Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Isi Hati


__ADS_3

...****************...


"Kau tidak pernah tahu bagaimana ibu seorang diri merawat kami selama ini! Dia bekerja dari pagi hingga petang, dia juga menjadi ibu dan ayah untuk membahagiakan kami, tidak pernah mengeluh letih meskipun pekerjaannya sangat melelahkan! Dia melindungi kami dari kejam nya Kota itu, bahkan demi menyekolahkan dan juga menghidupi kami dia rela bekerja dibawah tangan Mafia terbesar di sana. Dia selalu tersenyum, berusaha memberikan yang terbaik untuk kami. Kau tidak pernah tahu bagaimana susah nya kehidupan kami yang kekurangan uang! Kau hanya memikirkan diri mu sendiri!" Xi Yi menyeka air matanya.


"Sekarang aku tahu, kenapa ibu selalu berkata bahwa ayah kami sudah tiada. Ternyata kau seperti ini. Kau hanya bisa membuatnya menangis saat mengingat mu! Kau hanya bisa menyusahkan nya mengurus keturunan mu! Kau tidak tahu betapa berharganya dia untuk ku! Bahkan jika kau sungguh tiada aku tidak akan menangis untuk mu! Hikss... Kau bukan ayah ku," ucap Xi Yi setelah mengatakan semua kekesalannya terhadap Xi Yuan.


Degh...


Jantung Xi Yuan berdetak merasakan kesedihan mereka kala itu.


"Xi Yi, tidak baik berkata seperti itu, Nak," ucap Chu Xia.


Xi Yi berlari keluar dari bangsal, menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangan.


Chu Xia juga berlari kecil mengikuti nya.


Xi Yuan masih termenung memikirkan perkataan Xi Yi. "Ming Ke, benarkah kau melalui itu semua? Ini salah ku, apa kau akan memaafkan ku setelah mengingat nya? Keke maaf, maafkan aku," Xi Yuan menggenggam erat tangan Ming Ke, menundukkan wajah nya, tanpa sadar air mata Xi Yuan pun ikut menetes.


Ming Wei terus menggenggam tangan kiri ibu nya. "Mommy, bangunn, Hikss..."


"Xi Yuan," panggil Bo perlahan menepuk punggung Xi Yuan.


"Bo, apa aku sejahat itu? Apakah aku pantas di sebut sebagai ayah?"


"Tuan, kau melakukan ini juga demi melindungi mereka. Kau juga sudah melakukan yang terbaik,"


"Benar, Tuan Yu. Xi Yi masih kecil, dia hanya tahu apa yang dia lihat saja."


"Tapi yang dikatakannya juga tidak salah, aku memang tidak mengetahui betapa sulitnya Keke merawat mereka seorang diri," kata Xi Yuan


"Bo, aku masih ingat dengan jelas kala ibu ku seorang diri membesarkan Xi Yuan kecil. Meski tidak kekurangan uang, tapi itu tetaplah pekerjaan yang sulit apalagi Ming Wei dan Xi Yi, mereka kembar. pasti tingkat kesulitannya melebihi ibu ku saat itu," Lanjutnya.


"Yuan, daripada kau terus menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kau mengejar Xi Yi. Jangan memarahi nya, dia hanya anak kecil yang mengungkapkan isi hatinya," ujar Bo Gum menguatkan Xi Yuan.


Di luar bangsal.


Chu Xia duduk di samping Xi Yi.


"Bibi, apa Yi-Yi sudah keterlaluan?"


"Tidak sayang, bibi tahu kau hanya ingin melepaskan kekesalan mu. Tapi... apakah ibu mu pernah mengajarkan mu untuk balas dendam?"


"Tidak, Bi," jawab Xi Yi.


"Nah, kau tahu itu. Ibu tidak pernah membalaskan dendam nya meski dia tahu dimana ayah mu. Kau masih ingat ibu mu berkata apa, jika seseorang berbuat salah padamu kelak?"


"Ibu bilang, Yi-Yi tidak boleh membencinya. Yi juga harus bisa memaafkan nya."

__ADS_1


"Tepat sekali, jadi saat ini Bibi tidak akan membujuk mu untuk meminta maaf pada Tuan Yu, tapi Bibi harap kau dapat mengerti dengan jelas perkataan ibu mu, sayang," mengelus rambut Xi Yi.


Chu Xia melihat Xi Yu keluar dari bangsal. Menatap mereka yang tengah duduk, Chu Xia memberi isyarat agar Yuan menghampiri mereka.


"Xi Yi, maafkan aku," ucap Xi Yuan menghampiri mereka.


"Bibi, katakan padanya jangan mendekati ku,"


Chu Xia kembali memberi isyarat agar Yuan dapat lebih memahami situasi.


"Xi Yi, aku tahu salah. Jika kau tidak menyukai ku aku dapat menerima itu, tapi untuk kesembuhan ibu mu. Aku tidak akan menyerah, aku sudah melewatkan kesempatan ku untuk merawat nya dan juga merawat kalian selama ini. Apakah, apakah kau mengizinkan ku untuk menyembuhkan nya?" Xi Yuan bersimpuh satu lutut di hadapan Xi Yi.


"Kau tahu, dari awal aku membenci marga ku,"


"Xi Yi, jangan berkata seperti itu pada ayah mu,"


"Dia bukan ayah ku!"


Xi Yuan meminta Chu Xia berbesar dari sisi Xi Yi.


"Aku tahu kau masih kecil, tapi aku tahu pemikiran mu tidak sekecil itu."


Xi Yuan duduk di samping Xi Yi. "Dengar ini, seorang anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang, di tinggal pergi oleh ibu nya untuk selamanya. Dia juga tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah nya. Dia di didik untuk menjadi pribadi yang tidak terkalahkan di umurnya yang menginjak 10 tahun. Dia melewatkan kesempatan bermain, bersenang-senang, mendapatkan hangatnya pelukan seorang ibu dan juga ayah, dia melewatkan semuanya."


Xi Yi mulai menaikkan kepala nya mendengar kisah tersebut.


"Di kurung di dalam rumah yang sangat besar, namun, hari-hari terasa sunyi. Dia tidak boleh bermain dengan anak-anak lain, bahkan sampai sekarang dia masih menjadi pribadi yang kesepian, meski semua orang menundukkan kepala nya saat bertemu dengan Nya."


"Bertahun-tahun dia kesunyian, saat menemukan seseorang yang menurutnya sangat hangat. Seseorang itu malah pergi membawa anak-anaknya, dia tidak pernah putus asa. Dia terus mencari sampai ke negeri orang tapi seseorang itu tidak dapat di temui nya,"


"Itu kau?"


Yuan tahu Xi Yi dapat menebak nya, "Aku tahu kau bukan lah anak kecil biasa."


"Kemana ibu mu? Ayah mu?"


"Ibu ku dibunuh oleh ayah ku, kau tahu siapa ayah ku?"


Xi Yi menggelengkan kepalanya.


"Kau ingat seseorang yang menculik mu bulan lalu?"


"Richard?"


"Benar, dia ayah ku. Selama ini dia juga yang menutup semua informasi identitas agar aku tidak dapat menemukan keberadaan kalian,"


Xi Yi sudah berhenti dari tangis nya mendengar kan yang di ucapkan Xi Yuan. "Apa tujuannya?"

__ADS_1


"Tujuannya iyalah menghancurkan seseorang yang sangat ku sayangi, yaitu ibumu, anak-anakku, kalian..."


"Jadi..."


"Yah, karena suatu alasan, aku memanfaatkan kembaran ibumu untuk berperan sebagai orang tersayang ku agar Richard tidak melenyapkan kalian orang yang ingin aku lindungi selamanya."


"Maaf,"


"Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa mengatakannya saat aku berhasil menyelamatkan Ming Ke ku,"


"Dia milik ku!" ucap Xi Yi menatap tajam mata Xi Yuan.


"Iya, Ming Ke kita," ucap Xi Yuan.


Yuan mengulurkan tangan nya. "Apakah kau mengizinkan ku?"


"Em," jawab Xi Yi mengabaikan tangan Xi Yuan.


Xi Yuan menarik tangan Xi Yi membawanya masuk ke dalam bangsal Ming Ke.


"Aku bisa jalan sendiri," ucap Xi Yi melepaskan tangan nya dari genggaman Xi Yuan.


"Sudah larut, kau tidurlah disini," ucap Xi Yuan menunjuk sebuah tempat tidur lumayan besar yang telah tersedia di dalam bangsal VIP Keke.


Bangsal itu memiliki 1 kamar pasien, 1 kamar mandi, 1 kamar double untuk anggota keluarga yang menginap, bahkan bangsal dilengkapi juga dengan ruang keluarga di dalam nya.


Xi Yuan kembali melihat keadaan Ming Ke. "Kenapa kau membiarkannya tertidur di sana," ucap Xi Yuan pada Su Nian-Nian. Melihat Ming Wei yang tengah tertidur di samping ibu nya.


"Maaf, Tuan. Wei-Wei tidak mau melepaskannya,"


Xi Yuan menggendong anak nya itu masuk ke dalam kamar. "Sudah jam 02 malam, kalian temani mereka. Aku yang akan menjaga Ming Ke."


Chu Xia dan Su Nian-Nian pun ikut tidur di samping kedua anak itu. Sedangkan Xi Yuan dan juga Bo Gum menemani Ming Ke di ruang nya.


Bo Gum membawakan mi instan untuk Xi Yuan. "Xi Yuan, makan lah, kau belum makan dari siang tadi,"


"Bo, bagaimana kalau Ming Ke tidak sadarkan diri juga hingga besok,"


"Yuan, percayalah. Ming Ke orang baik, Tuhan tidak akan mempersulit hambanya. Doakan saja besok Ming Ke sudah bisa menjalankan pengobatannya."


"Bagaimana jika dia masih membenciku seperti yang dikatakan Xi Yi?"


"Aku tidak pernah melihat Xi Yuan yang lemah,"


"Aku tahu, terimakasih." jawab Xi Yuan membaringkan kepalanya di kasur Ming Ke.


...----------------...

__ADS_1


...Qarry-Adz...


...Jangan Merendahkan diri sendiri hanya untuk mendapatkan Simpati...


__ADS_2