
...****************...
Ai Ki terdiam sejenak memikirkan siapa wanita itu, lalu, "Hah!! Wanita itu, wanita itu bukannya......"
Xi Yuan langsung menandai wajah tersebut, "Ming Ke!!" ucap nya sedikit keras.
Para hadirin menoleh ke arah mereka, begitupun mereka yang berada di atas panggung.
Sontak situasi ini membuat Bo langsung menarik lengan Xi Yuan untuk sujud dibawah Ai Ki, Bo memberikan isyarat supaya Xi Yuan berpura-pura memperbaiki heels Kiki.
"Siapa itu,"
"Entahlah"
"Lihat itu,"
"Ch dasar anak muda,"
"Bisa-bisa nya bersifat romantis di acara orang lain"
Hadirin kembali mengabaikan mereka dan fokus pada tuan rumah. Tapi tidak dengan Ming Ke.
Bo membangkitkan Xi Yuan, "Huhh syukurlah, Yu! Apa yang kau lakukan!" pekik Bo berbisik kepada Xi Yuan.
"Apa kau tidak dengar ucapan Rey barusan," timpah Ai Ki.
"Apa? Apa yang kalian bicarakan?"
"Xi Yuan tolong tetap fokus pada arahan ku, aku tahu wanita yang kau cari selama ini ada di depan mata, tapi kesempatan masih belum berpihak pada mu," ucap Rey.
Yuan menjawab, "Emm"
"Huhh, hampir saja. Dengarkan aku, dari pembicaraan yang terdengar mereka sepertinya merencanakan sesuatu, dari tadi aku menyelidiki apa itu, dan barusan kantor pusat memberikan kabar bahwa 2 hari yang lalu ada seseorang yang membobol keamanan kantor tapi mereka hanya mengamati riwayat hidup mu saja, data-data yang lainnya masih terkunci dengan aman,"
"Apa yang mereka tuju? Kenapa mencari daftar riwayat hidup ku,"
"Yu, mereka menggunakan bahasa lain, aku akan menyambungkan nya disini, kau terjemahkan sendiri artinya," Rey mengarahkan suara tersebut untuk di dengar Xi Yuan
Selang beberapa menit, "Apa! Jadi ini memang siasat pria bajing@n itu! Kurang ajar! Dia sengaja ingin menjebak, ku,!"
Bo dan Kiki terkejut tiba-tiba saja Yu marah dan menggenggam kuat tangan Ai Ki, juga memijak kaki Bo Gum dengan keras.
"Ah! Sakit Tuan Yu!!" ucap mereka ditelinga Yu,
Amarah Xi Yuan tidak terdengar karena para hadirin sedang bersorak tepuk tangan untuk tuan Rumah.
Meski lampu para hadirin sedikit gelap, Vivian bisa melihat siapa orang yang menyebut nama nya dan juga berteriak barusan.
"Xi Yuan, jika yang mereka katakan benar bahwasanya kau datang ke sini untuk mengambil anak-anakku, maka dengan terpaksa aku harus melakukan apa yang mereka ingin kan, agar putra-putri ku tidak kau sakiti seperti kau menyakiti ku dulu," batinnya Vivian.
"Ada apa Yu?" tanya Rey.
"Tuan R, ternyata dia Richard," Yuan mengepalkan tangannya.
Bo mengingat lagi apa yang dimaksud Yu, "Tuan R? Richard? Jadi maksudmu pria yang di atas itu-"
Rey memotong omongan Bo, "Ayah mu,"
"Ayah Xi Yuan? Apa ini juga salah satu rencana ibu," Ai Ki melirik ke arah ibu ny Ai Ling yang tengah berdiri di atas sana.
__ADS_1
Ling berjalan mendekat, "Brian, ambil ini," menyerahkan cincin berlian biru kepada nya.
"Pa, apa ini?" tanya Brian perlahan.
Richard mendekati nya, "Aku tahu kau mencintainya, aku ingin hari ini juga menjadi hari kebahagian mu," menepuk pundak Brian.
"Tapi, ini terlalu mendadak bagaimana jika Vivian menolak ku didepan semua orang," ucap nya berbisik.
"Brian, aku bersedia," kata Vivian.
Para hadirin yang tidak mendengar apa-apa, "Ah! Apa maksudnya bersedia? Siapa yang melamar nya?"
Brian menoleh bingung kepada semua orang termasuk ke Vivian, dia belum mengucapkan apa-apa namun Vivian langsung menyetujuinya.
Richard mendorong putra nya untuk bersimpuh dihadapan Vivian, "Lakukan,"
Karyawan perusahaan, "Hah lihat, apa yang akan tuan muda lakukan,"
Brian berlutut satu kaki menghadap Vivian dan berkata, "Vivian, mau kah kau menerimaku sebagai kekasih mu,"
Karyawan perusahaan yang mengagumi Brian,
"Aaa romantis sekali,"
"Lihat berlian biru itu, Ibuuu aku juga mau"
"Kenapa bersama wanita lain, Tuan aku sudah lama menanti mu,"
"Sepertinya aku harus mencari pekerjaan baru agar bisa move on,"
"Tuan muda Brian ku, huaaa..."
"Aku bersedia"
"Wooooooo"
Semua orang yang menyaksikan momen itu ikut berteriak kebahagiaan untuk mereka.
Tapi lain hal nya dengan Xi Yuan. Dia sekuat tenaga melawan amarah nya, melihat mereka dengan sengaja menguji kesabaran nya.
Kepalan tangan Yu tak sabar ingin menerkam nya, rahang mengeras, mata tertuju tajam pada sosok pria yang sudah membunuh ibu nya, merebut wanita yang selama ini di cari nya, juga dengan sengaja memojokkan kesabarannya ditengah-tengah keramaian.
Setelah acara utama selesai, kini semua nya menyantap makanan yang sudah di sajikan, begitupun dengan Brian dan juga Vivian yang ikut masuk ke tengah-tengah mereka.
"Vivian, maaf jika tadi mengejutkan mu, aku juga sama terkejutnya dengan mu"
"Tak apa, kita jalani saja dulu,"
Vivian menoleh ke arah lain, melihat Xi Yuan tengah berjalan menuju mereka.
"Eh itu, Brian, aku ingin ke kamar mandi dahulu, permisi," Vivian menundukkan kepala nya pada Richard dan juga yang lainnya.
"Tuan Brian, selamat atas kebahagiaan mu malam ini," Xi Yuan menyodorkan minum di tangannya.
Ting.
"Iya, terimakasih juga untuk Tuan Yu atas kehadirannya di acara ini," membalas gelas Yuan.
Ai Ling menarik tangan Ai Ki, "Kau sudah berjalan jauh pasti lelah bukan,"
__ADS_1
Mereka sampai di sofa tidak jauh dari Richard berdiri. "Kiki, bagaimana menurut mu rencana ku?" Ai Ling dengan bangga memamerkannya.
"Rencana apa, bu?" menarik-narik tangan Ling untuk tidak berbicara.
"Kau tahu, Xi Yuan ternyata adalah putra Tuan Richard!" Ucapnya sumringah. "Ahhh kau bisa bayang kan betapa kaya nya nanti kita kalau kakek tua ini tiada dan Yu sebagai pewaris tunggalnya," membayangkan semua imajinasinya.
"Ke-kenapa tu-tunggal, bukannya ada Tuan Muda Brian," Kiki terus berusaha memberitahu kan agar Ai Ling diam dan menghentikan ucapannya.
"Brian? ahahahaa dia bukan putra Richard, dia hanya anak angkat yang sudah akan di musnahkan Richard setelah cara ini," Ai Ling tertawa bahagia.
Usaha itu tidak di sadari Ai Ling, dia terus menceritakan semuanya pada Ai Ki putrinya.
"Ini semua karena wilayah Mafia milik Richard sudah sangat luas maka Brian juga tidak lagi di butuhkan, disisi lain Richard ingin membunuh Brian, disisi lainnya aku ingin mengambil semuanya dari Vivian, ah tidak maksudku Ming Ke anak sial@n itu, berhubung tujuan kami sama Richard merencanakan ini untuk memusnahkan kedua nya sekaligus,"
Ai Ki berteriak setelah Ling berkata itu dengan sangat bahagia. "Ibu! Berhenti!!"
"Omo! Apa yang kau lakukan, kau mengejutkan ibu Ai Ki bodoh!" mengetuk pelan kepala Kiki.
Rey yang dari tadi merekam semua ucapan Ai Ling berkata, "Jangan coba untuk memberitahu nya tentang alat ini, jika kau ingin selamat dari Tuan Xi Yuan," memperingati Ai Ki.
Kiki menarik tangan Ling dan menempelkan nya di punggung.
Menggunakan bahasa tubuh, "Apa ini? Alat sadap suara?"
Kiki mengangguk,
Ai Ling seketika langsung panik memikirkan apa yang sudah ia katakan tadi pada putrinya, tenyata ada orang lain yang dapat mendengarkan semua ucapannya.
Masih dengan anggota tubuh, "Ki, bagaimana ini,"
"Entahlah, bu. Aku sudah berusaha memberi tahukan mu tadi,"
Melihat Vivian tidak juga kunjung kembali Xi Tuan mencari cara agar dapat menemuinya.
Mendekat pada Bo Gum, "tumpahkan air mu ke jas ku,"
"Untuk apa, tuan?"
"Lakukan saja,"
Bo menumpahkan air minum nya dengan alasan tersenggol pelayan yang lewat.
"Ahh maaf tuan, aku tersenggol pelayan itu,"
"Apa yang sudah kau lakukan, kau menghambat pembicaraan ku dengan tuan Brian,"
"Astaga, baju mu basah sekali Yu, pergilah ke kamar mandi untuk membersihkannya"
"Hmp, berhasil"
Tanpa kata-kata lagi Xi Yuan langsung pergi ke kamar mandi.
......................
...Ri Rey...
...Setiap orang berhak bahagia...
...Maka dari itu jangan pernah berhenti untuk mencoba...
__ADS_1