Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Tatapan Tajam


__ADS_3

...****************...


Pantai


"Xi Yuan! Kenapa kau membuangnya!"


Ming Ke yang selama ini tahu susah nya mencari sepeser uang merasa sayang melihat cincin berlian itu dibuang Xi Yuan.


"Aku ditolak, dia juga sudah tidak berguna lagi," jawabnya santai.


"Apa kau tidak bisa memberikannya untuk ku saja! Dengan begitu aku bisa menjualnya! Kenapa kau bodoh sekali!!" tukasnya dengan penuh emosi.


"Kau... Huh!" Ming Ke berjalan kearah air pantai.


"Xi Yuan bodoh, bodohhh.... Mentang-mentang kau punya banyak uang, dengan mudahnya kau membuang berlian mahal itu. Kalau kau tidak mau, aku pun mau... Dasar tidak berguna..." gumamnya sambil terus membelah air pantai.


Xi Yuan mengikuti langkah Ming Ke, "Untuk apa kau mencarinya?"


"Kau yang seorang CEO kaya, tidak akan tahu betapa berharganya benda itu untuk kami. Menyingkirlah!"


"Tidak akan! Untuk apa dicari lagi? Kau juga sudah menolak ku"


Menatap tajam kepada Xi Yuan. Lalu mengabaikannya lagi.


"Ming Ke, berhenti. Kau tahu aku punya banyak berlian seperti itu, aku akan memberikan mu 10x lipat"


"Tidak penting, aku hanya mau itu" jawabnya.


"Kau tidur akan bisa menemukannya lagi, kecuali satu"


Ming Ke berhenti ditengah hembusan air pantai yang sudah separuh dari badannya. Membalikkan badan, "kecuali apa?"


"Kecuali kau mengatakan, Iya Aku Bersedia"


"Kau kira aku bodoh. Kau menipu ku untuk menerima mu sebagai suami ku"


Berfikir sejenak atas apa yang baru saja dikatakannya. "Benarkah? Oke aku salah. Kalau begitu katakan, Iya saja"


"Tidak mau" kukuh nya kembali membalikkan badan.


"Ming Ke, Aku Mencintai Muuu.....!!!" teriak Xi Yuan melihat Ming Ke terus mencari kotak tersebut.


Ming Ke berhenti, "kau gila!"


"Ya, aku gila karena mu" berjalan cepat mengejar Ming Ke.


Memeluk Ming Ke lalu mengangkatnya.


"Xi Yuan! Lepaskan aku!"


"Tidak akan sampai kau berkata, Iya"


"Xi Yuan Gila!! Sungguh Gila!!"


Xi Yuan memutar-mutar Ming Ke.


"Xi Yuan hentikan! Aku pusing!"


"Tidak akan, jawab dulu!"


"Baiklah, baiklah. Iya, Iya, Iya, Iya, Iyaaa...." pekiknya. "Sudah cukup 'kan"


Yuan menghentikan putaran nya juga menurunkan Ming Ke dari gendongannya. "Baiklah, password diterima,"


Mengangkat tangan Keke lalu mengangkat jari manis nya. "Karena kau begitu gigih ingin mendapatkannya, maka aku akan memberikannya untuk mu," memakaikan cincin permata biru laut tersebut.


Keke sempat terpana sebentar, "tunggu, jadi tadi yang kau buang..." menatap mata Xi Yuan.


"Yang ku buang? Aku tidak membuang apapun... Apakah kau mencari ini juga," mengeluarkan kotak cincin tersebut dari sakunya.


"Hah! Bagaimana bisa? Jadi tadi, apa yang kau lemparkan?"


"Hanya sebuah batu"


"Xi Yuan! Kau menipu ku!!" memukul nya dengan keras.


Berjalan mundur menghindari pukulan, "Hei, hei... Aku tidak menipu. Lagi pula jika memang itu kotak ini, bagaimana mungkin tidak terapung, benar 'kan?"

__ADS_1


"Benar, tapi tetap saja kau membuat ku tertipu," melanjutkan pukulannya. Ming Ke tersandung kaki nya yang lain karena Yuan terus berjalan mundur, ditambah lagi Yu lebih tinggi satu kepala darinya, "arghh..."


Yuan segera menangkap badan Keke. "kau tidak apa-apa?" tanyanya memeriksa badan Ming Ke.


Dengan cepat Keke mengembalikan posisi berdiri tegak nya. "Kau, kau. Huh..." berjalan malu meninggalkan Xi Yuan.


Melihat Ming Ke yang salah tingkah itu, membuat Xi Yuan tertawa, "Chk... Aku akan mendapatkan mu cepat atau lambat," gumamnya.


Tepi pantai


"Ming Ke, kau tidak apa-apa?" tanya Chu.


"Tidak, aku baik-baik saja,"


"Benarkah? Tapi wajah mu merah..." memperhatikan dengan seksama.


"Kau tidak pernah bahagia bersama pasangan mu sampai wajah memerah ya?" ledek Bo Gum.


"Hei! Kenapa kau selalu ada dimana pun"


"Ah... Dasar jomblo," meninggalkan Chu Xia.


"Siapa yang kau bilang tidak laku!!" pekik Chu Xia.


"Sudahlah, dimana anak-anak?"


"Mereka sudah menunggu di dalam mobil,"


"Baiklah, ayo pulang"


Di arah lain.


"Bagaimana? Apa diterima?"


"Siasat mu sedikit membantu. Tapi tetap saja tidak berjalan lancar," terus menatap kepergian Ming Ke.


"Ahh... Intinya saat ini kau sudah tahu kan perasannya pada mu," goda Bo mencolek baju basah Xi Yuan yang menampilkan dada busung nya.


Melirik emosi, "Tidak," berjalan meninggalkan.


"Hei... Bagaimana tidak, bukannya cincin juga sudah diterima? Apakah sudah jadian? Kapan akan menikah? Aku akan mengundang semua orang..." tukasnya Bo Gum mengejar ketertinggalan.


"Apa semuanya sudah siap?"


"Sudah, paman!" jawab keduanya.


"Baguss!! Ayo kita pulang!"


Chu Xia keluar dari kamar, "Hei, kau. Bantu aku membawa koper ini,"


"Darimana kau mendapatkan barang sebanyak itu? Lagipula kau pergi ke sini juga tanpa membawa sepasang baju," ujar Bo Gum melihat dua koper besar yang ditenteng Chu Xia.


"Sttt... Jangan banyak tanya, bawa saja," melemparkan koper-koper nya.


Mendorong koper, "astaga! Berat sekali, apa sih isinya!"


Tersenyum lebar "Meriam, hmm..." seketika merubah ekspresi nya menjadi muka masam.


Ming Ke keluar dari kamarnya. Begitupun dengan Xi Yuan.


"Sayang, kau sudah siap juga?"


"Siapa yang kau panggil sayang, huh!" ucap Ming Ke dengan wajah merona meninggalkan Xi Yuan.


Wei-Wei, Xi Yi, dan juga Chu Xia sudah berada didalam mobil.


"Mommy, ayo cepat masuk"


Mempercepat langkah nya. "Baik, sayang"


Membuka pintu, "Chu Xia, kau bisa mengemudi sendiri ke bandara, 'kan?"


Mengangguk, "Em... Em... Kenapa?"


"Bagus," menarik tangan Chu Xia keluar dari bangku belakang.


"Hei, hei... Apa yang kau lakukan,"

__ADS_1


Mendorong Chu Xia ke kursi pengemudi. Ming Ke juga segera masuk ke dalam mobil. "Sudah, jangan banyak tanya. Cepat tancap gas nya."


"Tapi mereka," menoleh ke arah Bo Gum dan Xi Yuan yang baru saja keluar dari pintu apartemen.


"Sudah, cepatttt!!" pekik Ming Ke.


"Oh, oke, oke.."


Brummm....


"Hei, tunggu!!" teriak Bo Gum mencoba berlari.


"Kalian, berhenti!!" pekik Xi Yuan.


Namun mereka terus melaju mengabaikan panggilan keduanya.


"Yu, bagaimana ini? Penerbangan akan tiba dalam 30 menit ke depan. Apa sih yang wanita mu inginkan?!" tugas Bo Gum sedikit kesal.


Xi Yuan mencari cara lain, sedangkan Bo Gum masih saja memarahi mereka.


"Wanita licik itu juga menyuruhku membawakan dua koper batu ini! Sekarang mereka malah pergi meninggalkan kita," jengkel nya.


Sebuah taksi berhenti di depan apartemen menurunkan penumpang.


"Ini saja, tidak ada waktu lagi," batin Xi Yuan.


Yuan langsung masuk kedalam mobil, "Kau! Kau mau ku tinggal?" memanggil Bo Gum.


Menoleh, "Jangan!! Tunggu aku!" pekiknya menghampiri taksi tersebut.


Akhirnya mereka dapat tiba di Bandara tanpa terlambat.


Dalam Pesawat


Melihat Ming Ke terus menatap ke bawah sana. "Ming Ke, kau melihat apa?"


Menoleh, "Em, ah... Tidak ada"


"Hemmm.... Kau menunggu tuan Yu, 'kan"


"Tidak, mana mungkin!" pekiknya.


"Sudah bisa di tebak. Lihat, bahkan wajahmu kembali merona"


"Chu Xia, aku tidak-"


"Sttt... Itu mereka," Chu Xia menunjuk keluar.


Ming Ke refleks langsung menoleh ke bawah sana, "mana?"


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Kau ini seolah ingin mengabaikan, tapi sebenarnya kau perduli"


"Kau menipu ku," Ming Ke memukul bahu Chu Xia dengan kedua tangan nya.


"Ah, sakit, sakit. Iya, iya aku minta maaf," menghindari pukulan Keke.


Dari depan datang seorang pria dengan mantel hitam tebal. "Chu Xia, kau pindah," ujarnya.


Kedua nya menatap pria tersebut.


"Baiklah!" jawab Chu Xia langsung berdiri.


"Tidak! Dia harus tetap disini," Ming Ke menatap tajam ke arah Chu Xia.


Menelan saliva nya, "ah, itu. Tuan, lebih baik aku tetap disini," ingin duduk kembali.


Menarik, "Tidak, ini sudah jadi kursi ku," langsung duduk.


"Jangan sembarangan, ini milik Chu Xia"


"Sekarang sudah jadi milik ku, Iya kan Chu Xia?"


Melihat tatapan Xi Yuan lebih menyeramkan dari Ming Ke. "Pasangan ini menakutkan, lebih baik cari aman saja," batinnya.


"Selamat menikmati perjalan kalian," tukasnya berlari cepat mencari kursi lain.


...----------------...

__ADS_1


...Qarry_Adz...


...Peluk dunia. Jangan biarkan Dunia yang Memeluk mu...


__ADS_2