
...****************...
Kantor Xi Yuan
Di luar kamar.
Meletakkan kedua tangannya di pinggang, "Siapa yang memberi mu izin untuk masuk ke dalam kamar pribadi ku!"
Menunduk, "Ti-tidak ada, Yu"
Menunjuk, "Lantas kenapa kau begitu lancang!"
"dan sejak kapan kau berada di sana!"
"Aku, aku tidak sengaja tertidur di sana, maaf Yu,"
"Tadi nya aku hanya mencari mu saja, tapi karena lelah tidak sengaja tertidur di sana,"
"Lain kali kau tidak di izin kan masuk kedalam kantor ataupun kamar itu, kau mengerti!" mengambil dan mengenakan jas nya.
Berdiri disaat Xi Yuan mulai membuka pintu. "Xi Yuan, aku ini istri mu, apa aku harus meminta izin meski hanya untuk beristirahat di dalam kamar suami ku!"
Menatap lurus dengan membelakangi Kiki, "kau memang istri, tapi bukan istri sah ku," melancarkan langkah nya pergi.
Degh
Terduduk lemah, "Bukan.... istri sah... Xi Yuan, apa maksud ucapan mu!" mengacak rambutnya, bertingkah seperti orang gila.
Bo Gum, dan Ri Rey mengikuti langkah Xi Yuan keluar dari kantor nya.
Tidak lama Xi Yuan keluar, Ai Ki keluar dari kantor, melangkah linglung menuju lift.
Lift terbuka, seorang pria keluar tanpa menatap jalan dan menabrak Ai Ki.
Brukk
"Sh ah.." Ai Ki terjatuh.
Begitupun dengan lembaran-lembaran kertas yang di bawa pria tersebut.
"Maaf nona, aku melihat jalan, maaf kan ketidaksengajaan ku," melirik wanita itu.
"Ai Ki!, ternyata kau, apa yang terjadi dengan mu?" menopang tubuh Kiki berdiri.
"Aku baik-baik saja," membersihkan dirinya.
"Kau sedang tidak baik-baik saja, ayo ikut aku" pria itu mengajak Ai Ki pergi.
Dalam Apartemen
"Duduk lah, aku akan membuatkan minum untuk mu,"
Menghampiri pria itu di dapur, "Ao Ting, apa menurut mu aku buruk?"
"Kau perfect sayang, kau itu sangat sempurna"
"Tapi... Kenapa aku selalu disia-siakan?" melipat tangannya, lalu menopang wajahnya dengan satu tangan.
"Siapa uang menyia-nyiakan mu? Aku selalu setia pada mu Kiki, aku bahkan sudah menceraikan istri ku sesuai keinginan mu,"
"Benarkah?" tidak bersemangat.
"Ayolah, aku sudah memberikan semua kemauan mu, lalu ekspresi apa ini," membelai lembut wajah Kiki.
Tersenyum tipis, "Ting, cuma kau yang mengerti aku, itu sebab nya aku tidak bisa berpaling dari mu," menggenggam tangan Ao Ting.
"Ai Ki, aku berjanji akan membahagiakan mu,"
Saling menatap, sayu, sendu, terbuai, terpesona, melepaskan hasrat, melepaskan kerinduan, memulai aksi dengan ciuman, dan berakhir di dalam kamar.
Push
__ADS_1
Emhh
Skipp.
Pagi Hari
Masih dalam dekapan
"Ting, kau bilang, dibebaskan dengan jaminan? Siapa yang menjamin mu?"
"Ada seorang pria kaya di kota ini yang menjamin ku, lalu dia juga memberikan ku apartemen dan pekerjaan tetap untuk ku, bahkan dia akan memberikan 5% saham perusahaan nya untuk ku," berkata dengan bangga.
"Benarkah? Pekerjaan apa yang diberikan untuk mu?"
"Intinya aku sangat ahli di bidang itu, sehingga dia memperkerjakan ku,"
"Woahh... Jika itu benar, bukankah masa depan mu juga akan terjamin!"
"Benar Ai Ki sayang, maka dari itu aku semakin tidak ingin berpisah dari mu"
"Ao Ting, aku mencintaimu"
"Kiki, aku juga mencintaimu, sayang"
Mereka kembali membenamkan diri didalam selimut putih itu.
Kota C
Rumah Nenek
Kedua anak kecil berjalan masuk ke dalam rumah diikuti dengan seorang gadis yang selama ini menjaga mereka.
"Bibi, apa mommy akan kembali lagi malam ini?"
"Lebih baik pastikan saja!" ujar sang kakak berlari menuju kamar dengan cepat membuka laptop dan melakukan panggilan.
Panggilan terhubung
"Ibuuu!" // "Mommy!!"
Melirik kedua bocah itu, "Baru pulang sekolah? Kenapa belum mengganti seragam? Atau mau ibu marah lagi hemm,"
Mengambil alih laptop lalu melambaikan tangan agar keduanya berganti pakaian terlebih dahulu, "Mereka merindukan mu, sampai tidak sabar untuk melihat wajah mu,"
Tersenyum riang, "Ooh ternyata rindu, chh dasar anak manja, baru saja kemarin malam tidur dengan pelukan hangat, sekarang kembali merindukan ku,"
Tiba-tiba menyambar, "Mommy, Wei-Wei rindu mommy, Wei juga rindu ayah,"
Dari sisi lain juga ikut menyambar, "Wei-Wei merindukan ayah!? Baiklah, jika begitu ayah akan kembali bersama ibu kalian malam ini"
"Kau bersungguh-sungguh? Benarkah! Asyikk ibu pulang lagi!!..." berlari menghampiri kakak nya.
"Brian! Kau sudah berlebihan!"
"Vivian, kenapa tidak? dengan begitu kau juga bisa bertemu dengan mereka bukan?"
"Sudahlah, aku tidak mau berbicara dengan mu" mengambil alih lagi laptopnya.
"Chu Xia, maaf ya selama ini sudah harus merepotkan mu mengurus kedua anak ku"
"Santai saja Vivian, lagi pula aku juga tidak bekerja lagi, hari-hari ku pasti akan sangat kesepian jika tanpa mereka,"
"Kau gadis baik, semoga kelak kau mendapatkan pria yang baik juga,"
"Pufth... Vivian sepertinya aku harus mengembalikan do'a itu untuk mu juga, mwahaha...." tertawa lebar.
"Chu Xia! Chh dasar," tersenyum malu-malu.
"Dia sudah mendapatkannya, lantas kau bagaimana?" tiba-tiba menerobos mengalungi leher vivian dengan tangan nya.
"Huu kau itu kan cuma-"
__ADS_1
Melompat naik, "Ibu! Apa kau benar-benar kembali lagi malam ini!" kedua bocah ini memotong pembicaraan mereka.
"Benar sayang! dan kali ini ayah akan ikut bersama nya!...."
Mengubah paras nya, "Ayah? Chh, mengganggu saja, aku bahkan tidak berbicara dengan mu"
Menguasai kamera laptop, "Xi Yi, tidak boleh berkata seperti itu pada Tuan Brian, apa ibu tidak pernah mengajarimu sopan santun dalam berbicara kepada orang tua?"
Menunduk, "Maaf, ibu"
"Setelah melakukan kesalahan, lebih baik berbuat apa?"
"Tuan Brian, Xi Yi khilaf maafkan ucapan ku tadi ya.."
Mengambil alih, "tidak Yi-Yi, kau tidak salah. Sudah jangan larut dalam kesedihan, ayo lihat kan pada paman dimana senyum ceria tadi,"
Xi Yi melebarkan senyumannya seperti sedia kala.
"Nahh, bukannya lebih tampan jika seperti ini,"
Vivian ikut menatap senyuman itu, sekilas terlintas di ingatannya senyuman seseorang yang sangat mirip dengan senyuman putranya.
"Ken-kenapa senyuman Xi Yi sangat mirip dengan senyuman pria itu," batinnya.
"Vivian, mereka harus mengerjakan tugas sekolah dulu, kau kembali bekerja saja"
"Bibi benar, kalian siapkan tugas sekolah dahulu. Tunggu ibu dan Tuan Brian kembali ya sayang,"
"Baik Mommy" // "Siap, bu"
"Chu Xia, kau tidak perlu bersusah payah menyiapkan hidangan seperti kemarin, aku yang akan membeli makanan nanti. Kau sudah cukup lelah dengan keduanya,"
"Tidak kok, aku senang bisa membuatkan masakan untuk mu,"
"Kali ini aku yang akan membawa nya"
"Baiklah, baiklah, aku mengikuti perkataan mu saja"
"Ayah! Wei-Wei mau makan bakso ya... JANGAN LUPA!!..." ujarnya girang.
"Baik, sayang. semua bakso yang ada disini nanti ayah beli kan khusus untuk Wei-Wei tersayang"
"Ahhhh... terimakasih Daddy, emmuachh...."
Langsung menerobos, "Hei Yakk! darimana kau belajar kata-kata itu Ming Wei!"
"Khihihii... Maaf, mommy," langsung memutuskan panggilan.
Kantor Brian.
"Huhh dasar anak kecil itu, aku akan menggelitik tubuh mu nanti," ucap nya geram disertai senyuman hangat.
"Brian, sampai kapan kau akan bertingkah seperti ini pada putri ku? Kau tahu bukan, dia masih kecil, hatinya mudah rapuh, dia akan terluka jika tahu bahwa kita hanya melakukan hub-"
Memotong omongannya, "Hubungan sandiwara?"
Duduk di atas meja kerja menghadap Vivian, "Vivian, bagaimana jika sandiwara ini kita ganti jadi sungguhan!" berkata dengan semangat.
"Aghh sudahlah, tidak ada gunanya aku membicarakan ini dengan mu," bangkit dari duduk nya meninggalkan Brian.
"Hei, Vivian apa kau mau menikah dengan ku? Vivian aku sedang melamar mu! kenapa pergi?" Brian tertawa melihat tingkah Vivian.
Yahh begitulah setiap kalinya Brian ingin mengikat nya, Vivian selalu menghindari perkataan tersebut.
......................
...Ming Wei...
...Taubah membaca...
...Jangan pernah berhenti ketika koma...
__ADS_1
...Tapi berhenti lah sampai di titik nya. ...