
...****************...
Gedung lantai 2
Brian melihat luka tembak di perut kanan Xi Yuan, yang menembus jaket kulit hitam nya. "Xi Yuan, perut mu,"
"Aku baik-baik saja, bukankah kau juga kena," jawab Yuan melirik tangan kiri Brian.
"Aku yang akan memimpin," ujar Brian.
"Pintu kaleng,"
Bang
Bang
Mereka melepaskan peluru untuk menghancurkan sandi pintu, lalu mendobrak nya bersama-sama.
"Kemana mereka pergi!" pekik Brian setelah melihat ruangan yang kosong melompong.
"Stt..." Xi Yuan mengheningkan semua orang.
Brian berbisik, "Ada apa, Yu?"
Berbisik pelan, "Aku mendengar gemuruh langkah kaki dari sana," menunjuk pada dinding ruangan.
"Rey, cek gedung ini," pinta Xi Yuan.
"Yuan, ada lorong di balik dinding, dan sepertinya mereka baru saja melewati nya," jelas Rey.
Xi Yuan melambaikan 2 jari nya pada pasukan, mereka mendekat dengan dinding. "Emh..." Yuan menganggukkan kepalanya tanda untuk semua pasukan menyerang dinding-dinding ruangan.
Bang
Bang
Bang
Bang
Mereka menyerang habis dinding ruangan tanpa menyisihkan nya.
"Tuan," tukas salah satu pasukan yang menemukan jalan menuju balik dinding tersebut.
"Kami akan memeriksanya, kalian telusuri ruangan lain," ujar Brian.
Mereka berpencar Xi Yuan menelusuri ruangan lain, sementara Brian masuk ke balik dinding.
"Aku menemukan sebuah pintu dengan sandi. Rey, bobol ini," pinta Yuan.
"Selesai," jawab Rey.
"Ini lift," ujar Xi Yuan. "Muatannya tidak banyak, 9 orang ikut aku, kalian bantu Brian menelusuri lainnya," lanjutnya.
"Baik, Tuan,"
Lift membawa Xi Yuan beserta pasukannya ke sebuah lorong bawah tanah.
Xi Yuan melihat-lihat sekeliling. "Hati-hati,"
Mereka mulai berjalan waspada.
Yuan melihat rel di ruangan tersebut, "Ini... Sepertinya mereka juga menyelundupkan senjata ilegal melalui jalur ini," gumamnya.
"Yuan, jangan bergerak!" teriak Rey.
Xi Yuan langsung berhenti dan tidak bergerak.
"Coba lihat lagi ke arah atas," pinta Rey.
Xi Yuan kembali menoleh ke atas sesuai arahan dari Rey.
"Di atas dinding, ada laser berkekuatan tinggi. Jika kau melangkah satu kaki lagi laser akan terus mengincar musuh nya sampai mati,"
"Ada berapa banyak,"
"Laser tersusun rapi pada bagian dinding, aku bisa mengatasinya. Tapi ini butuh waktu,"
"Segera atasi,"
"Aku sedang berusaha,"
"Cek, cek, Xi Yuan, bagaimana di sana,"
"Brian, kami masuk ke dalam ruang bawah tanah,"
"Aku menemukan sebuah Giok, sepertinya ini sangat spesial sampai harus di masukkan ke dalam brankas,"
"Aku belum menemukan apa-apa, bawa saja. Barangkali itu berguna nanti,"
__ADS_1
"Xi Yuan, bahaya! Aku berhasil memutuskan laser, tapi mereka sudah memasang bom di balik dinding, dan itu telah aktif sejak Brian membuka paksa brankas! Segera pergi dari sana, bangunan akan segera hancur!"
"Si@l! Berapa banyak waktu yang kita punya?" Xi Yuan dan yang lainnya berlari menuju pintu lift. "Semuanya, kembali ke pintu lift!"
"1 menit lagi!" jawab Rey.
"Brian, kalian keluar dari sana!" ujar Xi Yuan.
"Tuan, pintu terkunci!" tukas pasukan.
"Rey! Ahh sudah tidak ada waktu!" Xi Yuan mencoba membuka paksa pintu lift.
"Yuan, lift terkunci mati. Hanya ada satu cara, arah timur! Lari, ikuti jalan rel!" pekik Rey.
"Rey, apa ada cara lain? aku akan membantu, Yuan!" teriak Brian ditengah kepanikan.
"Brian, jangan perduli kan aku!" ujar Yuan di tengah pelariannya.
Mereka berlari sekuat tenaga menuju arah timur.
Siren mulai berbunyi memperingati bahaya di dalam lorong bawah tanah.
Yuan melihat jam nya, "20 detik lagi," gumamnya.
"Cepat!!!" pekik Xi Yuan kepada semuanya.
10
9
"Itu dia!" mereka sudah melihat cahaya.
8
7
6
5
4
Mereka sampai di titik cahaya.
3
2
Tittttt
Hening
"Cek, Xi Yuan kau di sana?"
"Tidak ada apa-apa?"
"Sepertinya ada seseorang yang menjinakkan bom,"
"Tuan, sudah terbuka," ucap pasukan yang membuka pintu.
Xi Yuan berbalik badan, "Apa kalian mendengar nya?"
"Suara gemuruh," ujar salah satu nya.
"Itu berasal dari sana," jawab lainnya menunjuk ke arah barat.
"Apa itu?" gumam Xi Yuan melihat dan mendengar suara yang semakin mendekat.
Dari arah luar
"Cepat naik!!"
"Tuan, helikopter sudah siap!" ujar pasukan.
"Yuan, cepat pergi dari sana! Itu bom susulan!!"
Xi Yuan mengambil langkah cepat, naik ke helikopter yang sudah menunggu.
Duarr....
Semburan api merobohkan bangunan di atasnya tepat setelah helikopter naik.
"Huh, hampir saja," ucap para pasukan.
2 helikopter mendarat di sebuah lapangan Markas Mafia Richard yang sudah diambil alih Brian Wilson sebelumnya.
"Bantu mereka!" teriak Rey.
"Tuan Yu, kau terluka," membopong Xi Yuan.
__ADS_1
"Tidak apa, aku masih bisa menahannya," sambil terus memegang perutnya.
Dalam Markas
Saat ini semua pasukan yang terluka sedang melakukan pengobatan.
"Kalian sudah bekerja keras, dari malam hingga fajar," ucap Rey pada Brian dan juga Xi Yuan.
"Tapi, lagi-lagi mereka melarikan diri!" ujar Yuan mengepalkan tangannya.
"Benar! Namun kali ini, jika bala bantuan tidak segera datang, kami semua akan habis," lanjut Brian.
"Oh iya, mengenai bala bantuan udara dan darat yang kalian tumpangi tadi, mereka dari markas Richard yang mana, Brian?" tanya Rey.
"Ah? Bukannya itu anak buah mu, Yu?"
"Anak buah ku semua dibawah perintah Rey sebelum berperang, aku malah mengira itu kau, Rey..."
"Tidak, mereka sampai setelah kalian pergi dari sana," jelas Rey.
Wush
Wush
Wush
Mobil dan juga Helikopter yang sebelumnya dikerahkan Rey baru saja kembali.
"Lihat, mereka baru sampai," ujar Rey memperlihatkan mereka dari balik kaca ruangan tersebut.
"Jadi, kalau bukan kalian. Siapa mereka? Darimana asal nya?" Xi Yuan masih belum mengetahui siapa itu.
"Bom ganas tadi juga berhasil di jinakkan oleh orang lain," sahut Rey.
"Xi Yuan, apa menurut mu ada orang lain yang diam-diam membantu kita?" tanya Brian.
"Entahlah, aku juga tidak tahu,"
"Sudahlah, jangan difikirkan lagi. Yang penting saat ini kalian sudah kembali dengan selamat, selanjutnya kita harus mulai mencari lagi dimana Richard, jika belum menemukannya, dia bisa saja mencelakai Ming Ke dan juga kalian tentu nya."
"Rey benar, Xi Yuan. Bagaimana keadaan Vivian?" tanya Brian.
"Pemulihan nya sudah membaik. Tapi, beberapa hari yang lalu dia pingsan, hal itu menghambat pengobatannya."
"Pingsan?! Kenapa bisa?" Brian bangkit dari tidurnya.
"Dia memaksakan diri untuk mengingat anak-anak, padahal dia tahu kondisinya tidak memperbolehkannya,"
"Astaga Vivian," Brian mengusap kasar wajahnya.
"Kau tidak perlu cemas, cari saja dimana ayah mu itu. Ming Ke urusan ku,"
"Dia juga ayah mu!" ujar Brian menepis tangan Xi Yuan dari pundaknya.
Brian melangkahkan kaki nya membuka pintu ruangan,
"Brian! Tunggu," panggil Yuan.
"Ada apa?"
"Giok yang kau bilang, dimana dia?"
"Astaga, aku hampir saja lupa," Brian membuka kotak yang di gunakan nya untuk membawa beberapa barang dari brankas tadi.
"Loh, dimana Giok itu?" mengacak-acak isi kotak.
"Siapa yang berani mengambil barang nya!" teriak Brian pada semua anggota yang berada di ruang pengobatan.
Mereka hening tanpa suara.
"Apa tertinggal di mobil?" tanya Xi Yuan.
"Tidak mungkin! Kotak di naikkan dan di turunkan oleh ku sendiri, aku juga tidak ada membukanya," ujarnya.
"Tuan, bukankah sebelum menaiki mobil, mereka menyuruh kita untuk meletakkan barang bawaan ke bagasi bawah?" ucap salah satu anggota yang menaiki mobil bersama Brian.
"Benar, apa mungkin mereka yang membuka nya?" Brian kembali teringat saat sebelum menaiki mobil kotak tersebut di letakkan di bagasi bawah mobil.
Flashback On
"Semuanya, silahkan letakkan barang-barang bawaan kalian di bagasi bawah," sebut kernet mobil.
Flashback Off
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Jadilah pribadi selembut Sutera...
__ADS_1