
Malam Hari di Apartemen Persembunyian
"Bo, cari ahli yang sangat profesional di seluruh Kota maupun di seluruh penjuru negeri. Dalam waktu 2 hari, buatkan obat penawar untuk amnesia Ming Ke. Tidak peduli sebanyak apa mereka menghabiskan uang ku,"
"2 hari, baik Yu,"
"Dan satu lagi, Rey pesan kan penerbangan ku besok siang. Perintahkan mereka untuk menemui ku di Rumah Sakit."
"Em.." jawab Rey.
Berdiri menghadap para anggota nya. "Kalian, tetap disini menjaga mereka. Terus perhatian langkah musuh, jika Brian menemukan kesulitan, Rey akan ambil alih untuk memerintahkan kalian,"
"Baik, Tuan," jawab mereka serentak.
Xi Yuan hendak istirahat, namun dirinya berhenti sejenak ke dalam kamar tempat dimana anak-anak berada. Melihat keduanya termenung menatap langit, Xi Yuan ikut duduk di samping mereka.
"Xi Yi, Ming Wei, sebelum nya, maaf," menatap ke arah langit.
Mereka tidak menggubris perkataan Xi Yuan.
"Yi, aku bersalah tidak mengerti SOS yang kau buat saat di tawan mereka. Wei-Wei, aku bersalah karena terlambat menyelamatkan kalian."
Mereka masih juga diam.
Tidak putus asa, Xi Yuan mencoba cara lain untuk membuat mereka berbicara padanya. "Lihat, disini sudah jelas bahwa kalian memang anak-anak ku, tapi aku belum bisa menjadi ayah baik untuk kalian selama 5 tahun terakhir," menunjukkan secarik kertas hasil tes DNA melalui rambut. "Lalu... bisakah aku mendapatkan kesempatan untuk menebusnya?,"
Xi Yi berbisik pada Ming Wei, "Dik, bicaralah... Apapun keputusan mu kakak akan mengikutinya,"
Namun Ming Wei masih juga terdiam, sambil terus memeluk boneka kesayangan nya.
"Hmm... Adik ku masih tidak mau berbicara. Karena kau sudah tahu salah, pergilah. Tidak ada gunanya menyesali orang yang sudah tiada," jawab Xi Yi memancing sang adik.
Setelah perkataan itu Ming Wei berteriak, membuat Xi Yuan terkejut. "Tidak! Mommy masih hidup! Kakak tidak boleh bohong!!"
Memberi kode mata untuk Xi Yuan. "Berhasil, bicaralah..."
Menatap senang ke arah Wei-Wei, "Akhirnya aku bisa mendengarkan suara imut mu,"
Xi Yuan turun dari kasur bersimpuh sujud di bawah keduanya, "karena kau sudah bersedia membuka mulut, aku harus memberitahu kalian sesuatu,"
Ming Wei tergerak menatap pria yang menggenggam erat kedua tangannya juga kedua tangan kakak nya ini. Xi Yi, pun merasa penasaran dengan Yuan.
"Sayang, sebenarnya ibu kalian masih hidup," menatap sendu keduanya.
"Masih hidup?" tanya Xi Yi sedikit tidak percaya.
Ming Wei tersenyum lebar mendengar itu, dengan nada sangat gembira dan rindu nya Dia langsung membuka mulutnya, "Benarkah?! Mommy masih hidup?! Dimana dia sekarang? Wei-Wei sangat merindukan mommy... Tuan, bisakah kau membawa ku menemuinya..."
"Benar, ibu kalian masih hidup. Tapi... untuk saat ini kalian belum bisa bertemu dengannya-"
Memotong pembicaraan Xi Yuan, "Kenapa?" ucap keduanya.
__ADS_1
"Karena ibu kalian sedang sakit, tunggu beberapa hari lagi, setelah dia sembuh, aku berjanji akan membawa kalian menemuinya,"
Menundukkan kepala, lalu mendongak ke arah Xi Yuan, "Mommy sakit? Wei-Wei mau menjaga nya... Mommy tidak pernah meninggalkan Wei-Wei saat Wei-Wei sakit. Benar, Wei-Wei harus menjaga mommy, Tuan"
"Ming Wei, ibu sakit. Mungkin lebih baik menunggu nya sembuh dahulu, atau kau bisa tertular nantinya," jelas Xi Yi.
"Tidak! Wei-Wei anak yang kuat, mommy pasti juga sangat merindukan ku," ungkap Ming Wei dengan teteskan air mata.
"Ming Wei, aku sudah berjanji untuk membawa kalian menemui Ming Ke, percayalah pada ku, heum.."
"Wei-Wei tenang saja, jika Tuan ini berbohong, kakak akan membalaskan dendam untuk mu padanya kelak." hibur Xi Yi.
"Em.. Em..." menganggukkan kepalanya.
Melepaskan genggaman nya dari kedua tangan anak-anak, mengelus rambut mereka. "Aku akan mempertimbangkan itu, lihat cara kalian memperlakukan ku," tersenyum jahat tapi menggoda keduanya.
"Pergilah, kau sudah seperti serigala lapar," ujar Xi Yi mengusir Xi Yuan pergi.
Mengingat saat-saat Ming Ke menyebutnya sebagai seekor serigala, "Xi Yuan, Serigala!" Seketika Yuan tersenyum kecil.
"Memang anak ku, bahkan sebutan itu tanpa sengaja, tapi persis dengan ucapannya (Ming Ke)," batin Xi Yuan sembari menutup pintu kamar.
Keesokan harinya
Jam 09 pagi
Xi Yuan sudah bangun, tapi masih di dalam kamar mengerjakan pekerjaan nya, para pelayan sudah menyiapkan sarapan pagi, kini semua orang telah berkumpul menunggu Xi Yuan turun untuk makan.
Ming Wei teringat dengan perkataan Xi Yuan pada nya kemarin malam, berinisiatif membawakan sarapan untuk nya ke atas. Wei-Wei mengambil semangkuk nasi dengan semangkuk sayur tumis cumi dengan campuran lainnya.
"Em... Ming Wei, ada apa?" tanya Xi Yuan, melihat gadis kecil tunduk ke bawah dengan makanan di tangan nya.
Dengan nada rendah dan lembut, "Ayah..."
Membungkuk kan badan, terkejut tidak percaya, "Kau bilang apa?"
Ming Wei mengulangi perkataannya dengan sedikit lebih keras, "Ayahh..."
"Apa kau sedang berbicara pada makanan itu? Aku tidak dengar, coba ulangi sekali lagi," goda Xi Yuan.
Mendongak ke atas melihat wajah Xi Yuan, "Ayah..."
Meletakkan makanan yang di bawa Ming Wei ke lantai, memeluk nya dengan erat. Berkata dalam hati, "terharu sekali mendengar anak ini memanggil ku dengan sebutan itu, aku sungguh Ayah yang tidak berguna, sudah menelantarkan kalian, juga tidak menemani hari-hari kalian tumbuh dewasa, maaf kan Ayah mu ini, Nak," sambil terus menggendong Ming Wei.
Xi Yi datang di tengah-tengah itu. "Sampai kapan kau akan memeluknya," dengan nada datar nya.
"Kau juga mau?"
"Aku bukan lagi anak kecil," ujar nya.
Mengabaikan Xi Yi. "Gadis kecil, bisakah kau memanggilku dengan sebutan itu mulai sekarang?"
__ADS_1
"Em..." mengangguk.
"Terimakasih sayang ku," mencium wajah Ming Wei.
Melihat ke arah Xi Yi, "Kau ada apa?"
"Tuan Xi Yuan, kami sudah menahan lapar selama 2 jam 35 menit dibawah sana hanya demi menunggu mu, kapan kau ada niat untuk turun? Kau tidak mendengar suara keributan di sana," menunjuk pada perut kecil nya.
"Kenapa menunggu ku? Bukannya aku sudah berkata untuk memulainya tanpa ku. Lagi pula pekerjaan ku belum selesai, aku harus cepat sebelum waktu penerbangan,"
"Penerbangan? Apa kau akan menemui ibu?" tanya Ming Wei.
"Benar sayang, hari ini ibu sudah bisa melakukan pengobatan, doakan saja 3 hari kemudian kalian melihat nya,"
"Bisakah kau membawa ku juga?"
"Wei-Wei dengarkan ayah, saat ibu sembuh ayah akan membawa kalian menemuinya, ayah janji,"
"Ayah? Sejak kapan?" ujar Xi Yi namun tidak di gubris keduanya.
"Cap jempol, agar kau tidak mengingkari nya," ungkap Ming Wei menyodorkan tangannya.
"Cap, janji..."
"Baik ayah sudah berjanji. Turunkan aku, aku tidak akan mengganggu mu lagi,"
Xi Yuan menurunkan Ming Wei dari gendongannya. Wei-Wei langsung turun menuju meja makan.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu, tatapan apa itu?"
"Apa yang kau katakan sampai-sampai Ming Wei memanggilmu seperti itu, juga berbicara padamu,"
"Tidak ada, apa kau juga sudah menerima kehadiran ayah mu ini Xi Yi? Panggil aku ayah..."
"Tunggu aku lihat seperti apa kau memperlakukan ibu ku,"
"Tenang saja, aku akan membahagiakan nya dan juga kalian," senyum manis.
"Ckh..." memutar bola mata malas, lalu menuruni tangga menuju meja makan.
Xi Yuan mengikutinya dari belakang. "Kalian makan saja. Panaskan lagi semuanya, jangan sampai anak-anakku sakit karena itu,"
"Baik, Tuan," jawab para pelayan.
Saat Yuan hendak masuk kedalam kamar nya, panggilan dari Brian membuatnya menghentikan langkah.
"Xi Yuan, mereka menemukan kalian! Cepat bawa pergi anak-anak!" terkejut dan langsung menoleh ke arah anak-anak.
...----------------...
...Bo Gum...
__ADS_1
...Emosi bukan satu cara untuk menyelesaikan masalah...
...****************...