
...****************...
Ai Ki yang masih menunggu di depan pintu.
"Ada apa? Bukannya kemarin dia sudah percaya, kenapa mengabaikan ku lagi. Apa karena tindakan ku siang ini? Apa kesalahan yang ku lakukan," batinnya.
Ai Ki tidak merasa bersalah sudah menjebak Ming Ke untuk melihat nya bersama dengan Xi Yuan. Juga tidak merasa bersalah krena sudah menyebarkan foto itu untuk membuat Ming Ke semakin terpojok kan.
Tentu saja hal itu membuat Xi Yuan marah, tapi karena Ai Ki masih mengandung, Xi Yuan tidak dapat berbuat apa-apa selain mengabaikannya. Karena bisa saja dia kehilangan kendali dan melampiaskan emosi nya untuk Ai Ki.
Keesokan harinya.
"Xi Yi, Ming Wei, selamat pagi..." ucap Ai Ki.
"Mommy!!..." Ming Wei memeluk Ai Ki.
"Hari ini mommy harus membawa adik untuk pemeriksaan, kalian baik-baik di rumah nanti ya.."
"Mommy, kita punya adik?"
"Iya sayang, lihat lah." menarik tangan Ming Wei mengelus perut nya.
"Ayah, lihat disini ada adik kecil!" ujarnya memanggil Xi Yuan.
"Benarkah? Wei-Wei suka?"
"Suka! Ayah ayo pegang adik nya, ayo ayah...." bujuk Ming Wei membuat Xi Yuan tidak bisa menolak nya.
"Ooh ternyata begitu. Xi Yuan akan menurut hanya dengan 2 wanita ini, yaitu Ming Ke dan juga Ming Wei. Jika begitu aku akan lebih memperhatikan Wei-Wei saja, Xi Yuan akan melihat ketulusan ku saat itu." batin Ai Ki.
Hari ini Kiki melakukan pemeriksaan untuk janinnya. Setelah pemeriksaan selesai Ai Ki seperti biasa menebus obat nya ke kasir.
Begitupun dengan Ai Ki, Ming Ke juga melakukan pengecekan janin nya.
"Keke, janin mu baik-baik saja. Lain kali kau harus lebih memperhatikan apakah lantai kamar mandi licin atau tidak,"
"Baik, Dok."
Ai Ki telah selesai dengan obatnya saat berbalik dirinya melihat Ming Ke. "Itu Ming Ke," berjalan menghampiri Keke.
"Yoo, lihat... Siapa di sini yang sedang bermuka kusam,"
"Ai Ki," ucap Ming Ke melihat Ai Ki.
Mengambil selembar kertas yang di pegang Ming Ke. "Lihat, ada urusan apa kau datang kemari," terkejut tidak percaya. "Kau hamil?!"
Menarik kembali kertas tersebut, "Bukan urusan mu,"
"Anak siapa itu? Apa itu anak nya Xi Yuan?!"
"Tidak! Aku bilang bukan urusan mu,"
Berkata dengan sedikit keras, "Ming Ke, kau tega sekali saat ini aku tengah mengandung anak CEO Xi Yuan. Tapi, tapi kau, kau juga tidak mau menerima kenyataan bahwa dia sudah menikahi ku dan sekarang kau juga mengandung anak nya. Hwaa... Kakak kau tega sekali," tangis nya.
Ai Ki ingin memojokkan Ming Ke di tengah-tengah keramaian rumah sakit.
"Kiki, apa yang kau bicarakan! Kau membuat semuanya salah faham,"
"Apa aku salah, pantas saja belakangan, Xi Yuan sering mengunjungi mu," ucapnya sambil terus meringis.
Mereka menggunjing dengan keras tanpa memikirkan perasaan Ming Ke saat ini.
"Kakaknya tidak mau mengalah. Juga masih menengahi rumah tangga adik nya,"
"Apa dia tidak punya muka. Nona Kiki sebagai model, dan Tuan Xi Yuan sebagai orang terkemuka di Kota A. Mereka pasangan serasi. Tapi jal@ng ini malah seperti itu pada adik nya."
"Bukan hanya simpanan, dia juga mengandung anak nya CEO,"
"Pasti Tuan tidak tahu kehamilannya, lalu setelah anaknya lahir dia pasti akan meminta lebih,"
Ming Ke sangat marah, tapi pada kenyataannya memang benar, dialah orang ketiga di sana. "Ai Ki, aku memang benar menjadi simpanan Tuan Yu, tapi yang aku tahu, Tuan benar-benar menyayangi ku melebihi sayang nya pada mu," ucap Ming Ke.
__ADS_1
"Kau lihat, aku terluka saat membuatkan nya makan siang. Lalu dia membantuku membalut luka ini, dia juga menemani ku hingga aku tertidur pulas," balas Ming Ke.
Perkataannya membuat Ai Ki terbakar rasa cemburu. Dalam fikiran Ai Ki.
"Membalut luka? saat itu..."
Flashback On
"Tuan, kau mau buah?"
"Em.."
"Aku akan mengupas kan nya untuk mu," memotong apel dengan pisau.
"Ahk.. Tuan, aku melukai tangan ku," menjatuhkan pisau di tangannya.
"Apa kau idiot, mengerjakan pekerjaan mudah saja tidak bisa! Pergilah!" membentak Ai Ki.
Flashback Off
"Saat itu, Xi Yuan malah memarahi ku, bukan membantu ku." batin Ai Ki.
Ming Ke terus memperhatikan wajah Ai Ki yang terdiam, "Kau berkali-kali menyebutku sebagai simpanan, kali ini aku akan memberitahukan pada mu seperti apa arti simpanan yang sebenarnya," batin Keke.
Ponsel Ming Ke berdering.
Melihat layar ponsel nya, "Wahh... Tuan ini sangat mengerti situasi ya..." batinnya.
"Ah... Itu dari Xi Yuan," ucap nya sengaja.
Mengangkat panggilan tersebut lalu memperbesar suara panggilan.
"Halo, sayang. Kau dimana?"
"Ahh, sayang. Aku sedang keluar sebentar," jawab Ming Ke.
"Aku sudah sampai di apartemen mu. Kirimkan lokasi nya, aku akan menjemput mu,"
"Baiklah, aku akan menunggu mu, Emuach.."
Ming Ke memutuskan panggilan. "Oh astaga, ternyata istri sah nya tuan masih berada disini. Apa dia juga sudah mendengarkan kecupan itu," ucap Ming Ke berpura-pura bodoh untuk memanasi Ai Ki.
"Kau pelakør! Dasar jal@ng tidak tahu malu! Kau masih tebal muka memamerkan perselingkuhan mu!"
"Sudahlah, Tuan Xi Yuan sudah menunggu ku, aku tidak punya waktu melayani mu, Bye..." ucap Ming Ke meninggalkan Ai Ki.
"Sialan! Kalian berdua lihat saja, aku akan menghancurkan pelakør busuk seperti mu!" teriak Ai Ki.
Apartemen Ming Ke.
Keke melihat sekeliling, "Eh, dimana dia? Sudah pergi? Baguslah..." ujarnya.
"Kau mencari ku, sayang?" tiba-tiba melingkarkan tangan nya ke pinggang Ming Ke dari belakang.
"Aghh! Kau mengejutkan ku!" memukul punggung tangan Xi Yuan, memutar badannya.
"Stt... tenanglah," menahan pemberontakan dari Ming Ke.
"Lepaskan aku"
Berbisik di telinga Keke, "Kau tadi menyebutku dengan panggilan Sayang. Aku ingin mendengarnya lagi,"
"Tidak"
"Sebutkan saja, apa susahnya sih, sayang?"
"Lepaskan aku Tuan Yu,"
"Sebutkan dulu, lalu aku akan melepaskan mu,"
"Tidak mau"
__ADS_1
"Baiklah ku pastikan kau menyesal tidak mengikuti ku," menggendong Ming Ke seperti karung beras.
"Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan aku! Turunkan aku!" berontak Ming Ke memukuli punggung Xi Yuan.
Yuan meletakkan Ming Ke di atas ranjang nya.
"Sebutkan, jika tidak aku tidak akan sungkan," tersenyum smrik.
Meraba-raba tubuh Keke.
"Baiklah! Baiklah! Aku akan menyebut nya, aku akan menyebutnya!" teriak Ming Ke.
Xi Yuan masih berada di atas badan Ming Ke. Menunggu Keke menyebut nya dengan panggilan seperti tadi.
"Sa-sayang..." ucap Keke pelan.
"Aku tidak dengar,"
"Sayangg..." sedikit lebih keras.
"Aku tidak dengar," goda Xi Yuan.
Ming Ke mengambil napas dalam-dalam, "Tuan Xi Yuan sayang!!!" teriaknya.
"Nah.. Begitu baru benar. Mulai saat ini kau dilarang untuk menyebutkan nama ku."
"Jadi aku harus memanggil mu apa? Tuan idiot? Tuan serigala? Tuan tebal muka? Tuan mēsum? Tuan Kepala Udang? Atau apa?" jawab Ming Ke masih kesal.
"Kau berani, hum?" jawab Xi Yuan kembali meraba.
"Ti-tidak, baiklah aku akan memanggilmu apa?" menghentikan tangan Xi Yuan.
"Panggil aku sayang, suami ku, pacar ku, atau cintaku juga boleh,"
"Baiklah aku akan memanggil mu dengan sebutan Tuanku,"
"Tidak ada pilihan lain, pilih suami ku,"
"Oke, oke, aku memilih sayang saja. Karena sayang lebih bisa di mengerti orang lain, daripada yang lainnya,"
Xi Yuan tersenyum akhirnya bisa membuat Ming Ke menurut padanya.
Buzz
Buzz
Menggeser dari atas badan Ming Ke. Mengangkat panggilan.
"Ada apa, Bo."
"Tuan, pekerjaan sudah selesai. Selanjutnya apa?"
"Tunggu aku," memutuskan panggilan.
"Ming Ke, aku harus kembali ke perusahaan,"
"Pergilah, tidak diantar,"
"Kau mau ikut?"
"Tidak"
"Tidak nya wanita berarti iya." jawab Xi Yuan menarik tangan Ming Ke.
"Xi Yuan!! Aku bilang tidak!!"
...----------------...
...Qarry_Adz...
...Tidak ada yang namanya Jalan Pintas meskipun berhasil itu juga merupakan hasil dari Kecurangan...
__ADS_1