
...****************...
Flashback On
"Haii nama ku Su Nian-Nian, kau bisa memanggilku kakak Nian,"
"Kakak? Kau bahkan lebih pendek dari ku"
"Husss pokoknya aku kakak disini!"
"Baiklah, KAKAK"
"Khiikhiikhii... Kau sangat tampan dan juga lucu, ADIKK"
Kedai kopi ini adalah saksi Cinta pandang pertamanya dimulai. Waktu itu mereka bertemu karena orang tua masing-masing..
"Hei kau, kita bertemu lagi!"
"Siapa kau?"
"Kau melupakanku? Hengg.... Lihat saja aku akan mengadukan mu pada ayah ku."
"Nian-Nian awas!!"
Ini adalah kali pertama seorang pria membantu, dan juga memeluknya setelah ayah nya Su.
"Kau tidak apa?"
"Kau mengingatku?"
"Kenapa tidak? anak kecil yang sok seperti kakak"
Fei juga mengelus manja rambutnya seperti yang dilakukan ayah nya. Hal ini yang membuat Nian-Nian semakin menyukai Fei.
"Siapa nama mu!"
"Marga ku Liu!" Sambil berlari menuju mobil hitam.
"Sampai jumpa Liuu"
"Sayang kau berbicara pada siapa?"
"Ayah aku punya teman baru lohh"
"Dia sangat tampan dan baik, Nian-Nian menyukainya!"
Su mencubit tipis hidung putrinya, "Masih kecil sudah berani bilang suka, kau ini, ayo pulang"
Seiring berjalan nya waktu kerja sama perusahaan mereka terus saja bertemu. Lui Fei sangat menyayangi anak kecil begitulah yang dirasakan Su Nian-Nian waktu itu.
Selisih umur mereka memang cukup jauh. Hal ini yang memicu Fei menyayangi Su Nian-Nian dan menganggap nya sebagai adik sendiri. Tapi tidak dengan Nian-Nian, dia malah menganggap perlakuan itu hanya khusus untuk nya seorang.
"Liu Shen ini putri ku, Su Nian-Nian,"
"Nian-Nian ayo beri salam pada paman Liu,"
"Paman Liuuu?"
"Halo paman aku Nian-Nian!"
"Haloo juga, kau gadis yang manis,"
Setelah mengetahui ayahnya membantu keluarga Liu menangani masalah krisis modal akhir tahun mereka, Su Nian-Nian membuat persyaratan pernikahan atas kerjasama tersebut.
__ADS_1
Cinta sepihak atau bertepuk sebelah tangan. Begitulah yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Akibat kasih sayang yang muncul karena kesalahan pahaman Su seorang.
Flashback Off
Diantara gemerlapan lampu-lampu yang menghiasi pepohonan, diiringi lagu-lagu dari para remaja di sekeliling kota, tua dan muda semua bersuka cita menyambut malam ini malam yang damai, berbahagia serta bergembira bersama.
"Ibu... ayo keluar! lihat ramai sekali malam ini!!l"
Ramai nya tengah kota malam ini, membuat kedua anak ini tergoda ingin keluar juga.
"Mommy lihat ini!" Wei menunjukkan hasil karya orang-orangan dari salju yang dibuatnya.
"Wahh cantik sekali"
"Ibu ayo buat juga. Yi mau buat yang lebih besar..." Wei dan Yi menggumpal kan salju lain untuk dibuat lagi
"Tinggal kasi wortel sebagai hidung dan topi untuk menutupi kepala nya. Selesaiii"
"Ahahaa.... Wei-Wei suka cantik seperti mommy.. Hihiii..."
"Sayang jika topi mu kau berikan untuk nya maka topi ini ibu berikan untuk mu"
"Tidak perlu, gadis kecil harus tetap terlindung," ucap Yi, sambil mengganti kan topi miliknya ke atas kepala Wei-Wei.
"Gadis kecil? Kaulah yang masih kecil anak ku, dasar Xi Yi..."
Ming Ke mengejar kedua anaknya, menggelitik dengan sengaja, berlari kesana kemari dengan hati yang sangat bahagia.
Dari kecil hingga besar Ming Ke hanya sekali merayakan malam tahun baru dengan keluarga, baik kakek nenek ayah ibu dan juga kakak nya. Sisa nya Ming Ke hanya berdiam diri dirumah tanpa ada seseorang yang menemaninya.
Ayah dan kakek sering mendapat masalah perusahaan di setiap akhir tahun, membuat mereka harus bekerja hingga larut.
Sedangkan Nenek Ibu dan juga Ai Ki kakaknya, mereka bermain, berbelanja, dll. terkadang mereka lupa untuk pulang.
Kakek juga tidak bisa marah karena perusahaan ini diwariskan dari orang tua nenek. Alhasil ayah dan kakek sering terlibat dengan rentenir demi menyelamatkan perusahaan. Hal ini juga yang harus diatasi Ming Lan waktu itu dihari kematian kakek, hutang yang menumpuk membuat ayahnya Keke mengidap penyakit jantung karena syok dengan semua total hutang perusahaan hingga merenggut nyawa nya juga.
"Mommy, lihat... Ada yang pingsan disana!"
"Oh tidak! Ayo kita tolong" timpa Yi.
"Permisi... Halo... Kau bisa mendengar suara ku?... Bangunlah... Nona bangunlah..." Ming Ke berusaha membangunkan wanita itu tapi tetap tidak ada jawaban.
"Ibu bukankah ini jaket mu?" ujar Yi
"Sepertinya begitu.."
Ming Ke mengenali jaket nya karena memang jaket itu adalah barang peninggalan dari ayah nya. Keke membuka helaian rambut yang menutupi wajah wanita tersebut.
"Mommy ini bibi jahat. Pacar nya paman!"
"Ah iya! mom ingat ini Nona Su."
Ming ke membopong tubuh Nian-Nian masuk kedalam taksi dan membawanya pulang ke apartemen.
"Ibu! apa tidak masalah jika membawanya kesini?" ujar Yi.
"Apalagi yang harus ibu lakukan, dia juga masih belum sadarkan diri"
"Apa lebih baik telepon paman dan memberitahu kan nya"
"Kau benar, Ibu akan menelpon paman Fei"
Belum lagi tertelpon Wei berteriak, "Mommy bibi jahat sudah bangun!!..."
__ADS_1
Ming Ke menghampiri Su Nian-Nian yang berada didalam kamar dengan membawakan segelas air hangat untuk nya.
"Shh.... Dimana aku"
"Kau dirumah kami," jawab Ming Wei.
"Jika sudah sadar ingat untuk pulang dan tinggal kan jaket Ibu ku," sambung Xi Yi.
"Anak-anak tidak baik berkata seperti itu"
"Ahh kau Ming Ke kan?... Kenapa aku bisa ada disini..."
"Kami menemukan mu pingsan di depan kedai kopi tadi"
"Kedai itu... Hikss..." Su Nian-Nian kembali mengeluarkan air matanya mengingat kenangan itu
"Ada apa? kau bisa menceritakannya pada ku"
"Kenapa!! Kenapa harus membatalkan pernikahan!! Aku sudah menyiapkannya, gaun, hotel, undangan, bahkan kue pernikahan semua nya sudah ku persiapkan!!!.... Arghhhh!!!"
Ming Ke menyuguhkan minum untuknya, "Mm ini tenangkan diri mu dulu, minumlah Nona Su"
Su Nian-Nian menggenggam gelas tersebut, tapi belum meneguk nya.
"Tadii... Maksudmu Fei membatalkan pernikahan kalian?" tanya Keke lembut.
Pertanyaan ini malah semakin membakar dirinya.
"Kau ingin aku menenangkan diri? Apa kau tau apa penyebabnya!!"
"Ti-Tidak"
"Penyebabnya adalah KAU!!" Su Nian-Nian melemparkan gelas yang digenggam nya dan hampir saja mengenai wajah Ming Wei yang tengah berdiri di belakang Keke.
"Nona Su apa maksud mu! kau hampir melukai putri ku..." Keke menarik Wei dan melindungi dengan tubuhnya.
"Kau merusak segalanya, Kau juga melahirkan anak dengan tunangan ku!! Jika aku tau dari awal aku akan membunuh kalian semua!!"
Su Nian-Nian berdiri mengambil serpihan gelas sedikit besar yang berserakan diatas lantai.
Menarik tangan Keke lalu menyayatkan diantara pergelangan tangan nya. "KEMARI KAU!!!"
"Aghh..!" teriak King Ke kesakitan.
Kini Su Nian-Nian berusaha meraih putrinya.
"Mommy tolong Wei-Wei... Hikss..."
"Stop!!... Jangan Putri ku!... Kau boleh menyerang ku sebanyak yang kau mau tapi jangan Putri ku... Ku mohonn..." lirih Keke memohon pada Nian-Nian.
"Aku yang bersalah tolong jangan sakiti putri ku, Nian-Nian sadarlah"
"Kau tau salah tapi tidak menjauhi Fei, kau malah semakin mengikat nya!!... kau juga harus merasakan sakit yang kurasakan Keke, RASAKAN INI!!"
Zlepp...
Pecahan kaca tajam itu menusuk perut Ming Ke.
"Aghh..."
"TIDAKKK!!!... Mommy... Mommyyy" teriak Wei-Wei melihat ibunya berdarah.
Ming Ke terus memegang perut nya yang terus mengeluarkan darah segar.
__ADS_1