Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Menikahlah Denganku


__ADS_3

...****************...


Rumah Sakit Kota A


"Dokter, apa yang terjadi dengannya?" tanya Bo Gum panik.


"Dia cukup kuat. Meski terhirup cukup banyak gas beracun tapi itu tidak mempengaruhi paru-parunya sama sekali," jawab nya.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Xi Yi.


"Yahhh, kami sudah menanganinya, tinggal tunggu beberapa saat lagi. Setelah sadar, pasien boleh kembali," jawab Dokter.


Brian menanggapi ucapan dokter. "Huh, syukurlah. Terimakasih atas kerjasama mu, dokter"


"Saya permisi,"


Rumah Utama Xi Yuan


"Mommy.... Mommy!!" teriaknya memeluk Ming Ke.


"Wei-Wei, jangan gegabah. Ibu masih belum sembuh sepenuhnya," tukas Chu Xia.


"Wei-Wei hanya rindu," gerutunya.


"Dasar, anak manja," tukas Yi dari balik pintu rumah.


"Yi, kau kembali juga?" Chu Xia merasa heran, karena sebelumnya Xi Yi berada di bangsal Yuan.


Membantu ibunya berjalan. "Em," jawab nya


"Ibu, Xi Yi akan mengantar mu ke kamar," ujarnya.


Ming Ke hanya diam dan tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Bu, kau tidak perlu khawatir lagi. Sekarang Xi Yi sudah besar, aku yang akan melindungi keselamatan Ibu dan juga adik kedepannya," ucap Xi Yi mendudukkan Ming Ke di atas ranjang.


Mengelus ubun-ubun Xi Yi sambil tersenyum manis. "Xi Yi, anak baik"


"Baiklah, aku tidak kan mengganggu lagi. Kau istirahat saja dulu," tukasnya.


"Emm..."


Xi Yi keluar dari kamar Keke. Ming Ke menatap kaca rias di hadapannya, lalu berdiri menghampiri kaca tersebut.


Keke duduk diantara semua aksesoris miliknya. "Tidak ku sangka aku akan memiliki kalian semua (aksesoris malah pemberian Xi Yuan) dalam hidupku. Andai aku bisa menjual nya, pasti aku tidak perlu susah-susah dikehidupan ku sebelumnya," fikirnya.


Keke menuju pada sebuah kotak perhiasan yang menjadi penghuni baru di atas meja tersebut. "Apa ini?" batinnya membuka isi kotak tersebut. "Ternyata satu set emas yang dibeli Yuan saat lelang kemarin," ujarnya memperhatikan ukiran kalung, anting dan juga gelang tersebut.


Mengeja sebuah ukiran yang tampak rumit tapi cantik, "Ming... Ke... Hah! Ming Ke?" ujarnya terkejut.


"Kenapa bisa ada nama ku disini? Cincin itu, benar, dimana dia?" Ming Me mencari-cari cincin pemberian Yuan saat di pantai.


"Nah, ini dia," mengeluarkan cincin berlian itu dari dalam kotak perhiasan miliknya. "Disini juga tertulis nama ku, meski lebih indah ukiran pada cincin, tapi keduanya atas nama ku," gerutunya. "Apa Yuan sengaja?" tanyanya bingung.

__ADS_1


Ponsel seseorang bergetar di kamar Ming Ke.


Buzz


Buzz


Mencari sumber suara, "aku mendengar suara ponsel," melihat benda pipih tersebut tergeletak di meja lampu tidur nya. "Ini kan milik Chu Xia, kenapa bisa berada di kamar ku?" gumam nya melihat siapa itu.


Menatap layar yang tertera nama si pemanggil, "Ah, sayang? Wahh... ternyata Chu cepat juga. Mari lihat seperti apa suara pria itu," ucap Keke mengangkat panggilan tersebut.


"Sayang, tolong sampaikan pada Keke. Tuan Yuan mengalami infeksi pada paru-paru nya dan menyebabkan adema paru akut, sekarang sedang melakukan penyedotan cairan, dan itu sangat berbahaya bagi keselamatannya," ujar pria tersebut.


Ming Ke terkejut bukan main, "Bo Gum? Apa yang terjadi pada Xi Yuan? Kalian dimana?" tanyanya dengan suara lantang dan khawatir.


"Mi, Ming Ke," ucap Bo tidak menyangka bahwa itu Keke. "Mm itu, kami berada di rumah sakit tempat kau dirawat tadi,"


"Aku tahu," Keke memutuskan panggilan tersebut.


Ming Ke berlari keluar dari dalam kamarnya. Chu Xia yang melihat Keke berlari sangat cepat segera menghentikannya.


"Keke, berhenti!" cegahnya. "Ada apa? Kenapa kau berlari?"


"Chu Xia tidak ada waktu, aku harus menemui Xi Yuan," mencoba menyingkirkan tangan Chu.


"Tunggu, Keke! Kau bilang dulu ada apa ini?"


Keke membentak nya, "Chu Xia!!" meneteskan air mata.


Terkejut mengedikkan bahu, menurunkan tangannya dari bahu Ming Ke. "Pergilah, aku akan menjaga anak-anak," ujarnya dengan wajah sedih.


Chu Xia kembali terbuka, karena dia tahu Yuan juga sedang di rawat. "Tuan Yu? Ada apa dengannya"


Memeluk Chu Xia, "Apa kau tahu dia di rumah sakit? Bo bilang paru-paru nya terinfeksi dan itu membahayakan nyawanya" gerutunya sambil terus meneteskan air mata.


"Keke, aku tidak melarang mu. Tapi kesehatan mu juga belum pulih"


"Bagaimana jika ini adalah akhir dari kami?"


"Apa kau mencintainya?"


Ponsel Chu Xia di genggaman Ming Ke kembali bergetar.


Buzz


Buzz


"Ini Bo!" mengangkat panggilan tersebut"


Menangis tersedu-sedu, "Kau disana? Hiks... Hiks..."


"Iya ini aku, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Keke khawatir.


"Keke, Xi Yuan, operasinya gagal. Xi Yuan tidak terselamatkan. Hiks... Xi Yuan sudah tiada. Bwaaa...!" tangisnya pecah.

__ADS_1


"Ap-apa! Bo, kau tidak sedang bercanda 'kan? Ahaha... 10 menit yang lalu kau baru bilang dia masih dalam pengobatan, ka-kau menipu ku?" tanya Keke masih tidak percaya.


"Dia sudah pergi, Keke..." jawab Bo lirih.


"Tidak, Xi Yuan tidak pergi. Xi Yuan...! Hwa...." Ming Ke terduduk lemas di atas lantai.


"Keke, ayo bangkit. Apa kau tidak ingin menemuinya?"


Keke tersadar dan menahan air matanya. "Tidak, tidak bisa. Dia sudah berjanji banyak hal pada ku, dia harus menepatinya!" ujar Ming Ke bangkit dari lantai.


Keke pergi ke rumah sakit dengan terburu-buru. Lalu mencari dimana bangsal Xi Yuan berada.


Bangsal Xi Yuan.


Keke masuk kedalam Bangsal. Melihat seorang pasien yang sudah di tutupi wajahnya menggunakan kain putih.


"Xi Yuannn..!!" seketika tangis Ming Ke kembali menggelegar.


Dua orang asisten sekaligus sahabat Yuan berdiri meratapi kepergian nya.


Keke membuka kain penutup tersebut, "hiks...hikss... Xi Yuannn...." menundukkan wajahnya pada bahu Yu.


Dalam isakan tangis nya Keke terus berbicara dan menggoyang kan tubuh Yuan bahkan juga memukulinya sesekali. "Xi Yuan bangunnn.... Kau pembohong besar, penipu, pria tidak bertanggungjawab! Kau meninggalkan ku 5 tahun lalu, menelantarkan kami, apa sekarang kau juga mau mengulangi nya lagi? Bangun Xi Yuan bangunnnn...."


"Xi Yuann.... Kau sudah berjanji akan menemani ku, kau juga sudah berjanji pada anak-anak, menjadi ayah yang baik untuk mereka. Kau berjanji akan membahagiakan ku, kau berjanji akan mengejarku, melamar ku, dan banyak hal lainnya. Kau masih punya hutang, kau.. kau... Khuhuhuhu... hikss..." lanjutnya.


Chu Xia dan anak-anak tiba di Bangsal mereka berjalan sedih ke arah Bo Gum dan Ri Rey. Chu menahan anak-anak agar tidak mendekati mereka berdua terlebih dahulu.


Keduanya menangis memanggil Xi Yuan. "Ayahh...." ucap mereka di setiap tangisnya.


Mendengar tangisan kedua anak nya, Keke mencoba tegar dan menahan kesedihan nya. Ming Ke duduk sambil terus menggenggam tangan Xi Yuan. "Yu, hiks... apa kau tahu sebahagia apa perasaan ku saat kau melamar ku di pantai kala itu," ujarnya mengelus cincin pemberian Xi Yuan.


"Andai waktu bisa ku putar kembali, hikss... aku akan menjawab perasaan mu tanpa ragu. Yuan, aku juga, aku juga mencintaimu. Baik kemarin ataupun sekarang,"


Belaian lembut tangan seseorang mendarat di ubun-ubun Ming Ke. "Jika bahagia kenapa diam kau tidak menjawab ku?" tanyanya.


"Aku, aku hanya takut kau akan pergi meninggalkan ku lagi," jelasnya.


"Apa kau mau menikah dengan ku, Ming Ke?"


"Ya, Ya aku mau! hikss... Jika kesempatan itu masih ada, hiks..." Ming Ke menghentikan tangisnya lalu membuka matanya. Seketika Keke tersadar dan mendongak sesaat setelah mendengar suara tersebut.


Menatap tidak percaya, "Xi, Xi Yuan," Keke bangkit dari tempat duduknya. "Hah! kau, kau hidup! Kau masih hidup?" menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ming Ke, menikahlah dengan ku..."


...----------------...


...Qarry_Adz...


...Mereka akan memandang rendah ketika kau dibawah...


...tapi Mereka kan meninggikan mu saat sudah di atas...

__ADS_1


...Maka jangan perdulikan para lidah tidak bertulang itu...


...Tetap fokus dan terus capai tujuanmu. ...


__ADS_2