Istri Sah CEO Tampan

Istri Sah CEO Tampan
Persiapan


__ADS_3

...****************...


Pagi Hari


Rumah Utama Keluarga Ming Lan


Yuan masuk tanpa mengetuk pintu.


Brukk


"Kenakan ini, malam ini ikut aku ke Kota C," melemparkan kotak besar ke atas meja makan.


"Yuan sayang ku, apa kau tidak tahu bahwa istri mu ini sedang mak-"


"Bukan urusan ku" Yuan berbalik mau meninggalkan Ai Ki.


"Kikiiii..... Dimana semua cemilan ku!"


Teriak seorang wanita membuat Yu berhenti.


Tap


Tap


Tap


Yuan memutar badan nya melihat wanita itu turun dari tangga rumah.


"Su Nian-Nian?" ucap Xi Yuan ketika melihat wanita itu.


"Eih, ternyata ada tamu, bukannya ini tuan Xi Yuan" memperhatikan dengan seksama.


"Kenapa kau berada disini? Kau kan sudah menjadi sandera Liu Fei"


"Cerita nya panjang, intinya dia adalah kakak ku," menunjuk ke arah Ai Ki.


"Dihhh, siapa juga yang mau jadi kakak kamu,"


"Cih" memutar bola mata nya malas.


Melihat kearah kotak besar di atas meja makan. Membuka secara bruntal. "Wowww gaunnya bagus sekali, ini kan edisi terbatas karya Ballerina."


Mencocokkan ke tubuhnya, "Ini untukku!" ucapnya girang.


Ai Ki berdiri, "Enak saja! Ini punya ku!" merebutnya.


"Jijik!"


"Emang ada acara apa? Kenapa pakai gaun tema ulang tahun segala"


Ai Ki yang tidak tahu apa-apa, "Gaun ulang tahun?"


Xi Yuan pergi, malas menghadapi mereka.


"Kau akan jadi pendamping tuan Yu menghadiri pesta ulang tahun seseorang di kota C" jawab Rey.


"Kota C!, siapa? Apa Ming Ke beruang tahun?" lirih nya.


"Kau tahu dimana Ming Ke berada!?"


"Entahlah, tapi aku pernah melihat nya membawa dua orang anak ke sekolah mengendarai sepeda,"


Swingg...


Rey berlari secepat kilat, meninggalkan penjelasan Su Nian-Nian.


Dalam mobil


"Xi Yuan, Ming Ke memang berada di kota itu, dua anak yang kau jumpai ini memang benar-benar anak nya."


"Kau yakin!... Siapa yang memberitahu mu?"


Sambil menginjak gas mobil. "Sebelum nya nenek Ai menyelamatkan Su dari bodyguard Fei, lalu menyuruhnya untuk menemukan Keke di kota itu, Su yakin kalau itu benar anak nya Ming Ke,"


"Baik, persiapkan diri dengan matang,"


Yuan menelepon, "Bo, aku akan mengirim orang untuk melindungi mu, dan juga mencari tahu dimana Keke tinggal selama ini,"


"Dia benar ada disini!"


"Em" Yu mematikan ponselnya.

__ADS_1


.....


Kota C


Pagi hari


Seperti biasa Ming Ke selalu bangun lebih awal dari yang lainnya, "Hoamm... Ehh badan ku terasa remuk," keluar dari kamar nya.


"Loh, ada apa ini? Kenapa dapurnya ramai sekaliiii!!" Vivian terpelongo melihat dapur yang biasanya hanya diisi 4 orang saja, hari ini sudah seperti pasar.


Vivian menghentikan salah satu dari mereka.


"Hei kenapa hari ini dapurnya ramai sekali?"


"Kau pekerja baru ya?"


"Emm" mengangguk.


"Ini adalah hari ulang tahun tuan Richard yang ke 50, dan dia-" terpotong.


"Hei kalian yang di sana!! Kenapa malah ngobrol! Cepat kerjakan adonannya!!" teriak kepala pelayan.


"Ah maaf, Bu" Pelayan itu berlari meninggalkan Vivian.


"Kenapa masih belum bergerak! Apa tugas mu!"


"Aku-aku tidak tahu," jawab Vivian polos.


"Ooh ternyata kau pelayan yang terlambat bangun,"


"Kenapa bisa terlambat bukannya biasanya shift ganti jam 07 ya?" tanya vivian.


"Ayo, ikut aku!" menarik tangan vivian.


Vivian di masukkan ke dalam sebuah kamar.


"Aww... Heii kenapa aku dimasukkan ke dalam sini, tolongg....." Vivian terus menggedor pintu tapi tidak ada yang membuka nya.


Kamar Brian


Brian sedang menunggu seseorang disini.


Klekk


Mereka masuk kedalam kamar tapi tidak ada Vivian diantaranya.


Pelayan 1 berkata, "Maaf tuan muda, hari ini Vivian melakukan banyak tugas di dapur dan Tuan harus segera bersiap"


"Kami akan membantu mu" lanjut pelayan 2.


Mereka berjalan menghampiri Brian.


Menepis tangan mereka, "Tidak perlu, aku bisa sendiri" berjalan meninggalkan kedua pelayan itu.


Kamar Vivian terkurung


Klekk


5 orang masuk kedalam kamar,


Berdiri menghampiri mereka, "Ohh akhirnya kalian membuka pintu untuk ku,"


Mereka langsung membuka semua baju Vivian, "Ahh apa yang kalian lakukan"


Para pelayan itu memandikan Vivian, memakaikan baju, dan juga make up.


Melihat ke arah cermin, "ada apa ini, kenapa kalian melakukan ini pada ku," Vivian bingung kenapa mereka malah mendandani dirinya, setelah mengurung.


"Maafkan kami vivian, ini hanya tugas,"


"Tugas? dari siapa?" berbalik menghadap mereka.


Seorang pria datang ditengah pertanyaan Vivian.


"Nona aku di tugaskan untuk menjemput mu," menundukkan badannya.


"Ini, ada apa ini sebenarnya, apa mereka akan menjual ku" batinnya Vivian.


"Aku tidak mau pergi kalau kalian tidak menjelaskan ini semua!"


"Ikut saja nanti kau juga pasti tau," mereka mendorong tubuh Vivian sambil tertawa kecil

__ADS_1


"Tidakkk, aku tidak mau.... tidakkkkkk!"


Aula Acara


Suasana megah nya acara ulang tahun Richard ini, membuat semua tamu terpukau.


Para pekerja, anggota mafia nya, semua anak-anak perusahaan, karyawan-karyawan, pelayan juga sahabat-sahabat Richard datang ke acara nya.


"Wahh lihat lah ini, ini sudah seperti acara pernikahan seorang raja"


"Di sana! itu lukisan termahal di dunia!"


"Widihhh keren sekali lukisan 3 dimensi ini, bahkan seorang milyader juga tidak bisa membeli nya"


Bla... Bla... ucapan para hadirin pesta saat memasuki Aula.


Sementara itu di tempat lain


"Tuan, apa menurut mu gaun ini tidak terlalu terbuka pada bagian dada dan jugaa.. kaki nya," ucap Ai Lin merasa risih dengan gaun tersebut.


"Tidak nona, di kota ini gaun mu sudah sangat tertutup,"


"Tertutup?! Huaaa... bagaimana bisa gaun seperti ini di bilang tertutup," batinnya Kiki memberontak.


"Berhenti"


"Kenapa berhenti" tanya Bo.


"Ada apa Yu?" timpah Kiki.


Yuan keluar dari mobil tanpa menjawab pertanyaan mereka.


"Ada apa? Apa dia lapar?" memandangi resto siap saji.


"Sepertinya tidak, lihat, dia masuk ke dalam toko busana?"


Setelah beberapa menit Xi Yuan keluar dari sana.


Masuk ke dalam mobil, "Nih, gunakan untuk menutupinya," menyerahkan paper bag berisi kan sebuah jas import kepada Ai Ki.


"Di.. Dia.. Dia memberi ku, pakaian!" batin Ai Ki terheran-heran juga senang.


"Aku cuma tidak mau kau terus berbicara di saat aku sedang memikirkan rute kerja ku,"


Bo dan Rey yang duduk di depan sempat menoleh kebelakang saling memandang satu sama lain mendengar alasan Yu, lalu kembali membuang muka mereka ke arah depan.


"Emmm..... Terimakasih suami ku," memeluk tangan Yuan.


"Ihh menjijikkan," menyingkirkan Ai Ki dari tubuh nya.


Rey berbicara setelah mereka berhenti.


"Bo nanti kau kenakan kacamata ini, dan juga ini," Rey menyerahkan kacamata dan bunga mawar saku jas.


"Yu, kau gunakan ini,"


"Kenapa kau memberiku capitan dasi? Kau tau bukan orang ini pasti bukan orang sembarangan"


"Kacamata sudah aku desain, nanti nya Bo bisa melihat siapa saja yang membawa senjata di sana,"


"Bunga ini sebenarnya alat penyadap, aku akan menyadap rencana apa yang sedang mereka lakukan"


"Sementara capitan ini, dia cuma senjata untuk mengecoh kan musuh, jika mereka benar-benar mengawasi acara ini, sudah pasti musuh yang merasa terancam akan segera mematikannya."


Rey mengeluarkan sesuatu dari kantong nya, "Dan ini, gelang ini Ai Ki akan menggunakannya, jika ada bahaya kau bisa gunakan ini untuk berlindung,"


"Bagaimana caranya?"


"Gelang, kacamata, dan juga mawar ini sudah aku lindungi, mereka tidak akan bisa mendeteksi nya meski menggunakan alat sekalipun,"


"Dan yang terakhir ini, kita gunakan ini untuk berkomunikasi," Rey memasangkan alat ke jas mereka masing-masing.


Ai Ki berkata, "Huhh sudah seperti detektif saja,"


"Tidak gunakan juga tidak apa, kalau kau mati, Tuan juga tidak akan menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan mu," ucap Bo.


"Apa kata mu!"


"Yu lihat apa yang mereka katakan" mencoba mengadukan.


Tapi Yu mengacuhkannya.

__ADS_1


"Hemptt, dasar ekor dan kepala sama saja," batinnya.


__ADS_2