Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Anak-anak


__ADS_3

...****************...


Selesai makan Ling langsung saja menuju pada hal yang harus di jelaskan disini.


"Yu aku tau selama ini kau mencari keberadaan Ming Ke hingga ke Kota W. Tapi yang membuat ku marah kau malah mengurung istri mu disini, dirumah tanpa cahaya matahari ini.,"


"Ditambah lagi dia adalah orang yang telah menyebabkan anak kalian tiada. Mengapa kau malah semakin perduli kepada nya, bukan kepada istri mu!"


"Jadi kau ingin anak mu ku terlantarkan diluar, begitu?"


"Dia bisa menggunakan fasilitas yang diinginkannya tanpa perlu memikirkan biaya, apa ini belum cukup?" ucap Bo kesal, tidak tahan mendengar ucapan Ling itu.


"Katakan saja dimana dia..." lanjut Yuan.


"Kau fikir aku akan memberitahu mu dimana lokasi tersebut. Kau takkan bisa menemukannya"


Yu berdiri ingin segera bergegas meninggalkan mereka.


"Kau yakin tak ingin tahu dimana dia!" teriak Ling menarik perhatian Yu untuk kembali.


"Aku akan mencari tahu sendiri"


"Dia itu pembunuhan! Apa pembunuhan begitu penting untuk mu! kau meminta ku untuk menunggu mu kembali,dan aku sudah melakukan itu, tapi kapan penantian ku ini akan terbalaskan!!" ungkap Ai Ki mulai marah dengan sikap Xi Yuan.


"Justru karena dia pelaku nya aku ingin membuatnya menderita"


Yuan pergi meninggalkan mereka setelah mengatakan hal tersebut.


"Tuan maksudnyaa?....


"Aku akan terus memantau mereka, Kebohongan harus dibalas dengan kebohongan juga. Aku ingin lihat seberapa mampu mereka bertahan dengan sandiwara yang di buat ini," lanjut Yu.


Kota W


Hari ini Ming Ke baru saja selesai menulis episode yang ke 70, disela-sela mengasuh anak, menulis, juga berfikir apa yang akan dituangkan ke dalam novel tersebut, tidak hanya sekali dirinya merasa down dan ingin mengakhiri cerita.


Tapi ketika berbalik badan melihat bayi mungil nya terbaring diatas tempat tidur, Ming Ke kembali membangkitkan semangat menulis demi menghidupi kedua anak nya.


Di kota tanpa sanak saudara membuat nya sedikit kesulitan, meski dibantu Fei namun tetap saja mengasuh 2 orang anak sekaligus bukanlah hal yang mudah. Belum lagi ketika keduanya sama-sama haus, Ming Ke harus menyiapkan asi juga susu untuk mencukupi mereka.


Ming Ke sengaja tidak menggunakan jasa ibu asuh untuk mereka, selain ingin merawat dan memberikan semua kasih sayangnya, ini juga demi menghindari seluruh kota tahu kalau presedir Liu Fei menyembunyikan tiga orang didalam Apartemen pribadi miliknya.


"Ming Ke aku kembali"


"Kau kembali"

__ADS_1


"Yahh tadinya ingin segera pulang tapi sudah lama aku tidak melihat si kembar ini"


Liu Fei belum pernah punya adik apalagi anak, baginya anak ini seperti anaknya sendiri. Fei bahkan sering membawakan keduanya mainan meski tahu mereka belum bisa memainkannya.


"Malam ini bolehkan aku tinggal disini?"


"Fei ini rumah mu, aku tidak bisa melarang. Tapi aku takut tangisan mereka akan mengganggu istirahat mu"


"Tidak akan, aku akan tidur di kamar ujung dan menutup rapat pintu agar tidak terganggu."


"Baiklah..."


Apartemen punya 3 kamar biasanya Fei akan tidur dikamar utama yang saat ini ditempati Keke, sementara kamar lainnya tetap kosong kecuali saat asisten pribadi nya ingin menginap barulah kamar itu terisi.


Pagi hari


"Fei bangunlah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu"


"Ada apa dengan lingkar mata itu?... Apa tangisan mereka mengganggu mu?..." tanya Keke.


"Tidak, tidak, aku hanya mengerjakan beberapa tugas hingga larut." Liu Fei menutupi bahwa dirinya tidak tidur karena menjaga anak Ming Ke semalaman.


Fei mendengar tangisan mereka. Ketika melihat Keke tak sadar akan tangisan keduanya Fei membuatkan susu agar tidak mengganggu istirahat ibunya.


"Rey apa masih belum menemukan siapa pemilik ponsel seluler itu?"


"Belum Tuan, sepertinya ini jebakan"


"Alih-alih mengejar mereka, mereka tau kita pasti akan serius terhadap bukti palsu ini"


"Jadi maksudmu, kita terkecoh dengan bukti ini dan mereka pun berhasil lari?"


"Benar Tuan"


"Siall!!.... Lalu bagaimana perkembangan Kota W?" mengepalkan tangannya.


"Sama saja, tidak ada pergerakan yang mencurigakan"


"Aaahh lagi-lagi kehilangan jejak! Tetap pantau pergerakan disana, segera ambil tindakan bila menemukan sesuatu"


"Baik, Yu"


Bo Gum dan Ri Rey merupakan asisten kepercayaan Xi Yuan.


Pertemuan Bo dan Yu berawal saat mereka menginjak usia 8 tahun, masa dimana mereka seharusnya menikmati permainan. Namun karena sama-sama memiliki single parent mereka sering dikucilkan oleh teman lain dan memutuskan untuk bersahabat berdua saja. Sejak saat itu Yu dan Bo mulai akrab layak nya saudara sekandung.

__ADS_1


Sedangkan Ri Rey bertemu Yu dan Bo ketika mereka sedang berlibur menghabiskan akhir pekan ke kota C. Waktu itu Rey sedang dikejar oleh Sekutu kelompok Mafia, dengan kaki pincang dia tetap berusaha melarikan diri, melihat hal tersebut Bo dan Yu membantu Rey menghabisi mereka.


Rey yang ahli dalam memainkan komputer itu, menceritakan bahwa dirinya telah dimanfaatkan oleh musuh, itulah yang membuat nya harus berurusan dengan mafia ini.


----------------


Dua Tahun kemudian


Masa-masa sulit menjaga, mengasuh, dan juga harus bekerja siang malam tanpa lelah kini mulai terasa ringan. Sesuai cuti yang diambil, Ming Ke sudah bisa meninggalkan anaknya, mempercayakan semua kepada anak tertua untuk menjaga sang adik.


Meski kembar tapi adik lebih seperti saat dirinya kecil, sangatlah manja juga imut sedangkan si kakak lebih seperti ayahnya mandiri dan kuat dari kecil.


"Xi Yi, Ming Wei, ibu pulang..."


"Mommy Wei-Wei liinndu sangat...." Ming Wei putri kecil nan manja itu berlari memeluk ibunya.


"Si paling Mommy Chh..." sindir Xi Yi kepada adiknya.


Ming Ke tersenyum, "Sini coba ibu lihat apa saja yang kalian lakukan hari ini"


Ming Ke membuka laptop yang mengarah pada CCTV apartemen, yang dengan sengaja dipasang untuk memantau mereka ketika Keke tidak ada di rumah.


"Wahh pantas saja Wei berlari, ternyata agar mendapatkan perlindungan ya," Ming Ke tersenyum kearah putri nya yang baru saja menjahili Xi Yi.


"Ibuu bisa tidak Yiyi ikut dengan mu bekerja, atau Wei-Wei yang tinggal disini seorang diri," ujarnya.


"Ahahahhh... Apa bedanya sayang bukankah keduanya sama-sama menjelaskan kau ingin meninggalkan adik mu sendirian!" Keke mengelus rambut putra kecilnya.


"Dia selalu menjahili ku, sepertinya dia bukan adik ku. Hempt..." Yi melipat kan tangannya ke dada.


"Sayang tidak boleh begitu, Wei dan Yi adalah anak ibu kalian tetap akan menjadi anak ibuuu"


"Tapi kan bu Apa-apa yang Yi lakukan Wei merusaknya, saat Yi marah Wei hanya bisa menangis dan membuat kekacauan semakin membesar."


"Sudah-sudah ayo bersiap ibu akan memasakkan masakan kesukaan kalian"


"Telimakasih mommy emmuah,"


"Yiyi wweekk..."


"Ibuu lihat itu dia mulai lagi," Yi mengejar adiknya.


Ming Ke tersenyum melihat kedua bocah itu bergembira, rasanya lelah yang baru saja diperoleh seketika hilang karena senyuman mereka.


'Yi kau begitu kuat Nak, tapi kau lemah untuk soal wanita, mungkinkah itu turunan ayah mu... Wei kecil meski belum lancar berbicara kau sama seperti ku dulu yang sering mencari ulah dengan Kiki... Ahh kakak kenapa sejak kakek tiada sifat mu berubah, padahal kita pernah tertawa bersama, bahkan menghabiskan waktu dengan gembira... Kakak aku merindukan kasih sayang mu yang dulu," tidak terasa air mata menetes mengingat masa lalu dirinya dengan Ai Ki.

__ADS_1


__ADS_2