vivian mengantarkan kedua anaknya, bertemu dengan Brian dan berbincang-bincang di kafe, setelah itu Keke kembali menjemput anak-anaknya.
Taman Kanak-kanak
Vivian terduduk, "dimana aku harus mencari pekerjaan," Vivian terus memikirkannya sampai lembaran kertas terbang ke arah nya.
"Wahh kertas lowongan kerja!" Vivian tersenyum girang.
"Alamat, di jalan 09?"
Vivian sudah terbiasa mendengar alamat seperti ini di sini, tapi 09 Vivian merasa sedikit heran karena biasanya alamat warga biasa tidak pernah diawali dengan angka nol.
"Ahh sudahlah, aku butuh pekerjaan, aku akan mencarinya nanti,"
Tingg....
Pesan masuk dari nenek.
"Nak, beberapa hari ini aku tidak pulang, majikan ku akan mengadakan perjamuan penting, jaga dirimu baik-baik ya..."
"Hmm... Kasihan nenek sudah tua, masih harus bekerja," lirih nya.
Vivian kembali ke rumah nenek dengan anak-anaknya.
__ADS_1